Pada zaman dulu, jauh di negeri timur, hiduplah seorang raja yang sangat suka berburu. Saking sukanya, ketika bertemu hewan buruannya, dia sampai tidak peduli dengan keselamatannya sendiri. Bahkan, dia sering kali terpisah dari para bangsawan dan pelayan pengiring. Dia sangat menyukai berpetualang sendiri.
Hiburan favoritnya yang lain adalah menyebarkan berita bahwa dia sedang tidak sehat dan tidak terlihat di depan umum. Kemudian, hanya dengan sepengetahuan mahapatihnya yang setia, raja menyamar sebagai pedagang keliling, memuat keledai dengan barang-barang murah dan bepergian ke mana-mana. Dengan cara ini ia mengetahui apa yang dikatakan rakyat jelata tentang dia, dan bagaimana para hakim dan gubernur menjalankan tugas mereka.
Suatu ketika, sang ratu istrinya memberinya seorang bayi perempuan secantik matahari pagi. Raja sangat bahagia dan gembira sehingga selama seminggu penuh dia lupa berburu dan menghabiskan waktu di depan umum dengan bersukacita. Namun, tidak lama kemudian, ia pergi mengejar beberapa rusa yang dapat ditemukan di sudut terjauh hutan.
Di tengah perjalanan, anjing-anjingnya mengejar seekor rusa jantan putih yang cantik, dan begitu melihatnya, raja memutuskan bahwa dia harus mendapatkannya dengan cara apa pun. Maka raja memacu kudanya, dan mengikutinya sekencang mungkin. Tentu saja semua pelayannya mengikuti dengan kecepatan terbaik yang dapat mereka lakukan. Namun sang raja menunggangi kudanya dengan sangat cepat, dan rusa jantan itu begitu gesit, sehingga, satu jam kemudian, sang raja mendapati bahwa hanya anjing kesayangannya dan dirinya sendiri yang mengejar rusa, yang lain berada jauh, jauh di belakang dan tak terlihat.
Namun, dia tidak gentar. Dia terus memburu sampai kemudian dia menyadari bahwa dia memasuki sebuah lembah pegunungan dengan rbatu besar di semua sisi, dan kudanya menjadi sangat lelah dan gemetar saat melangkah. Lebih buruk dari itu, malam sudah hampir tiba, dan matahari akan segera terbenam. Sia-sia saja dia melepaskan anak panah demi anak panah ke rusa jantan yang cantik itu. Setiap tembakan meleset dan akhirnya, tepat saat kegelapan mulai turun dia sama sekali kehilangan pandangan terhadap hewan itu.
Saat itu kudanya hampir tidak bisa bergerak karena kelelahan. Anjing pemburunya terhuyung-huyung terengah-engah di sampingnya.
Dia berada jauh di pegunungan yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya dan benar-benar tersesat. Tidak ada satu pun manusia atau pemukiman yang terlihat.
Raja tidak akan keberatan dengan semua ini andai saja dia tidak kehilangan rusa jantan itu. Itu sangat mengganggunya, tetapi dia tidak pernah khawatir tentang apa yang tidak dapat dia lakukan, maka dia turun dari kudanya, memegang tali kekan,g dan menuntun kudanya di sepanjang jalan yang jelek dengan harapan menemukan gubuk penggembala, atau, setidaknya, sebuah gua atau tempat berteduh tempat ia bisa menghabiskan malam.
Saat itu dia mendengar bunyi air yang mengalir deras, dan berjalan menuju asal suara. Dia berusaha keras melangkah di bahu bukit yang terjal dan berbatu, dan di sana, tepat di bawahnya, sungai yang mengalir deras menuruni lembah yang curam. Berkelap-kelip dan berkedip-kedip dari ketinggian air terjun, tampak cahaya redup seperti lampu.
Raja bersama kuda dan anjingnya berjalan menuju cahaya, meluncur dan tersandung menuruni jalan setapak yang curam dan berbatu. Raja menemukan langkan berumput sempit di tepi sungai, yang di atasnya cahaya dari lentera di gunung, sebuah gua memancarkan sinar yang samar-samar.
Di tepi sungai duduk seorang pertapa tua dengan janggut putih panjang, yang tidak berbicara atau bergerak saat raja mendekat, tetapi duduk melemparkan ke sungai daun-daun kering yang berserakan di tanah di dekatnya.
“Salam,” kata raja, memberikan salam gaya pedesaan yang biasa.
“Dan salam bagimu,” jawab pertapa itu, tetap tidak menoleh atau menghentikan apa yang sedang dilakukannya.
Selama satu atau dua menit raja berdiri mengawasinya. Ia memperhatikan bahwa petapa itu melemparkan dua lembar daun sekaligus, dan mengamatinya dengan saksama. Kadang-kadang keduanya terbawa cepat oleh arus. Kadang-kadang hanya satu helai daun yang terbawa, dan yang lain, setelah berputar-putar perlahan di tepi arus, akan berputar kembali pada pusaran air ke kaki petapa itu. Di waktu lain kedua helai daun tertahan di pusaran air dan gagal mencapai arus utama sungai yang berdesing.
“Apa yang sedang kamu lakukan?” tanya raja akhirnya, dan petapa itu menjawab bahwa dia sedang membaca takdir manusia. Takdir setiap orang, katanya, telah ditetapkan sejak awal, dan, apa pun itu, tidak ada jalan keluar darinya. Raja tertawa.
“Aku tidak peduli,” katanya. “apa pun takdirku. Tetapi aku ingin tahu nasib putri kecilku.”
“Aku tidak bisa mengatakannya,” jawab petapa itu.
“Jadi, kamu tidak tahu?” tanya raja.
“Aku mungkin tahu,” jawab petapa itu, “tetapi tidak selalu bijaksana untuk mengetahui banyak hal.”
Tetapi raja tidak puas dengan jawaban ini, dan mulai mendesak lelaki tua itu untuk mengatakan apa yang diketahuinya. Pertapa itu bertahan cukup lama untuk tidak menjawabnya. Namun, akhirnya, raja mendesaknya begitu keras sehingga pertapa itu berkata, “Putri raja akan menikahi putra seorang gadis budak miskin bernama Puruna, yang merupakan budak dari raja negeri utara. Tidak ada jalan keluar dari Takdir.”
Raja menjadi sangat marah mendengar kata-kata ini, tetapi dia juga sangat lelah, maka dia hanya tertawa, dan menjawab bahwa dia berharap akan ada jalan keluar dari takdir yang buruk.
Kemudian dia bertanya apakah petapa itu bisa melindunginya dan hewan-hewannya untuk malam itu, dan petapa itu menjawab, “Ya.”
Raja memberi minum dan menambatkan kudanya, dan, setelah makan malam dengan roti dan kacang polong panggang, dia berbaring di gua dengan anjing pemburu di kakinya, dan mencoba untuk tidur. Tetapi alih-alih tidur, dia hanya berbaring terjaga dan memikirkan ramalan petapa itu. Semakin dia memikirkannya, semakin marah dia, sampai dia mengertakkan giginya dan menyatakan bahwa takdir putrinya itu tidak akan pernah menjadi kenyataan.
Pagi pun tiba. Raja bangun dengan wajah pucat dan cemberut. Setelah mengetahui dari petapa itu jalan mana yang harus diambil, dia menunggang kuda dan menemukan jalan pulang tanpa banyak kesulitan.
Begitu sampai di istananya, dia menulis surat kepada raja negeri utara, memohon agar menjual budak perempuannya, Puruna, dan putranya, dan berkata bahwa, jika raja utara setuju, dia akan mengirim utusan untuk menjemput mereka di sungai yang membelah kedua kerajaan.
Selama lima hari raja menunggu balasan, dan hampir tidak tidur atau makan, tetapi dia sangat emosi sepanjang waktu. Pada hari kelima utusannya kembali dengan sepucuk surat yang mengatakan bahwa raja negeri utara tidak akan menjual, tetapi dia akan memberikan budak perempuan dan putranya kepada raja.
Raja sangat gembira. Dia memanggil mahapatih dan mengatakan kepadanya bahwa dia akan melakukan salah satu ekspedisirahasia, dan bahwa mahapatih harus mencari alasan untuk menjelaskan ketidakhadirannya.
Kemudian raja menyamar sebagai utusan biasa, menaiki unta tercepat, dan bergegas pergi ke tempat di mana budak perempuan itu akan diserahkan kepadanya. Ketika dia sampai di sana, dia menyerahkan surat ucapan terima kasih dan hadiah yang banyak untuk raja utara serta hadiah untuk para utusan yang membawakan budak Puruna dan putranya, dan kemudian tanpa menunda-nunda lagi dia membawa wanita malang itu dan bayi laki-lakinya yang mungil ke atas untanya dan pergi ke padang gurun pasir yang liar.
Setelah berkuda selama sehari semalam hampir tanpa henti, dia tiba di sebuah gua besar, raja menyuruh wanita itu turun, dan, sambil membawa wanita itu dan bayinya ke dalam gua, ia menghunus pedangnya dan dengan satu tebasan memenggal kepala wanita itu. Namun, meskipun amarahnya membuatnya cukup kejam untuk melakukan hal yang begitu mengerikan, sang raja merasa bahwa ia tidak dapat mengarahkan pedangnya pada bayi yang tak berdaya itu. Raja yakin bayi itu akan segera mati di tempat terpencil tanpa ibunya. Maka dia meninggalkannya di gua. Menaiki untanya, raja segera pulangke istananya.
Sementara itu, di sebuah desa kecil di kerajaannya, hiduplah seorang janda tua yang tidak memiliki anak atau kerabat. Janda tua itu mencari nafkah dengan menjual susu kambing. Dia sangat miskin dan tidak terlalu kuat. Janda itu sering bertanya-tanya bagaimana dia akan bertahan hidup kalau dia menjadi terlalu lemah atau jatuh sakit. Siapa yang akan mengurus kambing-kambingnya?
Tiap pagi dia menggiring kambing-kambingnya ke padang pasir untuk merumput di semak-semak yang tumbuh di sana, dan tiap malam mereka pulang ke rumah untuk diperah susunya dan dikurung dalam kandang di malam hari.
Suatu malam, janda tua itu terkejut ketika mendapati kambing betina terbaiknya kembali tanpa setetes susu pun. Dia mengira ada anak laki-laki atau perempuan nakal yang menangkap kambing itu dalam perjalanan pulang serta mencuri susu. Namun, ketika malam demi malam kambing itu hampir tidak pernah menghasilkan susu, dia memutuskan untuk mencari tahu siapa pencurinya.
Keesokan harinya, dia mengikuti kambing-kambing itu dari kejauhan dan mengawasi mereka saat mereka merumput. Akhirnya, pada sore hari, wanita tua itu melihat kambing betina itu memisahkan diri dari kawanannya. Dia segera membuntutinya.
Kambing itu terus berjalan, lalu menghilang ke dalam gua di bebatuan. Wanita tua itu mengikuti kambing itu ke dalam gua dan kemudian, dia melihat kambingnya menyusui seorang bayi laki-laki mungil, sementara di tanah di dekatnya tergeletak sisa-sisa tubuh ibu bayi yang telah meninggal!
Takut sekaligus heran, janda tua itu akhirnya berpikir bahwa bayi kecil ini mungkin akan menjadi anak laki-lakinya di masa tuanya, dan bahwa ia akan tumbuh besar dan pada waktunya nanti akan menjadi penghibur dan penopangnya. Maka dia membawa pulang bayi itu ke gubuknya, dan keesokan harinya dia mengambil sekop ke gua dan menggali kuburan tempat dia menguburkan ibu yang malang itu. Dia memberi nama bayi itu Nur Muhammad.
Tahun-tahun berlalu, dan bayi itu tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan. Gagah berani yang sebanding dengan ketampanannya, rajin setara dengan keberaniannya. Suatu hari, ketika Nur Muhammad sekitar tujuh belas tahun sedang bekerja di ladang, dia melihat seekor keledai aneh sedang memakan kubis di kebun yang mengelilingi pondok kecil mereka. Sambil mengambil tongkat besar, ia mulai memukuli pengganggu itu dan mengusirnya dari kebunnya. Seorang tetangga yang lewat berseru.
“Hei! Mengapa kau memukuli keledai pedagang kaki lima seperti itu?”
“Pedagang kaki lima itu seharusnya mencegahnya memakan kubisku,” kata Nur Muhammad. “Jika keledai itu datang lagi malam ini ke sini, aku akan memotong ekornya!”
Setelah itu dia masuk ke dalam rumah sambil bersiul riang.
Kebetulan tetangganya termasuk salah satu dari orang-orang yang besar mulut. Ketika bertemu dengan pedagang kaki lima di kedai penmginapan malam itu, dia menceritakan kepadanya apa yang telah terjadi sambil menambahkan, “Dan pemuda itu berkata bahwa kalau memukul keledai tidak membawa hasil, dia akan memukulmu juga, dan memotong hidungmu karena telah mencuri kubisnya!”
Beberapa hari kemudian, setelah pedagang kaki lima itu pergi, dua orang muncul di desa itu dan menanyakan siapa yang mengancam akan menganiaya dan membunuh seorang pedagang kaki lima yang tidak bersalah. Mereka menyatakan bahwa pedagang kaki lima itu, karena takut akan keselamatannya, telah mengadu kepada raja, dan bahwa mereka telah diutus untuk membawa orang yang melanggar hukum yang telah mengatakan hal-hal ini ke hadapan raja sendiri.
Tentu saja mereka segera mengetahui tentang keledai yang memakan kubis Nur Muhammad, dan tentang kata-kata pedas pemuda itu. Tetapi meskipun anak itu meyakinkan mereka bahwa dia tidak pernah mengatakan apa pun tentang pembunuhan seseorang, mereka menjawab bahwa mereka diperintahkan untuk menangkapnya, dan membawanya untuk diadili di hadapan raja. Terlepas dari protesnya dan ratapan ibunya, dia dibawa pergi ke hadapan raja.
Tentu saja Nur Muhammad tidak pernah menduga bahwa pedagang kaki lima itu kebetulan adalah raja sendiri, meskipun tidak ada yang mengetahuinya.
Tetapi karena dia sangat marah dengan apa yang telah dikatakan kepadanya, raja menyatakan bahwa dia akan menjadikan pemuda ini sebagai contoh, dan bermaksud untuk mengajarinya bahwa bahkan pedagang kaki lima yang malang pun bisa mendapatkan keadilan di negerinya, dan dilindungi dari pelanggaran hukum seperti itu.
Namun, tepat ketika dia akan menjatuhkan hukuman yang sangat berat, terjadi keributan di pengadilan. Ibu angkat Nur Muhammad datang, menangis dan meratap, dan memohon untuk didengar. Raja memerintahkannya untuk berbicara, dan dia mulai memohon demi anak laki-laki itu, menyatakan betapa baiknya dia, dan betapa dia menjadi penopang masa tuanya. Kalau Nur Muhammad dijebloskan ke penjara, dia akan mati.
Raja bertanya siapakah dia dan dijawab bahwa dia adalah ibu anak itu.
“Ibunya?” kata raja; “Anda pasti sudah terlalu tua untuk memiliki anak laki-laki semuda itu!”
Kemudian wanita tua itu, dalam ketakutan dan kesedihannya, menceritakan seluruh kisah tentang bagaimana dia menemukan bayi itu, dan bagaimana dia menyelamatkan dan membesarkannya, dan berakhir dengan memohon belas kasihan raja.
Mudah ditebak saat cerita itu beredar, sang raja tampak semakin muram, hampir semaput karena marah dan terkejut. Ternyata Nur Muhammad adalah bayi yang ditinggalkannya untuk mati setelah membunuh ibunya dengan kejam! Pastilah takdir telah menyelamatkannya!
Raja berharap dia punya cukup alasan untuk menghukum mati anak laki-laki itu, karena ramalan petapa tua itu kembali kepadanya. Namun pemuda itu tidak melakukan sesuatu yang cukup buruk untuk menerima hukuman mati. Semua orang akan menyebut seorang tiran jika dia memberi hukuman seberat itu.
Akhirnya, setelah raja cukup tenang, dia berkata, “Kalau pemuda ini bersedia menjadi prajurit di pasukanku, aku akan melepaskannya. Kita membutuhkan orang seperti dia, dan sedikit disiplin akan baik baginya.”
Namun wanita tua itu memohon bahwa dia tidak dapat hidup tanpa putranya, dan hampir sama takutnya dengan gagasan bahwa putranya akan menjadi seorang prajurit seperti takut dia akan dipenjara. Akhirnya sang raja—yang bertekad untuk menjerat pemuda itu—menenangkan ibu Nur Muhammad dengan menjanjikan uang pensiun yang cukup besar untuk membuatnya tetap merasa nyaman. Dan Nur Muhammadakhirnya bergabung ke dalam pasukan raja.
Sebagai seorang prajurit, Nur Muhammad tampak beruntung. Dia terkejut tetapi sekaligus senang, karena selalu menjadi salah satu dari mereka yang dipilih ketika ada usaha yang sulit atau berbahaya sedang berlangsung. dan, meskipun dia nyaris tewas dalam beberapa kesempatan, tetap saja, situasi yang sangat sulit yang dihadapinya memberinya kesempatan khusus untuk menunjukkan keberaniannya. Dia juga rendah hati dan baik budi, sehingga menjadi kesayangan para perwira dan rekan-rekannya.
Maka tidak mengherankan dalam waktu yang sangat singkat dia dimasukkan ke dalam jajaran pengawal raja. Sebenarnya, raja berharap Nur Muhammad terbunuh dalam pertempuran atau tugas, tetapi, melihat bahwa, sebaliknya Nur Muhammad berhasil melewati segala rintangan, raja bertekad untuk mencoba metode yang lebih berbahaya.
Suatu hari, tak lama setelah Nur Muhammad menjadi pengawal, dia dipilih menjadi salah satu prajurit yang ditugaskan untuk mengawal raja melalui kota. Prosesi berjalan cukup lancar, ketika seorang pria, bersenjatakan belati bergegas keluar dari sebuah gang langsung menuju raja. Nur Muhammad, yang merupakan pengawal terdekat, melemparkan dirinya ke jalan, dan menerima tusukan yang tampaknya ditujukan untuk raja. Untungnya tusukan itu dilakukan dengan terburu-buru, belati itu mengenai tulang dadanya. Meskipun dia terluka parah, usia muda dan kekuatannya dengan cepat membuatnya pulih seperti sedia kala.
Raja, tentu saja, wajib memperhatikan tindakan berani ini, dan sebagai hadiah mengangkatnya menjadi salah satu perwira pengawal istana.
Petualangan aneh yang dilalui pemuda itu tak ada habisnya. Petugas pengawal sering dikirim untuk segala macam tugas rahasia dan sulit, dan tugas-tugas seperti itu memiliki cara yang aneh untuk menjadi perlu ketika Nur Muhammad bertugas. Suatu kali, ketika dia melakukan perjalanan, sebuah jembatan penyeberangan runtuh di bawahnya. Suatu kali dia diserang oleh perampok bersenjata. Sebuah batu menggelinding menimpanya di sebuah celah gunung. Sebuah batu besar jatuh dari atap di kakinya di sebuah gang kota yang sempit. Nur Muhammad mulai berpikir bahwa, di suatu tempat, dia telah membuat musuh
Tetapi dia selalu bersikap riang, dan pikiran itu tidak terlalu mengganggunya. Entah bagaimana dia berhasil lolos setiap kali, dan merasa terhibur daripada cemas tentang petualangan berikutnya.
Sudah menjadi kebiasaan di kota itu bahwa perwira pengawal istana pada hari itu harus menerima semua makanannya langsung dari dapur raja. Suatu hari, ketika giliran Nur Muhammad bertugas, dia sedang duduk menikmati sup lezat yang dikirim dari istana, ketika salah satu anjing kurus kering dan lapar menjulurkan hidungnya ke pintu ruang jaga yang terbuka, dan menatap Nur Muhammad dengan alir liur di mulut dan lubang hidung kembang-kempis.
Pemuda baik hati itu mengambil segumpal daging, pergi ke pintu, dan melemparkannya ke luar. Anjing itu menerkamnya dan menelannya dengan rakus. Baru saja berbalik untuk pergi, anjing itu terhuyung-huyung, jatuh, berguling, dan mati.
Nur Muhammad yang melihatnya, berdiri diam sejenak, lalu kembali sambil bersiul pelan. Dia mengumpulkan sisa makan malamnya dan dengan hati-hati membungkusnya untuk dibawa pergi dan dikubur di suatu tempat. Kemudian dia mengembalikan piring-piring yang kosong.
Betapa marahnya sang raja ketika keesokan paginya Nur Muhammad muncul di hadapannya segar bugar dan tersenyum seperti biasa. Namun, raja bertekad untuk mencoba sekali lagi, meminta pemuda itu untuk datang menemuinya malam itu, memberi perintah agar ia menyampaikan surat rahasia kepada gubernur provinsi yang jauh.
“Lakukan persiapanmu segera,” tambahnya, “dan bersiaplah untuk berangkat pagi ini. Aku sendiri akan mengantarkan surat-surat itu kepadamu pada saat-saat terakhir.”
Provinsi ini berjarak empat atau lima hari perjalanan dari istana, dan gubernurnya adalah pelayan paling setia yang dimiliki raja. Sang gubernur bisa menyimpan rahasia diam seperti kuburan, dan membanggakan dirinya atas kepatuhannya.
Meskipun dia adalah pelayan raja yang tua dan teruji, istrinya hampir menjadi ibu bagi putri muda itu sejak ratu meninggal beberapa tahun sebelumnya. Kebetulan, sang putri telah dikirim karena masalah kesehatan ke provinsi terpencil lainnya, dan ketika dia di sana, teman lamanya, istri gubernur, telah memohon padanya untuk datang dan tinggal bersama mereka secepat mungkin. Sang putri menerima dengan senang hati, dan benar-benar tinggal di rumah gubernur pada saat yang sama ketika raja memutuskan untuk mengirim Nur Muhammad ke sana dengan surat misterius itu.
Sesuai perintah, Nur Muhammad datang pagi-pagi keesokan harinya ke kamar pribadi raja. Kuda terbaiknya telah dipelana, makanan telah ditaruh di tas pelana, dan dengan sejumlah uang diikatkan di ikat pinggangnya, dia siap berangkat. Raja menyerahkan kepadanya sebuah bungkusan tertutup, menginginkannya untuk menyerahkannya sendiri hanya ke tangan gubernur, dan tidak kepada orang lain.
Nur Muhammad menyembunyikannya dengan hati-hati di serbannya, mengayunkan dirinya ke atas pelana, dan lima menit kemudian berkuda keluar dari gerbang kota untuk memulai perjalanannya yang panjang.
Cuaca sangat panas, tetapi Nur Muhammad berpikir bahwa semakin cepat surat yang berharga itu sampai, semakin baik. Dengan berkuda hampir sepanjang malam dan hanya beristirahat di saat terpanas hari itu, pada siang hari ketigadia sudah dekat dengan kota yang menjadi tujuan akhirnya.
Tidak seorang pun terlihat dan Nur Muhammad, lapar, kering, haus, dan lelah, memandang penuh kerinduan ke taman-taman di atas tembok, dan memperhatikan air mancur, rumput hijau, kebun aprikot yang rindang, pohon murbei raksasa, dan berharap ia ada di sana.
Akhirnya dia mencapai gerbang istana dan langsung diizinkan masuk, karena ia mengenakan seragam pengawal raja.
Gubernur sedang beristirahat, kata prajurit itu, dan tidak dapat menemuinya sampai malam. Maka Nur Muhammad menyerahkan kudanya kepada seorang pelayan, dan berjalan ke taman-taman indah yang telah dilihatnya dari jalan, lalu duduk di tempat yang teduh untuk beristirahat.
Dia berbaring telentang dan memperhatikan burung-burung berkicau dan berceloteh di pepohonan di atasnya. Melalui dahan-dahan pohon, dia melihat hamparan langit yang luas. Layang-layang berputar-putar tanpa henti dengan bersiul melengking. Lebah-lebah berdengung di atas bunga-bunga dengan suara yang menenangkan, dan dalam beberapa menit Nur Muhammad tertidur lelap.
Setiap hari, di tengah teriknya siang hari, gubernur dan istrinya juga biasa berbaring selama dua atau tiga jam di kamar mereka, dan begitu pula sebagian besar orang di istana. Namun sang putri, seperti banyak gadis lainnya, gelisah dan lebih suka berkeliaran di taman daripada beristirahat di atas tumpukan bantal empuk.
Betapa tersiksanya para pelayan dan pembantunya yang tua dan gemuk ketika ia bersikeras untuk tetap terjaga dan membuat mereka mengobrol atau melakukan sesuatu, sementara mereka hampir tidak bisa membuka mata! Namun, terkadang sang putri berpura-pura tidur, dan kemudian, setelah semua wanitanya dengan senang hati mengikuti contohnya, dia bangun dan keluar sendiri. Kerudungnya menggantung longgar di sekujur tubuhnya.
Kalau dia ketahuan, nyonya rumah akan memarahinya dengan keras, tetapi sang putri hanya tertawa dan melakukan hal yang sama di lain waktu.
Sore itu, sang putri meninggalkan semua pelayannya yang tertidur dan setelah mencoba menghibur diri di dalam rumah, dia menyelinap ke taman besar, berkeliaran di semua sudut dan celah kesukaannya, merasa cukup aman karena tidak ada makhluk yang terlihat. Tiba-tiba, saat berbelok, ia berhenti karena terkejut. Di depannya tergeletak seorang pria yang tertidur lelap!
Karena tergesa-gesa, dia hampir tersandung pria itu. Namun, pria itu, muda, kecokelatan dan berdebu karena perjalanan jauh, mengenakan seragam perwira pengawal raja.
Salah satu sifat putri cantik ini adalah rasa ingin tahu yang besar, dan ia menjalani kehidupan yang sangat santai sehingga dia punya banyak waktu untuk merasa ingin tahu. Dari salah satu lipatan serban pria muda ini, mengintip sudut sebuah surat! Dia bertanya-tanya, Surat apa itu? Untuk siapa surat itu?
Dia menarik kerudungnya sedikit lebih dekat, dan berjinjit untuk meraih sudut surat itu. Kemudian dia menariknya sedikit demi sedikit. Sebuah stempel besar terlihat, yang dilihatnya sebagai milik ayahnya, dan saat melihatnya dia berhenti sejenak, malu dengan apa yang dilakukannya. Namun, keberhasilan mengambil surat yang tidak dimaksudkan untuknya lebih dari yang dapat dia tolak, dan sesaat kemudian surat itu sudah ada di tangannya.
Tiba-tiba dia ingat bahwa akan menjadi kematian bagi perwira malang ini jika dia kehilangan surat itu, dan bahwa dengan segala cara dia harus mengembalikannya. Namun, ini tidaklah. Terlebih lagi, surat di tangannya menyalakan keinginan untuk membacanya, dan melihat apa yang ada di dalamnya.
Dia memeriksa stempel itu. Stempel itu lengket karena terkena terik matahari, dan dengan sedikit usaha, stempel itu terlepas dari kertas. Surat itu terbuka dan dia membacanya.
Inilah isinya:
“Penggal kepala utusan yang membawa surat ini secara diam-diam dan segera. Jangan bertanya apa-apa.”
Gadis itu menjadi pucat.
Sungguh memalukan! pikirnya. Aku tidak akan membiarkan pemuda setampan ini dipenggal.
Tetapi bagaimana cara mencegahnya tidak begitu jelas saat itu. Suatu rencana mesti disusun, dan dia ingin mengunci diri di tempat yang tidak dapat diganggu siapa pun, seperti yang mudah terjadi di taman.
Maka sang putri kembali merayap dengan pelan ke kamarnya, mengambil sehelai kertas dan menulis di atasnya, “Nikahkan utusan yang membawa surat ini dengan putriku secara terbuka sekarang juga. Jangan bertanya apa-apa.”
Dia bahkan mencopot segel surat yang asli dan menempelkannya di sana, sehingga tidak seorang pun dapat mengetahui, kecuali mereka memeriksanya dengan saksama, bahwa surat itu pernah dibuka.
Kemudian ia menyelinap kembali, gemetar karena takut dan senang ke tempat perwira muda itu masih tertidur, memasukkan surat itu ke dalam lipatan serbannya, dan bergegas kembali ke kamarnya.
Selesai!
Menjelang sore, Nur Muhammad bangun. Setelah memastikan bahwa surat berharga itu masih aman, dia pergi untuk menghadap gubernur. Begitu dipersilakan masuk, dia mengambil surat itu dari serbannya dan meletakkannya di tangan gubernur sesuai perintah.
Ketika gubernur selesai membacanya, tentu saja sedikit heran, tetapi dalam surat itu dia diperintahkan untuk “tidak bertanya,” dan ia tahu bagaimana mematuhi perintah.
Gubernur memanggil istrinya dan menyuruhnya untuk segera mempersiapkan sang putri untuk dinikahkan.
“Omong kosong!” kata istrinya, “apa maksudmu?”
“Ini adalah perintah raja,” jawabnya; “pergi dan lakukan apa yang kuminta. Surat itu mengatakan ‘segera,’ dan ‘jangan bertanya apa-apa.’ Oleh karena itu, pernikahan harus dilangsungkan malam ini.”
Sia-sia saja istrinya mengajukan keberatan. Semakin dia membantah, semakin kuat tekad suaminya.
“Aku tahu bagaimana mematuhi perintah,” katanya, “dan ini sejelas hidung di wajahku!”
Maka sang putri dipanggil, dan, yang mengejutkan mereka, dia tampaknya menerima berita itu dengan sangat tenang.
Selanjutnya Nur Muhammad diberitahu. Dia sangat terkejut, tetapi tentu saja dia hanya bisa senang dengan kehormatan besar dan tak terduga yang menurutnya telah diberikan raja kepadanya.
Seluruh istana gubernur menjadi kacau balau. Ketika berita itu menyebar di kota, semua juga menjadi kacau balau. Semua orang berlarian ke sana kemari, mencoba melakukan semuanya sekaligus. Di tengah-tengah semua kekacauan itu, gubernur tua berjalan dengan rambut berdiri tegak, menggumamkan sesuatu tentang “mematuhi perintah.”
Maka pernikahan itu pun dirayakan, dan ada pesta besar di istana, dan pesta lainnya di barak tentara, dan lampu-lampu di seluruh kota dan di taman-taman yang indah. Semua orang menyatakan bahwa pemandangan yang begitu indah belum pernah terlihat, dan membicarakannya sampai akhir hayat mereka.
Keesokan harinya, gubernur mengutus sang putri dan mempelai prianya kepada raja, dengan sepasukan prajurit berkuda, berpakaian indah, dan dia mengirim utusan berkuda di depan mereka, dengan sepucuk surat yang berisi laporan pernikahan kepada raja.
Ketika raja menerima surat gubernur, wajahnya menjadi sangat merah sehingga semua orang mengira dia akan terserang pendarahan otak. Mereka semua sangat ingin tahu apa yang telah terjadi, tetapi raja bergegas pergi dan mengunci diri di sebuah kamar. Dia mengamuk dan mengamuk sampai lelah. Kemudian, setelah beberapa saat, dia mulai berpikir bahwa ia sebaiknya memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, terutama karena gubernur tua itu cukup pintar untuk mengirimkan kembali suratnya, dan raja cukup yakin bahwa surat itu ditulis tangan oleh sang putri.
Dia menyayangi putrinya, dan meskipun putrinya telah berperilaku buruk, dia tidak ingin memenggal kepala putrinya, dan dia tidak ingin orang-orang mengetahui kebenarannya karena hal itu akan membuatnya tampak bodoh. Bahkan, semakin dia mempertimbangkan masalah tersebut, semakin dia merasa bahwa dia akan bersikap bijaksana untuk menutupinya, dan membiarkan orang-orang mengira bahwa dia benar-benar telah melangsungkan pernikahan atas kemauannya sendiri.
Maka, ketika pasangan muda itu tiba, raja menerima mereka dengan segala kemegahan, dan memberikan menantunya sebuah provinsi untuk diperintah.
Nur Muhammad segera membuktikan dirinya sebagai gubernur yang cakap dan terhormat seperti halnya seorang prajurit yang pemberani; dan, ketika raja tua itu meninggal, dia menjadi raja menggantikan mertuanya, dan memerintah dengan adil dan makmur.
Ibu tua Nur Muhammad tinggal lama di istana “putranya”, dan meninggal dengan tenang. Sang putri, istrinya, meskipun dia mendapatjkan suaminya dengan tipu daya, sadar bahwa dia tidak mungkin menipu suaminya. Makanya dia tidak pernah mencoba, malah menyibukkan diri dengan mendidik anak-anaknya dan memarahi para pembantunya.
Adapun petapa tua itu, tidak pernah ditemukan jejaknya. Tetapi gua itu masih ada, dan daun-daunnya masih bertumpuk di depannya sampai hari ini.
Cikarang, 29 Oktober 2024
Disadur dari “Story Of The King Who Would Be Stronger Than Fate” (The Brown Fairy Book, Andrew Lang).

