Langit pada Hari Itu
dok. pri. Ikhwanul Halim

Langit pada Hari Itu

Views: 485

Mungkin matanya.

Atau hujan akhir September. Atau mungkin langit pada hari itu adalah warna abu-abu yang tidak biasa.

Dia tidak bisa mengatakannya. Namun dia tetap pergi ke sana, memaksakan dadanya melawan angin, merasakan panggilan itu.

Dengan kepala tertunduk ke depan, dia berdiri di trotoar di seberang jalan dari rumahnya. Denyut nadi yang cepat, tenggorokannya tercekat.

Apa yang berdesir melalui dirinya pada saat itu, bisa dikatakan, adalah sesuatu serupa hasrat.

Mungkin pikirannya.

Pikirannya telah berhenti untuk maju. Atau tepi ingatannya tertekuk karena beban waktu yang begitu lama. Atau mungkin cat di pagar telah memudar menjadi warna abu-abu yang tidak biasa.

Dia tidak bisa mengatakannya. Namun bertahun-tahun kemudian dia kembali.

Dengan musim hujan menempel di rambutnya, dia berlama-lama dalam bayang-bayang di seberang jalan dari rumahnya. Tangannya di dalam saku, celananya diikat dengan seutas tali rafia.

Tidak ada tirai di jendela, tidak ada jejak kaki di tanah merah. Apa yang mengalir dalam dirinya pada saat itu, dapat dikatakan, sesuatu seperti penyesalan.

Cikarang, 22 September 2024

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *