Selama bertahun-tahun, Meilani makan mi dua kali seminggu, pada hari Selasa dan Minggu, dan menurutnya, itu telah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Dia makan apa pun yang berbentuk mi, baik mi intsan, kakilima, maupun mi dari resto ternama.Ramen, guksu, atau spaghetti.Dia menemukan kekuatan dalam semangkuk mi ayam atau udon yang hangat, bahkan setelah hari-hari kerja yang paling sibuk.
Namun, tak lama setelah ulang tahunnya yang keempat puluh dua—setelah operasinya—mi tidak lagi cocok untuk perutnya.
Awalnya ia menyangkal gejala-gejala tersebut, mengaitkannya dengan sarapan berat, atau terlalu banyak makanan manis, atau stres. Namun, sakit perutnya semakin parah, dan setelah menghabiskan malam Selasa dan Minggu di toilet, ia menyadari bahwa dia intoleransi gluten. Tidak akan pernah lagi makan mi dan sebangsanya yang biasa.
Malam ini, dia menyiapkan mi bebas gluten untuk pertama kalinya. Mi itu tampak mirip dengan mi biasa dalam kemasannya, tetapi Meilani tidak optimis. Setelah operasinya tahun lalu, dia mengajari putranya, Gundala, cara aagar membuat dirinya berguna di dapur. Sekarang dia meminta Gundala untuk merebus air, tetapi Gundala terpeleset saat menaruh panci di atas kompor dan jari tengahnya terbakar di kumparan, lalu mulai menangis. Meilani mengoleskan vitamin E cair ke luka bakar dan membalutkan plester Spiderman di jarinya.
“Menurut Mama ini bukan kanker?” tanya Gundala sambil menunjukkan jarinya.
“Tentu saja bukan.”
“Tapi bukankah itu yang dikatakan dokter tentang tumor Mama?”
“Itu berbeda. Ini hanya luka bakar, Gundala.”
Mi bebas gluten itu mendidih hingga putih. Meilani menyendok sesendok mi kental dari air, tetapi meskipun diberi saus dan banyak garam, rasanya tetap seperti sampah.
Ya Tuhan, seharusnya aku sudah tahu lebih dulu.
Diliputi kekecewaan, dia membuang mi itu ke tempat sampah.
Mereka makan sisa ayam dan nasi.
Semua orang mengatakan kepadanya bahwa dia beruntung tahun lalu, setelah dokter menemukan kanker ovarium lebih awal dan mengangkat seluruh tumor dalam satu operasi, yang berarti tidak ada kemoterapi atau radiasi atau apa pun.
“Kamu orang paling beruntung di dunia!” kata ibunya, seolah-olah terkena kanker adalah keberuntungan. Dan sekarang, di mana keberuntungannya karena alergi terhadap satu-satunya makanan yang membuatnya bahagia?
Setelah makan malam, Gundala menonton film Spiderman di ruang tamu. Meilani mencoba mengabaikannya. Namun, putranya kemudian melilitkan tali di tiang lampu dan berpura-pura berputar-putar di ruangan itu dan berkata, “Aku rasa plester ini memberiku kekuatan super. Lihat? Lihat, Ma! Lihat!”
Kata-kata itu keluar sebelum Meilani sempat menghentikannya.
“Jangan bodoh, Gundala! Tenanglah. Kumohon.”
***
Gundala berdiri di teras. Mamanya sedang dalam suasana hati yang buruk. Dia memasak mi lalu membuangnya seperti orang gila.
Luka bakarnya masih terasa sakit. Dia berdiri di kursi teras. Suatu kali, mamanya sedang dalam suasana hati yang buruk sehingga dia lupa dengan rutinitas malam mereka. Gundala masih belum lupa. Setiap malam setelah mamanya mengantarkannya ke tempat tidur, mereka seharusnya mengatakan hal yang sama. Dia tidak yakin bagaimana itu dimulai, tetapi mereka telah melakukannya sejak dulu.
“Selamat malam, Gundala.”
“Selamat malam, Mama.”
“Sayang kamu, Gundala.”
“Sayang Mama juga.”
Gundala bertanya-tanya apakah malam ini akan menjadi kali kedua mamanya melupakan rutinitas itu. Dia tidak ingin memikirkannya.
Di bawah kursi, dia menemukan seekor laba-laba hitam, jenis yang memiliki bercak merah di perutnya yang telah diperingatkan mamanya agar tidak disentuhnya. Dia memeriksa jam pasir merah di pantatnya yang mengingatkannya pada laba-laba dari Spiderman. Dia menusuknya dengan sumpit kayu, akhirnya berhasil menempel di ujungnya, dan melepas plester di atas luka bakarnya, bertanya-tanya berapa lama transisi menjadi pahlawan super akan berlangsung. Tetapi laba-laba itu tidak mau menggigit, dan, karena frustrasi, Gundala melemparkan tongkat itu ke tepi teras.
Ketika dia kembali ke dalam, dia bertanya kepada mamanya apakah pahlawan super itu memang benar-benar ada.
“Maafkan Mama,” kata mamanyanya. “Mama seharusnya tidak membentakmu.”
“Baiklah. Tapi bagaimana dengan pahlawan super? Apakah mereka nyata?”
Ibunya terdiam sejenak. “Belum tentu.”
“Bagaimana dengan Batman?”
“Gundala—”
“Superman?”
“Gundala—”
“Iron Man?”
“Semuanya hanya khayalan, Sayang. Termasuk Noodle Woman.”
Noodle Woman? Gundala belum pernah mendengar yang ini sebelumnya. Dia ingin mengajukan banyak pertanyaan tetapi memutuskan untuk menunggu sampai nanti, sampai ibunya merasa lebih baik dan tidak akan memanggilnya bodoh.
***
Setelah Gundala tertidur di sofa, Meilani menggendongnya ke tempat tidur. Dia masih merasa tidak enak karena membentaknya tadi. Dia menarik selimut sampai ke dagu Gundala sebelum berbalik untuk pergi.
“Ma? Siapa Noodle Woman? Mama menyebutkannya tadi.”
Meilani membayangkan sepiring ramen hangat, direbus hingga kawai sempurna. Sebelumnya, dia berfantasi tentang menciptakan pahlawan supernya sendiri: seorang wanita yang mampu mencerna apa pun yang diinginkannya.
“Dia tidak nyata, Gundala.”
“Tapi, mama bilang dia pahlawan super. Bisakah dia terbang?”
“Dia tidak punya kekuatan super seperti itu.”
“Lalu, apa yang bisa dia lakukan? Mengapa aku belum pernah mendengar tentang dia?”
“Dia bisa makan apa pun yang dia mau.”
“Mama mengarangnya, kan?”
Meilani tersenyum. “Mungkin.” Dia mematikan lampu. “Selamat malam, Gundala.”
Untuk pertama kalinya sepanjang hari, mi tampak sepele, terutama jika dibandingkan dengan kemungkinan hasil tes darah bulanannya untuk kanker menjadi abnormal suatu hari nanti. Dia hampir menangis, berdiri di sana, memperhatikan Gundala dalam kegelapan.
Kemudian dia teringat.
“Selamat malam, Gundala,” katanya.
“Selamat malam, Mama.”
“Sayang kamu, Gundala.”
“Sayang Mama juga.”
Dia menutup pintu di belakangnya, membayangkan dengkuran putranya. Bukti bahwa dia telah membawa kehidupan ke dunia ini. Bukti bahwa putranya masih ada di sana, masih bernapas.
Ibu Meilani telah mengatakan kepadanya bahwa dia adalah orang paling beruntung di dunia.
Mungkin, pikir Meilani, mungkin ibuku benar.
Cikarang, 12 November 2024

