Sudah empat puluh dua hari sejak Anjali pindah ke blok apartemen sebelah. Aku tidak kenal dia, tetapi kemudian aku tahu kalau ibuku kenal ibunya. Keluarganya juga dari Kampung Keling dan pindah ke Bandung sekitar waktu yang sama. Ini pertanda baik, lebih mudah kalau keluarga saling mengenal dalam hal pernikahan. Tetapi aku terlalu terburu-buru.
Selama beberapa minggu pertama, kami hanya menyapa dari balik pagar. Kemudian aku memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu yang lebih. “Namaku Nando. Kau tak kerja?” Aku rasa begitu yang kubilang.
Dan ternyata kami berdua bekerja malam. Dia pelayan restoran dan aku mengisi rak supermarket.
Pertanda baik lainnya.
Aku tidak begitu yakin apa yang membuatku begitu tertarik pada Anjali. Dia memang cantik, tetapi aku tidak biasa terjebak dalam kisah romansa. Bahkan aku tidak pernah benar-benar punya kekasih. Keluargaku sudah menyerah berusaha mencarikan jodoh dalam hal itu.
Ketika aku bercerita tentang Anjali kepada abangku Anton, dia tampak terkejut, dan tertawa lebih lama dari yang menurutku seharusnya. Meskipun hanya dua tahun lebih tua, dia sudah memenuhi harapan orang tuaku jauh lebih baik daripadaku–pekerjaan yang bagus, istri yang baik, satu anak dengan anak lainnya yang akan lahir. Tapi akulah yang kuliah. Anton menganggap kuliah terlalu membosankan. Aku bukan orang yang gampang bergaul. Makanya kerjaku menumpuk barang di rak, sementara dia punya bisnis yang sukses. Aku cukup yakin itulah yang disebut ironi.
Aku juga bercerita kepada Omen tentang Anjali dan dia lebih menyemangati. Omen adalah satu-satunya temanku, dan memiliki lebih banyak pengetahuan tentang hal-hal ini daripadaku. Aku menganggap serius pendapatnya.
Dia bilang aku harus mencoba mengesankan Anjali. Aku tidak tahu apa artinya, tetapi aku mendesaknya untuk memberikan lebih banyak detail dan contoh, dan aku membuat sebuah rencana yang akan kuterapkan hari ini.
Cukup mudah untuk memotong bunga kembang sepatu merah dari kebun Anton pagi tadi. Anton tidak akan keberatan, atau setidaknya tidak terlalu keberatan.
Setelah berjalan kaki sebentar kembali ke apartemenku, aku kemudian menemukan tisu untuk membungkus bunga, pekerjaan yang gampang karena aku suka menyimpan barang-barang di laci yang diberi tanda. Anton bilang Anjali tidak akan pernah mendekatiku karena aku membosankan, tetapi aku pikir dia menginginkan pasangan yang stabil. Dan ketelitian bisa sangat mengasyikkan, menurutku.
Untuk acara ini aku mengenakan pakaian terbaikkuhari ini–celana panjang khaki yang disetrika dengan kemeja polo biru yang dimasukkan ke dalam.
Meskipun aku tidak punya banyak pakaian, aku mencoba beberapa kemeja sambil berlatih apa yang akan aku katakan padanya di depan cermin. Aku tidak bisa berhenti memeriksa jam tangan berulang kali, dan melihat ke luar jendela dapur ke halaman rumah Anjali.
Dia belum duduk di sana. Aku harus menunggu sampai dia minum teh paginya. Aku heran mengapa dia agak terlambat hari ini.
***
Ponselku mulai memutar OST. Star Wars “The Imperial March”. Orang tuaku yang menelepon. Waktunya tak pas.
“Halo. Ada apa?”
“Selamat pagi, Nando. Itu bukan cara yang tepat untuk menjawab telepon, kan, Nak?”
Aku mendesah. Itu ibuku. Aku melihat ke luar jendela dan menarik napas dalam-dalam. Anjali! Oh tidak, aku harus keluar sekarang.
“Dan ibunya bilang kau banyak bicara dengan Anjali dan meskipun itu sangat menyanjung, Anjali sudah punya calon, kau mengerti? Kau dengar, Nando?”
Aku tidak tahu apa yang ibuku ia bicarakan, tetapi waktu sangatlah penting.
“Maaf, Bu, aku harus pergi. Sampai jumpa.”
Aku mengakhiri panggilan telepon dan melihat sekeliling dengan panik mencari bunga-bunga. Bunga-bunga itu telah layu karena sinar matahari yang masuk melalui jendela dapur. Kok bisa-bisanya aku lupa betapa rapuhnya kembang sepatu!
Aku mengerang. Aku bisa merasakan keringat berkumpul di bawah ketiakku. Ini tidak berjalan seperti yang kubayangkan. Bunga-bunga itu harus segar lagi.
Aku bergegas keluar pintu, menuruni tangga ke tempat jemuran berada. Keringat mulai bercucuran dari dahiku.
***
“Anjali! Hai!” Aku melambaikan tangan dengan panik.
Dia mendongak dan tersenyum. “Hai Nando, baru saja menghabiskan tehku, agak terburu-buru hari ini.”
“Oh benarkah? Biasanya kamu tidak datang di Sabtu pagi. Aku membawakanmu beberapa bunga.”
Aku mendorong bunga-bunga itu di depanku melewati pagar.
“Oh. Bunga-bunga itu bagus. Tapi mereka tampak haus.”
Dia tidak meraihnya, dan tetap duduk di tangga belakang rumahnya.
“Um, ya. Kupikir kau suka, mengingat kembang sepatu merah merupakan simbol dewi Hindu Kali.”
Anjali menatapku dengan apa yang menurutku hanya kebingungan, tetapi aku terus melanjutkan. Kata-katku tidak sesuai dengan gladi resik di muka cermin.
“Kau mau makan malam bersamaku kapan-kapan?”
Dalam upaya untuk menghentikan aliran keringat yang menetes di dahiku, aku menyekanya dengan sapu tanganku. Sapu tanganku malah basah kuyup.
“Oh, Nando. Begini, hari ini ulang tahun bibiku dan kami akan makan siang bersama keluarga. Aku harus pergi. Aku harus membantu menyiapkan.”
Dia tidak menatap mataku. Tentu saja itu pertanda buruk.
“Mungkin aku akan menemuimu di sini besok?” Setidaknya aku tidak boleh kehilangan obrolan sambil minum teh.
“Tentu, tentu. Sampai jumpa, Nando.”
Dia berbalik, masuk ke dalam, dan menutup pintu belakang.
Aku berdiri di sana sambil memegang bunga-bunga itu selama beberapa saat. Jelas semua berjalan sangat buruk.
Aku membuang buket bunga yang menyedihkan itu ke tong kompos dan bertanya-tanya mengapa orang-orang repot-repot dengan cinta.
Cikarang, 17 Desember 2024

