Kepala yang Disihir
dok. pri. Ikhwanul Halim

Kepala yang Disihir

Views: 30

Dahulu kala, di sebuah pondok kecil dekat laut, tinggallah seorang wanita tua bersama dua orang putrinya. Mereka sangat miskin. Kedua putrinya sangat jarang keluar rumah karena bekerja sepanjang hari membuat kerudung untuk dikenakan para wanita di kepala mereka.

Setiap pagi, ketika kerudung telah selesai dibuat, salah satu dari wanita itu membawanya menyeberangi jembatan dan menjualnya di kota. Kemudian, dia membeli makanan yang mereka butuhkan untuk hari itu, dan kembali ke rumah untuk mengerjakan bagiannya membuat kerudung.

Suatu pagi, wanita tua bangun lebih pagi dari biasanya dan pergi ke kota dengan membawa barang dagangannya. Dia baru saja menyeberangi jembatan ketika tiba-tiba dia menabrak kepala manusia yang belum pernah dilihatnya di sana sebelumnya, wanita itu mundur ketakutan. Namun betapa terkejutnya dia ketika kepala itu berbicara, seakan-akan ada tubuh yang menempel padanya.

“Bawa aku bersamamu, ibu yang baik!” katanya memohon. “Bawa aku bersamamu kembali ke rumahmu.”

Mendengar kepala tanpa badan itu bicara, wanita malang itu hampir pingsan karena ketakutan.

Membawa kepala yang mengerikan itu ke dalam rumahnya? Tidak mungkin! Tidak akan pernah terjadi!

Lalu dia berbalik dan berlari secepat mungkin tanpa menyadari bahwa kepala itu melompat, menari, dan berguling mengejarnya. Ketika dia mencapai pintunya pndoknya, kepala itu melompat masuk mendahuluinya dan berhenti di depan perapian, memohon agar diizinkan tinggal.

Sepanjang hari itu tidak ada makanan karena kerudungnya belum terjual, dan mereka tidak punya uang untuk membeli apa pun. Maka mereka semua duduk diam di tempat mereka bekerja, dalam hati mengutuk kepala yang menjadi penyebab kemalangan mereka.

Ketika malam tiba dan tidak ada tanda-tanda makan malam, kepala itu berbicara, untuk pertama kalinya hari itu.

“Ibu yang baik, apakah tidak ada yang makan di sini? Selama berjam-jam aku menghabiskan waktu di rumahmu, tidak ada makanan apa pun yang terhidang.”

“Tidak,” jawab wanita tua itu, “kami tidak makan sama sekali.”

“Dan mengapa tidak, ibu yang baik?”

“Karena kami tidak punya uang untuk membeli makanan.”

“Apakah kebiasaan kalian tidak pernah makan?”

“Tidak. Biasanya setiap pagi aku pergi ke kota untuk menjual kerudung, dan dengan beberapa dirham yang kudapatkan untuk kerudung itu aku membeli yang kami butuhkan untuk makan sehari. Hari ini aku tidak menyeberangi jembatan, jadi tentu saja aku tidak punya apa-apa untuk dimakan.”

“Jadi akulah yang membuat kalian kelaparan sepanjang hari?” tanya kepala.

“Ya, benar,” jawab wanita tua itu.

“Baiklah, kalau begitu, aku akan memberimu uangkalau kamu mau melakukan apa yang kukatakan. Sejam lagi, saat tengah malam, kamu harus sudah berada di jembatan di tempat kamu bertemu denganku. Sesampai di sana, teriaklah ‘Syauki,’ tiga kali, sekeras yang kamu bisa. Kemudian seorang jin kulit hitam akan muncul, dan kau harus berkata kepadanya, ‘Kepala, tuanmu, memintamu untuk membuka peti itu, dan memberiku kantong hijau yang akan kau temukan di dalamnya.’”

“Baiklah, kepala,” kata wanita tua itu, “aku akan segera berangkat ke jembatan.”

Setelah melilitkan kerudungnya, dia keluar. Tengah malam dia tiba di tempat dia bertemu kepala itu beberapa jam sebelumnya.

“Syauki! Syauki! Syauki!” teriaknya, dan tiba-tiba seorang jin kulit hitam besar, setinggi raksasa, berdiri di jembatan di hadapannya.

“Apa yang kamu inginkan?” tanyanya.

“Kepala, tuanmu, memintamu untuk membuka peti itu, dan memberikanku kantong hijau yang akan kamu temukan di dalamnya.”

“Aku akan kembali sebentar lagi, ibu yang baik,” katanya. Dan tiga menit kemudian dia meletakkan dompet penuh uang dirham perak di tangan wanita tua itu.

Tidak terbayangkan betapa girangnya keluarga itu saat melihat kantong uang perak itu. Pondok kecil yang reyot itu dperbaiki. Gadis-gadis itu memiliki gaun baru, dan ibu mereka berhenti menjual kerudung. Memiliki uang untuk dibelanjakan adalah hal yang baru bagi mereka, sehingga mereka tidak berhati-hati sebagaimana mestinya, dan lama-kelamaan tidak ada satu uang logam perak pun yang tersisa di kantong itu. Hati mereka hancur, dan wajah mereka muram.

“Apakah kalian telah menghabiskan uang dari kantong hijau?” tanya kepala dari pojok tempat dia bersemayam, ketika melihat betapa sedihnya mereka. “Baiklah, pergilah tengah malam, ibu yang baik, ke jembatan, dan panggil ‘Bulbul!’ tiga kali, sekeras yang kamu bisa. Seorang jin kulit hitam keriting akan muncul sebagai jawaban, dan kamu harus menyuruhnya membuka peti, dan memberikanmu kantong merah yang akan ditemukannya di sana.”

Wanita tua itu tidak perlu diberi tahu dua kali. Dia langsung berangkat ke jembatan.

“Bulbul! Bulbul! Bulbul!” teriaknya dengan sekuat tenaga. Dalam sekejap seorang jin kulit hitam yang lebih besar dari yang sebelumnya berdiri di depannya.

“Apa yang kamu inginkan?” tanyanya.

“Kepala, tuanmu, meminta kamu membuka peti, dan memberiku kantong merah yang akan kamu temukan di dalamnya.”

“Baiklah, ibu yang baik, aku akan melakukannya,” jawab jin kulit hitam keriting tersebut. Sesaat setelah dia menghilang, dia muncul kembali dengan kantong nerah di tangannya. Kali ini uangnya berupa dinar emas, tampak tak terbatas, sehingga wanita tua itu membangun rumah baru  dan mengisinya dengan barang-barang terindah yang dapat ditemukan di bazar. Anak-anak perempuannya mengenakan kerudung yang tampak bagai ditenun dari sinar matahari, dan gaun mereka berkilau dengan batu mulia.

Para tetangga bertanya-tanya dari mana semua kekayaan mendadak ini muncul, tetapi tidak seorang pun tahu tentang kepala itu.

“Ibu yang baik,” kata kepala itu, suatu hari. “Pagi ini kamu harus pergi ke kota dan meminta sultan untuk memberikan putrinya kepadaku untuk menjadi pengantinku.”

“Melakukan apa?” ​​tanya wanita tua itu dengan heran. “Bagaimana aku akan memberi tahu sultan bahwa kepala tanpa tubuh ingin menjadi menantunya? Mereka akan mengira aku sudah gila, dan aku akan dicemooh dan diusir dari istana dan dilempari batu oleh anak-anak.”

“Lakukan apa yang aku minta,” jawab kepala itu. “Itu adalah keinginanku.”

Wanita tua itu takut untuk menolak permintaan kepala, dan, mengenakan pakaiannya yang paling mewah, bergegas menuju istana.

Sultan segera dia untuk bicara, dan dengan suara gemetar, dia mengajukan permintaannya.

“Apakah kamu gila, wanita tua?” kata sultan sambil menatapnya.

“Pemohon itu sangat sakti, wahai Sultan, dan tidak ada yang mustahil baginya.”

“Benarkah itu?”

“Benar, wahai Sultan. Aku bersumpah,” jawabnya.

“Kalau begitu, biarkan dia menunjukkan kesaktian dengan melakukan tiga hal, dan aku akan memberinya putriku.”

“Perintahlah, wahai Sultan yang mulia,” kata wanita tua.

“Apakah kamu melihat bukit di depan istana?” tanya sultan.

“Aku melihatnya,” jawabnya.

“Baiklah. Dalam empat puluh hari orang yang mengirimmu harus membuat bukit itu lenyap dan membangun taman yang indah di tempatnya. Itu yang pertama. Sekarang pergilah, dan katakan padanya apa yang kukatakan.”

Maka wanita tua itu kembali dan memberi tahu kepala tentang syarat pertama sultan.

“Baiklah,” jawabnya; dan tidak mengatakan apa-apa lagi.

Selama tiga puluh sembilan hari kepala itu tetap berada di sudut kesukaannya. Wanita tua itu berpikir bahwa tugas yang diberikan sultan di luar kemampuannya, dan bahwa tidak akan ada lagi yang mendengar tentang putri sultan itu. Namun pada malam ketiga puluh sembilan setelah kunjungannya ke istana, kepala itu tiba-tiba berbicara.

“Ibu yang baik,” katanya, “Malam ini kamu harus pergi ke jembatan, dan sesampainya di sana berteriaklah ‘Ricat! Ricat! Ricat!’ sekeras yang kamu bisa. Seorang jin kulit hitam akan muncul di hadapan Anda, dan Anda akan mengatakan kepadanya bahwa ia harus meratakan bukit, dan sebagai gantinya, membangun taman terindah yang pernah ada.”

“Aku akan segera pergi,” jawabnya.

Tidak butuh waktu lama bagi wanita tua untuk mencapai jembatan yang mengarah ke kota, dan dia segera mengambil posisi di tempat pertama kali melihat kepala  dan berteriak keras “Ricat! Ricat! Ricat!”

Dalam sekejap, seorang jin kulit hitam muncul di hadapannya dengan tubuh yang sangat besar sehingga wanita tua itu setengah ketakutan. Tetapi suaranya yang lembut dan halus berkata: “Apa yang Anda inginkan?” “Tuanmu memerintahkanmu untuk meratakan bukit di depan istana sultan dan membangun taman terindah di dunia di tempatnya.”

“Katakan pada tuanku bahwa perintahnya akan dipatuhi,” jawab Ricat. “Perintah itu dilaksanakan saat ini juga.”

Wanita tua itu pulang dan menyampaikan pesan Ricat kepada kepala.

Sementara itu, sultan berada di istananya menunggu hingga fajar menyingsing, dan bertanya-tanya mengapa tidak ada satu sekop tanah pun yang digali dari bukit.

Kalau wanita tua itu mempermainkanku, pikirnya, aku akan menggantungnya! Dan aku akan memasang tiang gantungan besok di bukit itu dengan tanganku sendiri.”

Namun, ketika fajar menyingsing tiba, tidak ada bukit, dan ketika sultan membuka matanya, dia tidak dapat membayangkan mengapa ruangannya jauh lebih terang dari biasanya, dan aroma harum bunga memenuhi udara.

“Mungkinkah ada api?” katanya pada dirinya sendiri. “Matahari tidak pernah masuk melalui jendela ini sebelumnya. Aku harus bangun dan melihat.”

Maka sultan bangun dan membuka jendela untuk melihat keluar. Di bawahnya bunga-bunga dari berbagai wilayah dunia sedang mekar, dan tanaman merambat dengan berbagai warna tergantung dalam rantai dari pohon ke pohon.

Kemudian dia teringat.

“Tentu saja putra wanita tua itu adalah seorang penyihir yang sakti mandraguna!” serunya. “Aku tidak pernah bertemu orang sesakti dia. Apa yang harus kulakukan selanjutnya? Coba kupikirkan. Ah! Aku tahu.”

Lalu dia memanggil wanita tua itu, yang atas perintah kepala suku, sedang menunggu di bawah.

“Putramu telah melaksanakan keinginanku dengan sangat baik,” katanya. “Taman itu lebih besar dan lebih bagus daripada taman raja mana pun. Tapi saat aku berjalan melintasinya, aku akan membutuhkan tempat untuk beristirahat di sisi yang lain. Dalam empat puluh hari dia harus membangunkanku sebuah istana, yang setiap ruangannya akan diisi dengan perabotan yang berbeda dari negara yang berbeda, dan masing-masing lebih megah daripada ruangan mana pun yang pernah terlihat.” Dan setelah mengatakan ini dia berbalik dan pergi.

“Dia tidak akan pernah bisa melakukan itu,” pikir si wanita tua. “Permintaan ini jauh lebih sulit daripada bukit.” Lalu dia berjalan pulang dengan kepala tertunduk.

“Baiklah, apa yang harus kulakukan selanjutnya?” tanya kepala dengan riang. Dan wanita tua itu menceritakan permintaan sultan.

“Astaga! Hanya itu?  Ini seperti permainan anak-anak,” jawab kepala , dan tidak lagi membicarakannya selama tiga puluh sembilan hari.

Kemudian dia menyuruh wanita tua itu pergi ke jembatan dan memanggil Luki.

“Apa yang kauinginkan, wanita tua?” tanya Luki, ketika dia muncul. Dia memang tidak sesopan yang lain.

“Tuanmu memerintahkanmu untuk membangun istana yang paling megah yang pernah ada,” jawab wanita tua. “Dan kamu harus meletakkannya di perbatasan taman baru.”

“Dia harus dipatuhi,” jawab Luki.

Ketika sultan terbangun, dia melihat di kejauhan, sebuah istana yang dibangun dari marmer biru langit, bertumpu pada pilar-pilar ramping dari emas murni.

“Putra wanita tua itu tentu sangat berkuasa,” serunya. “Apa yang harus kulakukan sekarang?”

Setelah berpikir beberapa saat, dia memanggil wanita tua itu yang sedang menunggu dipanggil.

“Taman itu indah, dan istana itu yang terbaik di dunia,” kata sultan. “Begitu indahnya, sehingga pelayan-pelayanku hanya akan nmejadi pajangan yang menyedihkan di dalamnya. Suruh putramu mengisinya dengan empat puluh pelayan yang kecantikannya tak tertandingi, semuanya persis sama, dan tingginya sama.”

Kali ini sultan mengira dia telah mengajukan syarat mustahil dipenuhi, dan cukup senang dengan dirinya sendiri atas kepintarannya.

Tiga puluh sembilan hari berlalu, dan pada tengah malam pada malam terakhir wanita tua itu berdiri di jembatan. “Sapri! Sapri! Sapri!” teriaknya.

Seorang jin hitam kelam muncul, dan menanyakan apa yang diinginkannya.

“Kepala, tuanmu, memintamu menemukan empat puluh pelayan dengan kecantikan yang tak tertandingi, dan tingginya sama, dan menempatkan mereka di istana sultan di sisi lain taman.”

Pada pagi hari keempat puluh, sultan pergi ke istana biru dan diterima oleh empat puluh pelayan. Sultan hampir kehilangan akal karena terkejut.

Aku pasti akan memberikan putriku kepada putra wanita tua itu, pikirnya. Meski aku mencari ke seluruh dunia, aku tidak akan pernah menemukan menantu yang lebih habeat darinya.

Dan ketika wanita tua itu masuk ke hadapannya, dia memberi tahu bahwa dia siap memenuhi janjinya, dan dia harus meminta putranya datang ke istana tanpa penundaan.

Perintah ini sama sekali tidak menyenangkan wanita tua itu, meskipun, tentu saja, dia tidak keberatan dengan sultan.

“Semuanya berjalan baik sejauh ini,” gerutunya, ketika dia menceritakan kisahnya kepada kepala, “tetapi menurutmu apa yang akan dikatakan sultan, ketika dia melihat suami putrinya?”

“Tidak usah pedulikan apa yang dia katakan! Taruh aku di piring perak dan bawa aku ke istana.”

Begitulah yang dilakukan, meskipun jantung wanita tua itu berdebar kencang saat dia meletakkan piring dengan kepala di atasnya.

Saat melihat pemandangan di depannya, raja menjadi sangat marah.

“Aku tidak akan pernah menikahkan putriku dengan monster seperti itu,” teriaknya. Namun sang putri mengambil kepala dan menggendongnya dengan lembut di lengannya.

“Ayahanda Sultan, Ayahanda telah berjanji, dan janji tidak boleh diingkari,” katanya.

“Tetapi, anakku, tidak mungkin bagimu untuk menikahi makhluk seperti itu,” seru sultan.

“Ya, aku akan menikahinya. Dia memiliki kepala yang bagus, dan aku sudah mencintainya.”

Maka, pernikahan itu pun dirayakan, dan pesta-pesta besar diadakan di istana, meskipun orang-orang meneteskan air mata memikirkan nasib menyedihkan putri kesayangan mereka.

Namun, ketika pesta pora selesai, dan pasangan muda itu sendirian, kepala itu tiba-tiba menghilang, atau, lebih tepatnya, tubuh ditambahkan padanya menjadi seorang pemuda paling tampan berdiri di hadapan sang putri.

“Seorang peri jahat menyihirku saat aku lahir,” katanya, “dan bagi seluruh dunia, aku harus selalu menjadi kepala saja. Namun bagimu, dan hanya untukmu, aku adalah manusia seperti manusia lainnya.”

“Dan hanya itu yang kuinginkan,” kata sang putri dengan mesra menatap suaminya.

Cikarang, 19 Oktober 2024

Disadur dari “The Enchanted Head” (The Brown Fairy Book, Andrew Lang).

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *