Aku hampir melempar ponselku ke dinding seberang kamar saat bergetar.
Aku mengabaikannya. Saat jam menunjukkan pukul 3 pagi, aku memejamkan mata dan bertanya-tanya mengapa jam ini hanya menyisakan garis tipis antara dunia roh dan dunia kita.
Memang aneh untuk dipikirkan, tetapi itu menenangkan pikiranku, membantuku mendarat di tempat yang bukan kehidupanku. Ketika ponselku bergetar lagi, aku bangkit dan menjawabnya.
Dari Syauki.
“Ada apa?”
“Zein! aku di luar!”
“Oh, kamu mau sarapan?”
“Bukan! Biarkan aku masuk!”
“Kenapa?”
“Buruan! Di sini dingin!”
“Nggak! Kamu nggak boleh masuk!”
Beberapa detik kemudian, aku membuka pintu geser dan kepala Taufan menyembul masuk.
“Aku mau minta tolong, tapi janji kamu jangan marah.”
“Gila,” teriakku tapi dengan nada berbisik. “Aku nggak mau membangunkan orang tuaku!”
“Pokoknya kamu harus janji nggak akan marah.”
“Kita masuk?” tanya suara lembut seorang perempuan.
“Siapa dia?”
“Pelacur.”
“Apa?”
“Aku nggak bisa membawanya pulang ke rumah istriku dan aku tidak punya uang lagi untuk menyewa kamar hotel.”
“Aku nggak tahu harus bilang apa.”
“Bilang ya.”
Aku menutup pintu di depan wajahnya dan pergi. Tidak mungkin dia akan melakukan hal seperti ini di rumah orang tuaku — tidak setelah aku baru saja pindah kembali ke sini.
Aku berguling-guling.
Ini Jam Iblis, pikirku. Iblis pasti sudah pulang dari nightclub jam segini.
Aku tertidur lagi. Mungkin dia bertemu Syauki di bar — Syauki!
Aku segera bangkit.
Sial, pikirku. Dia sebaiknya sudah pergi.
Jendela terbuka, dan dari apa yang bisa kulihat, sebuah kaki dengan tumit sepatu stiletto masuk.
Pelacur itu memasuki kamarku, diikuti oleh Syauki.
“Nggak, nggak, nggak!” kataku. “Keluar!”
“Dulu aku selalu melakukan ini saat kami masih kecil,” kata Syauki kepada pelacur itu. “Dia saudara yang tidak pernah kumiliki.”
“Jadi, apakah kalian ingin melakukan hubungan inses atau semacamnya?” tanya pelacur itu.
“Nggak!” selaku. “Keluar!”
“Dengar, Bro, aku sudah menidurinya. Kami hanya butuh tempat untuk minum obat batuk dan tertidur sebentar. Kami akan pergi pagi-pagi sekali.”
“Kenapa kamu tidak minum pil seperti orang normal?”
“Entahlah. Ini mengandung kodein. Bikin ngantuk.”
Kami bertiga berbaring menunggu matahari terbit. Saat kami bergantian antara ngantuk dan terjaga, Syauki bercerita tentang calon mantan istrinya.
Sulit menikah di usia dua puluhan, tapi pelacur?
Pukul 3 pagi, waktunya Iblis, pikirku. Iblis pasti ada di bar. Iblis tidak perlu membuktikan bahwa dia ada atau tidak ada, tetapi ketika bartender menatap Syauki, si pelacur berharap Syauki membayar minumnya. Akhirnya aku tertidur.
Matahari bersinar di wajahku saat aku membuka mata. Burung-burung berkicau selaras dengan suara angin di luar.
Iblis pasti sedang mabuk. Aku membayangkan dia tidak memberi tip, keluar dari bar larut malam, dini hari.
Dia keluar untuk mengencingi gedung-gedung, mencuri hiasan taman, dan mengutuk Tuhan.
Syauki dan pelacur itu sudah pergi.
Kuharap dia tidak mencuri apa pun.
Aku masuk ke dapur, dan di meja duduk Syauki dan wanita malam—atau wanita pagi.
“Apa yang kau —”
Ibu masuk, duduk di sebelah Syauki dan pelacur itu. Mereka semua menyantap sarapan.
Perutku mual.
Ini keterlaluan, bahkan untuk Syauki.
“Halo, Nak,” kata ibuku dengan suara serak khas perokok. “Duduklah. Syauki membuat telur orak-arik.”
“Ya,” kata Syauki. “Aku yang menaruh paprika untukmu.”
Ibu menoleh ke pelacur itu.
“Kamu beruntung sekali. Dia chef yang fenomenal.” Dia menggigit telurnya. “Jadi, kapan kalian menikah?”
“Menikah?!” teriakku.
Ayahku masuk dengan langkah tergesa-gesa.
“Ya,” katanya. “Anak ini bahkan belum bercerai dan dia sudah punya rencana!”
“Biarkan dia sendiri!” kata ibuku.
“Aku kan cuma bilang dia sudah punya rencana,” kata ayahku.
Mereka percaya kata-katanya. Dia membodohi mereka seperti yang selalu dia lakukan dari masa kami remaja.
“Ngomong-ngomong, Sayang,” kata ibuku kepada pelacur itu, “siapa namamu?”
“Destiny,” kata pelacur itu dengan bangga.
“Ya, begitulah aku memanggilnya,” Syauki menjawab, “karena dia takdirku.”
“Oh, manis sekali,” kata ibuku.
“Aku harap kamu yang jadi anakku,” imbuh ayahku sambil menunjuk Syauki.
Aku membawa sarapanku ke kamar.
Cikarang, 27 Oktober 2024

