Braga Street (pinterest)
Braga Street (pinterest)

Sang Pemenang

Views: 41

Wak Tisna menelepon. Aku tidak tahu harus berkata apa, mengapa aku tidak menjenguknya selama hampir sebulan meskipun aku tak benar-benar sibuk.

Dia punya banyak waktu saat dia duduk di taman rumah sakit mengamati lukisan dan patung khayalnya sepanjang hari, menunggu urat-urat saraf di kepalanya kembali berfungsi. Kukatakan padanya aku akan pergi menemuinya segera. Tentu saja setelah aku berbohong bahwa aku bekerja seperti orang gila.

Dia berkata makanan rumah sakit menyebalkan dan minta dibawakan chicken katsu dari Hokben.

Manusia di abad ke-21 yang waras mempunyai twitter atau facebook atau instagram dan menonton youtube, dan aku menjadi pengantar koran untuk mencari nafkah. Karena harus pergi ke Jalan Asia Afrika setiap pagi pada pukul lima tiga puluh, maka aku menyetel alarm ponsel ke “Only Time” Enya, satu-satunya lagu yang mampu membangunkanku tanpa membuatku marah dan sakit kepala.

Bandung adalah jenis kota yang ketika kamu sedang sedih, maka kamu juga merasa seperti bajingan. Seolah-olah kamu punya hutang pada kota untuk berbahagia. Seperti ada yang salah dengan otakmu sehingga tidak bisa puas di antara gedung-gedung peninggalan Belanda dan matahari terbenam di balik gunung dengan latar depan Jembatan Pasupati? Tahukah kamu bahwa mustahil mengambil foto yang jelek di Bandung? Aku berani bertaruh, meskipun kamu menggunakan kamera ponsel blackberry jadul, potretlah sudut kota terserah di mana saja dan lihat ke mana dia membawamu. Surga terpampang di layar, meresap seperti sejarah era des indes versi sepia. Jadi, jangan coba-coba mencari keburukan kota ini.

Sebenarnya aku merasa sangat merana belakangan ini, bahkan sebelum Wak Tisna berpisah dengan kekasih gelapnya—yang jelas bukan bibiku—dan kemudian kepalanya terkena asbak yang dilayangkan Junot, sepupuku, anak Wak Tisna satu-satunya.

Aku bahkan tidak bisa memberi tahumu apa yang membuatku merana. Aku menderita di Cikole, aku mengeluh di Pasir Putih, aku sengsara di Dago Pakar.

Bahkan, teman-teman meninggalkanku di Puncak minggu lalu dan harus naik bus melati sepanjang perjalanan kembali ke kota dan memaki siapa pun yang cukup bodoh untuk mengajakku bicara.

Jangan salah paham. Bandung adalah kota yang hebat jika kamu tahu ke mana harus pergi. Penuh dengan petualangan dan mojang-mojang cantik yang someah. Aku pernah mabuk di sebuah pub di Braga dengan seorang sekretaris eksekutif perusahaan multinasional, tapi hanya sekali itu saja.

Aku benci orang-orang yang mengeluh dan mengeluh bahwa Bandung sangat membosankan dan macetnya keterlaluan, lalu mereka menghabiskan liburan di Kebun Raya Bogor. Maka aku akan bicara dengan mereka tentang Dubai, atau Johannesburg, atau New York, atau Rio de Janeiro dan mereka menatapku dengan mulut ternganga.

Aku pernah memberi tahu orang-orang itu tentang seorang gadis Ukraina yang mengaku sebagai cucu Florian Herman. Dia bertanya, Siapa Florian? Dan aku menatapnya seolah-olah dia pendatang dari planet lain. Kuakui bahwa aku orangnya tidak sabaran. Itulah mengapa aku lebih memilih untuk melempar koran koran ke beranda rumah pelanggan saat fajar menyingsing daripada bekerja di kantor.

Ibuku mengeluh tentang bagaimana seharusnya aku bisa berbuat lebih banyak.

Kami mengirim kau ke Jakarta untuk kuliah hukum dan menjadi notaris, katanya, dan masih membayar cicilan kredit pinjaman untuk biaya kuliah kau. Mengapa kau tidak bekerja seperti teman-temanmu, hah?

Kujawab, Ekonomi sedang buruk, tidak ada pekerjaan, tidak ada yang menerima karyawan sekarang. Aku menghasilkan cukup uang untuk bertahan hidup.

***

Aku bangun jam lima dan membuat secangkir kopi dan sepiring mi goreng instan sambil menikmati keheningan. Aku suka kesibukan Jakarta, tetapi lebih suka dengan sepuluh menit saat keluar dengan sandal jepit dan celana pendek, mengendara sepeda motor Honda C70-ku dan menemukan jiwa-jiwa yang mengantuk di jalanan, serta angin dingin mengantarkan semerbak kembang taman yang membelai memanjakan lubang hidung. Kota tidak semuanya serupa, kamu harus menemukan kota yang menjadi jodohmu. Kamu tidak bisa hanya melihat gedung pencakar langit dan berpikir semuanya sama.

Saat aku mengendarai sepeda motor dengan headsetmenyusup ke liang telinga mendengarkan radio, lagu pertama yang muncul adalah cover song John Denver “Leaving on the Jet Plane”, dan kuiz bagi penelepon untuk menyebutkan nama artis. Aku berjanji dengan diriku sendiri saat menghubungi stasiun radio bahwa jika aku menang, itu menjadi pertanda untuk—

Puti di sini, dengan siapa? Tunggu, Anda akan dihubungkan dengan petugas yang menjawab telepon. Aku memenangkan kontes, CD—compact disc atau celana dalam—dan kucampakkan semua koran kecuali satu di emperan dan melaju ke jalan raya.

Hokben masih tutup, kataku pada Wak Tisna yang sudah bangun dan duduk dengan secangkir kopi di kamar. Tapi aku akan membawakan Wak koran.

Siapa dia? tanya Wak Tisna, menunjuk pada foto di tajuk utama.

Wak mau dengan lagu Rolling Stones kesukaan Wak? Aku mengalihkan topik pembicaraan.

Wak mau dengar “Home by the Sea”.Aku mengangkat bahu. Beatles? Ada banyak.

Bagaimana sekolahmu?tanyanya. Kapan kamu pulang kampung? Apakah kamu sudah punya pacar?

Beberapa tahun terakhir semuanya bercampur aduk dalam pikirannya.

Sungguh, siapa orang ini?Dia menatap halaman depan lagi.

Itu Presiden,kataku padanya. Dia yang memerintah.

Jangan bercanda, Wak Tisna tertawa. Tak mungkin!

Inilah yang selama ini mengganggu pikiranku. Jika dia bisa jadi pemenang, kita semua bisa. Tapi kamu tidak bisa menang jika tidak bergerak. Kamu tidak bisa menguasai dunia dari kamar indekos sempit di Cigereleng. Dan ibumu tidak akan membiarkanmu sendirian karena “Ibu dulu sekolah di kampung, kan?” Hidupmu harus lebih dari ini.

Ikut saja senam pagi sebentar,kata Wak Tisna. Nanti kasih tahu Wak apa saja berita yang lagi hangat seperti biasanya.

Dia bangkit dan meletakkan koran di bawah gelas di meja samping tempat tidur. Embun dari pantat gelas membentuk cincin dari tinta yang pudar.

Kemudian kami berjalan ke luar dan pagi itu merupakan pagi yang sempurna.

Bandung, 10 Mei 2021

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *