puisi ini tentang apa yang ada di antara,
bagian ini
dan bagian yang tertinggal.
merangkak ke loteng di sana tenang
masyarakat atas berada
langit sana seorang pria baik dan dingin,
besar akrab dan samar—
tak membuatku takut.
dalam ruangan:
truk sampah bergerak pelan,
menyeret semua mimpi melalui lubang jalan.
sekop uap pembakar minyak
menggali fajar yang jahat
menghantam tanah
mencabutku dari lantai papan
dengan gigi baja bengkok
—dan melemparkan tanggung jawab
mimpi ini menjalani kehidupan rahasia
persegi panjang di lemari, satu yang cabul
mulut di selangkangan
asap panas mencekik tenggorokan
puisi ini tentang apa yang ada di antaranya,
bagian yang tidak disebutkan,
diletakkan rapi di samping.
di atas meja kartu
jambangan talang pahatan gulma keras mengiris kulit
—rumex crispus L.—
tumbuh di oasis bawah jalan tol.
gulma menyorakkan Titik.
ranjang bayi berdinding bata bongkahan batu bara
tembok bermata membuat waspada
di kamar berdada besar dijepit baaut dan mur
sungguh berbahaya dunia yang bergemuruh
di luar
puisi ini tidak memahami petunjuk
diabaikan, dijatuhkan, tetap saja bergerak
di atas kepala beruap.
puisi ini wajah dalam bayangan
menoleh kaus oblong Megadeth kotor terentang
terikat liang gua seperti kain sutra menyilang
mata yang—
puisi ini adalah tentang apa yang ada
di balik topeng pecahan peluru
catatan tentang kehilangan yang palsu.
puisi ini, dengan senang hati
berakhir di sini
Cikarang, 22 Oktober 2024

