Pahlawan
dok. pri. Ikhwanul Halim

Pahlawan

Views: 22

“Bagaimana keadaannya?” tanya kakakku, memasuki ruangan tempat aku tidak berada.

“Tidak baik.” Ibu kami berdiri di jendela, siluetnya seperti mercusuar kegelapan di antara lampu-lampu malam kota.

“Kalau siang  dia baik-baik saja. Dia bahkan tersenyum. Tapi malam hari.” Saat dia menoleh, wajah kelabu pucat ibu kami berkedut. “Aku kehabisan pilihan di sini, April.”

Kakakku mencengkeram bahu ibu kami dengan tangannya, mendorongnya selembut mungkin ke kursi terdekat. Tubuh ibu kami seperti sekarung beras. Ruangan tempat mereka berdiri, ruangan yang tidak pernah kumasuki selama seminggu penuh, berbau seperti talas busuk. Melalui kabut dinding plester, kurasa aku bahkan bisa melihat beberapa formasi awan jamur seperti mata yang menyembul dari langit-langit.

“Ibu perlu istirahat,” kata April. “Aku bisa mengatasinya. Ibu terlihat kacau. Ibu belum tidur sama sekali, kan?”

“Dia terus saja memukulkan tinjunya,” kata Ibu dan membiarkan kepalanya jatuh ke tangan kakakku dan mengerang. Aku menatap tanganku, besar dan berurat. Aku memukulkannya.

Dalam kegelapan ruangan tempat aku duduk meringkuk di sudut, tak ada yang tersisa bagiku selain kenangan kemenanganku seperti mata dari langit-langit, dari dinding.

Aku berharap bisa mengunci kedua tanganku, karena setiap kali tinjuku bertemu, mereka berderak seperti tembakan meriam. Di balik mata yang tertutup, aku melihat warna hitam dan darah serta garis-garis merah yang mengarah dari pintu bioskop seperti bekas ban mobil. Mobilnya, mobil si penembak, yang diparkirnya di luar, masih menyala. Asap knalpot mengaburkan bau keringat dan darah yang seharusnya memberitahuku ke mana harus pergi, ke mana harus menemukannya.

Aku tetap menemukannya.

Dia membunuh mereka semua, setiap orang di bioskop itu. Jadi, aku mematahkan lehernya. Tulang-tulangnya patah di tangan ini.

Dindingnya berdenyut dalam kegelapan. Kalau aku berdiri, aku merasa seperti akan pingsan sekali lagi. Kepalaku terasa ringan, tetapi aku telah memakan apa yang diberikan ibu kepadaku.

Otot-ototku terasa sakit karena posisi yang kuhadapi: gumpalan anggota tubuh dan kulit, yang dijejalkan ke dalam ruang tempat dinding bertemu dinding. Panggil aku Benteng Raksasa. Sebut aku Antigagal. Panggil aku apa saja kecuali julukan yang mengejekku dari berita utama.

Dan siapakah pemuda yang kusebut Pahlawan karena membunuh? Seorang pemuda yang salah, tidak begitu berbeda dariku. Bahkan warna rambut yang sama. Di sudutku, tubuhku bergetar. Aku tak bisa menghentikannya.

Takkan pernah berhenti.

Dalam garis-garis merah itu kupikir aku melihat masa depan. Aku ada di sudut ini, dalam bola, dan dunia luar terbakar. Merah, merahnya api.

***

Kakaknya membawa sepiring kentang tumbuk dan saus jamur bergizi. Kalau terserah padanya, dia akan memasak makanan dari masa kecilnya: Ayam gulai dan sosis. Tapi kakaknya sudah lama menghindari daging, keju, lemak. Dia berpikir saat melayaninya, Mungkin itu sebabnya kamu mengalami masa sulit, menyalahkan dirimu sendiri. Kau butuh protein, adik kecil.

Begitu dia memikirkan adiknya, dia meringis.

Apakah adiknya mendengarnya? Apakah itu salah satu kekuatannya, kemampuan membaca pikiran?Kakaknya tidak ingat apa saja yang menjadi kelebihan adinya.

“Aku tidak bisa,” kata adiknya.

Dia tersipu. “Maaf. Aku tidak bermaksud begitu,” katanya.

“Tidak bisa makan. Terlalu gelap untuk makan.”

Di sudutnya, dia tidak lagi terlihat seperti adiknya yang dikenalnya sejak kecil. Tidak lagi terlihat seperti pahlawan di halaman depan setiap surat kabar.

Bagaimana mungkin adik laki-lakinya merobohkan gedung-gedung dari tanah seperti rumput yang terinjak sepatu?

Dia gemetar dalam keheningan, dan dia bisa merasakan dengungan supersoniknya menembus lantai, menggetarkan ubin di bawahnya.

“Tunggu sampai terang,” katanya. “Aku akan makan dalam terang.”

Kakaknya bertanya-tanya tentang kegelapan. Dulu gelap adalah taman bermain adiknya. Dulu adiknya berkuda keluar setiap malam seperti seseorang dari acara TV yang biasa mereka tonton sampai tengah malam di akhir pekan. Dia pernah bisa menyalakan TV dan melihat pahlawan lama mereka tergantikan dengan wajah adiknya. Dulu ini membuatnya tersenyum begitu lebar hingga dia pikir wajahnya akan robek.

“Aku akan menyimpannya,” kata kakaknya, tetapi tidak meninggalkan ruangan.

Kakaknya berlutut di sampingnya dan menempelkan dahi ke dahi. Keringatnya membasahi kakaknya. Rasa sakit menyentak otak kakaknya bagai tombak listrik. Kakaknya tak mundur. Ini adalah satu-satunya cara yang kakaknya tahu untuk membantunya. Dengan menjadi dirinya sendiri, dengan menjadi kakak perempuan seperti yang selalu dia lakukan.

***

Aku tidak bisa merasakan detak jantung kakakku. Aku takut, betapa dinginnya dia. Dia biasanya begitu hangat. Dindingnya juga dingin. Mereka membuat tanganku membeku. Aku bertanya kepada mereka mengapa begitu dingin, dan mereka tidak berbicara kepadaku. Aku tidak bisa mendengar dengungan peralatan, dengungan mobil di jalan-jalan di luar, degup jantung. Aku merasakan masa depan, dan masa depan penuh dengan jeritan yang memekakkan.

Kemahatahuan bukanlah salah satu kekuatanku.

Aku bukan peramal. Aku mengulang ini pada diriku sendiri, tetapi kalau satu orang bisa melakukannya, lima senjata dan gas air mata serta ruangan tertutup yang dipenuhi orang-orang yang menganggapnya lelucon, satu orang bisa melakukan apa saja. Betapa cepatnya hati menjadi masam. Salah.

Aku tidak bisa menghentikan semuanya selamanya. Setiap kali aku menghentikan satu, akan ada yang lain yang gagal kulakukan. Jantung kakakku akan berhenti berdetak, entah aku bisa mendengarnya atau tidak. Ibuku di kamar sebelah akan tidur. Orang-orang di luar sana, di dunia, akan saling serang. Mereka akan saling menghancurkan dengan tujuan menjadi lebih besar dari orang yang sebelumnya.

Malam akan membentang di kota kami seperti tabir. Sebuah kompetisi bagi mereka.

Siapa yang akan menarik perhatianku? Kejahatan mana yang begitu mengerikan sehingga aku harus membiarkan yang lain bebas untuk menghentikannya?

Sakit.

Aku muntah di sepatuku. Bau brokoli, selai kacang, dan seledri memenuhi hidungku sampai aku batuk.

Kakakku mencium keningku dan meninggalkan ruangan, berkata dia akan segera kembali.

Kali ini, dia akan kembali. Lain kali, siapa yang bisa menjawab?

***

“Apakah dia sakit lagi?” Ibu mereka telah ambruk di sofa, dan dia mengangkat kepalanya untuk melihat putrinya yang kembali ke ruang tamu. “Sudah ada kain lap di wastafel di sana.”

“Ibu seharusnya tidur.” Putrinya melambaikan tangannya seolah-olah sedang mengusir lalat. Itu adalah gerakan yang selalu dibenci ibu mereka. Dia ingin meludahi tangan putrinya, tetapi dia tidak punya tenaga lagi.

Sudah empat hari sejak dia tertidur. Dia berpikir dia bisa merasakan kulit di bawah matanya hilang. Terakhir kali dia melihat ke cermin, lingkaran hitamnya begitu gelap sehingga tampak seolah-olah matanya seluruhnya hitam.

“Kamu seharusnya menjalani hidupmu. Biarkan seorang wanita tua merawat putranya.”

Putrinya tidak pernah mendengarkan.

Tak lama kemudian pintu berbunyi klik lagi, dan tidak ada lagi suara di ruang tamu kecuali bunyi detak lembut jam di dinding.

Bsa saja itu bom, pikir ibu mereka. Selalu bisa menjadi bom.

Dulu dia bertanya-tanya bagaimana rasanya membesarkan anak yang biasa saja. Seorang anak laki-laki yang membuatnya bangga seperti putranya.

Dia tidak bertanya-tanya lagi. Sekarang dia hanya bertanya-tanya apakah dunia akan menjadi tempat yang lebih baik tanpa putranya.

Lampu di sudut dibiarkan menyala, dan dia menutup matanya.

Menjadi ibu dari seorang pahlawan membutuhkan kekuatan yang saat ini tidak dia miliki. Dibutuhkan seorang wanita yang bisa mengurus dirinya sendiri, yang bisa menidurkan dirinya sendiri.

Ibu mereka takut jika dia tidur, dunia akan kiamat. Bahwa dia akan mati. Bahwa putranya akan menjadi lebih baik. Bahwa orang-orang jahat sekali lagi punya alasan untuk menyakiti putranya.

Cikarang, 10 November 2024

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *