“Aku tidak membuat plot, dan aku tidak membuat rencana. Aku suka dikejutkan sama seperti pembaca.”
~ Joe R. Lansdale
Itulah yang tampaknya menjadi pertanyaan yang paling sering digunakan dalam menilai film horor. Ketika kamu kembali dari menonton film terbaru tentang hantu atau pembunuh berantai, meletakkan novel horor favorit kamu, atau menyebutkan cerita seram di media sosial, pertanyaan pertama yang mungkin akan kamu terima adalah pertanyaan itu. Dalam perjuangan abadi kita untuk menemukan batas-batas wilayah yang luas dan sering kali kontradiktif yang disebut horor, aku telah melihat lebih dari satu penulis menggunakan definisi, “genre horor bertujuan untuk menakut-nakuti kamu”.
Belum lama ini, para penggemar dan pembenci sama-sama merasa bimbang tentang apakah surat cinta Guillermo del Toro untuk genre romansa Gotik Crimson Peak harus dianggap sebagai film horor atau bukan. Kekhawatiran utamanya tampaknya adalah bahwa film itu tidak terlalu menakutkan, dan, mungkin yang lebih buruk, tidak benar-benar berusaha untuk menjadi menakutkan. Yang kembali ke gagasan bahwa, apa pun itu, horor seharusnya mencoba menakut-nakuti kamu, dan dapat dinilai dari seberapa berhasilnya membuat kamu ketakutan.
Bahkan kalau kita menerima “bertujuan untuk menakut-nakuti ” sebagai definisi horor, ada banyak jenis ketakutan, dan berbagai cara untuk merasa takut.
Ketika seseorang bertanya apakah sesuatu itu menakutkan, paling sering dijawab tentang “jump scare” yang banyak dicemooh yang mengisi sebagian besar film horor, dan yang, bahkan dalam bentuk terbaiknya, sebagian besar berupa seseorang yang melompat keluar dan berteriak “Baaa!”
Namun, meskipun itu mungkin jenis ketakutan yang paling jelas, itu tentu bukan satu-satunya. Ada lebih banyak ketakutan serebral yang dapat ditemukan dalam literatur dan sinema horor, dari nihilisme kosmik H.P. Lovecraft, Laird Barron, dan Thomas Ligotti hingga “teror yang menyenangkan” dari E.F. Benson dan M.R. James.
Film-film seperti The Thing karya John Carpenter menggabungkan teror visceral dari horor tubuh dengan paranoia dan ketakutan eksistensial. Bahkan Crimson Peak, yang menurut kebanyakan orang tidak terlalu menakutkan, membawa beban berat berupa keniscayaan dan kehancuran.
Kesulitan yang menyertai setiap upaya untuk membatasi horor, untuk memagarinya, juga merupakan alasan mengapa horor berhasil dengan baik, dan bagian dari alasan mengapa kita menyukainya.
Horor tumbuh subur di pinggiran setiap genre lainnya, di tempat-tempat di peta yang ditandai “di sini ada naga.” Itulah sebabnya Gremlins tidak hanya berada dalam genre yang sama dengan Texas Chainsaw Massacre, tetapi bahkan mengandung sedikit pengaruh padanya. Horor memiliki arti yang berbeda bagi orang yang berbeda, dan masing-masing orang memiliki minat dan obsesi mereka sendiri, kelemahan dan daya tarik sendiri.
Bagi sebagian orang, ini hanya masalah apa yang membuat takut dan seberapa berhasil, sementara bagi yang lain, ini lebih merupakan serangkaian batu ujian dan tradisi, sesuatu yang dapat kita gunakan sebagai jalan pintas untuk membantu menyalakan imajinasi kita, dan rasa takut bahkan tidak benar-benar masuk ke dalam persamaan.
Membatasi horor hanya pada apa yang membuat kita takut sepertinya akan merampas banyak karya terbaiknya, meninggalkan mereka terlantar di tengah badai tanpa genre yang bisa mereka sebut sendiri, tetapi juga akan merampas banyak sumber daya horor itu sendiri.
Horor mampu melakukan banyak hal—keindahan, keanehan, kengerian, bahkan humor dan harapan—menakut-nakutimu hanyalah salah satu triknya.
Ketika pertama kali mulai menulis cerita fiksi untuk sebuah platform misteri, aku berjuang dengan label “penulis horor,” dan salah satu alasan terbesarnya adalah karena aku tidak pernah menulis dengan maksud yang jelas untuk menakut-nakuti siapa pun. Paling-paling, aku bertujuan untuk sensasi yang menyenangkan, “teror yang menyenangkan” ala M.R James (atau R.L. Stine), kaki-kaki serangga kecil yang merayap di tulang belakangmu.
Lebih sering, aku tertarik pada kiasan dan suasana horor, fenomena supranatural atau hal-hal yang aneh. Menjadi menakutkan sama sekali tidak ada dalam pikiranku. Maka sebetulnya aku enggan menyebut diriku lebih sebagai penulis fantasi, bukan sebagai penulis horor, meskipun horor adalah genre yang kusukai, dan mudah untuk aku konsumsi.
Tetapi, seperti saat aku menulis, aku jarang mencari rasa takut membuka buku atau duduk dalam kegelapan untuk menonton film. Aku cukup senang saat mendapatkannya, tetapi itu bukan alasan utamaku. Aku menyukai semua jenis horor (kecuali gore), tetapi beberapa yang menjadi favorit adalah film horor jadul. Film-film horor tahun 30-an dan 40-an, monster Universal, horor Gotik Hammer dari Inggris, B-movies karya William Castle, film-film tentang ketakutan akan bom atom tahun 50-an, Roger Corman dan Vincent Price yang mengadaptasi Edgar Allan Poe dengan sangat longgar dalam Technicolor yang cerah.
Apakah film-film itu hebat?Tentu!
Apakah film-film itu menakutkan?Yah, kalau sekarang nontonnya tidak lagi.
Apakah film-film itu harus menakutkan? Sama sekali tidak.
Ketika aku menulis dan menikmati horor, aku cenderung mencari sesuatu “yang dapat membuka pintu cahaya dan bayangan dan membiarkan kita melihat sesuatu yang mungkin tidak dapat kita lihat sebelumnya,” seperti yang pernah dikatakan Joe R. Lansdale dengan lebih baik daripada yang pernah kulakukan. Itulah sebabnya aku menulis tentang monster, hantu, dan hal-hal yang mungkin tidak ada.
Hal-hal yang benar-benar menakutkan bagiku sama sekali tidak menarik. Hal-hal yang biasa saja, membosankan, dan terlalu kecil untuk ditulis. Seperti kebanyakan orang, yang aku takutkan: gagal, kesulitan keuangan, jatuh sakit, mengecewakan orang-orang yang kusayangi.
Apa yang benar-benar menakutkan dalam hidup tidak membuat jantungmu berdebar kencang dan darahmu berdesir. Hal-hal tersebut hanya membebanimu hari demi hari, seperti tertimpa batu. Satu batu demi satu batu, yang mana satu pun tidak akan berarti apa-apa, tapi jika digabungkan akan menghancurkan tulang dadamu, melubangi paru-parumu, dan membuat setiap tarikan napas terasa menyakitkan.
Itulah hal-hal yang menakutkan bagiku.
Tetapi tentu saja aku tidak ingin menulis tentang hal-hal tersebut.
Aku lebih suka menulis tentang monster, termasuk monster dengan IQ 58.
Cikarang, 14 November 2024


Ebuset kalimat pamungkasnya, Pak. Hehehe.
Hahaha….