di ruang kuning gading berkilau itu,
sesak dan sempit seperti dapur,
tak boleh ada pensil, buku catatan,
tak ada emosi atau kikuk kecerobohan
atau dorongan gairah hasrat lunak jinak,
berjalan bahagia seperti awan
tandatangani kontrak honorer,
pekerjaan paruh waktu lainnya,
gaji rendah tak tentu
mahasiswa tidur dengan kepala berat
di atas meja yang diplester permen karet,
dan penuh coretan.
pusing karena sentakan
je ne sais quoi,
meraih isi kantong mantel saya
permen karet putih lapuk,
masuk ke dalam mulut
nikmati serat dan debu gelap pekat
dari kantong menghiasinya.
berjalan ke pameran
jantung berdenyut kencang
keras kepala di bawa irama
satu saat dapat mengubah segalanya—
termasuk kesadaran—
dan saat berjalan-jalan ,
mengubah perspektif tentang planet
lubang cacing
bintang sekarat:
bagaimana aku bisa tahu, hah?
di ruang kuning gading sederhana,
Picasso menunggu.
matanya yang gelap bersinar di bulan bopeng
melayang berwajah tegang,
bibir bergetar melotot dengan empati bengkak
untukku, pikirku,—
untukku!—
mendesak untuk gusar menggambar
menulis, melukis, mengikis
malam belum lanjut
aku jadi debu mati lembut
nodai kantong kulit keriput.
Cikarang, 24 Oktober 2024

