Ini Hanya Ujian
dok. pri. Ikhwanul Halim

Ini Hanya Ujian

Views: 29

Bayu menggeser tubuhnya sedikit, yang bukan tugas mudah, mengingat berbagai macam gips dan perban yang menutupinya. Dia sudah  seperti mumi Firaun yang dipamerkan di museum yang bisa kita lihat di internet.

Dia mengerang. Lalu tersenyum.

Setidaknya, ekspresi yang muncul di bagian bibirnya yang terlihat hampir menyerupai senyuman.

“Apa?” tanyaku, sambil mendongak dari majalah Olahraga yang sedang kubaca. Aku membawakan majalah itu untuk Bayu saat aku datang mengunjunginya. Yah, aku tidak membawanya dari jauh—aku mengambilnya dari ruang tunggu rumah sakit.

Tapi yang penting niatnya.

Aku hampir memberinya majalah Otomotif, tapi kupikir, mengingat pengalamannya baru-baru ini, itu bukan ide yang bagus.

“Aku baru menyadari sesuatu,” katanya.

“Jangan coba-coba mengendarai sepeda di jalan raya yang ramai?”

Itu tebakan yang masuk akal. Itulah yang membawa Bayu ke ranjang rumah sakit.

“Bukan.” Dia menggelengkan kepalanya—sebisa mungkin menggelengkan kepala karena kepalanya terbungkus kain kasa dan plester.

“Kemarin aku baru mendapatkan wangsit saat aku terbangun di tempat tidur dan sarapan yang nyaman ini. Tidak, ini yang baru saja terlintas di otakku yang setengah berfungsi. Tahukah kamu delapan kata yang paling menakutkan di dunia?”

“Anak-anak, hari ini kita ujian matematika?”

Dia menggelengkan kepala lagi. “Tidak. Lupakan sekolah. Maksudku benar-benar menakutkan. Maksudku dari Kitab Suci.”

Itu sulit. Tidak seperti Bayu, yang benar-benar memperhatikan pelajaran Agama dengan serius. Pengetahuan agamaku agak samar. Aku baik-baik saja mengingat aku bukan tipe orang jahat dalam kitab suci mana pun. Jadi, aku jelas orang di ruangan ini yang paling tidak mungkin mengisi kekosongan dengan kutipan ayat dari Kitab Suci. Namun, satu frasa muncul di benakku.

Aku menggigil saat frasa itu melayang dari sudut-sudut gelap masa kecilku. Kupikir frasa itu terkubur dengan aman dalam ingatanku yang samar-samar.

“Gigi gemeretak karena disiksa dalam api neraka jahanam,” kataku.

Aku masih bisa melihat tulisan dalam huruf hitam tebal di atas gambar jiwa-jiwa yang tersiksa di neraka. Api yang berkobar. Setan kecil dengan garpu rumput. Bos besar yang kejam lengkap dengan tanduk dan ekor menikmati suasana tempat itu.

Saat itu umurku tidak lebih dari lima atau enam tahun. Kami harus mewarnai gambar itu.Hari itu krayon hitam, merah dan kuning langsung habis.

Itu sangat menakutkan bagiku. Beberapa malam aku selalu bermimpi buruk, sampai-sampai aku jatuh sakit selama tiga hari pelajaran Agama berikutnya hanya supaya bisa tinggal di rumah.

“Itu tiga kata. Dan itu hanya menakutkan kalau kamu berharap masuk neraka.” Bayu berbaring diam sejenak, menatap langit-langit. Aku kira dia memberiku kesempatan kedua.

“Apa?” tanyaku, tidak dapat mengingat kutipan lain. “Apa delapan tiga kata paling menakutkan yang berasa dari Kitab Suci?”

Dia menatapku dan berkata, “Aku beri kekuasaan kepadamu untuk menguji Ayyub.”

Baiklah. Aku tahu sedikit alur ceritanya. “Oh, Iblis menantang Tuhan, kan? Dan Tuhan dan Iblis membuat semacam taruhan.”

“Benar. Kau ingat detailnya?”

Aku menggeleng. “Nggak juga, sih.”

“Tuhan mengatakan Nabi Ayub adalah hambanya yang setia. Iblis bilang itu karena Nabi Ayyub mempunyai kehidupan yang nyaman dan berkecukupan tanpa masalah dan kesulitan hidup. Maka Tuhan mengizinkan Iblis untuk menguji Nabi Ayyub. Iblis yang konyol. Nabi Ayyub kehilangan hartanya, keluarganya,  dan kulitnya yang mulus bersih. Ingat sekarang?”

“Ya.”

Begitu pikiranku kembali jernih, aku bisa mengingat potongan-potongan dari Kisah-Kisah Para Rasul.

“Hampir seperti versi aneh dari film bencana, atau komedi situasi. Setiap lima menit, seseorang berlari menghampiri Nabi Ayyub dengan berita buruk. ‘Hei, Ayyub, domba-dombamu mati semua. Coba lihat, Ayyub, seseorang mencuri unta-untamu. Berita buruk, Ayub, sebuah rumah menimpa anak-anakmu. Dan yang paling parah, badannya dipenuhi borok, kudis, kadas, kurap, korengan. Semua jenis penyakit kulit yang ada pada zamannya.”

“Dan semuanya dimulai dengan depan kata.”

“Aku mengerti maksudmu,” kataku pada Bayu.

Dia mengalami nasib buruk selama beberapa bulan terakhir. Pertama, mobilnya terguling menuruni bukit dari tempat parkirnya, dan langsung menembus pagar pembatas jurang. Mobilnya hancur total. Di minggu yang sama, pacarnya meninggalkannya. Sekarang, malah lebih parah lagi, dia kalah dalam pertarungan antara sepeda dengan mobil pikap yang membawa motor balap. Ceritanya seperti bertemunya Nabi Daud dan Raja Talut.

“Kau beruntung masih hidup,” kataku padanya.

“Atau sial,” katanya.

“Jadi, apa maksudmu?”

Bayu mengangkat bahu. Atau mencoba mengangkat bahu. Dari kilatan rasa sakit yang melintas di wajahnya, kupikir melakukan gerakan itu adalah sebuah kesalahan.

“Bagaimana kalau aku adalah manusia terpilih? Bagaimana kalau semua ini semacam ujian?” tanyanya.

“Kau ketabrak mobil,” kataku padanya. “Pasti terjatuh dengan kepalamu menghantam aspal. Kurasa Tuhan tidak peduli dengan detail kehidupanmu. Ada tujuh miliar manusia di planet ini. Bahkan kalau hanya beberapa juta orang yang lebih penting darimu, itu masih antrean yang cukup panjang.”

“Tapi Allah tahu segalanya yang terjadi di alam semesta ini. Allah Maha Tahu.” kata Bayu.

Aku menatapnya.

“Surat Al-Hujurat,” katanya padaku. “Ayat delapan belas.”

“Oh.”

“Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi,.” katanya. ” Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

“Jadi Tuhan membiarkanmu tertabrak mobil? Dan Dia meyakinkan Delila Andara untuk meninggalkanmu demi si idiot dengan Jimny keluaran terbaru itu? Dan Dia menghancurkan mobilmu?”

“Kurasa begitu. Maksudku, kurasa Tuhan membiarkan itu terjadi.”

Terasa seperti versi aneh dari mengasihani diri sendiri. Bayu mengira bahwa dia telah diberi ganjaran atas imannya dengan hidupnya yang benar-benar hancur.

“Aku harus memikirkannya,” kataku.

Aku berdiri dan melempar majalah itu ke tempat tidurnya. “Sudah malam. Sebaiknya aku pulang.”

“Oke. Terima kasih sudah mampir.”

“Tentu.” Aku menyelinap melewati ujung tempat tidur, berhati-hati agar tidak menabrak tali temali yang telah mengubah Bayu menjadi boneka manusia.

“Sampai jumpa besok?” tanya Bayu.

“Aku akan mencoba datang. Kau tahu bagaimana keadaannya.” Aku melambaikan tangan dan meninggalkan kamarnya.

***

Aku beri kekuasaan kepadamu untuk menguji Ayyub.

Aku tidak percaya Bayu bisa mempertimbangkan pandangan yang gila seperti itu terhadap situasinya. Mungkin pihak rumah sakit memberinya sesuatu untuk meredakan rasa sakitnya dan obat itu telah mengacaukan otaknya.

Aku bergegas menyusuri lorong, merasa lega karena aku hanya seorang pengunjung.

Wah, kalau orang-orang ingin mempertanyakan cara kerja segala sesuatu, tidak ada tempat yang lebih baik untuk memulai selainj di rumah sakit.

Di ke dua sisiku, aku melihat sekilas segala macam duka nestapa. Kehidupan yang hancur, kehidupan yang memudar, kehidupan yang terganggu. Dan tidak satu pun dari itu terjadi karena alasan apa pun yang dapat kuketahui.

Yah, mungkin beberapa di antaranya terjadi karena ada sebabnya. Aku rasa kalau aku tidak untuk menjemput Bayu dalam perjalanan ke sekolah hari itu, seperti yang kujanjikan, dia tidak akan mengalami kecelakaan.

Aku keluar dari pintu gerbang dan berjalan ke trotoar.

Ya, tidak ada yang memaksanya untuk mengendarai sepedanya. Tetapi kurasa aku bisa punya andil juga. Dan kurasa, kalau aku ingat untuk memasang rem tangan di mobilnya setelah aku meminjamnya, dia mungkin tidak membutuhkan tumpangan dariku.

Maksudku, siapa yang tahu kalau satu hal akan mengarah ke hal lain? Aku bukan cenayang. Mungkin aku seharusnya tidak memperkenalkan pacarnya kepada cowok itu. Aku hanya melakukannya untuk bercanda. Aku tidak menyangka dia akan mencampakkan Bayu.

Ketika aku mendekati sudut jalan, aku mendengar ambulans melaju kencang menuju pintu IGD. Raungan sirene semakin keras saat aku memikirkan delapan kata yang menakutkan itu…

Aku beri kekuasaan kepadamu untuk menguji Ayyub.

Aku sungguh berharap Bayu bukanlah hamba Tuhan yang saleh seperti Ayyub. Karena, kalau memang begitu, aku menjadi siapa? Ib—?

Saat pikiran itu muncul, aku mengertakkan gigiku hingga goyah. Atau mungkin memang gigiku hanya bergemeretak.

CIkarang, 22 Oktober 2024

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *