Kamu yang Dulu atau Kamu yang Sekarang?
dok. pri. Ikhwanul Halim

Kamu yang Dulu atau Kamu yang Sekarang?

Views: 34

Ajaran agama tentang kepribadian menunjukkan bahwa kita memiliki pemahaman yang salah tentang realitas internal kita sendiri. Kita menganggap diri kita sebagai bagian dari keberadaan yang berkelanjutan, bergerak dari hari ke hari dan tahun ke tahun.

Bro, Sis, kita adalah suatu yang konstan. Satu individu. Kesadaran diri—cogito ergo sum—yang nyata.

Namun, persepsi itu mungkin salah. Kepribadian dapat berubah saat kita menjalani hidup. Suatu hari kamu bahagia, hari berikutnya, gahar karena kena pehaka. Kemarahan dapat mengubahmu. Ketakutan dapat mengubahmu, dan beberapa yang mengenal kamu akan berpendapat bahwa kamu benar-benar orang baru dari waktu ke waktu, dengan memori memberikan ilusi kesinambungan.

Peristiwa dapat membebaskan kita, melukai kita, sementara atau sampai akhir hayat.

Memori bukan hanya narasi pribadi belaka. Kenangan membentuk siapa kita. Kita mengingat kembali masa lalu kita dan merenungkannya, dan tindakan refleksi dan evaluasi dapat mengubah pilihan kita dan dengan demikian menjadikan siapa kita nantinya.

Aku akan berbagi kisah tentang seseorang yang bernama Henry Gustav Molaison. Selama bertahun-tahun dia hanya dikenal sebagai Pasien HM.

Tahun 1950-an, HM menderita kejang yang mengerikan, episode menyakitkan yang membuat hidup tak tertahankan. Setelah evaluasi yang cermat, disimpulkan bahwa operasi adalah pilihan terakhir dan terbaik untuk menyembuhkan dia dari ayan yang dideritanya.

Maka, pada tanggal 1 September 1953 yang bersejarah, di usianya yang 27 tahun, dokter William Scoville membuka tengkorak HM dan membuang sebagian besar korteks temporalnya, amigdalanya, hipokampusnya—area otak yang menangani jenis-jenis memori.

Epilepsinya memang hilang. Namun, bagian penting dari kepribadiannya, atau siapa pun,: kemampuan untuk membuat dan memperbarui narasi hidupnya juga lenyap. Kondisi yang dialami HM disebut Amnesia Anterograde.

Sudah pernah nonton Memento (2000) atau 50 First Dates (2004)?

HM dapat mengingat hampir semuanya sampai “peristiwa”—operasinya—tetapi sama sekali tidak dapat membentuk ingatan baru setelah itu. Dia secara mental terjebak dalam suatu momen tanpa cara untuk bergerak maju. Dia bisa mengingat seperti apa wajah istrinya saat mereka menikah, tetapi tidak bisa mengenalinya puluhan tahun kemudian. Dia seperti melihat orang asing saat menatap cermin. Dia bisa menyimpan informasi dalam ingatan jangka pendeknya selama beberapa saat, mungkin menit jika tidak terganggu, tetapi tak lama kemudian informasi itu akan menguap begitu saja. Kalau dia bertemu kamu, dia tidak bisa mengingatnya, bahkan kalau kamu memperkenalkan dirimu lagi sepuluh detik kemudian. Atau sepuluh detik setelah itu. Atau setelah itu. Setelah itu.

Kenangan deklaratif, atau kenangan yang dapat kamu ceritakan kepada seseorang (misalnya episodik: “Aku ada dalam mall.” Atau semantik: “Jakarta masih menjadi ibu kota.”) juga merupakan masalah baginya, tetapi keterampilan motorik yang dipelajari sebelumnya seperti mengendarai sepeda baik-baik saja, dengan jelas menunjukkan tidak ada entitas monolitik yang dikenal sebagai “ingatan” yang dikendalikan oleh satu area otak, atau beberapa di antaranya.

Dulu diperkirakan bahwa defisit HM hanya disebabkan oleh kerusakan hipokampus, tetapi jelas kita telah belajar bahwa itu bukan keseluruhan cerita. Hipokampus, struktur berbentuk kuda laut di otak, diperlukan untuk membentuk memori baru dan mengakses beberapa memori lama. Tetapi banyak dari memori “jangka panjang” tersebut sebenarnya disimpan di banyak area kortikal sebagai “jaringan saraf” yang tersebar luas. Tidak ada lokasi fisik tertentu, yang berhubungan dengan, misalnya, mengingat di mana, dengan siapa dana kapan ciuman pertamamu.

Stimulasi wilayah otak tertentu dapat memicu memori, tetapi kemungkinan karena aktivasi jaringan sel otak terdistribusi yang semuanya saling berkomunikasi.

Mengenai menghapus memori masa lalu, itu cerita yang sama sekali berbeda. Amnesia Retrograde yang membuat genre fiksi ilmiah dan noir begitu hebat tidak terlalu sulit. Jadi, bagaimana kalau tikus yang telah berlari di labirin selama berbulan-bulan ingatannya dihapuas?

Bum! Vindy—tikus kecil itu tidak tahu bagaimana menemukan keju.

Kita juga dapat menyebabkan beberapa defisit memori kasar yang mirip dengan HM pada hewan. Kita bahkan dapat melakukannya secara reversibel dengan mendinginkan sementara bagian otak, atau dengan menggunakan obat yang efeknya akan hilang alih-alih membuang bagian otak yang bisa jadi malah berantakan.

Untuk penekanan memori jangka panjang, ada obat yang digunakan untuk mengobati kecemasan dan Gangguan Stres Pascatrauma, dan terkadang disebut “obat amnesia.” Namun, sebutan itu sedikit mengaburkan kebenaran, karena tidak benar-benar membuat seseorang melupakan hal-hal yang menakutkan. Obat itu hanya memisahkan emosi dari kejadian. Kamu mengingat trauma, hanya saja bukan rasa takut atau marah yang menyertainya.

Kehilangan masa lalu seseorang, Amnesia Retrograde yang ironisnya tidak pernah menjadi usang sebagai alat plot fiksi tidak peduli seberapa sering digunakan, lebih sulit, terutama saat kita bergerak menuju pada penghapusan memori tertentu. Yang pasti, orang yang mengalami kejadian traumatis dapat mengalami Amnesia Retrograde untuk sebagian besar ingatan.

Tetapi kalau kamu hanya ingin menghapus bagian-bagian tertentu dari masa lalumu seperti film Eternal Sunshine of the Spotless Mind dan menghapus ingatan tentang mantan yang menghancurkan hatimu hingga berkeping-keping menjadi miliaran serpihan, misalnya?

Pertama, diperlukan cara untuk memetakan area otak mana yang aktif dan sesuai dengan ingatan tertentu yang tidak diinginkan. Saat ini kita dapat melakukannya hingga beberapa milimeter kubik jaringan. Namun itu belum cukup. Kita juga perlu memetakan aktivitas neuron individual, atau, jika memungkinkan, aktivitas koneksi individual antara neuron yang disebut sinapsis. Namun untuk memberikan gambaran betapa mengerikannya pekerjaan semacam itu, ada antara 10 hingga 100 miliar neuron di otak. Setiap neuron dapat membuat ribuan koneksi, dan setiap koneksi dapat aktif ratusan atau bahkan ribuan kali per detik. Jadi … semoga berhasil.

Sekarang, setelah tugas “sederhana” membuat peta aktivitas selesai, kita akan membutuhkan cara untuk menghambat pola aktivitas yang berhubungan dengan ingatan yang tidak diinginkan. Masalahnya di sini adalah bahwa menghambat pola aktivitas tersebut dengan, maafkan kata-kata ini, presisi bedah yang mungkin hampir mustahil, setidaknya pada tingkat sinapsis. Kita akan lebih beruntung memusnahkan sel atau kelompok sel, dan seperti yang mereka katakan dalam Eternal Sunshine, secara teknis prosedur itu mengakibatkan kerusakan otak.

Namun, kalaupun berhasil, tetap tidak menghasilkan pikiran yang bebas noda. Semakin banyak kerusakan yang terjadi, semakin banyak kenangan yang lain akan terpengaruh. Kamu bukan cuma punya pacar, kalian juga punya teman yang sama. Kalian pergi ke restoran favorit. Kalian nongkrong dengan keluarga masing-masing saat liburan. Kenangan-kenangan itu tidak akan terpengaruh.

Kamu tidak akan memiliki lubang berbentuk mantan pacar yang bagus dan bersih di setiap kenangan itu. Kamu menghapus kenangan yang menyakitkan tapi meninggalkan kenangan-kenangan lain di sekitarnya yang semuanya terkoyak dan tidak nyaman, karena tidak ada konteks untuk menemukan pemahaman. Yang tersisa memiliki celah yang tidak masuk akal. Kalau mungkin itu juga harus dibersihkan. dibilas, dijemur….

Dan sekarang, di sinilah kamu. Kamu punya satu kenangan yang tersisa. Damai, yang satu ini.

Kamu seorang anak yang duduk di pantai, menyaksikan matahari terbenam. Tetapi kenangan tunggal dan terisolasi ini, seindah apa pun itu, tidak memberi tahu kamu apa pun tentang siapa kamu.

Orang yang kamu kenal telah pergi, hilang di ujung jejak remah rengginang masa lalu yang terpanggang hangus. Baik, buruk, pintar, bodoh, yang kamu miliki sekarang hanyalah dirimu sendiri dan matahari terbenam itu.

Tabula rasa, sayang.

Dan meskipun, ya, hilangnya semua ingatan seseorang adalah skenario mimpi buruk untuk direnungkan, seperti yang dikatakan dogma agama, kamu benar-benar menjadi orang baru dari waktu ke waktu.

Apakah itu tragedi yang total? Tentu tidak! Kamu masih memiliki kemampuan untuk menciptakan kenangan baru, bukan? Menjadi dirimu yang baru, menulis narasi baru.

Untuk hidup maknanya adalah bergerak maju. Berkutat di masa lalu hanya untuk orang-orang bodoh. Dan dalam kebenaran itu, mungkin, terdapat esensi dari apa yang membuat kita menjadi manusia.

Daleeem!

Sekarang, sekali lagi, perhatikan Pasien HM. Kenangan masa lalunya sebagian besar masih utuh, dan dengan cara itu, setidaknya, dia tetap menjadi dirinya sendiri. Namun, yang hilang darinya adalah kemampuan untuk move on dari tempat itu. Dia tidak lagi punya mesin untuk berubah, untuk menjadi manusia baru. Dan tidak lagi memiliki kemampuan untuk belajar, untuk tumbuh, untuk menciptakan masa depan sendiri.

Nah, itu juga dalem pake banget.

Bener-bener disturbing.

Cikarang, 15 Oktober 2024

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *