Kiamatmart
Kiamatmart

Kiamatmart

Views: 5

“Bersihkan Lorong 13!”

Lorong 13, filter air. Anak itu pasti merusak karung berisi tawas lagi.

Kami dulu hanya menjualnya per gram, tetapi akhir-akhir ini orang-orang memperebutkannya seperti daging sapi untuk rendang terakhir sebelum Lebaran. Makanya sekarang kami jual per karung. Karung goni besar berisi barang-barang yang berbau busuk.

Ada anak yang menganggap lucu berlari mondar-mandir di lorong sambil membawa pisau lipat dan mengiris karung hingga terbuka.

Aku sudah cukup lama bekerja di sini untuk mengetahui bahwa membersihkan lorong itu hanya berarti satu hal. Bahkan dari kasir aku bisa mencium baunya. Aku mengambil interkom.

“Kode kuning di Lorong 13. Kode kuning!”

Mungkin kali ini Adam si bodoh akan ingat untuk membawa masker oksigennya dan tidak pingsan saat pembersihan. Aku sedang tidak mood untuk memapahnya ke ruang P3K lagi.

***

Aku kuliah Manajemen Perusahaan di universitas swasta dan mendapatkan pekerjaan ini merupakan sebuah terobosan nyata bagi seseorang dengan bidang ilmuku. Kami belajar sejarah Kiamatmart. Belum terlalu lama, dulu ini adalah sebuah tempat bernama Carefive di mana orang bisa membeli bahan makanan dalam jumlah besar, yang tampaknya agak mubazir mengingat orang-orang tersebut tidak perlu menyiapkan apa pun.

***

Kami memiliki pelanggan tetap yang datang ke toko setiap hari. Rambutnya yang sulit diatur dan selalu mengenakan jas hitam panjang seperti di film mafia. Aku hanya bisa menatapnya setiap kali ada kesempatan.

Kadang-kadang dia bahkan tidak membeli apa pun, hanya berjalan-jalan mengelilingi toko dan pergi. Beberapa karyawan mengira dia adalah pembelanja rahasia.

Rekan kerjaku Sri Mulyani, menganggap dia “misterius dan suka melamun” yang menurutku lebih menjelaskan tentang Sri Mulyani daripada si jas hitam.

***

“Selamat datang di Kiamatmart, akhir dunia akan segera tiba.”

“Selamat datang di Kiamatmart, akhir dunia telah tiba!”

Hari ini aku dan Sri Mulyani sedang bertugas memberi salam kepada pengunjung. Ini adalah pekerjaan termudah di toko, tetapi tidak memungkinkanku untuk menggunakan pengetahuan yang kudapat dari kampus. Sri Mulyani  memanfaatkannya sebagai kesempatan untuk bergosip dan melirik pelanggan cowok.

“Jadi, kamu kenal cowok imut itu?”

“Maksudmu orang yang ada di sini setiap hari, yang tidak imut, justru menyeramkan itu? Ya, aku tahu dia.”

Sri Mulyani memutar bola matanya.

“Yah, ternyata dia bukan pembelanja rahasia. Dia adalah Yang Terpilih-02. Dia datang ke toko ini karena di sini dia mendapatkan visinya tentang serangan dan ancaman di masa depan.”

Sekarang giliranku yang memutar bola mataku. “Kamu tidak percaya semua omon koson itu, kan?”

“Itu benar! Serius! Rupanya… Selamat datang di Kiamatmart, akhir dunia telah tiba! Rupanya Kantor Pusat membayarnya secara freelance. Itu sebabnya ada wajib lembur weekend depan. Dia menyuruh mereka memesan lebih banyak stok.”

Idih, wajib lembur lagi? Aku berharap kiamat datang sebelum weekend.

Aku mengirim email ke Kantor Pusat untuk menanyakan apakah mereka akan membayar kami lembur jika kami bekerja pada Hari Kiamat, tetapi mereka mengatakan tidak ada uang lembur. Dasar kapitalis bajingan yang hanya memikirkan profit tanpa peduli nasib buruh.

***

Saat meeting pagi, kami diberitahu bahwa kami mendapat hari libur besok karena semua orang harus tinggal di bawah tanah selama 24 jam, sementara virus yang menyebar melalui udara melewati kota. Aku mencatat dalam hati supaya tidak lupa untuk menyiapkan beberapa persediaan tambahan sebelum pulang kerja.

***

“Saya harap Anda menemukan semua yang Anda cari, Tuan?” Aku bertanya pada ‘Yang Terpilih-02’ ketika dia berdiri di depan kasirku. “Kami mengadakan penjualan tangki oksigen untuk persiapan sebelum tidur besok, kalau Anda tertarik.”

Dia hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Oke, jadi aku mengerti maksud Sri Mulyani. Dia memang imut dengan cara seorang cowok pendiam. Ada keheningan yang mencekam saat aku mengantongi barang-barangnya dan aku bisa melihatnya mencoba memutuskan apakah dia harus berbicara atau tidak.

“Anda tidak memerlukan tangki oksigen. Anda bahkan tidak perlu tinggal di bawah tanah besok,” akhirnya dia bicara.

Aku bingung dengan ledakan suaranya dan pasti dia melihat kebengonganku. Dia mengubah taktiknya.

“Kapan kamu tidur terakhir kali? Apakah kamu ingat?”

“Kuartal terakhir,” jawabku. “Akhir tahun finansial.”

“Dan kapan akhir kuartal ini?”

“Akhir pekan ini—” aku terdiam.

“Kantor Pusat bilang penjualannya agak rendah pada kuartal ini, bukan? Mereka membutuhkan kenaikan pada menit-menit terakhir.”

Dia melihat sekeliling toko yang sibuk. Orang-orang berebut persediaan di saat-saat terakhir, menghabiskan seluruh gaji di satu toko. “Berhasil, bukan?”

Aku hanya menatapnya sambil memproses apa yang dia katakan. Aku menyadari mulutku ternganga dan aku menutupnya terlalu cepat hingga lidahku tergigit oleh gigiku sendiri.

Dia hanya tersenyum dan keluar dari toko. Tidak ada persediaan tabung oksigen di belakangnya, hanya beberapa lampu suar darurat dan sebungkus besar kacang kulit  yang mungkin merupakan kombinasi paling aneh yang pernah kulihat.

Yang bisa kuucapkan saat melihatnya berjalan pergi hanyalah gumaman, “Terima kasih telah berbelanja di Kiamatmart. Kami berharap dapat melihat Anda hidup kembali.”


Cikarang, 29 Juni 2024

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *