NEGERI OMON-OMON
NEGERI OMON-OMON

Negeri Omon-Omon: Bab 14

This entry is part 16 of 16 in the series Negeri Omon-Omon
Views: 0

Kalau polisi “tidak punya petunjuk”, berarti aku bukan tersangka. Rasa lega menyelimutiku sebelum aku menyadari polisi mungkin berpura-pura tidak punya petunjuk sambil diam-diam membangun kasus terhadapku.

Kecemasan kembali.

Aku berkata pada diri sendiri untuk tenang, berhenti panik. Tunjukkan sedikit keberanian. Tapi perutku bergejolak karena gugup.

Aku menyingkirkan koran itu, membaca materi dari ruang pers dan memeriksa buku harianku sebelum menghubungi editorku, Iskan Zulkar.

Setidaknya, dia tidak akan tahu bahwa aku telah menemukan mayat Vindy, atau ingin tahu. Dia hanya akan tertarik kalau Vindy berasal dari Kalimatan Timur atau dibunuh oleh orang Kalimantan Timur.

Sejauh yang aku tahu, tidak ada keadaan seperti itu. Jadi aku tidak akan menceritakan kepadanya tentang perjalananku malam sebelumnya.

Dia biasanya kesal. “Ruben. Aku sudah menunggumu menelepon. Kau dari mana saja?”

“Maaf. Pagi ini sibuk.”

“Oke,” katanya dengan kasar. “Tapi seharusnya kau menelepon lebih awal.”

Biasanya, aku akan mengabaikan komentar itu. Tapi aku sedang dalam suasana hati yang sangat buruk.

“Jangan banyak bacot. Sejauh yang kulihat, kau tidak tertarik dengan apa pun yang kukatakan. Malah aku kaget kau masih mengangkat teleponku.”

“Apa maksudmu?”

“Aku sedang membicarakan ceritaku di koran hari ini. Berita politik terbesar tahun ini sedang memanas di sini dan kamu memuat ceritaku di halaman tiga. Halaman tiga, sialan!”

“Aku tahu,” katanya sedikit membela diri. “Tapi rombongan pendaki yang hilang itu berita besar di sini. Berita besar. Itulah yang ingin diketahui pembaca kami.”

“Maksudmu, mereka tidak tertarik siapa presiden mereka?”

“Sejujurnya, tidak. Maksudku, mereka tidak terlalu peduli dengan politik nasional. Mereka tentu tidak bangun tidur pagi-pagi sambil bertanya-tanya apa yang terjadi di Nusantara.”

“Lalu kenapa koranmu repot-repot mengundangku ke sini?”

“Bukankah itu sudah jelas?”

“Tidak.”

“Karena cerita-ceritamu—meskipun tidak ada yang membacanya—memberikan sentuhan kelas pada koran ini. Kau mengerti? Kehadiranmu di Nusantara membuat Tarpos terlihat seperti koran sungguhan, bukan koran pinggiran kota yang asal-asalan.”

Aku terdengar seperti atraksi karnaval.

“Syukurlah.”

“Apa yang terjadi hari ini?”

Aku menghela napas dan mengatakan kepadanya bahwa kami akan meliput konferensi pers yang dijadwalkan oleh Bendahara Bayangan dan pemimpin partai koalisi.

Dia berkata: “Oke. Bagaimana dengan tantangan Nurdin kepada Presiden? Kau akan menulis tentang itu?”

“Ya, aku akan coba. Tapi saat ini keduanya tidak mengatakan apa pun secara publik.”

“Oke. Kalau begitu, tulis cerita yang memprediksi siapa yang akan menang.”

Aku menatap langit-langit dan berkata dengan dingin: “Itulah isi ceritaku di halaman tiga. Dikatakan Nurdin memiliki keunggulan.”

“Oh, ya. Aku lupa. Yah, aku yakin kau akan menemukan tindak lanjutnya,” katanya dan menutup telepon.

Biasanya, aku akan meliput konferensi pers yang dijadwalkan. Tapi keduanya tidak akan menghasilkan banyak berita dan aku ingin melakukan beberapa penyelidikan tentang Vindy Anista. Aku menoleh ke Rakha dan menyuruhnya untuk meliputnya.

Dia tampak kaget. “Kau yakin?”

“Ya. Aku ada beberapa hal yang harus dilakukan. Ingat bateraimu, ya?”

“Tentu. Serahkan semuanya padaku.”

Biasanya, kata-kata itu akan membuatku merinding. Sekarang aku terlalu lelah untuk peduli.

Aku butuh secangkir kopi sebelum aku tertidur pulas. Aku meminta mesin kopi untuk membuatkan secangkir kopi ekstra kuat, membawanya kembali ke mejaku dan meneguk beberapa tegukan pahit.

Mungkin karena kopi. Tiba-tiba aku teringat nomor panggilan ulang yang tertera di telepon Vindy. Aku membuka jaketku, mengeluarkan buku catatan yang kutulis di atasnya dan menekan nomornya.

Telepon terus berdering.

Vindy pernah bekerja sebagai penasihat kebijakan untuk Menteri Ketenagakerjaan, Dr. Arvan Nuh. Aku cukup mengenal sekretaris pers menteri, Agung Setyawan, karena kami pernah bekerja bersama di Kala Parahyangan. Aku menghubunginya.

“Halo Ruben,” katanya muram. “Aku melihat di TV bahwa kau menemukan jasad Vindy. Sungguh tragedi. Wanita yang baik.”

“Ya, dia memang baik.”

“Siapa yang membunuhnya? Ada ide?”

Aku tidak tahu, tetapi ingin mengobrol dengannya secara langsung, jadi aku bersikap malu-malu.

“Itulah yang ingin kubicarakan denganmu. Bisakah aku bertemu denganmu di kantormu?”

Dia terdiam beberapa detik. “Uhm, oke. Kapan?”

“Secepatnya.”

“Baiklah, langsung saja ke sini.”

Aku berjalan menuju ruangan Arvan Nuh di Sayap Eksekutif. Resepsionis mengatakan Agung Setyawan dan Menteri sedang menungguku di kantor Menteri, dan aku harus langsung masuk.

Jadi Menteri ingin bertemu denganku. Sangat menarik.

Aku mendorong pintu dan memasuki kantor Menteri. Itu adalah ruangan besar dengan dinding berpanel kayu yang dipenuhi lukisan motif Suku Dayak. Di dekat pintu ada dua sofa, sejajar membentuk sudut siku-siku. Di ujung kantor ada meja pinus berbentuk bumerang dengan tiga monitor televisi yang tertanam di dinding di belakangnya.

Agung duduk di salah satu sofa, menghadap pintu. Seorang pria bertubuh besar, dengan rambut gelap dan janggut tebal, dia selalu tampak sedikit tidak bahagia, seolah-olah anjingnya baru saja menggigitnya.

Pada umumnya, aku sama sekali tidak percaya pada sekretaris pers. Kebanyakan akan berbohong hanya untuk latihan. Tetapi aku lebih mempercayai Agung daripada kebanyakan. Dia hanya berbohong ketika benar-benar diperlukan, dan tidak menikmatinya.

Di sofa sebelahnya duduk Menteri Ketenagakerjaan, Dr. Arvan Nuh. Tinggi dan kurus, dia memiliki hidung mancung dan rambut lepek dengan belahan rambut yang sangat tajam. Wajahnya yang kaku, tatapan tajam, dan suara metaliknya membuatnya sempurna untuk memerankan penjahat super di film James Bond, kalau dia bisa membujuk seekor kucing Persia untuk muncul bersamanya.

Namun, jabatan politik tinggi memberikan kredibilitas dan sedikit karisma bahkan pada kepribadian yang paling membosankan sekalipun. Hal itu membuat kebosanannya tampak seperti wibawa dan pendiamnya tampak seperti kedalaman.

Tentu saja, dia sangat populer di kalangan pemilih sayap kanan karena dia sangat percaya bahwa tunjangan kesejahteraan menghambat potensi pengangguran dan bahwa kaum miskin yang egois harus lebih berkorban untuk orang kaya yang pantas mendapatkannya.

Sebuah universitas kelas tiga pernah memberinya gelar doktor di bidang ekonomi. Jadi, tidak mengherankan, julukannya adalah “Dr. No”, sebuah julukan yang tampaknya dia nikmati, sejauh dia bisa menikmati apa pun yang menurutnya layak dinikmati.

Series Navigation<< Negeri Omon-Omon: Bab 13

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *