Dalyono menyelinap masuk ke pintu toko buku beberapa menit sebelum Nyimas Mira sempat membalik papan nama dari “buka” menjadi “tutup.”
Udara beraroma cemara dan asap rokok mengepul dari bibir Nyimas Mira yang setengah terbuka saat dia berjalan melewati meja kasir. Dia menggosok-gosokkan kedua tangannya yang kedinginan dan mengangguk untuk menyapa.
Shift kerjanya di rumah sakit berakhir pukul setengah tujuh, dan bus menurunkannya dua puluh menit kemudian. Beberapa bulan yang lalu, akhirnya Nyimas Mira berhenti mengeluh tentang kedatangannya menjelang toko tutup. Sejak saat itu, mereka membatasi percakapan mereka hanya dengan anggukan dan ucapan selamat tinggal.
Nyimas Mira duduk di bangku tinggi. Punggungnya tegak seperti tongkat pel yang digunakan Dalyono di rumah sakit, muumuu hijau tosca yang dihiasi bunga-bunga merah menutupi bahunya yang kurus. Rambutnya yang pendek dikeriting dan diwarnai oranye mencolok, dengan uban yang tumbuh perlahan di akarnya. Lipstik dusty pink membekukan mulutnya setebal mungkin pagi itu.
Dalyono meringis.
Satu hal yang tidak dia rindukan dari pernikahan adalah mencium lipstik.
Dia mendorong gigi depannya dengan lidah, mencicipi rasanya.
Di bagian belakang toko, buku-buku paperback berjejer di rak-rak kayu yang kokoh dari lantai hingga langit-langit. Buku-buku yang melimpah ditumpuk rapi dalam kotak-kotak kardus.
Dua buku seharga sepuluh ribu untuk menemaninya sepanjang malam, untuk membantunya melupakan.
Bukan keinginan yang terlalu mewah, bukan?
Setelah perang, dia minum sebotol bir setiap malam, tetapi istri dan hatinya tidak pernah terbiasa dengan itu. Pada akhirnya, bahkan dalam keadaan sadar, istrinya tidak bisa beradaptasi dengannya sama sekali.
Dia mengerti. Bahkan dia sendiri hampir setiap hari juga tidak bisa beradaptasi dengan dirinya sendiri.
Setumpuk Harlequin menunggunya. Dalyono membungkuk rendah dan mencari-cari judul-judul yang tidak dikenalnya di dalam kotak. Buku-buku bersih dengan sampul yang hampir sempurna kali ini, seolah-olah buku-buku itu hanya dibaca sekali.
Batasnya adalah dua, atau dia akan begadang, membaca sepanjang malam.
Kalau keberuntungannya masih ada, besok akan ada buku baru lagi atau beberapa buku akan tetap di situ.
Dalyono membeli dua buku setiap hari, kecuali akhir pekan. Pada hari Sabtu dia membeli empat buku, karena toko tutup pada hari Minggu.
Apa yang dilakukan Nyimas Mira sepanjang hari Minggu? Dia mencoba membayangkannya duduk di bangku taman, tetapi berhasil. Imajinasinya ambyar.
Ada hari-hari yang gampang untuk memilih dua buku. Ada lagi hari-hari hanya ada dua buku yang ingin dia beli. Hari-hari lainnya tidak ada buku yang ingin dia beli, tetapi dia tetap membeli dua buku dan membacanya.
Biasanya, kata-kata seperti obat penenang. Kadang-kadang, seperti hukuman, tembakan terlalu dekat dengan rompinya, tetapi dia tetap menanggungnya.
Penebusan dosa.
Sama seperti pekerjaannya membersihkan tumpahan di ruang operasi di rumah sakit.
Penebusan dosa.
Dia masih bisa, setelah empat dasawarsa kemudian, melihat wajah gadis-gadis kecil itu setelah mereka menginjak ranjau darat yang dia pasang dan kubur, yang diam-diam dia banggakan.
Dia masih melihat wajah mereka dalam mimpinya. Dia masih — Tidak, tidak di sini.
Pada hari-hari seperti ini, saat ada terlalu banyak pilihan, tugas Dalyono sangat manusiawi.
Memilih dua buku dan membiarkan sisanya pergi, mempertaruhkan kemungkinan untuk tidak pernah bertemu mereka lagi.
Dia tidak pernah membaca blurb di bagian sampul belakang. Deskripsi akan membuat keputusannya terlalu sulit, membuat pilihannya terlalu pribadi.
Bagaimana dia bisa menolak sebuah buku setelah dia tahu tentang buku itu?
Dia tidak bisa, maka dia tidak pernah melakukannya. Dia mengandalkan sampul depan dan judul, mengingatkan dirinya sendiri bahwa sebagian besar waktu dalam hidup, yang pernah dilihat hanyalah tampilan sampul depan.
Malam ini, dia berlama-lama, dengan dua buku di tangannya. Nyimas Mira membereskan toko seperti yang dilakukannya setiap malam. Mengelap meja, mendorong buku-buku dari tepi rak, mengambil buku-buku yang tercecer. Dia sudah membalik tanda ‘buka’.
Dalyono mendengar ketika Nyimas Mira berjalan ke pintu, mendengar bunyi lonceng kecil yang diredam.
Dengan enggan, Dalyono kembali ke depan. Seperti biasa, Nyimas Mira membaca judul-judulnya dan membaca sekilas sampul belakang, mengangguk, seolah-olah dia mengenal setiap buku dengan baik.
Mengangguk, seolah-olah dia sedang mengirim satu orang lagi pulang.
Dalyono selalu menghindari kekepoan Nyimas Mira, mengerutkan kening di wajahnya agar wanita itu tidak membaca lebih jauh dari buku-bukunya. Keduanya tidak berbicara saat dia membayar harga bukunya setiap malam.
Apa yang Nyimas Mira lakukan setelah dia pergi?
Dalyono tahu wanita itu tinggal sendirian di atas toko. Tirai biru pudar tergantung dari jendela yang menghadap ke jalan. Tetapi seperti apa kamarnya? Apakah kamarnya mencerminkan dekade ketika dia pindah, seperti rumah ibunya, linoleum hijau retak dan sofa wol kasar digaruk kucing? Atau lebih seperti rumah tempat dia menyewa kamarnya: meja sudut yang rapuh dengan taplak plastik berwarna kuning berbintik-bintik pernak-pernik yang lebih banyak menyimpan debu daripada makna?
“Apakah kamu memasak makan malam?” Kata-kata itu meluncur dari lidahnya sebelum dia bisa menghentikannya.
Dari balik kacamata berbingkai tanduk tebal, mata Nyimas Mira melebar dan menatap matanya.
“Ya.” Dia menjawab perlahan sambil memasukkan buku-bukunya ke dalam kantong kertas cokelat.
“Aku memasak makan malam. Sayap ayam malam ini, dan sawi hijau. Nasi putih biasa karena lebih murah dari beras organik.”
Dalyono mengangguk, mengambil tasnya dari meja, dan bergegas ke pintu.
“Dan aku membaca dua buku sebelum mematikan lampu.”
Dua buku.
Dalyono membeku di tempat, tangannya mencengkeram gagang pintu yang dingin. Dunia batinnya bergoyang di pangkalnya, mengingatkannya pada gempa bumi berkekuatan sembilan SR yang dirasakannya di Bate Glungku ketika dia ditugaskan di sana.
“Dua buku, katamu?” Dia tidak bisa menatapnya, tetapi merasakan suku kata penuh harapan di lidahnya yang tidak patuh.
Dia merasakan anggukan wanita itu sebelum membuka pintu dan berjalan melewatinya.
Bel berdenting sebagai peringatan—jangan melihat ke belakang—tetapi dia tidak mematuhinya. Sebaliknya, dia berdiri di samping pintu dan memperhatikan Nyimas Mira menguncinya. Wanita itu mengamatinya, matanya menyipit, jari-jarinya yang panjang dan kurus menempel di kaca.
Dalyono mengangkat tangannya untuk melambaikan tangan, tetapi malah memberi hormat.
Mulut wanita itu bergerak, melengkung membentuk senyum tipis.
Cikarang, 26 Oktober 2024

