Di semesta yang bukan semesta kita, Elon Musk adalah seorang pelukis dan pembuat jam yang gagal di era digital di mana orang membenci kedua bentuk seni yang ditekuninya.
Sebenarnya bukan bentuk seninya sendiri, melainkan produk-produk yang dihasilkan langsung dari upaya Elon terkait kesenian. Produknya yang mereka benci.
Digantung di dinding ruang kantornya sebagaimana adanya, dan meski sering dilihat banyak orang, tak satu manusia pun pernah berkomentar. Lukisannya adalah hal yang tidak diinginkan siapa pun.
Berkali-kali Elon mencoba menjualnya, tetapi tidak pernah ada manusia atau jin yang cukup bodoh untuk membayar karyanya.
Lukisannya selalu tentang jam. Artinya, dia membuat lukisan potret jam, baik yang antik maupun yang baru.
Tetapi Elon Musk juga melangkah lebih jauh, membeli jam yang lebih tua, barang antik dalam banyak peristiwa, yang kemudian dia poles ulang. Tidak ada yang pernah membeli salah satu dari itu juga.
Ada juga masa-masa di mana Elon melangkah lebih jauh lagi dengan membuat jamnya sendiri, atau setidaknya membangun cangkang kayu yang akan diisi dengan mesin jam, tetapi tidak ada yang menginginkan salah satu dari itu.
Ramalan dalam Sepotong Kue Keberuntungan adalah kritik tajaam menggigit peran media sosial. Tentang menumpahkan hal-hal negatif dalam hidup untuk menemukan cinta dan kebahagiaan!
Selengkapnya dapat di baca di opinia.id

