Hamil Musim Hujan
dok. pri. Ikhwanul Halim

Hamil Musim Hujan

Views: 26

burung yang tidak ingin
kicauannya menghasut puisi
memilih bentuk
mengganti suara
yang sudah didengar
intro yang akrab
mengambang di atas seprai
masih berselimut gairah yang terikat
teriak mencicipi burung bejat
yang memberi makan anak-anaknya
dengan muntahannya sendiri
tak tidur merasionalisasi
kelaparan yang mengharuskan
pembunuhan belas kasihan
pikiran adalah garis yang perlu ditarik
burung jalak yang lagunya notasi manik-manik
disematkan pada burung robin yang sinyal kembali
himne April fatamorgana halusinasi
aku delapan tahun merekam burung pipit
dalam bayangku mencuri warna suaranya
dalam pinta kaset yang diputar delapan kalinya
aku pikir bentuknya alien imut terbang

gagal melihat menembus kaca buram
gelas meninggalkan bekas air di dekat buku
terletak di meja kaca
gagal melihat tangan membuka buku lembaran
telah lupakan berkali-kali sebelumnya.
gagal melupakan namamu dalam butiran air
di bawah kaca
di bawah meja buku
lembab di luar hujan
dalam bentuk cincin
lupa aku mengatakannya.
namamu.
kegagalanku
mengosongkan gelas dari kata-kata buku
butiran di halaman seperti yang terlihat
melingkar noda gelas dalam nama-nama hujan
berdering terdengar untuk mendapatkan
untuk memberikan untuk menuliskan
dalam kondensasigagal melihat menembus kaca
buku meninggalkan kata-kata berdering
tangan

sinema di layar proyeksi
tubuhmu di tubuhku—bahtera
ayah biasa dan melantunkan dunia
agar gajah-gajah kecil di tangannya
serigala-serigala setengah gila berpasangan
dalam tuangan bumi manusia kata
bisiknya ke bola dunia
menghirup aroma sabun kelapa.
ibu membuat janji
jari-jarimu lebih sedikit lagi
proyek keluarga yang mengambang
bagai potongan gabus di selokan.
abaikan suara-suara yang tak kau ucapkan
tidur sumpah-sumpah itu dalam jarak di antara
tubuh terombang-ambing oleh ombak pecah
untuk selalu menjadi aku bersumpah
untuk selalu menjadi aku
bukan ayahku
aku tak punya jempol
tak dapat menghentikan banjir
atau membawamu berjalan di atas air.
proyeksi astral

aku memberimu pengarahan—di ruang sebelah
mereka menari kejang
berbicara tentang lorong-lorong
pengembaraan kata-kata melalui selasar kosong
aku bukan pria yang kau cintai.
mereka menghentakkan kaki
cadel menjelang fajar akan siuman dua kali
dua teguk lebih dari botol kebanyakan
adalah proyeksi.
tak tahu apa yang diproyeksikan
ludah bersinar dalam cahaya hitam gigimu
pada pagi hari buku-buku jariku terluka
mereka berkata
aku meninju udara dan pingsan kali kedua
sekali sebagai siapa yang kau buat
kau benar
mereka menari agar mereka dapat mendengar
bibir bawah terlepas dari bahasa malam yang hingar
itu bayanganku berdengung samar
menggetarkan dinding ketukan patah gemetar
mereka bertanya apakah kita baik-baik saja?
kita pingsan di luar bingkai kamar
yang berisi kita.
auara akan tumbuh dalam ingatan
aku mengurangi

mungkin mencegah kedatangannya.
lantai semen dingin ternoda jatuhan nama bulan
kutu daun memakan kelopak
merpati buang air di mana saja
rumah adalah tempat jantung ditransplantasikan
remah roti di mulut
bunga bakung tetangga harus diselamatkan
dari embun beku malam
apakah kita memiliki cukup air keran
air mandi beraroma minyak lavender
dioleskan ke punggungmu
berat badan bunga bakung tumbang
tak bisa memaafkan
berdarah menjawab panggilan
 mari kembali
apakah menurutmu aneh aku masih berbicara
batang disusun dalam kaus kaki sepatu usang
keberangkatan Oktober  yang tertunda
bak mandi penuh dusta

Cikarang, 27 Oktober 2024

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *