Di tengah hutan lebat terdapat sebuah gubuk kecil. Di gubuk itu tinggallah seorang pria bersama istrinya dengan tiga orang putra dan seorang putri. Entah mengapa, semua binatang tampaknya telah meninggalkan hutan dan makanan menjadi sangat langka. Maka, suatu pagi, setelah semalam turun salju, ketika jejak binatang buas dapat dengan mudah terlihat, ketiga anak laki-laki itu mulai berburu.
Mereka bersama-sama selama beberapa waktu, sampai mereka mencapai tempat di mana jalan yang mereka lalui terbagi menjadi dua, dan salah satu saudara memanggil anjingnya dan pergi ke kiri, sementara yang lain mengambil jalan setapak ke kanan.
Mereka belum pergi jauh ketika si anjing mencium bau beruang dan menggiringnya keluar dari semak-semak. Beruang itu berlari melintasi tanah terbuka, dan si kakak berhasil menancapkan anak panah tepat di kepalanya.
Mereka berdua mengambil beruang itu, dan membawanya pulang, bertemu dengan yang ketiga di tempat mereka berpisah dengannya. Ketika mereka sampai di rumah, mereka melemparkan beruang itu ke lantai gubuk sambil berkata, “Ayah, ini beruang yang berhasil kami buru.Sekarang kita bisa makan malam.”
Namun sang ayah yang sedang marah hanya berkata:
“Waktu ayah masih muda, kami biasa mendapatkan dua beruang dalam sehari.”
Anak-anaknya menjadi kecewa mendengar kata-kata ayahnya. Padahal daging beruang itu cukup untuk bertahan selama dua atau tiga hari.
Keesokannya, pagi-pagi sekali mereka bertiga menyusuri jalan setapak yang sama yang telah mereka lalui sebelumnya. Saat mereka mendekati percabangan, seekor beruang tiba-tiba berlari keluar dari balik pohon, dan mengambil jalan setapak di sebelah kanan. Dua anak laki-laki yang lebih tua dan anjing-anjing mereka mengejarnya, dan segera anak kedua, seorang pemanah ulung, membunuhnya seketika itu juga dengan anak panah.
Di percabangan jalan setapak, dalam perjalanan pulang, mereka bertemu dengan anak laki-laki terkecil yang telah mengambil jalan sebelah kiri, dan telah berhasil membunuh seekor beruang dengan panahnya sendiri. Namun ketika mereka melemparkan kedua beruang itu dengan penuh kemenangan ke lantai gubuk, ayah mereka hampir tidak melihat mereka, dan hanya berkata, “Waktu aku masih muda, aku biasa mendapatkan tiga beruang dalam sehari.”
Keesokan harinya mereka lebih beruntung dari sebelumnya, dan membawa pulang tiga ekor beruang. Lagi-lagi ayah mereka berkata bahwa dia selalu membunuh empat ekor beruang setiap hari. Tapi hal itu tidak menghalanginya untuk menguliti beruang-beruang itu dan memasaknya dengan caranya sendiri yang menurutnya cara paling baik, dan mereka semua makan malam dengan sangat lezat.
Yang tidak mereka ketahui, beruang-beruang yang diini adalah pelayan dari kepala suku beruang yang tinggal di sebuah gunung tinggi yang jauh di sana. Dan setiap kali seekor beruang terbunuh, roh mereka kembali ke tempat tinggal kepala suku beruang itu dengan bekas lukanya yang terlihat jelas oleh yang lain. Kepala suku beruang sangat marah dengan banyaknya beruang yang telah dibunuh oleh para pemburu, dan bertekad untuk menemukan cara untuk menghancurkan mereka.
Dia memanggil pelayannya yang lain, dan berkata kepadanya, “Pergilah ke semak-semak dekat percabangan, tempat anak-anak lelaki itu membunuh saudara-saudaramu, dan mereka atau anjing-anjing itu akan melihatmu kembali ke sini secepat yang kau bisa. Gunung itu akan terbuka untuk membiarkanmu masuk, dan para pemburu akan mengikutimu. Kemudian aku akan menangkap mereka dan aku akan membalas dendam.”
Pelayan itu membungkuk dan segera berlari menuju jalan bercabang, kemudian dia bersembunyi di semak-semak.
Tak lama kemudian, anak-anak itu mulai terlihat, tetapi kali ini hanya ada dua orang, karena yang terkecil tinggal di rumah. Udara hangat dan lembap, dan salju turun dengan lembut dan perlahan-lahan. Tali busur si kakak tertua tergantung longgar, sementara busur si adik tersangkut di pohon dan patah menjadi dua.
Pada saat itu anjing-anjing mulai menggonggong dengan keras, dan beruang itu bergegas keluar dari semak-semak dan berlari ke arah gunung.
Tanpa berpikir bahwa mereka tidak punya apa-apa untuk membela diri kalau beruang itu berbalik dan menyerang mereka, anak-anak itu mengejarnya. Beruang itu, yang tahu betul bahwa dia tidak bisa dipanah, terkadang memperlambat langkahnya dan membiarkan anjing-anjing itu mendekat. Dengan cara ini si anak sulung mencapai gunung tanpa melukainya, sementara saudaranya yang kakinya terluka, masih jauh di belakang.
Ketika mereka berlari mendekat, gunung terbuka untuk menerima beruang itu, dan anak laki-laki itu, yang berada di dekatnya, bergegas mengejarnyatanpa menyadari di mana ia berada, sampai dia melihat beruang-beruang yang duduk di setiap sisinya, mengadakan powwow. Beruang yang dikejarnya terengah-engah di tengah-tengah mereka, dan anak laki-laki itu, yang sangat ketakutan, berdiri diam, membiarkan busurnya jatuh ke tanah.
“Mengapa kau mencoba membunuh semua pelayanku?” tanya kepala suku beruang. “LihatLihatlah roh mereka, dengan anak panah yang tertancap di tubuhnya. Akulah yang menyuruh beruanag itu untuk menjebakmu dalam kekuasaanku. Aku akan memastikan bahwa kau tidak akan menyakiti orang-orangku lagi, karena kau akan menjadi beruang.”
Pada saat ini saudara kedua muncul—karena gunung itu sengaja dibiarkan terbuka untuk menggodanya juga—dan berteriak dengan napas terengah-engah.
“Tidakkah kau lihat bahwa beruang itu berbaring di dekatmu? Mengapa kau tidak menembaknya?” Dan, tanpa menunggu jawaban, ia maju untuk menusukkan anak panahnya ke jantung beruang itu. Namun, yang lebih tua menangkap lengannya yang terangkat, dan berbisik, “Diam! Tidak kamu tahu di mana kita berada?”
Kemudian anak laki-laki itu mendongak dan melihat beruang-beruang yang marah di sekitarnya. Di satu sisi ada para pelayan kepala suku, dan di sisi lain ada para pelayan saudara perempuan kepala suku yang merasa kasihan pada kedua pemuda itu, dan memohon agar nyawa mereka diampuni.
Kepala suku menjawab bahwa ia tidak akan membunuh mereka, tetapi hanya akan membacakan mantra kepada mereka, yang dengannya kepala dan tubuh mereka akan tetap seperti semula, tetapi lengan dan kaki mereka akan berubah menjadi beruang, sehingga mereka akan merangkak selama sisa hidup mereka. Dan, sambil membungkuk di atas mata air, ia mencelupkan segenggam lumut ke dalamnya dan menggosokkannya ke lengan dan kaki anak laki-laki itu.
Dalam sekejap terjadi perubahan, dan dua makhluk, bukan binatang bukan pula manusia, berdiri di hadapan kepala suku. Tentu saja kepala suku beruang tahu bahwa ayah anak-anak itu akan mencari anak-anaknya jika mereka tidak pulang, maka dia mengirim pelayannya yang lain ke tempat persembunyian di persimpangan jalan untuk melihat apa yang terjadi.
Tanpa menunggu lama, sang ayah muncul dan membungkuk untuk mencari jejak anak-anaknya di salju. Ketika dia melihat jejak sepatu salju di sepanjang jalan ke sebelah kanan, sang ayah gembira, tak tahu bahwa beruang telah membuat jejak baru dengan sengaja untuk menyesatkannya.
Sang ayah bergegas maju begitu cepat hingga dia jatuh tertelungkup ke dalam lubang, tempat beruang itu duduk. Sebelum dia bisa berdiri, beruang itu telah mematahkan lehernya dan menyembunyikan tubuhnya di bawah salju, duduk untuk melihat apakah ada orang lain yang akan melewati jalan itu.
Sementara itu, sang ibu di rumah bertanya-tanya apa yang terjadi pada kedua putranya, dan seiring berjalannya waktu ayah mereka tidak pernah kembali, dia memutuskan untuk pergi dan mencarinya. Anak laki-laki yang paling muda memohon padanya untuk mengizinkannya melakukan pencarian, tetapi dia tidak mau mendengarnya, dan mengatakan kepadanya bahwa dia harus tinggal di rumah dan menjaga adiknya. Maka, dengan mengenakan sepatu saljunya, si ibu memulai perjalanannya.
Karena tidak ada salju baru yang turun, jalan setapak itu cukup mudah ditemukan, dan dia berjalan lurus, sampai jalan itu membawanya ke lubang tempat beruang itu menunggunya. Beruang itu menangkap si ibu dia jatuh dan mematahkan lehernya, dan kemudian membaringkannya di salju di samping suaminya, lalu kembali untuk memberi tahu kepala suku beruang.
Waktu berlalu di gubuk hutan anak laki-laki dan perempuan itu cukup yakin bahwa dengan satu atau lain cara seluruh anggota keluarga mereka telah binasa. Hari demi hari anak laki-laki itu memanjat ke puncak pohon tinggi di dekat rumah, dan duduk di sana sampai dia hampir membeku, melihat ke semua sisi melalui celah-celah hutan, berharap bahwa dia mungkin melihat seseorang datang.
Tak lama kemudian makanan di rumah itu habis, dan dia tahu dia harus keluar dan berburu lebih banyak lagi, selain untuk mencari orang tuanya. Si gadis kecil adiknya tidak suka ditinggal sendirian di gubuk, dan menangis dengan sedih, tetapi saudaranya mengatakan kepadanya bahwa tidak ada gunanya duduk diam dan kelaparan, dan bahwa entah dia akan menemukan buruan atau tidak, dia pasti akan kembali sebelum malam menjelangberikutnya. Kemudian dia membuat beberapa anak panah, masing-masing dari pohon yang berbeda, dengan bulu dari empat burung yang berlainan.
Dia kemudian membuat sebuah busur yang sangat ringan dan kuat, lalu memakai sepatu saljunya. Semua ini memakan waktu, dan ia tidak dapat berburu pada hari itu. Tetapi keesokan paginya dia mengaajak anjing kecilnya yang bernama Moncong Merah yang dia bawa dalam sebuah kotak kayu dan berangkat.
Setelah mengikuti jejak dengan jarak tempuh yang jauh, dia menjadi sangat lelah dan duduk di dahan pohon untuk beristirahat. Tetapi Moncong Merah menggonggong begitu keras sehingga anak laki-laki itu berpikir bahwa mungkin orang tuanya telah terbunuh dan melangkah mundur, menembakkan salah satu anak panahnya ke akar pohon. Kemudian suara seperti guntur mengguncangnya. Api berkobar dan dalam beberapa menit tumpukan kecil abu tergeletak di tempat pohon itu berdiri. Karena tidak tahu harus berbuat apa, anak laki-laki itu melanjutkan jalan setapak, dan mengikuti persimpangan ke sebelah kanan sampai tiba di semak-semak tempat beruang biasa bersembunyi.
Seperti yang kita lihat dari kemampuannya mengubah bentuk kedua bersaudara itu, kepala suku beruang tahu banyak tentang sihir, dan dia tahu bahwa anak laki-laki kecil itu mengikuti jejak pelayannya. Dia mengirim seorang pelayan beruang yang sangat kecil namun pintar untuk menunggunya di semak-semak dan mencoba membujuknya ke gunung. Namun entah bagaimana mantranya tidak bekerja dengan baik hari itu, karena kepala beruang itu tidak tahu bahwa Moncong Merah ikut bersama tuannya. Kalau dia tahu, dia pasti akan lebih berhati-hati.
Anjing itu berlari mengitari semak-semak sambil menggonggong keras. Ppelayan beruang yang kecil bergegas keluar dengan ketakutan, dan lari ke pegunungan secepat yang ia bisa.
Anjing itu mengikuti beruang itu, dan anak laki-laki itu mengikuti anjing itu, hingga gunung, rumah kepala beruang besar, terlihat. Namun, di sepanjang jalan, salju tebal sehingga anak laki-laki itu hampir tidak dapat berjalan dan tali sepatu saljunya putus. Dia harus berhenti untuk memperbaikinya. Beruang dan anjing melaju begitu jauh di depan sehingga dia hampir tidak dapat mendengar gonggongannya.
Ketika sepatunya kembali terikat dengan baik, anak laki-laki itu berbicara kepada sepatu saljunya, “Kamu harus berjalan secepat yang kamu bisa, kalau tidak, aku akan kehilangan anjing dan beruang itu.”
Sepatu saljunya menjawab dengan bernyanyi bahwa mereka akan berlari seperti angin. Saat dia datang, saudara perempuan kepala beruang melihat ke luar jendela dan merasa kasihan pada anak laki-laki seperti yang dia tunjukkan pada kedua saudaranya yang lebih tua, dan menunggu untuk melihat apa yang akan dilakukan anak laki-laki itu begitu dia menemukan bahwa pelayan beruang dan anjing itu telah memasuki gunung.
Adik laki-laki itu tentu saja sangat bingung karena tidak melihat apa pun yang tiba-tiba menghilang dari pandangannya. Dia berhenti sejenak untuk berpikir apa yang harus dia lakukan selanjutnya, ketika dia mendengar suara Moncong Merah sisi gunung. Dengan susah payah dia merangkak melewati bebatuan yang curam, dan memaksa jalan melalui semak-semak. Tetapi ketika dia mencapai sisi lain, suara itu tampaknya berasal dari tempat dia datang.
Karena dia harus kembali lagi, di puncak gunung dia berhenti untuk beristirahat. Gonggongan Moncong Merah tepat berada di bawah kakinya, dan dia langsung tahu di mana anjingnya berada dan apa yang telah terjadi.
“Lepaskan anjingku sekarang juga, kepala suku beruang!” teriaknya. “Kalau tidak, aku akan menghancurkan tempatmu.”
Tetapi kepala suku beruang hanya tertawa dan tidak mengatakan apa pun. Anak laki-laki itu sangat marah dan mengarahkan salah satu anak panahnya ke dasar gunung, melesat menembusnya. Saat anak panah itu menyentuh tanah, terdengar suara gemuruh. Api pun menyala yang tampaknya membelah seluruh gunung menjadi berkeping-keping. Kepala suku beruang dan semua pelayannya terbakar dalam api, tetapi saudara perempuannya dan semua yang menjadi miliknya selamat karena dia telah mencoba menyelamatkan kedua anak laki-laki yang lebih tua dari hukuman.
Begitu api padam, si pemburu kecil itu memasuki sisa-sisa gunung, dan hal pertama yang dilihatnya adalah kedua saudaranya—setengah beruang, setengah anak laki-laki. “Oh, tolong kami! Tolong kami!” teriak mereka, sambil berdiri dengan kaki belakang mereka saat berbicara, dan mengulurkan kaki depan mereka kepadanya.
“Tetapi bagaimana aku bisa membantumu?” tanya si adik, hampir menangis. “Aku bisa membunuh orang, dan menghancurkan pohon dan gunung, tetapi aku tidak memiliki kekuasaan atas sihir.”
Kedua saudara laki-laki yang lebih tua itu datang dan meletakkan kaki mereka di pundaknya, dan mereka bertiga menangis bersama. Hati saudara perempuan kepala suku beruang itu tergerak ketika melihat penderitaan mereka, dan dia dengan lembut menghampiri dari belakang, dan berbisik, “Anak kecil, kumpulkan lumut dari mata air di sana, dan biarkan saudara-saudaramu menciumnya.”
Dengan cepat ketiganya berada di mata air, dan ketika yang termuda memetik segenggam lumut basah, dua yang lain mengendusnya kuat-kuat. Kulit beruang terlepas dari mereka, dan mereka berdiri tegak sekali lagi.
“Bagaimana kami bisa berterima kasih? Bagaimana kami bisa berterima kasih?” mereka tergagap, hampir tidak dapat berbicara, dan jatuh di kaki saudara perempuan kepala suku beruang dengan penuh rasa terima kasih. Tetapi saudara perempuan beruang itu hanya tersenyum dan meminta mereka pulang dan menjaga adik perempuan mereka yang masi kecil yang tidak memiliki orang lain untuk melindunginya. Mereka kemudian merawat saudara perempuan mereka dengan sangat baik sehingga, karena dia sangat kecil, dia segera melupakan bahwa dia pernah memiliki ayah dan ibu. []
Cikarang, 14 Oktober 2024
*disadur dari THE BROWN FAIRY BOOK oleh Andrew Lang

