Dahulu kala di Negeri Mesir yang dilintasi sungai Nil yang lebar, seorang anak laki-laki keturunan Firaun yang menjadi penguasa negeri tersebut. Sang Firaun hampir tak kuasa menahan kegembiraannya, karena dia memang mendambakan seorang putra untuk mewarisi mahkotanya. Lalu dia mengirim pesan untuk memohon kepada semua dewa-dewi yang paling berkuasa untuk datang dan melihat bayinya yang luar biasa itu.
Tak lama kemudian, begitu banyak dewa-dewi berkumpul di sekitar buaian bayi, sehingga anak itu tampak dalam bahaya akan mati lemas. Namun Sang Firaun yang dengan penuh harapan memperhatikan para dewa-dewi merasa khawatir melihat mereka tampak muram.
“Apakah ada yang salah?” tanyanya dengan cemas.
Para dewa menatapnya, dan semuanya menggelengkan kepala serentak.
“Dia anak laki-laki yang tampan, tertapi sangat disayangkan apa yang akan terjadi pasti terjadi,” kata mereka. “Telah tertulis dalam buku takdir bahwa dia harus mati, entah karena buaya, atau ular, atau anjing. Kalau kami bisa menyelamatkannya, maka kami akan melakukannya. Tetapi itu di luar kekuasaan kami.”
Setelah berkata demikian, mereka pun menghilang.
Selama beberapa saat, Sang Firaun berdiri mematung, sangat terpukul dengan apa yang didengarnya. Tetapi karena Firaun bukanlah orang yang mudah menyerah, dia segera menyusun rencana untuk menyelamatkan sang pangeran dari malapetaka mengerikan yang menantinya.
Sang Firaun segera memanggil arsitek kerajaan, dan memintanya membangun sebuah benteng yang kuat di puncak gunung, yang akan dilengkapi dengan barang-barang paling berharga dari istana Firaun sendiri, termasuk segala jenis mainan yang diinginkan anak-anak.
Selain itu, ia memberi perintah agar seorang penjaga harus berpatroli mengelilingi benteng siang dan malam.
Selama lima tahun, anak itu tinggal di benteng sendirian dengan para pengasuhnya, menghabiskan waktu di serambi yang luas tapi dikelilingi oleh tembok dengan parit yang dalam di bawahnya. Hanya ada jembatan angkat untuk menghubungkan mereka dengan dunia luar.
Suatu hari, ketika sang pangeran sudah cukup besar untuk berlari cukup cepat. Dia melihat dari balkon benteng bahwa di seberang parit seekor anjing kecil melompat dan bermain di sisi lain. Tentu saja, semua anjing telah dijauhkan darinya karena takut ramalan para dewa akan menjadi kenyataan. Dia belum pernah melihat anjing sebelumnya.
Pangeran menoleh ke pelayan yang berjalan di belakangnya, dan berkata, “Apakah nama makhluk kecil lucu yang berlari begitu cepat di sana?”
“Itu anjing, Pangeran,” jawab pelayan itu. “Baiklah, bawakan aku yang seperti itu, dan kita akan lihat mana yang bisa berlari lebih cepat.”
Dia memperhatikan anjing itu sampai menghilang di tikungan. Pelayan itu sangat bingung dan tak tahu harus meelakukan apa. Dia sudah diperingatkan dengan tegas untuk tidak menolak apa pun permintaan pangeran, tapi di juga ingat ramalan itu dan merasa bahwa ini adalah masalah serius.
Akhirnya dia pikir sebaiknya dia menceritakan seluruh kisah itu kepada Firaun, dan membiarkan Firaun yang memutuskan.
“Oh, berikan saja dia seekor anjing kalau dia menginginkannya,” kata Firaun, “dia akan menangis sejadi-jadinya kalau dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan.”
Maka seekor anak anjing yang persis seperti yang tadi—mungkin mereka kembar—untuk menjadi teman bermain Sang Pangeran.
Tahun demi tahun berlalu. Sang Pangeran dan anjing itu selalu bermain bersama hingga kemudian Sang Pangeran tumbuh menjadi seorang pemuda yang tinggi dan kuat. Akhirnya tibalah saatnya ketika dia mengirim pesan kepada ayahnya.
Ayah,
Mengapa Ayah mengurungku di sini, tidak melakukan apa-apa? Aku sudah tahu tentang ramalan yang dinubuatkan saat aku lahir, tetapi aku lebih suka mati sekarang juga daripada menjalani kehidupan yang sia-sia dan tidak berguna di sini. Tolong berikan aku senjata dan biarkan aku pergi. Bebaskanlah aku dan juga anjingku.”
Sekali lagi Sang Firaun mendengarkan keinginan anaknya. Pangeran dan anjingnya diangkut dengan sebuah kapal ke seberang sungai yang begitu lebar hampir menyerupai laut.
Seekor kuda hitam yang ditambatkan di pohon telah menunggunya, maka Sang Pangeran menunggangi kuda itu yang menuruti semua perintah Sang Pangeran, dan pergi ke mana pun Sang Pangeran mau. Anjingnya yang selalu mengikutinya.
Belum pernah ada pangeran yang sebahagia dirinya, dan dia menunggang dan terus menunggang kuda sampai akhirnya tiba di istana kerajaan tetangga.
Raja yang tinggal di istana itu tidak begitu peduli dengan urusan negara dan memastikan bahwa rakyatnya hidup makmur dan bahagia. Dia menghabiskan seluruh waktunya untuk memecahkan teka-teki dan menciptakan rencana yang sebaiknya tidak dilakukannya.
Pada saat pangeran muda itu tiba di kerajaan, Sang Raja negeri tersebut baru saja menyelesaikan sebuah istana yang indah untuk putri tunggalnya. Istana itu memiliki tujuh puluh jendela, masing-masing tingginya tujuh puluh kaki dari tanah, dan dia ia telah mengirim pasukan tentara kerajaan ke perbatasan untuk mengumumkan bahwa siapa pun yang dapat memanjat tembok ke jendela sang putri akan menjadi suami sang putri.
Kecantikan sang putri telah menyebar jauh ke mana-mana, tidak sedikit pangeran yang mencoba peruntungan mereka. Istana itu pasti tampak sangat lucu setiap pagi, dengan bercak-bercak warna berbeda di marmer putih saat para pangeran mencoba memanjat tembok. Namun meskipun beberapa orang berhasil mencapai lebih jauh dari yang lain, tidak ada yang mendekati puncak. Mereka telah menghabiskan beberapa hari dengan cara ini ketika pangeran muda itu tiba, dan karena ketampanan sang pangeran menyenangkan untuk dilihat, dan sopan untuk diajak bicara, para pangeran menyambutnya di rumah yang telah diberikan kepadak mereka nerikut bak mandi yang diberi wewangian yang layak setelah perjalanan panjangnya.
“Dari mana asalmu?” tanya mereka. “Dan putra siapakah kamu?”
Akan tetapi pangeran muda punya alasan untuk menyimpan rahasianya tentang dirinya, dan menjawab, “Ayahku adalah pelatih kuda bagi raja negeriku, dan setelah ibuku meninggal, dia menikahi seorang wanita lain. Awalnya semuanya berjalan baik, tetapi begitu ibu tiriku punya bayi sendiri, dia membenciku dan aku melarikan diri, agar dia tidak bisa menyakitiku.”
Hati para pangeran muda lainnya tersentuh begitu mereka mendengar ceritanya. Mereka melakukan segala yang dapat mereka pikirkan untuk membuatnya melupakan kesedihan masa lalunya.
“Apa yang kalian lakukan di sini?” Sanya sang Pangeran suatu hari.
“Kami menghabiskan seluruh waktu kami memanjat tembok istana, mencoba mencapai jendela sang putri,” jawab para pangeran lain. “Tetapi, hingga kini, belum ada seorang pun yang berhasil mencapai bahkan jarak sepuluh kaki dari tanah.”
“Kalau begitu aku akan mencobanya juga,” kata Sang Pangeran. “Tapi aku akan menunggu dan melihat apa yang kalian lakukan sebelum aku mulai.”
Keesokan harinya dia berdiri di tempat yang membuatnya bisa melihat para pemuda itu memanjat, dan dia memperhatikan tempat-tempat di tembok yang tampaknya paling sulit, dan memutuskan bahwa ketika gilirannya tiba dia akan memanjat dengan cara lain.
Hari demi hari dia mengawasi para pelamar, hingga, suatu pagi, dia merasa bahwa dia tahu denah tembok itu, dan duduk di samping yang lain. Berkat apa yang telah ia pelajari dari kegagalan orang lain, dia berhasil memahami satu demi satu lokasi dinding yang kasar, hingga akhirnya, yang membuat iri teman-temannya, dia berdiri di ambang jendela sang putri. Dari bawah mereka melihat melihat tangan halus mulus terulur dan menarik Sang Pangeran masuk.
Kemudian salah seorang pemuda berlari langsung ke istana raja, dan berkata, “Tembok itu telah dipanjat, dan hadiahnya telah dimenangkan!”
“Oleh siapa?” teriak sang raja sambil bangkit dari singgasananya. “Siapakah di antara para pangeran yang akan menjadi menantuku?”
“Sorang pemuda yang berhasil memanjat jendela sang putri sama sekali bukan seorang pangeran,” jawab pemuda itu. “Dia adalah putra dari pelatih kuda raja agung yang tinggal di seberang sungai, dan dia melarikan diri dari negerinya sendiri untuk menghindari kebencian ibu tirinya.”
Mendengar berita ini sang raja sangat marah. Tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa ada orang selain seorang pangeran yang berusaha mendapatkan putrinya.
“Biarkan dia kembali ke negeri asalnya,” teriaknya dengan marah. “Apakah dia mengharapkan aku akan menyerahkan putriku ke pengasingan?”
Dan Sang Raja memecahkan bejana-bejana minum karena amarahnya. Dia membuat pemuda itu ketakutan, yang berlari tergesa-gesa pulang ke teman-temannya, dan memberi tahu Sang Pangeran apa yang dikatakan Sang Raja.
Sang Putri yang bersandar di jendelanya, mendengar perkataan pemuda utusan itu dan memintanya itu kembali kepada raja, ayahnya, dan mengatakan bahwa dia telah bersumpah untuk tidak makan atau minum kalau pemuda pemenang sayembara diambil darinya.
Raja menjadi lebih marah dari sebelumnya ketika menerima pesan tersebut, dan memerintahkan pengawalnya untuk segera pergi ke istana dan menghukum mati pelamar yang sukses itu. Namun sang putri menempatkan dirinya di antara Sang Pangeran dan para algojo.
“Tangkap dia, dan aku akan mati sebelum matahari terbenam,” katanya.
Ketika para algojo melihat bahwa dia bersungguh-sungguh, mereka meninggalkan istananya dan menyampaikan kata-katanya kepada ayahnya.
Ketika itu kemarahan raja mulai mereda, dan dia mempertimbangkan apa yang akan dipikirkan rakyatnya kalau dia mengingkari janji yang telah diucapkannya di depan umum. Maka dia memerintahkan sang putri dan Pangeran untuk dibawa ke hadapannya. Ketika mereka memasuki ruang singgasana, dia begitu senang dengan aura bangsawan sang pemenang sehingga amarahnya benar-benar mencair, dan dia berlari ke untuk memeluk Sang Pangeran.
“Katakan padaku siapakah kamu?” tanyanya, “karena aku tidak akan pernah percaya bahwa kamu tidak memiliki darah bangsawan di nadimu.”
Namun Sang Pangeran berahasia, dan hanya menceritakan kisah yang sama. Akan tetapi, sang raja yang terpesona dengannya sehingga tidak berkata apa-apa lagi, dan pernikahan putrinya dan Sang Pangeran dilangsungkan keesokan harinya. Sebidang tanah yang luas dan kawanan ternak yang banyak diberikan kepada pasangan muda itu.
Sang Pangeran kemudian menceritakan kepada istrinya, “Hidupku berada di tangan tiga makhluk—buaya, ular, dan anjing.”
“Ah, betapa gegabahnya kamu!” seru sang putri sambil melingkarkan lengannya di leher sang pangeran. “Kalau kamu tahu itu, mengapa kamu membawa binatang buas itu? Aku akan memerintahkan untuk membunuhnya sekarang juga.”
Namun Sang Pangeran melarangnya.
“Bagaimana mungkin membunuh anjing kecilku tersayang yang telah menjadi teman bermainku sejak dia masih kecil?” serunya. “Oh, aku tidak akan pernah membiarkan itu.”
Yang bisa dilakukan sang putri hanyalah memastikan Sang Pangeran akan selalu membawa pedang dan ditemani seseorang saat dia keluar dari istana.
Ketika pangeran dan putri telah menikah selama beberapa bulan, Sang Pangeran mendengar bahwa ibu tirinya telah meninggal. Ayahnya yang sudah tua dan sakit-sakitan sangat menginginkan putra sulungnya berada di sisinya.
Pemuda itu tidak bisa menutup mata terhadap pesan seperti itu, dan dia mengucapkan selamat tinggal kepada istrinya, lalu berangkat dalam perjalanan pulang. Itu adalah perjalanan yang panjang, dan dia terpaksa sering beristirahat di jalan.
Suatu malam, ketika dia sedang tidur di sebuah kota di tepi sungai besar, seekor buaya besar datang diam-diam dan berjalan di sepanjang lorong menuju kamar sang pangeran. Untungnya salah satu pengawalnya terbangun ketika buaya itu mencoba menyelinap melewati mereka, dan mengurung buaya itu di sebuah aula besar, di mana seorang pengawal raksasa mengawasinya, tidak pernah meninggalkan tempat itu kecuali pada malam hari, ketika buaya itu tidur. Dan ini berlangsung selama lebih dari sebulan.
Ketika Sang Pangeran menyadari bahwa dia tidak mungkin meninggalkan kerajaan ayahnya lagi, dia mengirim utusan untuk menjemput istrinya, dan meminta utusan itu untuk mengatakan kepadanya bahwa dia akan menunggu di kota di tepi sungai besar. Inilah alasan mengapa dia menunda perjalanannya begitu lama, dan nyaris dimangsa buaya.
Selama minggu-minggu berikutnya sang pangeran menghibur dirinya sendiri sebaik mungkin, sambil menghitung saat kedatangan sang putri. Ketika sang putri benar-benar datang, dia segera bersiap untuk berangkat ke istana. Namun, malam itu juga, ketika sedang tidur, Sang Putri melihat sesuatu yang aneh di salah satu sudut ruangan. Sebuah bercak gelap, dan saat ia melihatnya, tampak semakin lama semakin panjang, bergerak perlahan menuju bantal tempat Sang Pangeran berbaring.
Sang Putri menciut ketakutan, tetapi meskipun suaranya pelan, makhluk itu mendengarnya, dan mengangkat kepalanya. Putri segera tahu bahwa itu adalah kepala ular kobra yang panjang dan pipih, dan dia teringat tentang ramalan nasib suaminya.
Tanpa membangunkan Sang Pangeran, dia meluncur turun dari tempat tidur dan mengambil semangkuk besar susu yang ada di atas meja, lalu meletakkannya di lantai di jalur ular, karena dia tahu bahwa tidak ada ular di dunia ini yang menolak susu.
Dia menahan napas saat ular itu mendekat, dan memperhatikannya mendongakkan kepalanya lagi seolah-olah sedang mencium sesuatu yang enak, sementara lidahnya yang bercabang menjulur keluar dengan rakus. Akhirnya mata ular tertuju pada susu itu, dan dalam sekejap dia menjilatinya begitu cepat sehingga sungguh mengherankan makhluk itu tidak tersedak, karena ia tidak pernah mengangkat kepalanya dari mangkuk selama masih ada susu yang tersisa di dalamnya. Kemudian, ular tersebut jatuh ke tanah dan tertidur lelap.
Inilah yang telah ditunggu-tunggu sang putri. Dia sambil mengambil pedang suaminya dan memisahkan kepala ular itu dari tubuhnya.
Keesokan paginya, setelah peristiwa yang menakutkan ini, pangeran dan putri berangkat ke istana Firaun. Namun ketika mereka sampai di sana, ternyata Sang Firaun telah mangkat. Mereka menyelenggarakan pemakaman yang megah, dan kemudian sang pangeran mempelajari undang-undang baru yang dibuat saat dia tidak ada, dan menyelesaikan banyak urusan di samping itu, hingga dia jatuh sakit parah karena kelelahan. Dia terpaksa pergi ke salah satu istananya di tepi sungai, untuk beristirahat. Di sana dia segera pulih dan mulai berburu, memanah bebek liar dengan busurnya. Ke mana pun dia pergi, anjingnya yang sudah sangat tua ikut bersamanya.
Suatu pagi sang pangeran dan anjingnya keluar seperti biasa, mengejar buruan mereka mendekati tepi sungai. Sang pangeran berlari dengan kecepatan penuh mengejar anjingnya, ketika dia hampir jatuh karena sesuatu yang tampak seperti batang kayu yang tergeletak di jalannya. Yang mengejutkannya, sebuah suara berbicara kepadanya, dan dia melihat bahwa benda yang dikiranya sebagai batang pohon tumbang itu ternyata seekor buaya.
“Kau tidak dapat melarikan diri dariku,” kata buaya. “Aku adalah takdirmu, dan ke mana pun kamu pergi, dan apa pun yang kamu lakukan, kau akan selalu akan bertemu denganku. Hanya ada satu cara untuk melepaskan diri dariku. Kalau kau menggali lubang di pasir kering yang akan tetap terisi air, takdir akan terpatahkan. Kalau tidak, kematian akan segera datang padamu. Aku memberimu satu kesempatan. Sekarang pergilah.”
Sang Pangeran pergi dengan sedih. Ketika dia sampai di istana, dia mengurung diri di , dan sepanjang hari menolak untuk bertemu siapa pun, bahkan istrinya. Namun, saat matahari terbenam, karena tidak ada suara yang terdengar melalui pintu, sang putri menjadi sangat ketakutan, dan membuat suara yang sangat keras sehingga sang pangeran terpaksa mencabut palang pintu dan membiarkan istrinya masuk.
“Betapa pucatnya dirimu,” seru Sang Putri. “Apakah ada yang menyakitimu? Katakan padaku, kumohon, apa yang terjadi, mungkin aku bisa membantu!”
Maka sang pangeran menceritakan seluruh kisahnya, dan tentang tugas mustahil yang diberikan kepadanya oleh buaya.
“Bagaimana lubang pasir bisa tetap terisi air?” tanyanya. “Tentu saja, air akan mengalir deras. Buaya itu menyebutnya ‘kesempatan’, tetapi dia bisa saja menyeretku ke sungai saat itu juga. Dia berkata dengan jujur bahwa aku tidak bisa lolos darinya.”
“Oh, kalau itu saja,” seru sang putri, “aku sendiri yang bisa membebaskanmu, karena dewi pelindungku mengajarkanku untuk mengetahui kegunaan tanaman. Di padang pasir tidak jauh dari sini tumbuh tanaman kecil berdaun empat yang akan mengisi air di dalam lubang selama setahun penuh. Aku akan mencarinya saat fajar, dan kamu bisa mulai menggali lubang itu kapan pun kau mau.”
Untuk menghibur suaminya, Sang Putri bercerita tentang hal-hal yang menyenangkan dengan riang, meski dia tahu betul bahwa tugas yang menantinya tidaklah menyenangkan. Namun, Sang Putyri penuh dengan keberanian dan semangat, bertekad dengan cara apa pun, suaminya harus diselamatkan.
Hari masih gelap ketika dia meninggalkan istana menunggangi keledai seputih salju, berpacu menjauh dari sungai langsung ke barat. Dia tidak dapat melihat apa pun di depannya selain hamparan pasir yang datar, yang menjadi semakin panas saat matahari terbit semakin tinggi. Kemudian, dia dan keledainya merasa haus, tetapi tidak ada mata air yang dapat memuaskan dahaganya. Kalaupun ada, dia tidak akan sempat berhenti karena masih harus berjalan jauh dan segera kembali sebelum malam tiba. Kalau tidak, buaya akan menyatakan bahwa pangeran tidak memenuhi persyaratannya.
Maka, Sang Putri mengucapkan kata-kata penyemangat kepada keledainya yang meringkik sebagai balasan. Keduanya terus melaju.
Oh! Betapa senangnya mereka berdua ketika melihat sebuah batu yang tinggi di kejauhan. Mereka lupa bahwa mereka haus dan matahari sedang terik. Pasir di bawah kaki mereka beterbangan sampai keledai itu berhenti sendiri di tempat yang teduh dan sejuk.
Meskipun keledai itu dapat beristirahat, sang putri tidak berhenti karena tanaman itu, seperti yang diketahuinya, tumbuh di puncak batu dan jurang yang lebar membentang di sekeliling kaki bukit. Untungnya, dia membawa tali, dan setelah membuat jerat di salah satu ujungnya, ia melemparkannya ke seberang dengan sekuat tenaga. Pertama kali tali itu meluncur kembali perlahan ke dalam jurang dan dia harus menariknya ke atas lalu melemparkannya lagi. Namun akhirnya jerat itu tersangkut pada sesuatu. Sang putri tidak dapat melihat apa, dan harus mempercayakan seluruh berat badannya pada jembatan kecil yang mungkin saja putus dan dia akan jatuh ke dalam jurang yang penuh batu runcing. Dan buat Sang Putri kematiannya sama pastinya dengan kematian Sang Pangeran.
Tetapi hal yang menakutkan tersebutytidak terjadi. Sang putri berhasil sampai ke sisi lain dengan selamat, dan kemudian bagian terburuk terjadi. Begitu dia meletakkan kakinya di langkan batu, batu itu terlepas berguguran dan meninggalkannya di tempat yang sama seperti sebelumnya. Sementara itu, jam-jam berlalu, dan hampir tengah hari.
Sang putri yang malang hampir putus asa, tetapi dia menolak untuk berhenti berjuang. Dia menoleh ke sekeliling dan melihat sebuah batu kecil di atasnya yang tampak lebih kokoh dari lain. Menginjakkan kakinya dengan hati-hati di batu-batu yang ada di antaranya, dia berhasil dengan susah payah mencapainya. Dengan cara ini, dengan tangan yang terluka dan berdarah, dia mencapai puncaknya.
Namun angin bertiup sangat kencang sehingga dia hampir buta karena pasir debu, dan terpaksa menjatuhkan dirinya ke tanah, meraba-raba mencari tanaman obat yang berharga itu.
Selama beberapa detik yang menakutkan, dia mengira perjalanannya sia-sia. Ke mana pun dia meraba, tidak ada apa-apa selain kerikil dan batu, ketika, tiba-tiba, jari-jarinya menyentuh sesuatu yang lembut di celah. Jelas bahwa yang dipegangnya adalah tanaman, tetapi apakah itu tanaman yang tepat?
Dia tidak bisa melihatnya karena angin bertiup lebih kencang dari sebelumnya, maka Sang Putri berbaring di di tanah dan menghitung daun-daunnya. Satu, dua, tiga—ya! Ya! Ada empat!
Sang Putri memetik sehelai daun dan menggenggamnya di tangannya sementara dia berbalik, hampir terhempas ditiup angin, dsn menuruni batu. Ketika dia sudah aman di sisi batu, semuanya menjadi tenang dalam sekejap, dan Sang Putri meluncur menuruni batu begitu cepat. Sukup mengherankan bahwa dia tidak jatuh ke dalam jurang. Namun, untungnya, dia berhenti cukup dekat dengan jembatan talinya dan segera menyeberanginya.
Keledainya meringkik gembira saat melihatnya, dan mereka bergegas pulang dengan kecepatan terbaik, seolah tidak pernah tahu bahwa tanah di bawah kakinya hampir sepanas matahari di atasnya.
Di tepi sungai besar keledai berhenti dan sang putri bergegas ke tempat sang pangeran berdiri di dekat lubang yang telah digalinya di pasir kering dengan kendi air besar di sampingnya. Tidak jauh dari sana, buaya itu berbaring berkedip-kedip di bawah sinar matahari dengan giginya yang tajam dan rahangnya yang putih-kuning terbuka lebar.
Atas isyarat dari sang putri, sang pangeran menuangkan air ke dalam lubang, dan saat air mencapai tepian, sang putri melemparkan tanaman berdaun empat itu.
Apakah upayanya akan berhasil, atau air akan menetes perlahan melalui pasir dan sang pangeran akan menjadi korban monster yang mengerikan itu?
Selama setengah jam mereka berdiri dengan mata terpaku di tempat itu, tetapi lubang itu tetap penuh seperti di awal, dengan daun hijau kecil mengambang di atasnya. Kemudian sang pangeran berbalik sambil bersorak kemenangan, dan buaya itu dengan kesal terjun ke sungai. Sang pangeran berhasil lolos dari takdir kedua dari tiga takdir kematiannya!
Sang Pangeran berdiri mengawasi si buaya dan bersukacita karena dia telah bebas, ketika tiba-tiba dia dikagetkan oleh seekor bebek liar yang terbang melewati mereka, mencari perlindungan di antara alang-alang yang memagari tepi sungai. Sesaat kemudian anjingnya berlari mengejar bebek dan menyenggol kaki tuannya dengan keras. Sang pangeran terhuyung, kehilangan keseimbangan dan jatuh terlentang ke dalam sungai, di mana lumpur dan alang-alang menangkapnya dan menahannya dengan kuat. Dia berteriak minta tolong kepada istrinya yang datang dengan berlari. Untungnya Sang Putri membawa tali.
Anjing tua yang malang itu tenggelam, tetapi sang pangeran berhasil ditarik ke tepi.
“Istriku,” katanya, “lebih kuat dari takdir.”
Cikarang, 23 Oktober 2024

