Wajah di Lantai Kamar Mandi
dok. pri. Ikhwanul Halim

Wajah di Lantai Kamar Mandi

Views: 19

Konon, orang-orang melihat Yesus di mana-mana. Mereka melihatnya di roti keju panggang dan di bercak-bercak jamur. Mereka melihatnya di dinding dengan cat yang mengelupas. Bahkan Kristin mengatakan dia pernah melihatnya di telur dadar yang gosong, dan dia tidak mau menyerah, bahkan setelah aku mengatakan kepadanya bahwa itu lebih mirip Willie Nelson. Dia marah sekali saat saya memakannya.

Apa yang aku lihat sekarang jelas bukan Yesus. Yesus berambut panjang dan berjanggut. Semua orang tahu itu. Dan dia tidak punya telinga yang runcing. Dan tidak bertanduk. Yang aku lihat adalah iblis.

Semua tetesan darah di lantai kamar mandi berbentuk lingkaran bulat yang bagus, kecuali yang aku injak.

Wajah.

Wajah kecil ingusan. Ya, aku sedang berbicara tentang kau. Bibirmu mengerucut, dan matamu yang besar menengok ke samping. Kau tampak seperti anak kecil yang baru saja ketahuan melakukan sesuatu yang tidak seharusnya. Kecuali telinga yang runcing dan tanduk.

Kau tampak seperti agak malu. Oooh, apakah aku baru saja mengatakannya— apakah itu yang ingin kau katakan padaku, Tuan Wajah di Lantai? Tatap aku saat aku berbicara padamu.

Siapa pun yang bertanduk di kepalanya pasti tidak baik, aku tahu itu.

Apa, apakah aku terlalu keras padamu?

Mungkin itu bukan tanduk. Mungkin itu antena. Seperti alien biru yang pernah kulihat di Star Trek. ET menelepon ke rumah, itu ceritamu?

Tidak, aku benar. Itu tanduk, dan kau iblis. Dan kau telah melakukan sesuatu yang buruk dan kau bahkan tidak punya kesopanan untuk merasa malu. Kau hanya duduk di sana sambil tampak malu dan agak bodoh.

Kurasa aku harus membereskan kekacauan ini. Kristin pasti akan memecahkan batok kepalaku kalau dia melihatnya. Aku tahu ada pel di sekitar sini. Syukurlah, ada lantai linoleum.

Aku harus mengerjakan semuanya sendiri, bukan? Kurasa kau tidak akan membantu. Benarkah, Kepala Tanduk?

Kau hanya diam di sana dan membiarkanku mengerjakan semuanya, dan berharap aku tidak memperhatikanmu.

Baiklah, aku tidak akan lupa kau di sana. Aku akan mengawasi wajah kecilmu yang jelek itu. Dasar bajingan yang menyedihkan. Ini semua salahmu, bukan? Aku harus mengambil pel ini dan menghapus mukamu sampai kau kembali ke neraka sekarang juga.

Tapi jangan khawatir, Tuan Wajah Iblis. Aku tidak akan mengepelmu dari lantai dulu. Aku akan menyimpannya untuk sapuan terakhir. Kau dan aku punya urusan yang belum selesai. Aku ingin tahu apa yang telah kau lakukan. Aku hanya ingin tahu, apa yang telah kau lakukan?

Tatap mataku, dasar bajingan tak berguna. Kau bahkan tidak menyesal telah melakukannya, bukan? Kau hanya menyesal aku tahu kau melakukan sesuatu. Atau mungkin kau bahkan tidak peduli.

Kau pikir itu lucu, bukan? Kau tahu sesuatu yang tidak kuketahui dan kau pikir itu lucu?

Baiklah, aku peduli, dan itu tidak lucu. Aku tahu kau. Kau iblis yang jahat, dan aku membencimu. Aku benci nyali-mu.

Sialan dangkalan kau. Apa yang sudah kau perbuat?

Cikarang, 14 November 2024

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *