Ada cahaya bulan, musik klasik, dan cokelat berbentuk hati. Ada larut malam dan dini hari. Mereka bepergian bersama dan kegembiraan membawa mereka mengelilingi pantai Pulau Sumatra yang tak berujung, bergandengan tangan, tertawa, tersenyum. Kemudian, dalam kemiskinan yang menggigit di pedalaman Bukit Barisan, tempat perbatasan dunia manusia dan bunian yang tak terbatas terbentang, mereka akhirnya terdampar.
Di tepi lubang tempat bumi mengalirkan darah kehidupan industrinya, sumber daya mereka keluar dari lubang di tanah, sementara di balik cakrawala yang dipenuhi batu-batu besar hiduplah mimpi-mimpi mereka, tapi tanpa mereka, selama tiga tahun yang panjang.
“Sesuatu harus berubah. Tidak seperti dulu.”
Mata si wanita, yang biru pudar dari langit pantulan air danau memperhatikan saat pria meminum bir kaleng perlahan.
Pria berkata, “Aku berubah. Segalanya akan berbeda.”
Lalu dia membuka kaleng bir lagi dan hatinya terasa suram seperti gunung botak. Dalam cahaya yang begitu keras, perubahan pasti terlihat.
Dia berkata, “Kamu akan menyukaiku yang baru. Aku akan membuatmu menyukaiku. Kita bisa berubah bersama.”
Si wanita terusuk duri-duri semak dalam panas dingin bergantian, saat hari-hari yang monoton dan masa depan yang tak terurus menyatu, tanpa ikatan.
Dia merasa sulit untuk melihat kemungkinan-kemungkinan di udara yang berkilauan, ketidakteraturan pada batu-batu yang bagai menari, gambar-gambar yang berkeringat.
Di bawah cakrawala yang tak terbatas mengintai mimpi-mimpi buruknya, semuanya tak dikenal dan tak diketahui takwilnya.
Namun, yang dihadapinya adalah sesuatu yang pasti, mutlak.
Bahwa di malam hari, setiap batu gunung dingin dan kesepian.
Dan tak ada cokelat.
Cikarang, 13 Oktober 2024

