Penebang Kayu dan Keberuntungan
dok. pri. Ikhwanul Halim

Penebang Kayu dan Keberuntungan

Views: 45

Beberapa abad yang silam, di sebuah hutan, hiduplah seorang penebang kayu bersama istri dan anak-anaknya. Dia sangat miskin, hanya mengandalkan kapaknya serta dua ekor bagal untuk mengangkut kayu yang ditebangnya ke kota tetangga. Dia rajin bekerja keras dan selalu bangun pukul lima pagi, baik di musim panas maupun dingin.

Selama dua puluh tahun dia bekerja dengan rajin, meskipun anak-anaknya kini telah dewasa dan ikut bersamanya ke hutan, segala sesuatu tampaknya tidak berjalan sesuai rencana. Mereka masih miskin seperti sebelumnya. Akhirnya, sang penebang kayu putus asa dan berkata kepada dirinya sendiri, “Apa gunanya bekerja seperti ini jika pada akhirnya aku tidak akan pernah menjadi lebih kaya sedikit pun? Aku tidak akan pergi ke hutan lagi! Dan mungkin, kalau aku tidur dan tidak mengejar Keberuntungan, suatu hari Keberuntungan yang akan datang padaku.”

Maka keesokan paginya dia tidak bangun dari tempat tidur. Ketika pukul enam pagi, istrinya, yang sedang membersihkan rumah, datang untuk melihat apa yang terjadi.

“Pak, kamu sakit?” tanya istrinya  yang heran melihat suaminya tidak bangun dan berpakaian. “Ayam jantan sudah berkokok beberapa kali. Sudah saatnya bagimu untuk bangun.”

“Mengapa aku harus bangun?” tanya lelaki itu, tanpa bergerak.

“Mengapa? Tentu saja untuk pergi ke hutan.”

“Tidak, katrena meskipun aku sudah bekerja keras sepanjang hari, penghasilanku hampir tidak cukup untuk memberi kita satu kali makan.”

“Suamiku yang malang. Tetapi apa yang dapat kita lakukan?” tanya istrinya. “Itu hanya tipu daya Takdir yang tidak pernah tersenyum pada kita.”

“Baiklah, aku sudah muak dengan tipu daya Takdir,” seru suaminya. “kalau dia menginginkanku, dia dapat menemukanku di sini. Tetapi aku sudah selesai dengan kayu di hutan untuk selamanya.”

“Suamiku tersayang, kesedihan telah membuatmu gila! Apakah menurutmu Takdir akan datang kepada siapa pun yang tidak mengejarnya? Berpakaianlah, dan pasang pelana bagal, lalu mulailah bekerja. Apakah kamu tahu bahwa tidak ada makanan sama sekali di rumah ini?”

“Aku tidak peduli meski tidak ada makanan. Aku tidak akan pergi ke hutan. Tidak ada gunanya kamu mencoba membujukku. Tidak ada yang akan membuatku berubah pikiran.”

Istri yang kebingungan membujuk dan memohon dengan sia-sia. Suaminya tetap bersikeras untuk tetap di tempat tidur, dan akhirnya, dengan putus asa, intrinya meninggalkannya dan kembali bekerja.

Satu atau dua jam kemudian seorang pria dari desa terdekat mengetuk pintunya, dan ketika dia membukanya, dia berkata kepadanya: “Selamat pagi, Bu. Saya punya pekerjaan yang harus dilakukan, dan saya ingin tahu apakah suamimu dapat meminjamkan bagalnya, karena saya lihat dia tidak menggunakannya?”

“Dia ada di atas. Sebaiknya Anda bertanya padanya,” jawab istrinya.

Dan pria itu naik ke atas dan mengulangi permintaannya ke tukang kayu.

“Aku minta maaf, tetangga. Tetapi aku telah bersumpah untuk tidak meninggalkan tempat tidurku, dan tidak ada yang akan membuatku mengingkari sumpah.”

“Baiklah kalau begitu, maukah Anda meminjamkan saya dua bagal Anda itu? Saya akan membayar Anda dengan sejumlah uang untuk itu.”

“Tentu saja, tetangga. Ambillah dan selamat jalan.”

Maka lelaki itu meninggalkan rumah tukang kayu dan menuntun bagal-bagal dari kandang, meletakkan dua karung di punggung mereka, lalu menggiring mereka ke ladang tempat dia menemukan harta karun.

Dia mengisi karung-karung itu dengan uang emas, meskipun dia tahu betul bahwa harta karun itu milik sultan. Lalu dia menggiring bagal-bagal itu pulang.

Dia melihat dua orang prajurit kerajaan datang di sepanjang jalan menuju ke arahnya. Lelaki itu sadar, kalau dia samapai tertangkap maka dia akan dihukum pancung. Maka dia melarikan diri ke hutan.

Kedua bagal yang dibiarkan sendirian, mengambil jalan yang mengarah ke kandang tuan mereka. Istri penebang kayu itu sedang melihat ke luar jendela ketika bagal-bagal itu berhenti di depan pintu dengan membawa beban berat, begitu berat sehingga perut mereka hampir rata dengan tanah.

Tanpa membuang waktu, dia berseru memanggil suaminya,  masih berbaring di tempat tidur.

“Cepat! Cepat! Bangun cepat! Dua bagal kita kembali dengan karung-karung di punggung mereka, begitu beratnya sehingga binatang-binatang malang itu hampir tidak dapat berdiri.”

“Istriku, aku sudah bilang padamu berkali-kali bahwa aku tidak akan meninggalkan tempat tidur. Kenapa kamu tidak bisa membiarkanku tenang?”

Karena dia tidak mendapat tanggapan dari suaminya, wanita itu mengambil pisau besar dan memotong tali yang mengikat karung-karung itu ke punggung kedua bagal. Karung tersebut langsung jatuh ke tanah dan hujan uang emas pun terjadi, membuat halaman rumah mereka yang kecil bersinar seperti matahari.

“Harta karun!” istrinya tersentak begitu dia bisa berbicara karena terkejut.

“Harta karun!”

Lalu dia berlari untuk memberi tahu suaminya. “Bangun! Bangun!” teriaknya. “Kamu benar karena tidak pergi ke hutan dan menunggu Keberuntungan di tempat tidurmu. Dia akhirnya datang! Bagal-bagal kita telah kembali ke rumah dengan membawa banyak uang emas, dan sekarang emas itu ada di halaman. Tidak seorang pun di seluruh negeri ini bisa sekaya kita!”

Dalam sekejap mata, si penebang kayu berdiri dan berlari ke halaman dan dia berhenti, diam seperti patun, . terpesona oleh kilauan uang logam emas yang berserakan di sekitarnya.

“Kamu lihat, istriku tersayang, aku benar,” katanya akhirnya. “Nasib sangat tidak ditentukan. Kita tidak bisa mengandalkan diri pada  Nasib. Kalau kita kejar, dia pasti akan terbang menjauh darimu. Diam saja di tempat tidur, dan dia pasti akan datang.”

Cikarang, 15 Oktober 2024

Disadur dari “Fortune and the Wood-Cutter” (The Brown Fairy Book, Andrew Lang).

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *