Kami diberi tahu bahwa mereka bukan-anak-anak. Maka kami memperlakukan mereka sebagaimana mestinya.
Kami tidak melambaikan tangan kepada mereka, atau tersenyum, atau meminta mereka untuk ikut bermain. Tentu saja mereka juga tidak meminta kami untuk ikut bermain, tetapi kami tidak akan melakukannya meskipun mereka meminta. Mereka hanya bermain baris berbaris, atau menunggu, atau terkadang mereka memainkan permainan lucu ketika salah satu dari mereka berpura-pura jatuh dan yang lain harus bergegas untuk menarik mereka secepat mungkin. Bukan-anak-anak memiliki ide-ide aneh tentang bersenang-senang.
Orang tua kami tidak banyak bicara tentang bukan- anak-anak, kecuali untuk mengingatkan kami bahwa mereka bukan-anak-anak yang sebenarnya. Sulit untuk mencari tahu lebih banyak.
Jika kita menyebut bukan-anak-anak di meja makan, mereka mengalihkan pembicaraan. Sulit untuk mengatakan apakah mereka marah karena bukan-anak-anak ini datang ke kota kami atau mereka tidak peduli dan punya hal-hal lain yang lebih penting untuk dikhawatirkan.
Kami kadang-kadang membicarakan mereka, saat berjalan pulang dari sekolah, dalam perjalanan ke kedai manisan permen atau menunggu di aula yang dipernis untuk pelajaran musik.
Beberapa dari kami berpikir mereka begitu buruk sehingga ibu mereka memberikan mereka kepada orang lain. Kebanyakan dari kami berpikir mereka tidak pernah punya ibu sejak awal. Sulit membayangkan mereka yang bukan-anak-anak menjadi bayi. Kemungkinan besar mereka baru saja lahir suatu hari, seperti sekarang ini.
Dua kali sehari kami melihat mereka, dalam perjalanan yang melelahkan antara tempat yang buruk dan gerbang pabrik, mereka berjalan terseok-seok di sepanjang trotoar yang dingin tanpa alas kaki, tanpa kepala, dan mengenakan pakaian bergaris-garis usang. Mereka yang bukan-anak-anak tidak merasa kedinginan seperti kita. Mereka tidak lelah. Kami tahu ini karena kami memperhatikan mereka dan mereka tidak mengeluh atau menangis, hanya berjalan perlahan di kota seperti noda abu-abu yang meniru kehidupan.
Kami menantang mereka untuk menawarkan mereka sebuah batu yang dibungkus dengan kertas permen yang cerah, saling mendorong untuk maju. Mereka menerima hadiah itu tanpa bersuara, dengan mata besar dan tulang pipi yang menonjol. Ketika mereka melihat tipuan kami, mereka tidak tertawa atau melolong atau berbalik untuk melawan kami, mereka hanya membiarkan batu itu jatuh kembali ke tanah seolah-olah lelucon kami tidak penting.
Satu-satunya hal yang baik adalah para prajurit. Mereka ditempatkan di sini untuk memastikan orang-orang yang bukan-anak-anak tidak mencuri atau keluar di malam hari atau menjadi gila. Kalau kamu lihat betapa jahatnya mereka, kalau kita membutuhkan prajurit untuk melindungi kita dari mereka. Para prajurit itu cerdas dan tampan dan kalau kamu melambaikan tangan atau cekikikan kepada mereka, mereka akan menjentikkan sepatu bot mereka bersamaan dalam bentuk penghormatan yang lucu hanya untuk kamu.
***
Sebelum mereka datang, ada tanah hijau di atas bukit, tempat kami bisa pergi untuk menangkap katak atau piknik, tetapi mereka malah membangun tempat yang buruk. Itu tempat yang buruk, aku tidak tahu mengapa mereka memutuskan untuk membangunnya seperti itu. Aku akan membangun istana bundar kecil dan hamparan bunga di antaranya, tetapi mereka hanya menyukai lumpur dan gubuk kayu. Mereka aneh, orang-orang yang bukan-anak-anak.
Kami tidak tahu dari mana mereka berasal atau mengapa mereka ada di sini, tetapi kami berharap mereka pergi saja. Rombongan mereka yang bergerombol menyebar di kota kami seperti bercak minyak yang dioles dari rumah ke rumah atau ular hitam besar yang menggeliat, mengitari kami, sambil memakan ekornya sendiri.
Satu-satunya yang menghibur kami adalah semakin sedikit dari mereka yang keluar dari tempat yang buruk itu. Apa yang mereka lakukan di sana, aku tidak ingin membayangkannya. Yang aku tahu pastilah di dalam benteng suram yang mereka dirikan itu hangat, karena cerobong asapnya mengepulkan asap hitam dari fajar hingga senja. Terkadang baunya begitu busuk sehingga ibu-ibu kami menyuruh kami tinggal di dalam rumah dan membawa cucian mereka untuk berjaga-jaga kalau mereka membuatnya bau.
Pada hari-hari ketika baunya tidak terlalu busuk, kami pergi keluar. Kami bermain di debu yang jatuh, berputar-putar di dalamnya seakan-akan salju yang turun. Menulis nama kami di trotoar dengan jelaga yang berlumur. Bahkan ketika kami memainkan permainan lain, kulit kami dilapisi debu. Debu itu masuk ke celah-celah kami.
Lalu terkadang kami berpura-pura menjadi anak-anak yang sudah tidak muda lagi, berkeliaran tanpa suara dengan bahu membungkuk dan janket yang terlepas dan menggenang di trotoar, berpura-pura tidak kedinginan setengah mati. Sampai kami mati rasa.
Sampai ibu kami memanggil kami masuk untuk mandi air hangat dan mendesah melihat kekacauan itu, sekali lagi, mulai membersihkan kami.
Cikarang, 5 Desember 2024

