Halloween kuno dalam cerita rakyat, dikaitkan dengan kegelapan yang semakin panjang, dengan perubahan musim, dengan kematian, dengan makhluk-makhluk mistis seperti peri, penyihir, jiwa orang meninggal, sepanjang malam. Aspek-aspek ini juga merupakan arena bermain horor dalam film, seni, dan sastra. Kalian mungkin berpikir Halloween dan horor adalah teman selapik seketiduran yang mesra sejak dahulu kala.
Namun, Halloween yang kita kenal sekarang telah diciptakan dan diciptakan kembali berkali-kali selama beberapa ratus tahun terakhir. Halloween dari dulu juga sudah menyeramkan dan tidak berasal dari dunia ini, tetapi tidak ada hubungannya dengan horor, tidak seperti sekarang.
Awal mulanya perlahan. Acara radio tahun 1930-an dan 1940-an seperti “Inner Sanctum Mystery” dan “Lights Out” di Amerika menawarkan Halloween, dan komik menerbitkan kisah-kisah menyeramkan saat Halloween untuk memuaskan anak-anak muda yang dahaga adrenalin seperti Steven Spielberg dan Stephen King muda. Dalam literatur, hanya ada sedikit penyebutan tentang hari istimewa tersebut hingga memasuki paruh kedua abad kedua puluh.
Salah satu karya yang paling banyak dikumpulkan dalam buku-buku bertema Halloween awal “Inner Sanctum” katakanlah, tahun 1919 dan seterusnya adalah “Black Cat” (1843) karya Edgar Alan Poe, sebuah cerita pendek yang sama sekali tidak menyebutkan hari tersebut.
All Hallow’s Eve (1945) karya Charles Williams, novel fantasi/horor pertama yang menggunakan kata-kata tersebut dalam judulnya, tampaknya lebih banyak membahas tentang All Hallows (Semua Orang Kudus) daripada Halloween kita sekarang.
Poe dan Lovecraft masing-masing menjadikan Halloween untuk dijadikan tema puisi. “Ulalume” (1847) dari Poe, dan “Halloween in a Suburb” (1926) untuk Lovecraft.
Bahkan dalam film, Halloween dan horor berada di jalur yang berbeda. Bandingkan Two Thousand Maniacs! (1964), karya Herschell Gordon Lewis, atau Rosemary’s Baby (1968) karya Roman Polanski, tentang aliran sesat dan kegilaan, dengan film Halloween ikonik dekade itu: It’s the Great Pumpkin, Charlie Brown (1966). Halloween tidak dieksploitasi untuk horor karena, hingga sekitar empat puluh tahun yang lalu, itu masih dianggap sebagai hari perayaan anak-anak.
Kemudian keadaan mulai berubah.
Banjir film horor yang penuh kekerasan yang dirilis Hollywood pada tahun 1964, ditambah horor kehidupan nyata—gambar grafis dari perang di Vietnam misalnya—membuat Amerika harus menghadapi serangkaian gambar yang lebih gelap, dunia yang secara visual lebih berbahaya.
Halloween, yang selalu menanggapi gerakan budaya, menjadi penuh dengan rumor tentang makanan beracun, ritual setan, anak-anak yang diculik, dan kucing hitam yang mati dicekik. Sebagian besar adalah tipuan atau kesalahpahaman, tetapi perayaan Halloween diubah oleh anggapan bahwa anak-anak berada dalam bahaya.
Tidak semuanya merupakan berita buruk. Bagi mereka yang menyukai horor—dan ternyata cukup banyak juga—peningkatan visual berdarah dalam budaya populer membantu menciptakan pasar baru untuk hiburan horor Halloween.
Dulu pernah aaku membuat survei iseng-iseng. Kalau diminta menggambarkan diagram Venn tentang horor dan Halloween, di manakah keduanya akan beririsan?
Teman yang paling literal menyebutkan huruf “O.” Tetapi mayoritas mengatakan rumah hantu dan komedi gelap edisi bulan Oktober.
Acara pesta mulai populer pada tahun 1970-an bersamaan dengan venue taman hiburan bertema horor di bulan Oktober. Fiksi noir dan film horor ini menggunakan tokoh dan skenario yang sama: kanibal di daerah terpencil, gergaji mesin, badut, tukang jagal. Keduanya bersifat naratif, yang memberi kita cara untuk memahami apa yang terjadi dan menemukan tempat di kepala kita, dan kita menikmatinya.
Mengapa tidak?
Kalau orang dewasa di Amerika yang lahir dan besar di tahun 50-an dan 60-an telah melestarikan tradisi trick or treatagar anak-anak mereka dapat menikmati Halloween, mereka yang tumbuh di tahun 70-an dengan musik heavy metal, film slasher, dan rasa takut akan pisau cukur di apel mereka mungkin akan merasakan sedikit nostalgia untuk Halloween yang lebih mengerikan. Kita menginginkan pengalaman yang lebih dari sekadar obrolan visual yang ada di sekitar kita.
Baik film horor maupun hiburan gelap menciptakan kelompok. Dalam film, kita menyaksikan orang-orang berkumpul untuk memperjuangkan atau melawan sesuatu. Dalam acara bertemakan angker, ada teror kelompok—orang-orang berkumpul sebagai kelompok pejuang untuk mendapatkan pengalaman tersebut. Tidak ada yang masuk ke wahana rumah hantu sendirian.
Namun, adalah sebuah kebetulan yang membuat Halloween menjadi horor selamanya.
Halloween (1978) karya John Carpenter seharusnya dirilis sebagai The Babysitter Murders. Tetapi sang produser Irwin Yablans mengubah judulnya, dan, dengan satu pukulan, Halloween (film) mengaitkan Halloween (hari raya) dengan kematian yang kejam dan kejahatan yang tak terbayangkan karena menggunakan hari raya tersebut sebagai judul, tema, dan latar.
Trailer aslinya:
Kamera membidik dari labu yang tersenyum di samping huruf tebal yang mengeja “Halloween.” Di tengah-tengah cuplikan ada bidikan labu yang sama, menyeringai di meja samping tempat tidur tempat tubuh yang tergeletak terbunuh. Gambar terakhir adalah labu, “Halloween” yang dicetak tebal, dan musik tema yang menyeramkan dengan tempo 5/4 yang menusuk ke dalam kulit.
Halloween mengambil simbol yang paling tidak berbahaya, yang paling kekanak-kanakan dan polos: labu.
Apakah ada yang masih aman setelah itu? Halloween memainkan ketakutan yang sama dengan mitos tentang pisau cukur di kulit apel—sesuatu yang jahat mengintai di balik hal-hal biasa.
Kesuksesan besar Halloween di box office memicu banjir film slasher tahun 1980-an. Banyak yang merujuk pada Halloween, baangkitnya mayat dari kuburan, Setan, dan bahkan Festival Samhain atau Sauin, pendahulu Halloween di Dunia Lama.
Untuk semakin memperumit keadaa, para praktisi ilmu sihir modern—spiritualitas berbasis elemen tanah—berbicara tentang perayaan mereka sendiri pada tanggal 31 Oktober, dan gereja-gereja fundamentalis mulai menentang asal-usulnya yang “setan”.
Masyarakat Amerika bingung: Dari mana semua kejahatan ini berasal? Kapan Halloween menjadi begitu berdarah?
Bukan perayaan Halloween yang penuh kekerasan, mengancam, ambigu secara moral, atau jahat. Kitalah yang melakukannya. Kita selalu terpesona oleh darah: kepala Marie Antoinette yang menggelinding ke dalam keranjang, foto “Saigon Execution” (1968) Eddie Adams.
Kita jarang berpaling.
Halloween, fiksi gelap, film horor, semuanya menyaring kengerian dan tabu dan mengembalikannya kepada kita sebagai hiburan atau seni.
Film horor memadukan peringatan Halloween di Amerika dengan palet visual yang lebih ekstrem, yang memperkuat industri horor, yang benar-benar berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Horor juga membawa remaja dan dewasa muda kembali ke perayaan Halloween. Kita tidak hanya berbicara tentang laki-laki di sini—mayoritas penonton film horor adalah wanita, dan wahana tempat angker melaporkan bahwa pelanggan mereka sama banyak antara pria dan wanita.
Halloween, pada gilirannya, melegitimasi horor, mendorong genre tersebut dari subkultur ke arus utama. Halloween adalah hari libur asal Amerika yang menyenangkan. Dan Halloween juga lebih banyak muncul dalam literatur horor kontemporer.
Kini setelah kita mengungkap sisi gelap Halloween, para penulis horor, seniman visual, dan pembuat film telah menyelami citranya—kuno dan modern—untuk tema, alur, atau suasana. Aku yang pernah menjadi kontributor sebuah platform online literatur misteri dan menerbitkan beberapa buku, berpikir untuk menerbitkan beberapa koleksi fiksi horor lagi.
Banyak film menyambut Halloween, dan lebih banyak tema Halloween dalam horor.
Keduanya tumpang tindih, berpotongan, dan saling memengaruhi, bukan hanya karena keduanya berasal dari akar yang sama, tetapi karena keduanya menanggapi keingintahuan manusia yang sama. Batas antara dunia tempat kita tinggal dan alam bawah tanah yang penuh kebusukan dan kegilaan, tipis dan rapuh, yang membuat Halloween dan horor begitu memikat karena keduanya memungkinkan kita melakukan perjalanan bolak-balik ke ranah arwah yang tidak dikenal, sangat mengerikan, tanpa konsekuensi.
Dan kita berhasil keluar hidup-hidup.
Lebih horor lagi perayaan pergantian rezim yang berujung pelantikan 100 lebih Menteri dan Wakil Menteri berikut dua lapis staf khusus dan pembantu staf khusus untuk mereka.
CIkarang, 31 Oktober 2024


Interesting.