Bukannya aku bermaksud membuat dunia kiamat. Aku hanya takut.
“Syauki! Kentang goreng lagi untuk meja tiga belas!”
Seharusnya dia berteriak minta roti dan keju. Salahku dia bukan pemilik penginapan.
Aku menemukannya tergeletak di tanah lapang, dahannya berubah dari ungu menjadi abu-abu dalam pembusukan tercepat yang pernah kulihat. Aku tidak bermaksud menyakitinya, tetapi gerakan di semak-semak itu pasti rusa dan kami belum makan dengan benar selama berminggu-minggu. Jadi aku menembaknya secara membabi buta dan membunuh monster itu.
Ada sebuah tas tergeletak di tanah di dekatnya. Mencuat dari tas itu adalah sebuah alat yang mengingatkanku pada senapan locok dengan roda gigi tambahan. Jadi ketika ‘setan’ lain menyerbu ke tanah lapang itu, karena aku belum mengisi ulang senapanku, aku mengambil alat itu dan ‘menembaknya’ di antara kedua matanya yang seperti permata.
Bumi seakan bergoyang lalu miring. Hutan di sekitarku layu menjadi tunggul dan debu dalam sekejap mata. Pakaianku terurai dan aku merasakan sakit yang menusuk saat menarik napas. Di sekelilingku, dunia lenyap dalam tornado kaleidoskopik dengan celah-celah yang memperlihatkan pemandangan yang mustahil: kota-kota yang menggantung di atas lautan biru berhamburan menjadi debu, digantikan oleh anjungan minyak. Benda-benda yang tampak seperti elang metalik dengan ukuran yang mustahil dipelintir menjadi pesawat jet penumpang yang jelek.
Di tanganku, perangkat itu berkilauan di antara batas negaraa, akhirnya berubah menjadi seperti kaleng dengan serangkaian lampu di atasnya. Aku mengintipnya dan coretan di sampingnya berubah menjadi bahasa yang bisa kubaca: ‘aktivasi tanpa medan pembatas dapat berbahaya bagi realitas di sekitar operator’ dan ‘penggunaan tanpa batas dapat menyebabkan manifestasi efek resistansi temporal’.
Ketika pusaran kekacauan itu mereda, aku berdiri di hamparan tanah kosong di antara dua rumah petak. Di hadapanku, pagar kawat berkilauan sebentar sebelum memudar menjadi abu-abu metalik kusam.
Lalu hujan api menyerbu pikiranku. Aku menjerit dan jatuh menggeliat di tanah, memegangi kepalaku. Tentu saja, aku menjatuhkan alat itu. Terdengar tiga dentuman nge-bass, seperti tangan raksasa yang mengetuk pintu besar. Aku pingsan.
“Bangun.”
Aku terbangun.
Seorang pemuda berjas mahal berjongkok di sampingku. Dia memegang kaleng itu dengan satu tangan. Melihat matanya yang setajam permata mengejutkanku hingga aku benar-benar terbangun, lalu kesadaran akan pengetahuan baru, sejarah baru di kepalaku, menyebabkan air mata mengalir di pipiku.
Dia mengangguk.
“Kalau kau beruntung, kenangan masa lalumu akan hilang. kalau tidak…”
Dia menunduk memandang dirinya sendiri.
“Sepertinya kau juga mengubahku.”
Mendongak, dia tersenyum dingin
“Aku tidak akan berbohong. Kau menyebalkan dan kau hampir membunuhku waktu kau menghapus linimasamu. Kuharap kau bisa melakukan sesuatu untuk mengimbangi jumlah orang yang kau hapus.”
Setelah mengutuk, dia berdiri dan pergi, menyusut hingga jarak yang membuatnya lenyap sebelum mencapai tepi tanah tandus. Aku berguling dan muntah-muntah hebat.
Setahun telah berlalu dan aku telah menyesuaikan diri dengan dunia mengerikan ini atas doronganku sendiri. Aku mempelajari dasar-dasar kehidupan sambil bekerja dua pekerjaan hanya untuk bertahan hidup. Ingatan tentang berburu di hutan hijau untuk menafkahi keluarga yang telah kuhapus belum pudar.
Aku telah memberi batas diriku sepuluh tahun untuk mencapai sesuatu yang berguna. Kalau aku tidak melakukannya dan ingatan itu tetap ada, aku akan melihat apakah kehidupan setelah kematian dari masa laluku masih ada dan berharap keluargaku masih ada di sana.
Cikarang, 4 September 2025

