Dahulu kala, seorang gadis yang telah meninggal hidup bersama para zombie lainnya di gua-gua di bawah pelabuhan Tebed, kota di bawah kota tepi laut itu. Kota yang tidak memiliki nama.
Ribuan tahun yang lalu, Penyihir Zuloman menenggelamkan kota itu, beserta bangunan-bangunannya, ke dalam kedalaman bumi, dan menghapus namanya, karena suatu penghinaan yang tidak seorang pun kecuali arwahnya mengingatnya.
Kehidupan di sana terus berlanjut.
Beberapa orang yang telah meninggal menyerah pada tidur abadi, merasa bahwa tidak ada gunanya berpura-pura punya agenda kegiatan setiap hari. Namun, beberapa orang lagi menjalani hari-hari mereka dengan cara yang sama seperti mereka menjalani hidup mereka dulu.
Satu-satunya makhluk hidup yang sebenarnya di Kota Orang Mati adalah tikus-tikus berbulu perak yang menyelinap melalui jalan-jalannya seperti bayangan terbalik.
Pada suatu hari yang sama seperti hari-hari lainnya, seekor tikus menyapa gadis yang telah meninggal itu. Namanya gadis itu Zolekha. Rambutnya hitam, matanya hitam, dan hanya sedikit tercium aroma kuburan, karena setiap malam dia mandi di sungai yang mengalir tanpa suara di bawah jendelanya.
“Menikahlah denganku,” kata tikus itu.
Dia berdiri tegak dengan kaki belakangnya. Ekornya melingkar rapi membelit kakinya.
Zolekha berpura-pura sedang sarapan. Panci mengepul di atas meja. Dia sengaja menuang secangkir cokelat untuk dirinya sendiri sebelum berbicara.
“Mengapa aku harus menikahimu?”
Tikus itu menatapnya. “Yang pasti, aAda lebih banyak keuntungan bagiku daripada bagimu. Memiliki seorang istri seperti dirimu akan meningkatkan harga diriku, begitulah.” Tikus itu mengakui.
Dia terkekeh, merapikan kumisnya dengan telapak laki depannya.
“Aku khawatir aku harus menolak,” jawab Zolekha, lalu meninggalkan tikus itu untuk menghibur dirinya dengan kue lokma, dan pergi ke ruang tamu tempat ayahnya duduk membaca surat kabar yang sama yang dibacanya setiap pagi. Halaman-halaman koran berbentuk persegi panjang menghitam.
“Ada yang melamarku untuk menjadi istrinya,” katanya.
Ayahnya melipat surat kabar dan meletakkannya sambil mengerutkan kening. “Siapa?”
“Seekor tikus, barusan. Saat sarapan.”
“Apa yang diharapkannya? Mas kawin keju?”
Zolekha ingat bahwa semasa dia masih hidup dia tidak begitu menyukai ayahnya.
“Aku bilang tidak,” katanya.
Ayahnya kembali meraih korannya.
“Tentu saja kau menolaknya. Kau tidak pernah jatuh cinta dan tidak akan pernah. Tidak ada perubahan di kota ini. Sungguh, itu akan menghancurkan kita semua. Tutup pintu saat kau keluar.”
***
Zolekha pergi berbelanja. Dia membawa keranjang yang ditenun dari buluh bunga putih yang berjejer di tepi sungai.
Melewati deretan kios pedagang, dia meraba-raba kain yang berserakan: beludru yang halus, kain satin sutra yang mewah, kulit yang lembut seperti telinga tikus.
Semuanya dalam nuansa hitam dan abu-abu, dengan warna putih di antaranya seperti cahaya bulan yang terlempar ke permukaan.
Tikus itu duduk di tepi meja.
“Aku bisa menyediakan makanan yang baik untukmu,” katanya. “Ikan isi perut dari dermaga Tebed dan daging busuk dari lorong-lorongnya. Aku akan membawakanmu sisa-sisa kebun buah: aprikot yang lembek dan buah persik yang busuk, apel yang cokelat dan pipih seperti dada wanita tua yang layu. Aku akan membawakanmu potongan-potongan kulit matang dari tempat penyamakan kulit, yang direndam dalam sup kotoran burung camar dan air sampai lunak seperti daging.”
“Kenapa aku?” tanya Zolekha. “Apakah aku memberimu isyarat sehingga kamu menduga bahwa aku akan menerima rayuanmu?”
Tikus itu mengelus kumisnya malu-malu. “Tidak,” akunya. “Aku melihatmu mandi di sungai, dan melihat sentuhan warna-warni yang menghiasi anggota tubuhmu, seperti keju putih montok yang mengapung di air. Aku merasakan hasrat yang begitu kuat hingga aku mengompol, seolah-olah tulangku telah berubah menjadi cairan dan mengalir keluar dariku. Aku harus menjadikanmu istriku.”
Zolekha melihat ke sekeliling pasar yang selalu dikunjunginya seminggu dua kali setelah dia meninggal. Meja-meja pajangan yang tidak pernah berubah tetapi hanya menata ulang barang dagangan tanpa henti.
Kemudian dia kembali menatap tikus itu.
“Kamu boleh berjalan denganku,” katanya.
Tikus itu melompat ke dalam keranjang dan mereka berjalan dalam diam.
Akhirnya, tikus mulai berbicara. Dia bercerita tentang tikus-tikus di kota tanpa nama yang telah hidup begitu lama, begitu dekat dengan tenung sehingga tenung itu telah meresap ke dalam kulit, mata, dan perut mereka. Bagaimana mereka telah melihat peradaban mereka bangkit dan jatuh selama berabad-abad, dan para penyihir dan tukang tenung telah mempelajari sihir-sihir licik hanya untuk melihat mereka tercabik-cabik setiap kali mereka kembali menjadi biadab.
Bagaimana para ibu tikus berbulu putih memerintah masyarakat mereka saat ini, mengirim para pelayan mereka untuk mengumpulkan makanan. Semakin banyak makanansemakin tinggi status sosial yang didapat.
“Itulah yang pertama kali membuatku tertarik pada ide ini,” katanya. “Seorang pengantin manusia akan lebih berbobot secara sosial daripada mereka semua. Ketika aku melihatmu, apa yang mereka lakukan tampak seperti perhitungan yang tidak berarti dan basi.”
Zolekha merasakan dadanya hangat. Setelah merenung, dia menyadari bahwa itu adalah emosi yang belum pernah dirasakannya sebelum dia meninggal. Sebagian ketertarikan, sebagian intrik, sebagian kesombongan, dan sebagian hal lain: sedikit kasih sayang untuk tikus ini yang berjanji untuk menjadikan dia dunianya.
***
“Tidak diragukan lagi,” kata ayahnya. “Ini akan membawa perubahan ke Kota.”
“Lalu?”
“Lalu! Apakah kau ingin menghancurkan tempat ini? Kita tertahan oleh mantra Penyihir yang ditetapkan pada saat ketika, mati karena kita tidak dapat berubah, kita tidak mati karena kita tidak dapat berubah.”
Zolekha mengerutkan kening.
“Itu tidak masuk akal.”
“Itu karena kau masih muda.”
“Ayah hanya empat puluh tahun lebih banyak daripada umurku sendiri yang lima ribu tiga ratus empat belas tahun. Tentu saja jika kalau kita mempertimbangkan tahun-tahun yang sudah kujalani, aku dapat dianggap sebagai orang dewasa.”
“Kau akan berpikir begitu, kalau kau mengabaikan fakta bahwa kau akan selalu berusia lima belas tahun.”
Zolekha menghentakkan kakinya sambil cemberut. Tetapi mati berabad-abad dapat membuat seorang ayah yang paling sabar sekali pun menjadi jengkel.
Dia memanggil seorang dokter.
Dokter itu datang dengan langkah-langkah penuh semangat, karena kasus-kasus baru jarang terjadi. Dia bersikeras memeriksa Zolekha dari kepala sampai kaki, dan bahkan akan menyuruhnya membuka pakaian, tapi ayah Zolekha memprotes.
“Menurutku, dia tampak cukup sehat,” kata dokter itu dengan nada kecewa.
“Dia yakin ingin menikah.”
“Tut, tut,” kata Dokter itu dengan heran. “Baiklah. Cinta. Dan kau ingin ini disembuhkan?”
“Sebelum penyakit menular itu menyebar lebih jauh atau mendorongnya melakukan tindakan yang membahayakan kita semua.”
Zolekha tidak mengatakan apa-apa. Dia sangat sadar bahwa dia tidak mencintai tikus itu, tetapi pemikiran tentang perubahan telah mencengkeramnya seperti demam flu pilek batuk selesma.
Dokter itu melapisi kulit kepalanya dengan jaring kawat perak. Magnet tergantung seperti manik-manik di antara kristal onyx tengah malam dan jasper abu-abu.
“Itu rangsangan halus,” gumamnya. “Dan tentu saja Cinta bukanlah energi halus. Namun, jika diberi waktu yang cukup, itu akan berhasil.”
Dia mengarahkan agar Zolekha duduk di kursi di ruang tamu tanpa mengganggu jaring tersebut selama tiga hari.
Hari-hari berlalu dengan lambat. Zolekha terus menatap jendela yang membingkai dunia tanpa awan, tanpa matahari, dan tanpa langit. Dia bisa merasakan energi magnetik menarik pikirannya ke sana kemari, tetapi baginya, semuanya tampak sama saja.
Pada hari ketiga, tikus itu muncul.
“Tunanganku yang cantik,” katanya, menatap tempat duduknya. “Apa benda yang kau kenakan itu?”
“Itu mekanisme untuk menghilangkan Cinta,” jawabnya.
Kumis si tikus terangkat ke depan, dan tampak senang. “Jadi, kamu sedang jatuh cinta?”
“Tidak,” katanya. “Tetapi ayahku percaya bahwa aku sedang jatuh cinta.”
“Hmm,” kata si tikus. “Katakan padaku, apa efek dari mekanisme seperti itu kalau kamu tidak sedang jatuh cinta?”
“Aku tidak tahu.”
Tikus, mengibaskan ekornya tanpa sadar sambil berpikir.
“Mungkin efeknya akan sebaliknya,” katanya.
“Aku juga sudah memikirkannya,” katanya. “Memang, aku merasa semakin sayang padamu setiap saat.”
“Berapa lama lagi kamu harus memakainya?”
Mata Zolekha menatap jam di dinding. “Satu jam lagi,” katanya.
“Kalau begitu kita harus menunggu dan melihat.”
Si tikus mengendus udara. “Apakah keluargamu makan lokma lagi pagi ini?”
“Aku sudah duduk di sini selama tiga hari. Aku sama sekali belum sarapan.”
“Kalau begitu aku akan kembali dalam waktu setengah jam atau lebih,” kata tikus dan pergi.
Pada pukul itu, pintu terbuka. Ayahnya serta dokter masuk. Si tikus, menjilati bibirnya, diam-diam bergerak di bawah kursinya, tersembunyi di balik rok Zolekha sehingga tidak terlihat.
“Baiklah, putriku,” kata ayahnya sambil menepuk punggungnya saat dokter melepaskan jaring itu. “Apakah kau merasa pulih?”
“Ya, benar,” jawab Zolekha.
“Bagus, bagus!”
Ayahnya menepuk bahu dokter, tampak senang. “Kerja bagus, Bung. Bagaimana kalau kita istirahat dulu untuk membicarakan biayanya?”
Dokter itu menatap Zolekha. “Mungkin pemeriksaan lanjutan…” dia memberanikan diri.
“Tidak perlu,” kata ayahnya cepat. “Cinta telah disingkirkan, semuanya sudah beres. Kota kita dapat terus berjalan seperti yang telah terjadi selama ribuan tahun.”
***
Ketika mereka pergi, tikus itu merayap keluar dari bawah kursi, memperhatikan Zolekha.
“Bagaimana?” tanyanya.
“Aku tidak ingin menikah di sini.”
“Kita bisa pergi ke permukaan dan mengucapkan janji pernikahan kita di Tebed,” kata tikus itu. “Aku tahu semua terowongan mengarah ke mana.”
Maka dia mengambil lentera dari gantungan di taman, memancarkan cahaya redupnya ke atas tumbuh-tumbuhan pucat yang tumbuh karena sihir bukan oleh sinar matahari.
Mereka berjalan ke pintu masuk terowongan pertama, tikus itu menunggangi bahu Zolekha dan mereka menuju ke permukaan. Di belakang mereka, terdengar suara benturan dan retakan yang keras.
“Apa itu?” tanya si tikus.
“Tidak ada apa-apa,” kata Zolekha. “Tidak ada yang penting sama sekali, lagi.”
Dia terus berjalan, dan di belakangnya, Kota Tanpa Nama runtuh.
Cikarang, 18 Oktober 2024

