Lidah Pembunuh
dok. pri. Ikhwanul Halim

Lidah Pembunuh

Views: 17

Di dalam kepalamu, kamu menyembunyikan lidah pembunuh. Lidah itu berbeda dengan lidah orang-orang yang ada di sekitarmu. Kalau kamu mengucapkan sepatah kata dengan lidah itu, akan terjadi pembunuhan, dan kamu belum menemukan siapa pelakunya. Maka, kamu menyembunyikan lidahmu dan menjadi bisu, sementara di sekelilingmu orang-orang mengoceh dan berceloteh. Ucapan mereka menyatu dalam dengung omong kosong yang menyebabkan empedu naik di tenggorokanmu, tetapi kamu tidak berani membuka mulut untuk muntah. Tidak berani mengambil risiko memperlihatkan lidah pembunuhmu di depan umum.

Di rumah, kamu punya ranjang, kursi, kompor, wastafel, kloset, dan rak.

Malam hari, kamu berbaring di ranjang mengamati langit-langit, melihat tulisan-tulisan dalam pola noda dan perubahan warna. Tulisan-tulisan dalam aksara yang tidak diketahui. Sejauh yang kamu tahu adalah aksara tempat kata-kata lidah pembunuhmu ditulis. Kalau kamu mengucapkannya dan dengan demikian mengetahuinya.

Kamu duduk di kursi hampir sepanjang hari, menganyam keranjang yang kamu jual di tengah jalan. Atau di ujung jalan. Dan kamu diberi uang receh sebagai imbalan.

Sebagai orang bisu, kamu memang mempunyai kekurangan, tetapi tidak sampai menjadi beban masyarakat.

Kamu membeli bubur ayam dan kopi di warung pojok dan terkadang buah dan kacang untuk camilan. Kamu memasak dengan kompor kecil, membeli gas elpiji sebulan sekali, dan mencuci semuanya, termasuk dirimu, dengan air dari wastafel. Manfaat toilet jelas.

Tentang rak, kamu mengisinya dengan buku catatan, semuanya kosong. Ada juga pulpen dan pensil.

Suatu hari, mungkin, kamu akan dapat menulis apa yang tidak berani kamu ucapkan dengan bahasa pembunuh ini.

Terkadang kamu berjalan di jalan tanpa tujuan tertentu. Kamu melihat orang-orang menjalani hidup mereka, berbicara dengan bahasa mereka yang normal, aman, sehari-hari, dan dapat diterima. Dan kamu bertanya-tanya tentang ibu dan ayahmu, dan dosa atau kesalahan apa yang ada pada diri mereka atau darah mereka yang memberi kamu bahasa pembunuh ini.

Dan kamu menggigit lidahmu menahan agar kamu tidak berteriak atas ketidakadilan, dan kamu pulang lalu duduk di ranjang, membuka buku catatan kosong, menatap halaman-halamannya yang kosong, lalu menyimpannya karena waktu terbuang sia-sia dan kamu harus menganyam keranjang karena tidak aman bagimu untuk menganyam kata-kata.

Tetapi suatu hari nanti kamu akan melakukannya. Dan pada hari itu kamu akan tahu pembunuhan siapa yang diramalkan oleh lidahmu. Untuk saat ini, itu adalah rahasia yang hanya diketahui oleh lidahmu, lidah pembunuh, terbungkus dan terkekang, berbeda dari semua orang lain di negeri ini yang tidak berani berbicara.

Kamu bermimpi.

Kamu berada di atas podium di alun-alun kota. Kamu berbicara dengan fasih, bernyanyi dengan indah. Semua orang berkumpul, sekarat karena gembira mendengar ucapanmu. Semua orang mendengarmu, menatapmu, mengenalmu, memelukmu. Bahkan saat kematian menghampiri mereka.

Hanya kamu yang tidak dapat mendengar dirimu sendiri. Hanya kamu yang tidak tahu apa yang kamu bicarakan, apa yang kamu nyanyikan.

Ketika kamu lanjut berbicara dan bernyanyi, kamu tak berdaya mendengar, tak berdaya berhenti, tak berdaya saat kerumunan terakhir berkumpul di sekitarmu. Kegembiraan berubah menjadi amarah, bertekad membunuhmu dan membawamu bersama mereka.

Kamu terbangun dan menggigil. Lidah pembunuh berkedut di mulutmu yang kering.

Kamu mengisi gelas dari keran dan meneguk rasa takutmu, meneguk empedumu yang pahit, meneguk kata-katamu yang artinya tidak kamu mengerti.

Tidak malam ini, katamu pada diri sendiri.

Tidak malam ini, tidak besok.

Mungkin tidak akan pernah.

Cikarang, 24 Oktober 2024

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *