Rubah dan Lelaki Lapp
dok. pri. Ikhwanul Halim

Rubah dan Lelaki Lapp

Views: 28

Dahulu kala, ada seekor rubah yang mengintip dari lubangnya, memperhatikan jalan yang terbentang jauh. Dia berharap melihat sesuatu yang dapat menghiburnya, karena dia merasa sangat lesu letih, lelah, dan sedikit kesal.

Cukup lama dia mencari-cari dengan sia-sia. Semuanya tampak sedang tidur, bahkan seekor burung pun tidak bergerak di atas kepalanya. Rubah itu menjadi semakin kesal, dan dia baru saja berbalik dengan jijik dari tempatnya mengintai ketika mendengar suara kaki yang berjalan di atas salju.

Rubah berjongkok dengan penuh semangat di tepi jalan dan berkata pada dirinya sendiri. “Seorang pria Lapp yang mengendarai kereta luncur yang ditarik oleh rusa kutub. Aku tahu denting tali kekangnya. Aku penasaran, apa yang akan terjadi kalau aku berpura-pura mati? Aku akan mengalami petualangan, dan itu selalu menyenangkan!”

Maka dia berbaring di sisi jalan, dengan hati-hati memilih tempat di mana pengendara kereta salju tidak dapat tidak melihatnya tetapi rusa kutub tidak akan menginjaknya.

Semua berjalan sesuai dengan yang diharapkannya. Pengemudi kereta luncur itu berhenti dengan cepat, saat matanya melihat hewan cantik yang tergeletak kaku di sisi jalan dan melompat keluar. Dia melemparkan rubah itu ke kereta luncur, tempat barang-barang yang dibawanya diikat erat dengan tali.

Rubah itu tidak bergerak sedikit pun meskipun tulang-tulangnya sakit karena jatuh dilempar, dan pengemudi itu kembali ke tempat duduknya lalu melaju dengan riang.

Namun sebelum mereka pergi terlalu jauh, rubah, yang berada di dekat tepi, berusaha untuk tergelincir, dan ketika orang Laplander itu melihatnya tergeletak di atas salju, dia menarik rusa kutubnya dan memasukkan rubah itu ke salah satu kereta luncur lain yang diikat di belakang. Hari itu adalah hari pasar di kota terdekat, dan orang itu membawa banyak barang dagangan untuk dijual.

Mereka melaju sedikit lebih jauh, ketika beberapa suara di hutan membuat orang itu menoleh, tepat pada waktunya untuk melihat rubah itu jatuh dengan keras ke salju yang membeku. “Binatang terkutuk!” umpatnya kesal. Lalu ia melemparkan rubah itu ke kereta luncur terakhir yang membawa ikan. Itulah yang diinginkan rubah licik itu.

Dia menggeliat pelan ke depan dan menggigit tali yang mengikat kereta luncur itu ke kereta luncur di depannya sehingga kereta luncur itu tertinggal di tengah jalan.

Ada begitu banyak kereta luncur sehingga cukup lama pria itu tidak menyadari bahwa satu kereta luncurnya hilang. Dia akan memasuki kota tanpa mengetahuinya, kalau salju tidak tiba-tiba turun. Dia turun untuk mengikat lebih erat kain yang menjaga barang-barangnya tetap kering, dan menuju ke belakang barisan panjang, barulah ida sadar bahwa kereta luncur yang berisi ikan dan rubah hilang.

Dia segera melepaskan salah satu rusa kutubnya dan menungganginya kembali menyusuri kembali jalan yang telah dilaluinya dan menemukan kereta luncur itu berdiri aman di tengah jalan. Tetapi karena rubah telah menggigit tali di dekat jerat, tidak ada cara untuk memindahkannya.

Sementara itu rubah itu sangat menikmati jarahannya. Begitu dia melonggarkan kereta luncur, dia mengambil ikan yang paling enak dari tumpukan yang tersusun rapi untuk dijual, dan berlari ke hutan dengan ikan itu di mulutnya.

Tak lama kemudian ia bertemu seekor beruang yang bertanya, “Di mana kamu menemukan ikan itu, Rubah?”

“Oh, tidak jauh,” jawab Rubah. “Aku hanya menjulurkan ekorku ke sungai dekat tempat tinggal para peri, dan ikan langsung menggigitnya.”

“Astaga,” geram si beruang, yang sedang lapar dan sedang tidak dalam suasana hati yang baik, “kalau ikan itu menggigit pada ekormu, aku rasa ikan juga akan menggigit ekorku.”

“Ya, tentu saja,” jawab si rubah, “kalau kamu memiliki kesabaran untuk menanggung apa yang telah kuderita.”

“Tentu saja aku bisa,” jawab si beruang, “Tunjukkan jalannya padaku.”

Maka si rubah menuntunnya ke tepi sungai. Karena berada di tempat yang hangat hanya membeku sedikit di beberapa tempat, dan saat ini berkilauan di bawah sinar matahari musim semi.

“Para peri mandi di sini,” katanya, “dan kalau kamu memasukkan ekormu, ikan itu akan menangkapnya. Namun, tidak ada gunanya terburu-buru, atau kamu akan membuat mereka berenang ketakutan.”

Kemudian dia berlari pelan, tetapi hanya menghilang bersembunyi dari pandangan si beruang yang berdiri diam di tepi sungai dengan ekornya terbenam dalam air.

Tak lama kemudian matahari tenggelam. Udara menjadi sangat dingin dan es terbentuk dengan cepat. Ekor ekor beruang itu tertanam dalam es seolah-olah ada catok yang menahannya.

Ketika rubah melihat bahwa telah terjadi seperti yang dia direncanakannya, dia berteriak, ““Cepatlah kemari, peri-peri sungai. Bawalah busur dan tombak kalian. Seekor beruang telah memancing di sungai kalian!”

Dan dalam sekejap seluruh tempat itu penuh dengan makhluk-makhluk kecil yang masing-masing membawa busur kecil dan tombak yang juga kecil. Tetapi baik anak panah maupun tombak dapat menyengat, seperti yang diketahui beruang itu dengan sangat baik.

Karena ketakutan, dia menarik tubuhnya sehingga ekornya putus, lalu berguling lari ke dalam hutan secepat yang dapat dilakukan kakinya.

Melihat pemandangan ini, rubah memegang perutnya sambil tertawa terbahak-bahak, lalu berlari menjauh ke arah lain.

Tak lama kemudian, dia sampai di sebuah pohon cemara dan merayap ke dalam lubang di bawah akarnya. Setelah itu dia melakukan sesuatu yang sungguh aneh.

Sambil memegang salah satu kaki belakangnya di antara kedua kaki depannya, dia berkata dengan pelan, “Apa yang akan kamu lakukan, kakiku, kalau ada yang mengejarku?”

“Aku akan berlari begitu cepat sehingga dia tidak akan menangkapmu,” jawab kakinya.

“Apa yang akan kamu lakukan, telingaku, kalau seseorang datang hendak menangkapku?”

“Aku akan mendengarkan dengan saksama hingga aku bisa mendengar semua rencananya.”

“Apa yang akan kamu lakukan, hidungku, kalau seseorang hendak mengkhianatiku?”

“Aku akan mencium dengan sangat tajam hingga aku tahu dari jauh bahwa dia akan datang.”

“Apa yang akan kamu lakukan, ekorku, kalau seseorang hendak memangsaku?”

“Aku akan mengarahkanmu begitu lurus sehingga kau akan segera berada di luar jangkauannya. Ayo kita pergi. Aku merasakan bahaya sudah dekat.”

Namun, rubah merasa nyaman di tempat itu, dan tidak terburu-buru mengikuti saran ekornya.

Tak lama kemudian, dia baru sadar bahwa dia terlambat karena beruang datang melalui jalan lain.  Karena berhasil menebak di mana musuhnya berada, beruang mulai menggaruk akar pohon.

Rubah itu membuat dirinya sekecil mungkin, tetapi sehelai rambut ekornya mengintip keluar, dan beruang itu menariknya dan memegangnya erat-erat.

Rubah menancapkan cakarnya ke tanah, tetapi ia tidak cukup kuat untuk melawan tarikan beruang itu. Perlahan-lahan dia terseret keluar dan tubuhnya terlempar ke leher beruang itu.

Dengan cara ini mereka berangkat menyusuri jalan. Ekor rubah berada di mulut beruang itu.

Setelah berjalan cukup jauh, mereka melewati tunggul pohon tempat burung pelatuk berwarna cerah sedang mengetuk batang pohon.

“Ah! itu adalah masa-masa yang lebih baik ketika aku biasa melukis semua burung dengan warna-warna yang begitu ceria,” keluh rubah.

“Apa yang kau katakan, kawan tua?” tanya beruang itu. “Aku? Oh, aku tidak mengatakan apa-apa,” jawab rubah dengan muram. “Bawa saja aku ke guamu dan makanlah aku secepat yang kau bisa.”

Beruang itu terdiam memikirkan makan malamnya. Keduanya melanjutkan perjalanan mereka sampai mereka mencapai pohon lain dengan burung pelatuk yang mengetuknya.

“Ah! itu adalah masa-masa yang lebih baik ketika aku biasa melukis semua burung dengan warna-warna yang begitu ceria,” kata rubah lagi pada dirinya sendiri.

“Tidak bisakah kau melukisku juga?” tanya beruang itu tiba-tiba.

Tetapi rubah itu menggelengkan kepalanya. Dia selalu berbohong, bahkan jika tidak ada seorang pun yang perlu dibohonginya.

“Kamu tidak sanggup menahan rasa sakit,” jawabnya, dengan suara penuh wibawa, “dan kamu juga tidak sabar, tidak akan pernah bisa bertahan untuk diwarnai. Pertama-tama kamu harus menggali lubang, lalu memutar sulur pohon dedalu, menancapkan tiang dan mengisi lubang dengan aspal. Terakhir, membakarnya. Oh, tidak. Kamu tidak akan pernah bisa melakukan semua itu.”

“Tidak masalah seberapa berat pekerjaan itu,” jawab beruang dengan penuh semangat, “Aku akan melakukannya dengan sepenuh hati.”

Dia mulai mencabik-cabik tanah dengan sangat cepat sehingga sebuah lubang yang dalam terbentuk, cukup dalam untuk memuat tubuhnya.

“Ternyata,” kata rubah akhirnya, “aku salah terhadapmu. Sekarang duduklah di sini, dan aku akan mengikatmu.”

Maka beruang itu duduk di tepi lubang, dan rubah melompat ke punggungnya yang diikat dengan sulur pohon dedalu, dan kemudian membakar lapangan. Api membakar dalam sekejap dan mengenai sulur ndedalu dan rambut beruang yang kasar. Namun dia tidak bergerak karena mengira rubah sedang menggosokkan warna-warna cerah ke kulitnya, dan dia akan segera menjadi secantik padang bunga.

Tetapi ketika api menjadi semakin panas, dia bergerak dengan gelisah dari satu kaki ke kaki lainnya, sambil berkata dengan memohon, “Ini semakin hangat, kawan.”

Tetapi jawaban yang dia dapatkan adalah, “Sudah kuduga kamu tidak akan pernah bisa menahan rasa sakit seperti burung-burung kecil itu.”

Beruang tidak suka dibilang bahwa dia tidak seberani burung, maka dia menggertakkan giginya dan memutuskan untuk menanggung rasa sakit daripada berbicara lagi.

Tetapi ketikasulur dedalu habis terbakar, rubah mendorong korbannya hingga jatuh ke dalam lubang, dan dia berlari untuk bersembunyi di hutan.

Setelah beberapa saat, dia dengan hati-hati kembali ke lubang itu dan seperti yang dia duga, tidak ada yang tersisa kecuali tulang-tulang yang hangus. Tulang-tulang itu diambil dan dimasukkannya ke dalam tas yang disampirkannya di punggung.

Tak lama kemudian, dia bertemu dengan seorang Lapp yang sedang menggiring kawanan rusa kutubnya. Saat ia mendekat, rubah menggetarkan tulang-tulang dalam tasnya dengan riang.

Kedengarannya seperti perak atau emas, pikir lelaki itu dalam hati. Lalu dia berkata dengan sopan kepada rubah.

“Selamat siang, kawan! Apa yang kamu bawa dalam tasmu sehingga mengeluarkan suara aneh seperti itu?”

“Semua kekayaan yang ayahku tinggalkan untukku,” jawab rubah. “Apakah kamu ingin membelinya?”

“kalau kamu mau nejualnya, aku tidak keberatan,” jawab orang Lapp yang bijaksana dan tidak ingin rubah menganggapnya terlalu bersemangat. “Tetapi tunjukkan padaku dulu uang apa yang kau punya.”

“Ah, tapi aku tidak bisa melakukan itu,” jawab rubah, “tasku disegel. Tetapi kalau kamu mau memberiku tiga rusa kutub itu, kamu harus menerimanya apa adanya, beserta semua isinya.”

Si Lapp tidak begitu menyukainya, tetapi rubah itu berbicara dengan nada yang membuat keraguannya sirna. Ia mengangguk, dan mengulurkan tangannya.

Rubah itu memasukkan tas itu ke dalamnya, dan melepaskan rusa kutub yang telah dipilihnya.

“Oh, aku lupa!” serunya, sambil berbalik, saat dia hendak menggiring rusa ke arah yang berlawanan. “Kamu harus memastikan untuk tidak membuka tas itu sampai kamu berjalan setidaknya lima mil, tepat di seberang bukit-bukit di luar sana. Kalau kamu melanggarnya, kamu akan menemukan bahwa semua emas dan perak telah berubah menjadi tulang-tulang yang hangus terbakar.”

Kemudian dia mencambuk rusa kutubnya dan segera menghilang dari pandangan.

Selama beberapa saat, sang Lapp merasa puas dengan mendengar tulang-tulang berderak, dan berpikir dalam hati betapa menguntungkannya tawar-menawar yang telah dilakukannya, dan semua barang yang akan dibelinya dengan uang itu. Namun, beberapa saat kemudian, dia menjadi penasaran dengan isi tas itu. Lagi pula, apa gunanya merencanakan sesuatu kalau tidak tahu pasti berapa harta kekayaanmu, bukan?

Mungkin ada banyak perak dan hanya sedikit emas di dalam tas. Atau banyak emas dan hanya sedikit perak. Siapa yang tahu?

Tentu saja dia ia tidak akan mengeluarkan uang untuk menghitungnya, karena itu bisa mendatangkan nasib buruk baginya. Namun, tidak ada salahnya jika hanya sekali mengintip! Maka, dengan perlahan-lahan dia membuka segel  dan melepaskan ikatannya. Laludia melihat setumpuk tulang yang terbakar tergeletak di hadapannya!

Dalam sekejap dia tahu bahwa dia telah ditipu. Dia melemparkan tas itu ke tanah dengan marah, dan berlari mengejar rubah itu secepat yang dapat ditempuh oleh sepatu saljunya.

Rubah telah menebak dengan tepat apa yang akan terjadi, dan sedang berjaga-jaga. Saat itu juga ia melihat bintik kecil itu datang ke arahnya, dia berharap sepatu salju pria itu patah, dan saat itu juga sepatu si Lapp patah menjadi dua. Si Lapp kini tahu bahwa ini adalah ulah rubah. Dia berhenti dan mengambil salah satu rusa kutubnya yang lain, yang ia tunggangi, dan berangkat lagi untuk mengejar musuhnya.

Rubah segera mendengarnya datang, dan kali ini dia berharap rusa kutub itu jatuh dan mematahkan kakinya. Dan begitulah yang terjadi.

Pria itu akhirnya merasa bahwa pengejarannya sia-sia, dia bukan tandingan rubah itu.

Rubah terus melaju dengan tenang sampai mencapai gua tempat semua perbekalannya disimpan. Kemudian dia kembali bertanya-tanya siapa yang bisa membantunya untuk menyembelih rusa kutubnya, karena meskipun dia bisa mencuri rusa kutub, dia terlalu kecil untuk membunuh mereka.

“Bagaimanapun, itu akan sangat mudah,” pikirnya.

Dia meminta seekor bajing yang sedang mengawasinya di pohon di dekatnya untuk menyampaikan pesan kepada semua binatang buas di hutan. Dalam waktu kurang dari setengah jam terdengar suara ranting-ranting pohon yang patah. Beruang, serigala, ular, tikus, katak, dan makhluk lainnya datang mendekat ke gua. Ketika mereka mendengar alasan mereka dipanggil, mereka menyatakan diri mereka siap untuk melakukan bagiannya.

Beruang mengambil busur silang dari lehernya dan menembak dagu rusa kutub; dan, sejak hari itu hingga sekarang, setiap rusa kutub memiliki tanda di tempat yang sama, yang selalu dikenal sebagai anak panah beruang.

Serigala memanahnya di paha, dan tanda anak panahnya masih ada. Begitu pula dengan tikus, ular berbisa, dan hewan lainnya, bahkan katak. Akhirnya semua rusa kutub mati, dan rubah tidak melakukan apa pun, hanya melihat.

“Aku harus turun ke sungai dan membersihkan diri,” katanya, meskipun dia benar-benar bersih.

Dia pergi ke bawah tepi sungai dan bersembunyi di balik sebuah batu. Dari sana dia mengeluarkan teriakan yang sangat menakutkan, sehingga hewan-hewan berlarian ke segala arah. Hanya tikus dan cerpelai yang tetap berada di tempat mereka, karena mereka pikir mereka terlalu kecil untuk menarik perhatian.

Rubah terus berteriak sampai dia merasa yakin bahwa hewan-hewan itu pasti telah sampai pada jarak yang aman. Kemudian dia merangkak keluar dari tempat persembunyiannya dan menuju ke bangkai rusa kutub yang sekarang menjadi miliknya sendiri. Dia mengumpulkan seikat ranting untuk api, dan baru saja bersiap untuk memanggang daging rusa kutub, ketika musuhnya, si Lapp, datang, dengan napas terengah-engah karena tergesa-gesa.

“Apa yang kamu lakukan?” teriaknya. “Mengapa kamu memebrikan tulang-tulang padaku? Dan mengapa setelah mendapatkan rusa kutub, kamu malah membunuhnya?”

“Saudaraku tersayang,” jawab rubah sambil terisak-isak. “Jangan salahkan aku atas kecelakaan ini. “Rekan-rekankulah yang telah membunuh mereka, meskipun aku memohon agar mereka tidak melakukannya.”

Lelaki itu tidak menjawab karena bulu putih cerpelai yang sedang berjongkok dengan tikus di balik batu, menarik perhatiannya. Dia buru-buru meraih kait besi yang tergantung di atas api dan melemparkannya ke makhluk kecil itu. Tetapi cerpelai terlalu cepat baginya, dan kait itu hanya menyentuh bagian atas ekornya. Maka ekor cerpelai tetap hitam sekarang.

Mengenai tikus itu, si Lapp melemparkan tongkat yang setengah terbakar ke arahnya, dan meskipun itu tidak cukup untuk menyakitinya, kulit putihnya yang indah itu berlumuran darah, dan tidak akan bersih lagi.

Lelaki itu akan lebih bijaksana jika dia membiarkan cerpelai dan tikus itu, karena ketika dia berbalik lagi, dia aditinggal sendirian.

Begitu rubah menyadari bahwa perhatian musuhnya telah teralihkan, dia menggunakan kesempatan itu untuk menyelinap diam-diam sampai dia mencapai semak-semak tebal, lalu berlari secepat-cepatnya hingga mencapai sebuah sungai.

Seorang pria sedang memperbaiki perahunya.

“Oh, andai saja, andai saja, aku juga punya perahu yang harus diperbaiki!” serunya, sambil duduk dengan kedua kaki belakangnya dan menatap wajah lelaki itu.

“Hentikan ocehanmu yang konyol!” jawab lelaki itu dengan kesal, “atau aku akan memandikanmu di sungai.”

“Oh, andai saja, andai saja, aku punya perahu yang harus diperbaiki,” seru rubah lagi, seolah-olah dia tidak mendengar kata-kata laki-laki itu.

Lelaki itu pun marah dan mencengkeram ekornya, lalu melemparkannya jauh ke sungai dekat tepi sebuah pulau yang memang diinginkan rubah itu.

Dia dengan mudah merangkak naik. Sambil duduk, dia berseru, “Cepat, cepat, hai ikan-ikan, dan bawalah aku ke seberang!”

Ikan-ikan  meninggalkan batu-batu tempat mereka tidur dan kolam-kolam tempat mereka mencari makan, bergegas untuk melihat siapa yang bisa sampai ke pulau itu lebih dulu.

“Aku menang,” teriak ikan tombak. “Lompatlah ke punggungku, rubah tersayang, dan kamu akan segera sampai di tepi seberang.”

“Tidak, terima kasih,” jawab rubah, “punggungmu terlalu lemah untukku. Aku akan mematahkannya.”

“Coba milikku,” kata belut, yang telah menggeliat ke depan.

“Tidak, terima kasih,” jawab rubah lagi, “Aku akan tergelincir di atas kepalamu dan tenggelam.”

“Kau tidak akan tergelincir di punggungku,” kata ikan kerakap maju ke depan.

“Tidak; tetapi kamu terlalu kasar,” jawab rubah.

“Yah, kau tidak punya salah padaku,” kata ikan trout.

“Astaga! Kamu di sini?” seru rubah. “Tetapi aku juga takut mempercayakan diriku padamu.”

Pada saat ini seekor ikan salmon yang cantik berenang perlahan.

“Ah, ya, kamulah yang kuinginkan,” kata rubah. “Mendekatlah, sehingga aku bisa naik ke punggungmu tanpa membasahi kakiku.”

Maka ikan salmon itu berenang dekat pulau itu, dan ketika dia menyentuhnya, rubah menangkapnya dengan cakarnya dan menariknya keluar dari air, dan menaruhnya di atas tusuk sate, sambil menyalakan api untuk memanggangnya.

Ketika semuanya sudah siap, dan air dalam panci mulai panas, dia memasukkannya ke dalam panci dan menunggu sampai ia mengira ikan salmon itu hampir mendidih. Namun ketika dia membungkuk, air mendidih tiba-tiba memercik ke matanya, membuatnya buta.

Rubah terhuyung mundur sambil menjerit kesakitan, lalu duduk diam selama beberapa menit, menggoyang-goyangkan tubuhnya ke depan dan ke belakang. Ketika dia sedikit lebih baik, rubah bangkit dan berjalan menyusuri jalan sampai bertemu seekor burung belibis yang berhenti dan bertanya apa yang terjadi.

“Apakah kamu punya sepasang mata di sekitarmu?” tanya rubah dengan sopan.

“Tidak, kurasa aku tidak punya,” jawab burung belibis, dan berlalu.

Beberapa saat kemudian rubah mendengar dengungan lebah pagi, yang tergoda oleh sinar matahari. “Apakah kamu punya sepasang mata tambahan?” tanya rubah.

“Maaf, aku hanya punya yang sedang kugunakan,” jawab lebah. Dan rubah itu terus berjalan sampai dia hampir jatuh di atas ular berbisa yang sedang meluncur menyeberangi jalan.

“Aku akan sangat senang kalau kamu memberi tahuku di mana aku bisa mendapatkan sepasang mata,” kata rubah. “Kurasa kamu tidak punya mata yang bisa kamu pinjamkan padaku?”

“Baiklah, jika kau hanya menginginkannya untuk waktu yang singkat, mungkin aku bisa melakukannya,” jawab ular berbisa itu; “tetapi aku tidak bisa hidup tanpanya untuk waktu yang lama.”

“Oh, aku hanya membutuhkannya untuk waktu yang sangat singkat,” kata rubah. “Aku punya sepasang mata di balik bukit itu, dan begitu aku menemukannya, aku akan membawakan matamu kembali kepadamu. Mungkin kamu bisa menyimpan ini sampai saatnya tiba.”

Maka dia mengambil matanya dari kepalanya sendiri dan memasukkannya ke kepala ular berbisa itu, lalau mengambil mata ular berbisa itu sebagai gantinya.

Sambil berlari, dia berteriak dari balik bahunya, “Selama dunia ini ada, mata ular berbisa itu akan masuk ke kepala rubah dari generasi ke generasi.”

Dan begitulah yang terjadi.

Kalau kamu melihat mata ular berbisa, kau akan melihat bahwa matanya terbakar. Dan meskipun ribuan tahun telah berlalu sejak rubah usil itu memperdaya semua makhluk yang ditemuinya, ular berbisa masih memiliki jejak dari hari rubah licik itu memasak ikan salmon. []

Cikarang, 25 Oktober 2024

Disadur dari “The Fox and The Lapp” (The Brown Fairy Book, Andrew Lang).

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *