Kami duduk, semuanya tujuh orang, di sebuah ruangan dengan dinding putih seperti kamar operasi, dan untuk pertama kalinya sejak tiba di sini aku merasa tidak nyaman. Menjadi seorang pecandu adalah hal biasa, tetapi menjadi pecandu … pada apa yang membuat kami semua kecanduan … benar-benar memalukan.
Alkohol, narkoba, seks, semuanya adalah kecanduan yang lebih baik.
Semakin cepat kegilaan ini berakhir, semakin baik.
“Oke,” kata moderator, seorang pria yang cukup ramah bernama Ren. Dia tampak seperti tipe pria yang menari mengikuti lagu “I Love The Night Life” saat tidak ada yang melihat.
Dengan kata lain, dia tidak bisa dipercaya.
“Siapa yang mau mulai duluan?”
Kami semua saling memandang, berharap ada yang mengajukan diri.
Wanita yang duduk tepat di seberangku berpura-pura pingsan, seolah-olah itu bisa membuatnya sembuh dari kecanduan. Dia tidak terlalu meyakinkan, dan beberapa detik kemudian duduk tegak kembali dan berdehem.
“Ayo,” kata Ren, “kita semua di sini untuk hal yang sama. Tidak ada yang perlu malu. Bagian tersulit adalah melewati pintu itu.” Dia menunjuk ke pintu yang dimaksud, dan sejujurnya tidak banyak yang bisa dilihat. Gagang pintu yang bagus, sepotong perekat double tape di bagian dalam, tetapi selain itu tidak ada yang istimewa.
“Ditambah lagi, kita hanya punya waktu setengah jam. Klub karate akan masuk ke sini pukul delapan, dan saya harus menggeser kursi-kursi.”
Aku berharap aku tidak pernah datang. Aku bisa saja berada di rumah, makan margarin dan minum pewarna makanan. Aku belum selesai belanja besar setiap minggu, jadi camilan agak sulit didapat.
“Kamu!” kata Ren, mengacungkan jarinya ke arahku. Itu bahkan bukan jarinya, sesuatu yang pasti segera dia sadari saat dia memasukkannya kembali ke saku jaketnya. “Um, ya, siapa namamu?”
“Memphis,” kataku. “Randall Memphis Raines.”
Semua orang di ruangan bersorak. Aku merasa konyol, hampir menyesal berganti nama dari Alipudin Safrian melalui surat keterangan dari kantor walikota sekitar lima tahun yang lalu.
Tapi itulah yang dimaksud menjadi pecandu. Melakukan hal-hal yang biasanya tidak kamu lakukan. Tidak kalau kamu waras, seperti yang dibuktikan oleh Ford Mustang Shelby GT500 hitam tiruan rakitan karoseri yang diparkir di depan.
“Baiklah, Tuan Memphis, mengapa Anda tidak memulainya?”
Ada desahan lega, dan juga suara mencicit dari suatu tempat di sekitarku. Aku tidak ingin melakukan ini, menjadi orang pertama yang mengakui bahwa aku menderita kecanduan yang memalukan ini, tetapi aku tahu tidak ada gunanya berdebat dengan Ren.
Lebih baik berdiri saja, katakan apa yang aku rasakan, duduk, lalu diam.
“Baiklah,” kataku, bangkit perlahan dari kursi. Semua mata tertuju padaku.
Pintu terbuka sedikit dan seorang pria kecil dengan karategi putih menjulurkan kepalanya, meminta maaf sebesar-besarnya, dan menghilang lagi.
Dia tidak benar-benar menghilang. Tidak bijaksana untuk mencampuradukkan karate dengan ninja.
“Silakan, kapan pun Anda siap,” kata Ren, tetapi dengan nada yang menunjukkan bahwa aku harus berusaha keras.
Aku berdehem dua kali, menyeka keringat dari kening, melepaskan satu kancing atas kemeja, dan berkata, “Namaku Randall Memphis Raines, dan aku kecanduan film-film Nicolas Cage.”
“Hai, Memphis!” semua berkata serempak.
Beberapa orang bertepuk tangan, sampai Ren mengangkat tangannya untuk membungkam mereka.
“Silakan lanjutkan,” kata moderator, bersandar di kursinya dan meletakkan satu kaki di atas kaki lainnya.
“Baiklah,” kataku. “Sampai tadi malam, aku menjalani minggu yang baik. Aku berhasil membatasi asupanku hanya untuk tiga kali Face/Off, setengah jam Con Air, dan trailer Sympathy for the Devil. Tapi entah mengapa, tadi malam semuanya jadi kacau. Aku … aku tidak tahu kerasukan setan apa—mungkin stres di tempat kerja, atau kenyataan bahwa aku belum mendengar kabar dari istriku selama hampir dua puluh tahun lima tahun—apa pun alasannya, itu bukan alasan untuk kambuhnya kecanduanku.”
Aku menundukkan kepala karena malu, tiba-tiba menyadari bahwa ruangan itu sunyi senyap.
“Kami semua di sini untukmu, Memphis,” kata Ren.
Aku menelan ludah dan mengangkat kepala sekali lagi.
“Tadi malam,” kataku, “aku menonton The Wicker Man sampai selesai.”
Terdengar desisan kecewa, dan seseorang—aku yakin itu adalah wanita yang pingsan—melemparkan boneka kelinci Con Air ke arahku.
“Hei!” kataku. “Aku pikir kita semua sama di sini, kan? Jadi, aku memang suka semua film Nicolas Cage, bahkan yang buruk sekali pun.”
Namun, aku tahu mengapa mereka semua sangat kecewa padaku, dan bisa memahami kemarahan mereka.
Kalau Leaving Las Vegas adalah narkoba terbaik yang bisa dibeli dengan uang, The Wicker Man adalah jarum suntik berkarat, penuh dengan virus AIDS dan sifilis dan aksara hepatitis, dari A sampai Omega yang bisa kamu pikirkan.
Aku kambuh dengan cara yang paling mengerikan yang bisa dibayangkan, dan akan butuh waktu berminggu-minggu bagiku untuk keluar dari lubang yang kugali sendiri.
“Apakah kamu mengalami gejala sakaw hari ini?” tanya Ren, mengusap dagunya seperti yang dilakukan terapis saat mereka mencoba untuk tampak tertarik.
“Aku … Aku meredakan ketegangan pagi ini dengan menonton maraton National Treasure, tetapi…” Aku terduduk lemas di kursiku, terisak-isak seperti bayi dan meniupkan gelembung balon ingus dari hidungku, yang telah kuoperasi dibuat bengkok, sehingga tampak seperti hidung idolaku.
“Aku memalukan!” teriakku. “Aku terus memikirkannya, di atas raksasa yang terbakar itu, dihujani sengatan lebah! Oh, betapa manusiawinya! Oh, kumohon, aku butuh bantuan!”
“Sudah selesai?” tanya pria karate dari pintu. Dia tampak bersemangat ingin mempraktikkan cudan geri ke beberapa anak.
“Lima menit,” kata Ren kepadanya, tetapi aku sudah berdiri, menyeka air mata dri pipiku dan bersiap keluar.
“Aku tidak bisa melakukan ini lagi,” kataku.
Aku dalam tahap denial, karena siapa aku yang berpikir bahwa ada obat untuk penyakitku? Siapa aku yang menyangkal pemujaanku pada Nicolas Cage?
Aku mengucapkan selamat tinggal, pergi dalam 60 detik dengan lagu “Painted on My Heart” dari The Cult mengiring langkahku.
Cikarang, 23 Oktober 2024

