Tidak sedikit yang bermimpi untuk terbang menuju Planet Mars.
Dahulu kala, empat koma enam miliar tahun yang lalu—atmosfer tebal menyelimuti Planet Mars. Mungkin juga mewarnai langitnya menjadi biru.
Dahulu kala, tiga hingga empat miliar tahun yang lalu, lautan menutupi tiga puluh persen permukaan Planet Merah, dan delta terbentuk saat air mengalir dari daratan ke laut.
Dahulu kala, baru-baru ini, sekitar 2 juta tahun yang lalu, gunung berapi Mars, yang terbesar di Tata Surya kita, meletus, menumpahkan lava menuruni lereng sepanjang seratus kilometer.
Dahulu kala, Mars subur dan bergairah, dan secara geologis hidup.
Namun, sekarang tidak lagi. Sekarang, Mars bergayut di atas kita, merah dan mati di langit musim dingin yang gelap.
Waktu terlalu kejam terhadap Planet Merah. Seperti Bumi, Mars terbentuk di tungku pembakaran Matahari yang jauh lebih panas dan masih muda, hangus kering oleh badai matahari yang dahsyat dan radiasi. Mars terbentuk tanpa air, tetapi komet membombardir dunia muda itu, membawa hujan yang turun dari luar angkasa.
Gambar dari wahana antariksa Mars Express milik Badan Antariksa Eropa dan Mars Reconnaissance Orbiter milik NASA menunjukkan bahwa air mengukir lebih dari empat puluh ribu dasar sungai di seluruh permukaan Mars, dan penelitian yang dipimpin oleh peneliti Universitas Colorado Boulde,r Gaetano Di Achille, menunjukkan bahwa air tersebut mungkin telah terkumpul menjadi lautan yang ukurannya kira-kira sepersepuluh dari samudra yang ada di Bumi. Namun, lautan tersebut tidak bertahan lama. Mars, yang ukurannya hanya sekitar setengah dari Bumi, lahir terlalu kecil untuk tetap basah atau mempertahankan atmosfernya.
Matahari muda yang panas, mengamuk terhadap planet-planetnya, menghantam mereka dengan sinar kosmik dan angin matahari. Seperti perisai dalam wahana antariksa fiksi ilmiah, planet-planet dilindungi dari matahari oleh medan magnet yang membelokkan angin dan sinar. Namun, medan magnet Mars—yang dihasilkan oleh inti cairnya—lemah, begitu pula tarikan gravitasinya, yang tidak dapat menghentikan partikel atmosfer paling ringan untuk pergi. Satu tabrakan yang kuat—hidrogen pada karbon dioksida—elemen bermassa rendah ini berakselerasi untuk melepaskan diri dari gravitasi planet.
Wusss! Mereka terbang menjauh, menghilangkan sedikit demi sedikit atmosfer yang dimiliki Mars. Dan masalahnya semakin memburuk saat planet kecil itu mendingin dengan cepat, membekukan inti cair dan semakin mengurangi medan magnetnya yang sudah lemah.
Lingkaran setan itu terus berlanjut. Air membutuhkan udara. Tanpa tekanan udara, air dapat menguap pada suhu ruangan, sehingga saat kondisi atmosfernya berubah, lautan Mars segera mulai menghilang. Sebagian air terkunci sebagai es di bawah tanah. Sebagian menjadi bagian dari atmosfer Mars, membeku setiap tahun untuk membentuk kutub es khas Planet Merah.
Airnya masih ada, ya, tetapi lautnya kini kering, dan dasar sungai tidak lebih dari ngarai yang kering kerontang dan tandus.
Namun, saat kita melihat dunia yang gersang ini dari tempat kita yang aman dan hijau di Bumi, muncul pertanyaan: dapatkah Mars dihidupkan kembali? Dapatkah kita mengembalikan kemegahan masa mudanya melalui penerapan terraforming planet yang tepat untuk mematangkannya? Dapatkah kita membuatnya layak huni bagi manusia?
Buku-buku seperti Red Mars karya Kim Stanley Robinson (penulis membaca sampai dua kali trilogi-nya dan menulis sebuah puisi yang terinspirasi darinya) membayangkan langkah-langkah yang diperlukan: pertama, kita perlu menciptakan tanaman yang mampu bertahan hidup di Mars yang sangat dingin, radiasi yang mengerikan, dan atmosfernya yang sangat tipis.
Setelah itu tercapai, tanaman-tanaman ini harus dibudidayakan di seluruh permukaan planet sehingga mereka dapat mengubah karbon dioksida menjadi oksigen dan materi tanaman penyerap karbon. Selain itu, kita juga perlu mencairkan es di kutub sehingga karbon dioksida dan airnya dapat melengkapi atmosfer yang masih terlalu tipis.
Namun, terlepas dari semua ini, terlepas dari seberapa jauh upaya biologis, botani, atau kimia yang kita lakukan, fakta yang menyedihkan adalah bahwa tindakan-tindakan ini tidak banyak mengubah Planet Merah. Bahkan kalau kita dapat membuat Mars layak huni, kita tidak akan pernah dapat mengubah ukurannya. Sayangnya, Mars akan selalu terlalu kecil untuk mempertahankan atmosfer secara gravitasi dan terlalu dingin secara internal untuk menghasilkan medan magnet yang cukup untuk membantunya mempertahankan sedikit gas yang dimilikinya.
Meskipun mungkin beberapa jenis lumut dapat bertahan hidup dari kehilangan atmosfer ini, tanaman apa pun yang beradaptasi dengan geologi Mars kemungkinan akan layu. Setiap tanaman hijau yang baru ditanam akan mati karena kurangnya tekanan atmosfer yang memungkinkan molekul air yang tidak terkendali menguap. Seiring waktu, Mars akan menjadi taman yang terbengkalai, kelabu layu dan dipenuhi tanaman yang kekeringan.
Jadi begitulah: Mars sudah dan akan tetap mati, secara geologis, dan setiap upaya untuk menghidupkannya kembali hanya akan menghasilkan kebangkitan sementara.
Akan tetapi…
Ini bukan keseluruhan cerita yang langsung tamat. Terlepas dari semua bukti yang bertentangan, dunia yang mati ini mungkin masih dapat mendukung kehidupan, meskipun mungkin bukan jenis yang biasa kita lihat.
Dalam perkembangan yang menarik, para ilmuwan yang bekerja dengan data dari Mars Express melaporkan pada bulan Agustus 2009 keberadaan metana (gas yang paling sering diasosiasikan dengan kentut sapi) di atmosfer Mars. Salah satu sifat metana yang sangat menarik adalah bahwa dia terurai di bawah sinar matahari, yang berarti bahwa agar dapat dideteksi saat ini, sesuatu harus menghasilkannya saat ini. Dan hanya ada dua kemungkinan sumber metana yang diketahui: vulkanisme dan kehidupan.
Seperti yang disebutkan sebelumnya, gunung berapi Mars sangat dahsyat. Gunung berapi tersebut membuat Islandia tampak seperti gumpalan batu yang sedikit berasap.
Gunung terbesar di Mars adalah Olympic Mons, gunung berapi yang menjulang dua puluh tujuh kilometer di atas permukaan Mars. Tingginya dua puluh dua kilometer, dua setengah kali tinggi Puncak Everest.
Raksasa geologi ini, yang terbesar di Tata Surya kita, memberi kita petunjuk menggoda tentang kemungkinan adanya lava dan kehidupan.
Gunung berapi perisai ini secara geologis identik dengan gunung berapi Hawaii. Hanya saja, gunung berapi ini tumbuh besar dan terus tumbuh hingga mencapai ukuran raksasa. Kalderanya membentang sepanjang delapan puluh kilometer yang dipenuhi lava dan menunjukkan bukti letusan terakhir sekitar dua juta tahun yang lalu. Dalam istilah geologi, itu adalah sejarah terkini dan berarti bahwa mungkin saja aktivitas vulkanik saat ini, seperti pelepasan gas seperti metana, sedang berlangsung.
Namun, mari kita hadapi kenyataan.
Meskipun gunung berapi itu menarik, kehidupan alien adalah penjelasan yang jauh lebih menarik untuk metana.
Di dunia kita, bakteri kecil yang disebut metanogen pernah menguasai permukaan Bumi purba. Mikroorganisme ini dengan cepat memetabolisme karbon dioksida dengan molekul hidrogen untuk menghasilkan energi dan limbah metana. Meskipun tidak terlalu lucu atau menggemaskan, bentuk kehidupan awal berbentuk batang dan bola ini memulai proses panjang untuk mengisi planet kita dengan kehidupan. Saat ini di Bumi, mereka sudah punah. Tetapi mungkin—mungkin—sepupu jauh mereka masih terus hidup, mengeluarkan metana (tanpa perlu minta maaf karena telah menyebarkan bau), berkembang biak, dan mati di Mars.
Namun, seperti kita manusia, bentuk kehidupan alien apa pun yang ada, mungkin juga memerlukan perlindungan dari radiasi. Di Mars yang memiliki tantangan atmosfer dan magnet yang lemah, di mana tempat berlindung itu dapat ditemukan?
Tentu saja di gunung berapi tersebut!
Secara khusus, tabung lava—bentangan bawah tanah yang panjang dan berongga yang membawa batuan cair ratusan kilometer menuruni lereng gunung yang landai. Tanah dan batu memberikan perisai yang sangat baik terhadap radiasi, dan ketika permukaan Mars menjadi semakin tidak ramah, beberapa ilmuwan berteori bahwa kehidupan mungkin mundur ke tabung lava dan ceruk bawah tanah lainnya untuk bertahan hidup.
Maka sejauh menyangkut rencana kolonisasi, tabung lava tersebut bisa menjadi kunci masa depan kita di Mars.
Permukaan Planet Merah keras dan atmosfernya tipis, tetapi di bawah tanah, manusia mungkin menemukan keamanan yang kita butuhkan untuk akhirnya membuat rumah kita di planet selain Bumi. Tentu saja, dengan syarat kita bersedia berbagi ruang dengan mikroba perut kembung penyebar bau kentut.
Meskipun ini bukan masa depan terraforming yang gemilang yang diimpikan oleh para penulis dan pembaca fiksi ilmiah dari generasi ke generasi, ini adalah tujuan yang dapat dicapai. Dan dengan sedikit keberuntungan, dan sangat banyak kerja keras, ini sebenarnya adalah mimpi yang mungkin dapat kita wujudkan dalam hidup kita.
Jadi… yuk kita pergi ke Mars!
CIkarang, 22 Oktober 2024

