Pagi Pertama di Mars
dok. pri. Ikhwanul Halim

Pagi Pertama di Mars

Views: 25

Pagi pertamaku di Mars, aku membaca berita dari Bumi. Hal-hal yang diizinkan perusahaan untuk kami baca.

Tidak ada tentang pihak mana yang mengendalikan sisi selatan katulistiwa, atau wabah disentri yang melanda kamp pengungsi Zimbabwe tepat sebelum kami diluncurkan. Tidak pernah ada cerita yang dapat merusak moral, tentu saja. Sebaliknya, aku menyeruput sekantong kopi dan membaca artikel tentang kami.

Judulnya adalah “69 Astronot Ishtar Akan Mencapai Mars Besok.”

Secara teknis, besok sudah menjadi hari ini, tetapi kesalahan yang benar-benar mencolok adalah jumlah yang diberikan. Sebagian besar dari kami bukanlah astronot. Menjadi astronot membutuhkan pelatihan dan pendidikan. Kesempatan. Aku rasa “tubuh hangat” tidak memiliki daya tarik utama yang sama. Dan “12 Astronot dan 57 Pengungsi Miskin yang Bersedia Menandatangani Nama Mereka untuk Apa Pun untuk Beberapa Tahun Hidup Membangun Perumahan yang Aman dan Nyaman (Kalau Perjalanan ke Luar Angkasa Sukses, yang Masa Bodoh)” tidak akan cocok.

Aku menggigit batang protein madu-karamel yang setidaknya memiliki cukup rasa manis untuk menutupi rasa rumput laut, dan keluar dari kantong tidur untuk memakai helm.

Beberapa yang lain menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Philomena sudah memakai sweter menutupi seragam kerjanya dan Hugo meraba-raba di dalam bagasi perlengkapannya untuk mencari kantong kopi miliknya sendiri.

“Semangat,” kataku, dan menyodok Naomi di kantong tidurnya di sampingku. Kami berdua di bagian konstruksi dan kami perlu merakit modul kafetaria.

Dalam sepuluh atau dua belas hari, kami akan memiliki kopi Vietnam drip asli saat bangun tidur. Itu adalah hak istimewa yang bahkan tidak didapatkan oleh para astronot yang mengawasi kami dari orbit.

Dalam beberapa hari, tim pendukung kehidupan akan menjalankan sistem rekonstitusi air juga, tetapi pada hari pertama masih berupa tangki air seni raksasa.

Aku tidak berlama-lama sebelum menghubungi petugas komunikasi yang berdinas di radio malam.

“Tidak ada yang baru,” katanya, tanpa mengalihkan pandangan dari tayangan blue film di perangkat genggamnya. Akan menyenangkan untuk mengetahui bagaimana dia mengatasi kode sensor, tetapi dia tidak mau berbagi.

“Seattle masih bisa dikunjungi pada hari pertama sesuai rencana.”

Belum ada orang lain yang datang ke pod pakaian luar angkasa, jadi aku duduk dan menyelesaikan membaca artikel yang kumulai dengan kopi pagiku. Kecuali kamu menyukai dekompresi spontan, lebih baik mengenakan pakaian luar angkasa dengan bantuan tim EV daripada mencoba melakukannya sendiri. Lebih baik, dan juga jauh lebih wajib.

Isi artikel itu sendiri memperbaiki judulnya—tidak menyebut kami “astronot” dan bahkan menguraikan kami berdasarkan wilayah asal kami.

Artikel itu menyebut kami “para pekerja.” Atau kalau penulis menyebut nama korporasi, “para pekerja Anum Konsorsium.”

Penggunaan tanda kutip yang tepat.

Kami memang menjadi bagian dari mereka, kurang lebih, selama itu menjadi poin bonus untuk akurasi teknis di sana. Mungkin para pekerja kontrak Anum Konsorsium.

Lebih pas, tetapi aku tidak suka memakainya terlalu lama.

Artikel itu juga tidak mengandung pada kesalahan umum lainnya, yaitu menyebut kami sebagai “koloni.”

Para koloni, asal kata untuk kolonial yang artinya penjajah, datang untuk menetap. Kami hanya berada di sana cukup lama untuk menggelar keset selamat datang dan membuat tempat ini layak untuk para penghuninya di masa mendatang.

Artikel itu ditutup dengan: Pada saat masa kerja mereka berakhir, para pekerja itu akan membangun habitat untuk dua ratus ribu orang.

Itu tidak cukup untuk meringankan tekanan populasi di planet asal. Tetapi itu adalah sebuah awal.

Aku perhatikan penulis juga tidak menyebut kami “Orang Mars”, yang selalu sangat menyinggung perasan dan terlalu sering terjadi. Kami bukan alien dan lagi pula tidak ada yang menyebut orang-orang yang membangun rumah di bumi bagian dalam sebagai “manusia tikus tanah.”

Belum.

Naomi datang saat itu, dan pekerja konstruksi lain yang tertinggal tidak jauh di belakangnya. Nunique dan Zola dari EV juga.

Bersama-sama kami mengeluarkan pakaian dari loker dan memaksakan diri masuk ke dalam kain yang masih kaku, memasukkan kaki kami ke dalam sepatu bot, memeriksa semua segel dua kali dan menjalankan rutin persiapan tiga kali untuk memastikan bahwa rasa gugup di hari pertama tidak akan membuat siapa pun keluar dari masa kontrak mereka lima tahun dan 364 hari terlalu dini.

Ketika kami akhirnya masuk ke ruang kedap udara, Naomi sudah cukup terjaga untuk memasang senyum di wajahnya. Kegembiraan karena mampu mengangkat unit dinding seberat 75 kilogram seakan hanya karung beras seberat 25 kilogram tidak akan segera hilang.

“Kau siap untuk ini?”

“Tentu.”

Kunci pintu terbuka dan aku melangkah keluar di bawah langit biru, jauh lebih cerah daripada buih abu-abu yang saat ini menyelimuti bumi.

Naomi terpental ke arah jatuhnya material dan yang lainnya berjalan dengan susah payah. Kali ini akulah yang tertinggal. Beratku hanya 25 kilogram di sini, tetapi aku merasa berat. Sepatu botku menggesek tanah, dan aku melihat ke bawah alih-alih ke atas. Tanah merah halus, banyak jejak sepatu bot yang membuat tanda. Termasuk milikku.

Aku menyipitkan mata pada pola jejak itu seolah-olah itu berarti sesuatu, dan aku menyadari bahwa mungkin memang begitu. Dan mungkin tidak bagi orang lain.

Tentu saja tidak bagi politisi atau manajer kamp atau wartawan atau apa pun. Namun, satu orang sudah cukup, asalkan satu orang itu adalah aku.

Aku berjalan keluar dari sisi tempat penampungan hewan dan mengangkat satu jari kaki. “Mahiwal Linukh was Here,” tulisku, di bawah tempat lempengan lantai akan dibuka. Tempat yang tidak akan pernah diganggu oleh angin atau kaki.

Lalu aku pergi untuk bergabung dengan yang lain. Habitat tidak terbangun dengan sendirinya.

Cikarang, 29 Oktober 2024

Baca juga:

Mars
Peluang untuk Menjadi Penguasa Mars

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *