Julia adalah gadis yang aneh. Tingginya 200 sentimeter, remaja siswa SMA Margasatwa. Jari-jari kakinya seperti monyet, jari-jari tangan seperti pisang. Rambutnya merah oranye tebal menyala seperti obor yang menyinari kulitnya yang halus seperti cokelat. Lututnya yang besar dan menonjol serta sikunya yang tajam seperti batang korek api. Pelatih menginginkannya untuk bermain basket, voli, untuk cerita pengantar tidur sambil minum bir lokal. Tidak ada orang lain yang menginginkannya tanpa imbalan.
Dia mencintai seorang cowok untuk menjadi ayah bagi anaknya. Cowok itu adalah Tony Endemod dengan kaus oblong dan celana jins hitam ketat yang digila-gilai cewek-cewek pemandu sorak yang imut. Cewek-cewek itu merokok di kamar ganti anak perempuan sambil mengoceh seperti orang tolol tentang Tony.
Julia pulang ke rumah dan menangis di tempat tidurnya karena Tony. Hanya saja Tony tingginya 170 sentimeter, dengan rambut ikal hitam yang keren dan bulu mata seperti model majalah. Seorang anak laki-laki dengan topi betuliskan Jeep dengan stereo megawatt, Tony memainkan Stratocaster Satin di pesta nakal yang tidak pernah didatangi Julia.
Tante Lambu memberi tahu Julia. Katanya, “Dengarkan, gadis! Kau punya otak besar di tubuh tinggi jenjangmu. Lupakan pesona semua cowok. Saat kau kuliah dan mendapat pendidikan, mencari nafkah sendiri, lalu para lelaki datang berlarian, dengar?”
Julia berpikir, Oh ya, benar. Aku ingin menjadi pelayan sampai umur empat puluh sepertimu dengan rok mini mungil sia-sia menutup stoking jala. Baju kerja berpotongan rendah berusapa menyembunyikan bra demi bra hanya untuk menambah ujung payudara.
Julia menyayangi Tante Lambu, tetapi dia lebih mencintai Tony. Mencintai Tony seperti batu, menarik buku catatan spiral bergaris biru pucat dari bawah kasur. Dan pensil atau pulpen anggur ungu.
Dia menulis tentang kehidupan sebagai istri, sebagai ibu. Menulis surat kepadanya agar dia tahu. Membuatnya melihat di mana dia berdiri pada isu Nyonya Monopoli.
Sayang, kita akan tinggal di Hotel Oyo, makan kerang ijo, membeli anggur Muskat Cina, pulang dalam keadaan mabuk dan main-main di ranjang.
Tony, maukah kamu meniduriku?
Julia menyembunyikan buku itu.
Kemudian dia mulai dengan geometri dan berakhir dengan masturbasi, hingga akhirnya dia bersyukur atas jari-jarinya yang panjang dan lentur. Dan dia berpikir tentang kuliah dan hidupnya dan dia akhirnya memimpikan resep steak ayam yang akan dia pelajari demi Tony.
Mungkin juga saus kental.
Tergantung maunya Tony.
* * *
Mereka mengadakan reuni piknik pulang kampung di perbukitan cokelat rendah dekat sekolah. Disediakan oleh kafetaria dan Tuhan, tetapi tidak ada cara untuk menyingkirkan kepala sekolah. Maka anak-anak membawa karung makanan yang lumayan karena anggapan ahli gizi tentang sesuatu yang benar-benar lezat adalah bayam rebus dengan telur rebus di atasnya.
Julia mengenakan celana pendek dan sandal tabung merk Chaco yang keren di kakinya yang panjang dan kurus. Kuku jari kaki berwarna merah muda keunguan yang dia harap menyerupai seksi, tetapi gadis-gadis cantik lain dicat dengan OPI Pussy Galore.
Dia membawa pizza kecil. Dia selalu lapar, tetapi gadis-gadis cantik makan seperti orang yang takut diracun, minum Diet Pepsi dan Fitbar, berceloteh “Ya Tuhan, aku sangat kenyang sampai tidak bisa makan lagi.”
Jadi Julia dengan pizza pepperoni-nya, yang berirama dengan monopoli dan Antony,.
Aku makan apa yang aku mau, pikirnya. semua gadis dengan rambut salon muntah hanya untuk melihat pemandangan seperti seorang pejuang wanita margasatwa melahap beberapa lusin burger, mungkin kentang goreng, pikir Julia, mungkin setiap kentang goreng di rest area, minum dengan milkshake.
Band Tony tampil di truk bak terbuka dengan speaker horeg, memainkan “Pictures of You” The Cure, mengenakan jaket hitam kemeja putih tanpa dasi dan Julia tidak tahan lagi, berjalan-jalan melintasi tanah keras, hanya menggali pohon pinus dan semak belukar.
Dia mendaki bukit sambil berharap dia memakai sepatu bot kuli bangunan dan kanvas, seperti seorang pria yang memasang toilet, lalu berpikir, Apa bedanya?
Dia menemukan batu datar yang lebar, berjalan ke tengah untuk melihat-lihat. Seorang cowok dengan kaleng semprot menulis SAYANG TOLONG KEMBALI AKU SUDAH BERUBAH.
Seperti ayahnya yang berjalan-jalan saat ibunya ditangkap, seperti suami Tante Lambu, anak buah Tante Lambu, bergelantungan seperti kera sampai wanita itu mengusir mereka—apa-apaan ini, pikir Julia. Apa-apaan ini?
Apakah cowok tidak menginginkan yang lain? Tidak memikirkan yang lain selain seks?
Dia memiliki spidol di ransel merah kecilnya, buku, dan sesuatu yang menyebalkan. Dia menemukannya dan berlutut hendak menulis catatan kecil untuk si bodoh yang mengaku AKU SUDAH BERUBAH. Dan itu adalah Tony.
Tony sudah mencopot jaketnya dan membuntutinya seperti gitaris heavy metal. Berhenti di tepi ngarai, Tony berseru, “Hei!”
Julia menoleh dan mulutnya menganga, menjatuhkan spidolnya. Spidol itu menggelinding menuruni batu dan Tony menangkapnya.
“Apa yang kamu tulis, Julia?” tanyanya.
Ini masalah serius, pikir Julia. Cowok ini, pria idamanku, ayah dari anak-anakku, dia—Julia bertanya, “Kamu mengamalkan semacam ilmu hitam? Di dekat batu karangku?”
Tony bertanya, “kamu menulis lagu?” dan dia melemparkan spidol kembali ke Julia. “Kita bisa menggunakan beberapa kata baru,” kata Tony. Namun dalam benak Julia, Tony berkata, “Kita bisa minum wine murah di ranjang, kalau kamu suka hal semacam itu.”
Dia memutuskan bahwa Tony adalah sebuah fatamorgana dan membuka tutup spidol, lalu menulis kepada si bodoh yang tak terlihat itu dalam kaligrafi merah cerahnya.
Sayang, aku doakan kamu baik-baik saja. Sekarang tolong jangan biarkan cowok fatamorgana ini pergi, jangan.
Ketika Julia mendongak, Tony sudah pergi, dan tempatnya adalah sisa hidup Julia.
Cikarang, 24 Oktober 2024

