Aku sedang berdiri di tengah jalan raya. Jalan itu digambar dengan buruk. Maksudku, itu bukan jalan sungguhan. Jalan itu tampak seperti gambar jalan yang membentang hingga di kejauhan.
Jalan itu bergelombang di atas bukit-bukit dan menurun ke lembah-lembah dan berkelok-kelok di sekitar berbagai bagian lanskap lainnya, seperti gedung-gedung dan gunung-gunung kecil.
Langitnya biru senada dengan awan-awan putih yang bertebaran dan tepi jalannya berwarna hijau apel. Seluruh pemandangan itu terasa seperti kartun dan aku merasa tidak dapat berbalik untuk melihat apa yang ada di belakangku. Terasa sangat aneh dan aku tidak ingat bagaimana aku bisa berada di sini.
Tanpa peringatan apa pun, jalan raya di bawah kakiku mulai bergerak perlahan ke arahku dan aku harus berjalan maju hanya untuk mempertahankan posisi. Agak seperti berada di salah satu treadmill di fitness center.
Di kejauhan, aku melihat sebuah mobil biru mendekat. Ia tidak berusaha menghindariku dan—
***
Aku tampaknya berdiri di tengah jalan yang digambar dengan buruk, yang membentang ke kejauhan menuju beberapa gunung terjal. Gunung-gunung itu tampak tidak nyata, seperti gunung versi film kartun. Langitnya biru senada, kecuali beberapa awan putih dan tepiannya berwarna hijau rata dan tanpa cacat. Ada rumah-rumah atau bangunan pabrik sesekali tersebar di lanskap itu.
Jalan itu mulai bergerak ke arahku seperti treadmill tanpa ujung dan aku merasa harus berjalan maju hanya untuk tetap bertahan di tempatku berada.
Sebuah gambar kartun mobil biru datang ke arahku dan terpikir olehku bahwa aku mungkin harus menyingkir sebelum ditabrak.
Aku pindah ke sisi kiri jalan dan mobil itu melaju tanpa membahayakanku. Mobil itu juga digambar dengan buruk. Mobil itu juga tampak seperti sesuatu yang dicomot dari buku komik anak-anak. Ada orang-orang di dalam mobil tetapi mereka semua menatap lurus ke depan dan mengabaikanku saat mereka lewat.
Mobil lain muncul dari depan. Mobil ini berwarna merah dan berada di sisi jalan yang sama denganku. Aku mencoba untuk keluar dari jalur lalu lintas ke tepi jalan untuk menghindar, tetapi gerakanku tampaknya tidak bisa melampaui trotoar. Mobil merah itu menjadi sangat—
***
Aku tampaknya berdiri di tengah jalan yang digambar dengan buruk, yang semakin menjauh menuju ke cakrawala. Tampaknya ada jajaran gunung, tetapi gunung-gunung itu lebih mirip dengan gunung yang kamu lihat di buku bergambar anak-anak daripada gunung sungguhan.
Seluruh pemandangan di depanku, sebenarnya tampak seperti sesuatu dari buku mewarnai anak-anak. Ada pepohonan, tetapi bentuknya seperti permen lolipop hijau bundar dengan tangkai berwarna cokelat, atau segitiga hijau. Ada beberapa bunga putih yang bertebaran di bawah pepohonan. Bisa jadi bunga aster.
Tiba-tiba aku berjalan maju di tengah jalan raya. Meskipun, sejujurnya, itu lebih seperti berjalan di tempat dengan jalan yang mundur di bawah kakiku. Di kejauhan aku melihat sebuah mobil biru mendekat di tengah jalan dan aku bergerak ke kiri untuk menghindar dari jalurnya. Mobil itu tidak berusaha menghindariku, tetapi melaju tanpa membahayakan.
Mobil merah kedua muncul di kejauhan. Aku memutuskan untuk pindah ke tepi jalan, tetapi gerakanku tampaknya terbatas ke arah itu. Aku tidak bisa melewati tepi jalan. Seolah-olah ada penghalang kaca antara jalan dan tepi jalan.
Mobil merah itu melaju tanpa menyentuhku.
Kedua mobil itu lebih seperti mobil karikatur daripada mobil sungguhan, tetapi aku tidak punya waktu lama untuk merenung karena aku melihat dua mobil lagi menuju ke arahku. Satu berada di sebelah kiri jalur lalu lintas dan satu di sebelah kanan. Di antara keduanya, mereka kurang lebih memenuhi lebar jalan, tetapi aku dapat melihat bahwa mobil hijau, yang berada di sisi jalanku, berada agak jauh di belakang mobil hitam di sisi yang berlawanan. Jika aku membiarkan mobil hitam itu melewatiku dan sengan mengatur waktu dengan tepat, aku seharusnya dapat menghindar ke kiri agar tidak menghalangi jalan mobil hijau itu.
Mobil hitam itu lewat dan aku—
***
Aku merasakan seprti mengalami semacam déjà vu. Aku berdiri di tengah jalan yang digambar dengan buruk, berwarna abu-abu senada yang membentang tak terbatas ke cakrawala.
Ada beberapa gunung kartun di kejauhan dan beberapa awan kartun di langit biru yang senada.
Diriku mulai berjalan maju, atau mungkin jalan yang mundur di bawahku karena tampaknya aku tidak membuat kemajuan apa pun.
Pohon dan rumah kartun lewat perlahan di kedua sisi saat jalan yang bergulir di bawah kakiku.
Sebuah mobil biru melaju ke arahku di sisi kanan jalan. Aku bergerak ke kiri untuk menghindarinya. Beberapa saat kemudian sebuah mobil merah mendekatiku di sisi kiri jalan dan aku kembali ke kanan.
Di kejauhan aku melihat dua mobil mendekat. Ada mobil hitam di sebelah kanan dan mobil hijau di sebelah kiri. Mereka memenuhi lebar jalan, tetapi mobil hijau itu sedikit jauh di belakang mobil hitam dan selama aku tetap di kiri untuk membiarkan mobil hitam lewat, aku akan dapat bergerak ke kanan sehingga mobil hijau dapat lewat dengan aman.
Tidak ada mobil yang berusaha menghindariku dan pengemudi serta penumpang menatap lurus ke depan. Mereka tampaknya sama sekali tidak menyadari kalau aku ada.
Sebuah truk besar sedang menuju ke arahku. Nyaris tidak ada ruang di sisi jalan untuk membiarkannya lewat karena aku masih tidak dapat mencapai bahu jalan hijau. Truk itu hampir saja melewatiku tetapi, di belakang truk yang menggelinding ke arahku, ada sesuatu yang tampak seperti batang kayu besar, atau mungkin tiang listrik. Benda itu benar-benar memenuhi jalan dan tidak ada tempat untuk lari.
Aku berusaha untuk melompatinya, tetapi—
***
Lagi-lagi aku merasakan déjà vu. Jalan kartun abu-abu yang senada membentang di depan, sejauh yang dapat kulihat, menuju pegunungan kartun. Saat menghilang ke dalam ketidakterbatasan, jalannya bergelombang di atas bukit-bukit yang tak terlihat dan berkelok-kelok di sekitar berbagai rintangan.
Seekor burung kartun terbang di langit biru di depanku. Dua awan putih melayang di atas pemandangan yang keluar dari buku gambar.
Aku bisa melihat sepetak jalan biru di kejauhan. Mungkin itu danau atau mungkin laut.
Aku mulai berjalan maju saat jalan bergerak ke arahku. Entah bagaimana rasanya sangat akrab, tetapi sedikit lebih cepat.
Sebuah mobil biru datang ke arahku, tetapi aku menghindarinya dengan mudah. Ada mobil merah di belakangnya, tetapi aku juga menghindarinya.
Sebuah mobil hitam dan mobil hijau tampak menuju ke arahku dan memenuhi jalan, tetapi entah bagaimana aku tampaknya tahu bahwa jika aku membiarkan mobil hitam itu lewat, ada waktu untuk menghindar dari jalur mobil hijau itu. Tampaknya hampir seperti insting.
Sebuah truk besar hampir memenuhi jalan saat lewat, tetapi aku tetap di tepi jalan dan truk itu melaju tanpa membahayakan. Indra keenam memberi tahuku bahwa akan ada bahaya lain di dekat truk itu dan, tentu saja, sebatang kayu, yang memenuhi seluruh lebar jalan raya, menggelinding ke arahku. Aku mencoba memperkirakan momen itu dengan tepat dan melompat agar kayu itu lewat dengan aman di bawahku.
Jalanan itu menggelinding lebih cepat sekarang dan aku harus berlari kecil untuk tetap berada di tempat. Tiba-tiba aku harus berbelok ke kiri, dan aku harus bergerak ke kiri agar tetap berada di jalan raya. Lebih banyak mobil mendekat dan aku harus bergerak ke kanan dan kiri untuk menghindarinya.
Pasti ada sesuatu yang salah di sini.
Mobil-mobil itu terus bergerak maju tanpa henti dan tidak berusaha untuk menghindariku. Pengemudinya tidak memberi tanda apa pun meskipun aku ada di sini.
Kendaraan lain muncul. Ada bus merah, mobil balap, dan traktor di antara mobil sedan dan van yang umum.
Anehnya, semuanya melaju dengan kecepatan yang sama.
Tiba-tiba sekelompok kecil kendaraan mendekat. Aku bergerak ke kiri, kanan, dan kiri lagi. Yang tak terlihat di belakang tiga kendaraan pertama adalah salah satu batang kayu yang menggelinding. Aku melompat, tapi—
***
Ada arus mobil yang terus menerus melintas mendekatiku dalam berbagai ukuran dan warna. Ada yang kecil dan ada yang besar.
Mobil-mobil itu diselingi dengan truk dan van sesekali, dan terkadang traktor. Sesekali, sebatang kayu menggelinding di jalan ke arahku. Semuanya bergerak maju tanpa henti dengan kecepatan yang sama dan aku menghindar ke kiri dan kanan untuk menghindari tertabrak. Aku harus melompat pada saat yang tepat untuk menyingkirkan kayu-kayu itu, tetapi aku sudah cukup mahir sekarang, meskipun aku harus berlari lebih cepat.
Aku mengelak dari van biru dan menghindari sekumpulan kecil mobil sedan dengan bergerak ke kiri, kanan, kiri lagi dalam satu gerakan berkelok-kelok. Aku melompati kayu gelondongan lain dan menghindar ke pinggir jalan saat bus tingkat hampir memenuhi seluruh lebar jalan.
Aku sekarang melihat lebih jauh ke depan dan mampu mengantisipasi dengan lebih baik kapan jalan akan berbelok tiba-tiba ke kiri atau kanan.
Sesekali pemandangan di pinggir jalan berubah dari pabrik dan rumah menjadi lahan pertanian atau gurun, tetapi tampaknya tidak pernah mendekati pegunungan.
Kanan, kiri, kiri, kanan.
Kurasa aku sudah cukup menguasainya sekarang. Mobil biru, mobil merah, truk, kelinci merah muda! Kelinci merah muda!—
***
Déjà vu kembali hadir. Aku menatap jalan yang tak berujung, yang berkelok-kelok dan bergelombang menuju gunung-gunung yang jauh. Gunung-gunung itu tampak seperti Bukit Barisan, tetapi bisa saja gunung mana saja.
Aku mulai berlari, menghindari truk, mobil, dan van yang melaju kencang ke arahku. Aku merasa seluruh pengalaman itu mengasyikkan. Aku menantikan setiap batang kayu yang menggelinding dan melompati semuanya dengan mudah. Aku merasa begitu percaya diri, kurasa aku juga bisa melompati mobil. Lihat—
***
—Aku merasa begitu senang, kurasa aku bisa melompati mobil. Lihat—
***
Sepertinya aku punya energi yang tak terbatas. Aku merasa seolah-olah aku bisa berlari selamanya. Aku berlari sekuat tenaga, menghindari truk dan bus. Melompati mobil dan van dengan mudah. Aku melompati batang kayu yang menggelinding seolah-olah mereka tidak ada di sana. Kadang-kadang sekelompok tong aspal yang terbakar datang menggelinding di jalan. Aku juga bisa melompatinya.
Terkadang ada tumpukan jerami liar. Pergerakannya tampak sedikit lebih tidak menentu daripada mobil dan truk lain, yang semuanya bergerak dengan kecepatan seragam yang sama. Aku dapat melompatinya dengan relatif mudah, meskipun itu lebih mengaburkan pandangan daripada mobil dan terkadang ada benda tersembunyi tepat di belakangnya. Aku harus bereaksi cepat.
Kelinci datang. Aku dapat melihat mereka di balik kelompok mobil ini. Kiri, kiri, kanan, kiri. Aku melewati mobil-mobil dan melompati tiga batang kayu yang menggelinding secara berurutan.
Ada kelinci merah muda raksasa memakai sepatu roda yang memenuhi bagian tengah jalur lalu lintas. Dia punya wortel di setiap kakinya. Aku merapatkan tubuh di sisi jalan saat dia—
***
Ada kelinci merah muda raksasa memakai sepatu roda yang memenuhi bagian tengah jalur lalu lintas. Dia menjepit wortel dengan mulutnya, satu di kaki kanannya dan wortel lainnya di kaki kirinya. Aku mencoba melompatinya—
***
Aku mencoba melompatinya—
***
Aku mencoba melompatinya—
***
Aku berbaring di tengah jalan dan kelinci itu melewatiku tanpa mencederai ketika sepatu roda meluncur di kedua sisi tubuhku. Ada truk tepat di belakangnya dan aku—
***
Aku berbaring di jalan raya sampai kelinci itu lewat dan bergerak cepat ke samping sebelum truk itu menabrakku.
Aku melihat lebih banyak lagi kelinci di antara kesibukan lalu lintas di kejauhan. Aku berhasil melakukan trik berbaring pada tiga kelinci pertama yang meluncur tanpa mencederai di atasku, tetapi aku melihat kelinci berikutnya berbeda. Warnanya biru dan dia mengendarai skateboard alih-alih sepatu roda. Tidak ada ruang bagi skateboard untuk—
***
Aku menemukan cara bahwa aku dapat melompat ke wortel di kaki kiri kelinci dan dari sana melompat ke wortel di mulutnya. Kalau aku dapat mengatur waktu lompatan ketiga dengan benar, kelinci itu akan lewat sepenuhnya di bawahku dan aku mendarat dengan aman di jalan di belakangnya. Ini memberiku ide lain.
Dari waktu ke waktu kami melewati bawah jembatan. Ini tampaknya jalan raya atau rel kereta api, mungkin, yang melintasi rute kami. Aku bertanya-tanya apakah mungkin untuk melompat ke truk atau bus dan dari sana ke jembatan. Mungkin itu cara untuk keluar dari jalan tak berujung ini.
Ada bus tingkat merah mendekat dan aku mengatur waktu lompatanku—
***
Ada truk mendekat diikuti bus tingkat merah. Aku melompat ke truk dan melompat ke atap bus dengan lompatan lain. Bus terus melaju dan aku terjatuh dari bagian belakang ke jalan raya. Ada bara api yang menggelinding tepat di—
***
Aku melihat jembatan di kejauhan. Aku juga melihat bus tingkat merah mendekat dengan truk biru di depannya. Kalau aku melakukannya dengan benar, tiga lompatan akan membawaku ke jembatan.
Kanan, kanan, lompat, kiri, kanan.
Aku melewati dua mobil dan batang kayu yang menggelinding, lalu dua mobil lagi. Aku mengatur waktu lompatan pertamaku ke truk, lalu ke atap bus lagi. Lompatan ketiga berjalan dengan sempurna dan aku mendarat di jembatan.
Aku berdiri di rel kereta api.
Pandanganku berputar sembilan puluh derajat hingga aku melihat sepanjang rel, yang tampaknya terus berlanjut ke arah pegunungan kartun yang selalu ada di cakrawala. Ada kereta uap biru melaju kencang ke arahku. Tidak ada tempat bagiku untuk lari. Terlalu panjang bagiku untuk melompati. Pada saat terjadi benturan, sebuah bintang kuning meledak tepat di depanku.
“Selamat,” kata logo yang tercetak pada bintang tersebut. Di bawahnya, tertulis, “Anda telah berhasil menyelesaikan level satu.”
“Apakah Anda ingin memulai level dua?”
Cikarang, 22 September 2024

