NEGERI OMON-OMON
NEGERI OMON-OMON

Negeri Omon-Omon: Bab 3

This entry is part 5 of 6 in the series Negeri Omon-Omon
Views: 0

Nusantara adalah kota yang aneh dan menakutkan di tengah antah berantah, terhubung ke pelabuhan oleh tali pusar sepanjang 75 kilometer yang terbuat dari aspal.

Kalau diadakan kompetisi untuk menemukan kota paling membosankan di dunia, Nusantara akan menang telak, jika para juri mau repot-repot mengunjunginya.

Beberapa monumen publik yang mencolok mengingatkan penduduk bahwa kota ini tidak dibangun kemarin dan memiliki sejarah. Tetapi Nusantara tidak memiliki pusat kota. Tidak ada kawasan kumuh, tidak ada kawasan etnis, tidak ada distrik lampu merah, dan tidak ada zona industri. Kota ini hanyalah kota yang tersebar di hutan belantara dan dihubungkan oleh jalan raya empat dan enam jalur.

Di Nusantara, mudah untuk berkendara ke mana saja, tetapi tidak ada tempat yang layak untuk dikunjungi.

Pinggiran kota itu sendiri adalah kantong-kantong kepuasan diri yang angkuh dan keputusasaan yang sunyi. Penduduknya memiliki standar hidup tertinggi di negara ini, dan tingkat alkoholisme, bunuh diri, dan perceraian tertinggi.

Itu tidak mengherankan, karena di Nusantara kau mendapatkan perasaan mengerikan bahwa semua hal menarik terjadi di tempat lain. Kecuali pertukaran pasangan, tentu saja.

Aku tinggal di Penajam, salah satu pinggiran kota yang lebih tua, dengan taman yang luas dan jalan-jalan melengkung panjang yang dipenuhi dengan pohon akasia dan tusam.

Sebagian besar rumah adalah bungalow bata. Tetapi aku tinggal di rumah deret, yang terakhir dari lima rumah, dengan deretan garasi di belakangnya.

Aku memarkir mobil di garasi saya tak lama setelah pukul delapan dan berjalan ke pintu depan. Udara malam yang dingin menusuk kaki. Aku membuka pintu depan dan melangkah ke ruang tamu terbuka yang luas.

Tak lama setelah hubunganku dengan Najla Mufasa berakhir—dan aku dipecat dari Kontak—aku mulai berkencan dengan seorang pengacara yang menarik bernama Evelyn Asri.

Terus terang, dia terlalu baik untukku. Tetapi dia tidak menyadarinya dan aku berusaha keras untuk merahasiakannya. Memang, dia masih belum menyadarinya, empat bulan kemudian, ketika dia pindah ke rumahku. Atau mungkin berakhirnya masa sewanya ada hubungannya dengan itu.

Saat itu, unitku tampak hampa seperti ruang tunggu transit. Sebagian besar perabotannya dirakit dengan asal-asalan tanpa memperhatikan petunjuk. Dindingnya dihiasi poster Basuki Abdulah yang pudar. Tanaman pot mati karena kehausan dan semuanya tertutup debu purba.

Ornamenku bisa muat dalam koper kecil dan aku hampir tidak punya cukup peralatan makan untuk makan sendiri. Tapi Evelyn dengan cepat mengimpor tanaman pot, karpet, vas, permadani, dan satu set peralatan makan lengkap.

Melihatnya membersihkan unit membuatku lelah secara mental.

Awalnya, aku menikmati transformasinya. Baru-baru ini, itu mulai mengganggu. Dindingnya tampak lebih dekat dan aku terus menabrak barang-barang. Aku merindukan hari-hari ketika aku bisa meninggalkan kotak pizza kosong di meja kopi dan cucian di belakang sofa.

Namun, karena itu rumahku dan kreditku. Aku tidak bisa begitu saja pergi dan tidak berani memintanya untuk pergi.

Waktu aku masuk lewat pintu depan, dia duduk di sofa, menonton TV. Itu sofa yang sama yang dulu sering kutiduri dengan wajah menempel di atasnya. Sekarang aku merasa kesal karena tidak bisa melakukannya.

Dia menoleh dan tersenyum.

“Hai. Bagaimana harimu?”

“Tidak ada yang akan kutulis di memoarku. Bagaimana denganmu?”

“Baik. Sebagian besar waktuku dihabiskan di pengadilan.”

Evelyn bekerja di sebuah firma kecil di Pengadilan Umum.

Aku duduk di sebelahnya. “Melakukan apa?”

“Klienku berutang lima puluh juta untuk denda lalu lintas. Aku berusaha agar dia tidak dipenjara.”

“Benarkah?”

“Ya.”

“Kok bisa?”

“Aku berhasil membuatnya membayar denda.”

Aku menepuk dahiku. “Oh, manuver hukum yang brilian. Kuharap dia berterima kasih.”

“Ya, dia berterima kasih. Dia seorang dokter gigi. Dia menawarkan untuk memasang mahkota gigiku dengan diskon sepuluh persen.”

Evelyn memperlihatkan giginya yang indah. “Menurutmu, sebaiknya aku pasang penutup pada kukuku?”

Aku menggelengkan kepala. “Menurutku sudah bagus.”

“Dia juga mengajakku makan malam.”

Sesuatu menekan hatiku. Aku mungkin ragu tentang hubungan kami, tetapi aku tidak suka banteng lain berkeliaran di padang rumputku.

“Bajingan kotor itu. Apa yang kau katakan?”

“Aku bilang aku sudah bertunangan.”

Tentu saja itu bohong. Tapi tetap saja membuatku tidak nyaman.

“Kenapa kau bilang begitu?”

“Karena dia brengsek, dan itu cara termudah untuk menyingkirkannya.”

Dia menatapku, merasakan ketidaknyamananku, dan menikmatinya.

Ada jeda yang lama. Ingin mengubah topik pembicaraan, aku berkata, “Apakah kau sudah makan malam?”

“Belum. Aku sudah menunggumu.”

“Oke. Kita makan apa?”

“Soto Banjar.”

“Kita sudah makan itu tadi malam.”

“Tidak semuanya.”

Dia pergi ke dapur dan mengambil cambung  dari kulkas. Sembari dia memasukkannya ke dalam microwave, aku mengeluarkan peralatan makan dan menata meja.

“Oh, ya,” kata Evelyn dari dapur, “Aku lupa memberitahumu. Lesti menelepon.”

“Dia mau apa?”

“Nggak bilang. Dia minta kamu meneleponnya kembali.”

Aku pernah menikah selama tiga tahun. Lesti adalah satu-satunya anak kami.

Dia sekarang berusia empat belas tahun dan tinggal bersama mantan istriku, Wenda, di Samarinda.

Aku menekan nomor Wenda. Lesti yang menjawab.

Aku menyapa. “Halo Lesti. Ada kabar apa?”

“Baik, Ayah. Aku mau minta tolong.”

Aku merasa sedikit khawatir, karena kalau Lesti “minta tolong”, biasanya membuatku semakin dekat dengan garis kemiskinan.

Aku bertanya. “Maksudmu kau butuh uang?”

“Yah, ehm, ya.”

“Untuk apa?”

“Klub sepatu sekolah akan pergi ke Australia akhir bulan depan. Aku ingin ikut.”

Dia berbicara cepat, seperti seorang penjual yang berbicara melalui pintu kasa.

Aku bertanya, “Berapa biayanya?”

“Sekitar dua puluh lima juta.”

Aku mengenang dengan sedih hari-hari ketika yang harus kulakukan untuk membuatnya bahagia hanyalah memasukkan dot ke mulutnya.

Aku berkata, “Ya Tuhan. Dompetku baru saja mengalami serangan jantung. Tunggu sebentar sementara aku mencoba memperbaikinya. Siap!”

“Ayah, ndak banyak, kok.”

“Itu banyak kalau kau miskin sepertiku.”

“Ayolah Ayah. Ayah tidak miskin.”

“Tidak, aku hanya tidak mampu makan.”

“Oh, Ayah, jangan pelit. Semua temanku akan pergi.”

Aku menghela napas.

Aku merasa bersalah karena menjadi Ayah yang tidak hadir dan jarang menolak permintaannya. Ini hanyalah perjuangan ritual yang akhirnya akan kuakui.

Aku bertanya, “Aku rasa ibumu mengharapkan aku yang membayar tagihannya?”

“Ya, sepertinya begitu.”

“Baiklah, aku akan membayar, dengan satu syarat.”

“Apa?”

“Bersikaplah baik sampai kau pergi. Kalau ibumu bilang kau bertingkah nakal, kau tidak akan dapat sepeser pun, oke? Bahkan, aku akan mencoret namamu dari wasiatku.”

Ancaman kosong. Tapi itu membuatku merasa lebih seperti seorang ayah.

“Jangan khawatir Ayah. Aku akan menjadi bidadari. Terima kasih banyak.”

“Oke. Kau masih ingin aku menjemputmu hari Sabtu?”

Aku bisa bertemu Lesti setiap Sabtu kedua.

“Tentu. Jam 9.30?”

“Oke. Cuma itu?”

“Ndak. Ibu mau bicara.”

“Tentu, sambungkan teleponnya.”

Winda menjawab telepon.

Meskipun sudah lama kami tidak bersama, aku masih merasa sedikit bersalah atas cara aku memperlakukannya. Untungnya, dia sekarang menjalin hubungan yang baik dan bahagia dengan seluruh dunia, termasuk aku.

“Hai Ruben. Apa kabar?”

“Baik, kecuali aku lebih miskin daripada lima menit yang lalu.”

“Kamu akan memberi Lesti uang?”

“Tentu saja. Tapi aku sudah bilang padanya bahwa dia cuma akan mendapatkannya kalau dia bersikap baik.”

“Terima kasih,” katanya.

Beberapa wanita mungkin akan mengatakannya dengan sarkasme. Tapi bukan Winda.

Dia benar-benar serius. Itulah mengapa itu sangat menyakitkan.

“Kamu masih akan menjemputnya Sabtu ini?”

“Ya. Sampai jumpa nanti.”

Kami berpamitan dan aku menutup telepon.

Evelyn mengeluarkan rawon dari microwave dan membawanya ke meja.

“Apa maksud dia menelponmu?”

“Lesti baru saja menipuku lagi.”

Sambil makan, Evelyn bercerita gosip kantor kepadaku. Butuh beberapa bulan bagiku untuk menyadari bahwa dia memiliki dua rekan kerja bernama “David” dan dua bernama “Robby”. Tapi aku masih belum bisa membedakan siapa yang mana.

Kemudian, di tempat tidur, Evelyn berguling ke atasku, menciumku di bibir dan meraba-raba celana dalamku. Tak lama kemudian, kami bercinta seperti remaja.

Begini ceritanya tentang kehidupan seks kami. Kurang spontanitas dan kami harus meraba banyak bagian tubuh yang terasa sangat familiar. Tapi setidaknya kami tahu tombol mana yang harus ditekan dan kenop mana yang harus diputar.

Setelah itu, seperti biasa, aku langsung tertidur.

Aku bermimpi sedang mendayung perahu kecil melintasi samudra yang luas. Matahari bersinar terik dan rasa haus sangat menyiksa. Kapal-kapal besar merayap di cakrawala seperti siput di kawat, melayang masuk dan keluar dari kabut.

Akuterus memberi isyarat meminta bantuan, tetapi tidak ada yang menoleh ke arahku.

Sama sekali tak ada.

Series Navigation<< Negeri Omon-Omon: Bab 2Negeri Omon-Omon: Bab 4 >>

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *