Tulisan di Dinding
dok. pri. Ikhwanul Halim

Membawa Pulang Kengerian

Views: 27

Lupakan aroma kentang yang menguar dari rumah di persimpangan Jalan Banda dan jalan Aceh yang kini sudah menjadi lokasi kuliner di Bandung. Lupakan noda darah di lantai kamar tidur tamu—itu hanya mitos yang diciptakan oleh Pakde Tomo yang sadis untuk menyiksamu dengan malam-malam tanpa tidur. Tidak ada yang pernah meninggal di kamar tidur itu, tidak peduli apa yang diceritakannya.

Tidak, hantu yang sebenarnya berakar lebih dalam dalam sejarahnya, sejarah nyata yang bermula pada tahun 1912, tanggal yang terukir pada plakat logam di samping pintu depan. Eyangmu membeli rumah itu dari Tuan Timmerman—tidak ada yang tahu nama depannya—dan Tuan Timmerman membelinya dari Tuan van de Hoek, yang membangunnya, berbentuk rumah panggung persegi, terbuat dari papan dan bata, dan kokoh, dengan langit-langit plester berhias dan kayu tembesi mengilap yang tidak akan Anda lihat di rumah mana pun saat ini. Namun, Timmerman—menurutku—adalah masalahnya, dalam hidup dan mati. Eyangmu awalnya adalah penyewa ketika Timmerman pindah ke anatorium atau panti jompo. Berakhir sebagai pembeli—rumah dan semua isinya—sehingga putri-putrinya dapat membayar untuk menampungnya di sana. Dan kejadian hantu itu dimulai tidak lama setelah kematiannya, ketika eyangmu, yang begadang hingga larut pagi mengerjakan laporannya, merasakan suhu turun hingga dingin yang tak wajar dan sesuatu masuk ke dalam ruangan, sosok yang tak terlihat, waspada dan posesif.

Tiga kali terjadi, dan tak lama kemudian eyangmu mulai tidur bersama anak-anaknya. Namun, itu tidak menghentikan suara bisikan-bisikan itu. Tepat di ujung pendengaran, mereka, di saat-saat malam yang sunyi, samar dan jauh, kata-kata itu tidak dapat dibedakan, menjangkau samudra luas tak terbatas—meminjam gaya H.P. Lovecraft, jika bukan maknanya—untuk mengklaim kepemilikan atas apa yang telah hilang.

Tidak ada yang menghentikannya, hingga beberapa tahun kemudian, ketika eyangmu mengganti perabotan terakhir milik Tuan Timmerman—memutus hubungan terakhirnya dengan rumah itu, atau begitulah yang selalu aku bayangkan. Karena dengan beberapa pengecualian—The House Next Door (1978) Anne Rivers Siddons adalah contoh terbaik yang dapat aku bayangkan—rumah hantu, seperti banyak horor gotik lainnya, adalah tentang hubungan antara masa lalu dan masa kini. Kehilangan yang menyedihkan yang menyeruak kekosongan untuk merebut kembali apa yang menjadi miliknya sendiri. Dosa yang tidak tertebus yang menodai masa kini dan pembalasan dendam yang mengerikan.

Fiksi misteri dunia penuh dengan contoh-contoh seperti itu. House of Seven Gables (1851) Nathaniel Hawthorne, The Fall of the House of Usher(1839) Edgar Allan Poe, The Turn of The Srew (1898) Henry James yang menjadi dasar serial The Haunting of Bly Manor(2020) dan The Haunting of Hill House Hill(1959) Shirley Jackson yang menurut Stephen King merupakan salah satu fiksi horor terbaik. Rumah hantu dari fiksi gotik Amerika—dan kastil berhantu dari pendahulunya di Eropa—menurutku, adalah arketipe gotik yang paling penting dari semuanya.

Dracula (1897) Bram Stoker, vampir yang berpengaruh, tinggal bersama tiga pengantin vampir yang menyerang Jonathan Harker, pahlawan protagonis dalam kastil. Dalam versi sinematik dari mitos, Frankenstein memanggil api surga untuk menghidupkan mosnter yang tak bernama juga di dalam kastil. Dan di sinilah, ketika tradisi gotik Eropa tentang dosa institusional (aristokrat dan gerejawi) memberi jalan kepada tradisi Amerika yang lebih peduli dengan dosa para penjajah kaum Puritannya, kastil membuka jalan kepada rumah, sisi yang berbeda dari koin yang sama.

Dalam mitos manusia serigala saja, latar memainkan peran yang berkurang, terutama karena kiasan itu melihat ke dalam, pada keadaan jiwa manusia yang terbelah, daripada ke luar pada hubungan antara masa lalu dan masa kini. Namun bahkan dalam kisah werewolf, rumah besar gotik yang lapuk sering muncul, seperti dalam iterasi sinematik terbaru The Wolf Man(rencana rilis 2025). Singkatnya, latar—Bad Place, Stephen King akhirnya menyebutnya—adalah inti dari apa yang dilakukan penulis horor modern dan pendahulunya yang beraliran gotik.

Namun, arketipe Bad Place lebih daripada rumah hantu. Tempat itu lebih luas karena bisa berada di tempat mana pun, mulai dari kedalaman hutan Fangorn Tolkien yang angker hingga teluk (yang tampaknya) damai tempat berenangnya Makhluk dari Black Lagoon yang eponim (dan amfibi), manga karya Rei Hiroe.

Singkatnya, Bad Place bisa berada di mana saja—dan sering kali memang begitu, yang membuatnya cukup menakutkan.

Tempat angker seperti uang receh: tidak pernah tahu di mana dia akan muncul—atau lebih parah lagi, kapan kamu akan menemukannyaNamun, tempat itu lebih sempit dalam arti bahwa kengeriannya tidak seberapa dibandingkan dengan kengerian rumah hantu, karena rumah yang kita huni adalah tempat kita yang paling suci.

Rumah, seperti kata pepatah, adalah istana bagi manusia. Penjajaran kedua istilah tersebut menunjukkan bahwa di sinilah tradisi gotik Eropa dan Amerika bertemu, sementara pepatah itu sendiri mengklaim bahwa rumah adalah tempat, dan mungkin satu-satunya tempat, di mana kita dapat menegaskan penguasaan atas kekuatan eksternal apa pun yang dapat mengancam kita.

Kita mengunci diri kita sendiri dan mengunci dunia, dari bahaya gosip tetangga hingga maniak Hannibal Lecter, di luar.

Seberapa kuatkah rumah sebagai sebuah gambaran? Pertama-tama, rumah adalah sesuatu yang lebih dari sekadar bangunan. Rumah adalah rumah, pusat kehangatan dan keamanan dalam pelukan keluarga—tempat, menurut Robert Frost, tempat yang harus menerimamu.

“Dibutuhkan banyak waktu tinggal di rumah untuk menjadikannya rumah,” tegas Edgar Guest, dan deskripsi statistik tentang American Dream (rumah, mobil, 2 – 4 anak) memberinya tempat yang utama, seperti halnya undang-undang pajak.

Rumah adalah penanda kelas utama kita dan simbol utama kehidupan rumah tangga kita, tempat tinggal ibu rumah tangga—yang terkadang menjadi korban dari keluarga yang berantakan.

Keluarga Lutz dalam The Amityville Horror(1977) Jay Anson, dengan membeli rumah tempat Ronald Defeo membunuh seluruh keluarganya (kisah nyata), sedang membeli sepotong Impian Amerika. Ketika mereka tidak dapat membayar—dan tembok-tembok mulai berdarah—mereka mendapati diri mereka mendapatkan American Nightmare.

Mungkin bobot simbolis dari kisah rumah hantu itu paling nyata dalam pengejawantahannya yang paling terkenal, The Shining(1977) Stephen King.

The Overlook Hotel yang terletak di Pegunungan Rocky Colorado, tempat Jack Torrance dan keluarganya bertugas sebagai penjaga di musim dingin, merupakan rumah bagi dua sejarah. Dalam kapasitasnya sebagai hotel, hotel ini memiliki sejarah publik (meskipun tidak dipublikasikan) yang mencakup pembunuhan oleh mafia, kejahatan keuangan oleh tokoh seperti Howard Hughes, dan masa tinggal singkat empat presiden, di antaranya mungkin yang paling korup, Richard Nixon.

Ini adalah kisah singkat yang mengerikan tentang sisi gelap sejarah Amerika. Namun, hotel itu juga berfungsi, meskipun hanya untuk waktu yang singkat, sebagai rumah bagi Jack Torrance dan keluarganya. Hantu-hantu yang dibawa Jack Torrance dalam dirinya, yaitu pelecehan anak dan alkoholisme, yang pada akhirnya membuatnya rentan terhadap kekuatan supranatural yang menghuni hotel itu. Persinggungan dua sejarah—nasional dan pribadi—mengakibatkan kehancuran keluarga Torrance, kehancuran yang menggemakan potensi kehancuran yang kita semua hadapi, baik secara nasional, finansial, maupun kekeluargaan.

Yang membawaku kembali ke kehancuran di rumah eyangmu. Suatu malam, ketika kamu masih kecil (kamu mungkin berusia sembilan atau sepuluh tahun, bertahun-tahun sebelum kami menghapus jejak terakhir Tuan Timmerman dari rumah itu, aku terbangun di sebuah ruangan yang dingin dan mendapati sosok gelap berdiri di ambang pintu.

“Ayah,” kataku, tetapi sosok itu tidak menjawab, dan aku berbaring ketakutan. Napasku terengah-engah dalam kegelapan hingga akhirnya tidur kembali membawaku.

Baru beberapa tahun kemudian aku bertanya-tanya apakah sosok itu adalah Tuan Timmerman. Tuan Timmerman, pendatang dari Belanda yang telah menjalani kejayaan kolonial—yang menjadi dasar American Dream para pendatang ke Benua Baru—sekaligus sisi gelapnya, yang telah berhemat dan menabung untuk membeli rumah impiannya tetapi akhirnya kehilangannya, hingga usia lanjut, hingga kebutuhan finansial, hingga kematian menjemput.

Hal yang sama tampaknya terjadi pada eyangmu, saat memasuki usia delapan puluhan, dan suatu hari nanti, hal yang sama akan terjadi padaku.

Dan juga padamu.

Yang menakutkan dari rumah angker adalah rumah-rumah itu membawa pulang kengerian.

Cikarang, 24 Oktober 2024

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *