Pemutih
dok. pri. Ikhwanul Halim

Pemutih

Views: 22

Induk semangku berada di luar jendela sambil bernyanyi, atau membaca mantra, dan membuat bayang-bayang. Dia mungkin seorang penyihir.

Kudengar penyihir mulai populer lagi.

Dia punya dua kucing dan seorang putri berusia 17 tahun. Semuanya penyihir, begitulah menurutku.

Sebagai bagian dari perkumpulan penyihir, menurutku mereka diharuskan untuk membakar lilin, membuat dan menjual azimat murahan, dan membaca mantra kepada orang lain dengan bersikap kekanak-kanakan, atau pura-pura. Terkadang mereka berdiri di dekat jendela kamar mandi sambil mengeringkan diri setelah mandi. Aku tidak yakin tentang pentingnya kegiatan ini, tetapi aku terus mengawasi, mengamati udara untuk mencari petunjuk.

Burung gagak berkumpul di puncak pohon, satu demi satu. Begitulah cara burung gagak seperti biasanya. Lalu mereka menyerangmu, mematuk tangan dan kakimu.

Siapa yang memberi mantra perintah, itulah yang ingin kuketahui. Cukup banyak dari mereka dan mereka bisa mengangkat seekor anjing pitbull dewasa dari tanah.

“Mengapa lampu menyala di tengah hari?” tanya induk semangku.

“Entahlah,” kataku, membela diri.

Penelitian terkini mengatakan bahwa burung gagak sama pintarnya dengan gorila. Mereka punya bahasa sendiri, tetapi akan berbicara bahasa daerah asalnya kalau terpaksa. Mereka tahu siapa kamu, dan dapat mengenali kamu di antara kerumunan massa, kalau perlu.

Aku menutup wajahku dengan tanganku, menatap mereka di antara jari-jari yang terbuka. Mitologi menunjukkan bahwa mereka adalah pembawa pesan kematian.

“Aku bicara padamu,” kata induk semangku.

“Aku tahu.”

Kemudian, sambil menggeser kursiku, “Burung gagak,” teriakku.

“Kamu baik-baik saja?”

“Maaf, maaf.”

“Kenapa tidak jalan-jalan saja?” tawarnya.

“Kamu benar,” kataku. “Aku akan jalan-jalan. Terima kasih. Terima kasih. Kamu benar sekali. Terima kasih.”

Aku berjalan di jalan-jalan pinggiran kota selama berjam-jam, menemukan jalan setapak menembus hutan, tersesat, seolah-olah aku berada di negeri dongeng tempat aku diajari pelajaran mistis dan dilayani oleh makhluk-makhluk di tempat yang gelap dan lebat ini. tetpai tidak, jalan itu berakhir, secara ajaib, di Kafe Cerita Hari Ini.

Aku berjalan ke bar dan memesan kopi hitam, mengamati sekeliling, sesama pengunjung, terdorong ke sudut-sudut gelap, memimpikan mimpi mereka dengan lantang, kamu tahu, mimpi penuh harapan.

Raka muncul, melangkah bebas dari kerumunan, dan duduk di sebelah kiriku.

“Gila juga, ya?” kataku.

Dia mengangguk dan mengetuk cangkirnya yang kosong. Barista mengambilnya, kembali dengan isi ulang, meletakkannya di atas tatakan gelas bersama tisu serbet baru.

Dilapisi busa, cangkir itu memancarkan cahaya kuning. Dia mengambil lembar lima puluh dari tumpukan uangku dan mengembalikan uang receh.

Raka bercerita tentang perjalanannya ke Inggris, bermain dengan sebuah band di gedung pertunjukan yang pernah dibom Jerman.

“Nazitown. Semua orang dibom,” katanya. “Aku mabuk karena satu atau lain obat-obatan sepanjang waktu. Di sana kamu harus mabuk. Aku tidur di lantai kayu keras beralaskan jaket, berbaring di samping genangan air kencing. Itulah Eropa.”

Dia menghabiskan minumannya. “Ngomong-ngomong, aku akan pergi bulan Desember.”

Dia mengamati barista. “Bukankah namanya Anna? Itu nama Jerman. Mereka suka sekali menderita.”

Dia mengetuk kayu, berdiri, dan berjalan menyeberangi bar.

Setelah beberapa saat aku tidak sanggup minum kopi lagi. Waktu tampaknya telah menemukan semacam stasis di sini. Semua orang menempel dalam ruang, dalam posisi tertentu, sesuai keinginan mereka.

Ada teras di belakang.

Senja.

Seorang wanita duduk sendirian.

“Sejuta tahun yang lalu,” aku mulai, “ketika pohon berjalan di bumi,” wanita itu mengangguk dan tersenyum, “hewan terbang di antara awan, contohnya burung, tidak ada yang benar-benar padat saat itu. Otak kita dulu, dan sekarang masih, sebagian besar air. Atmosfer bumi juga.Samar, noda miasmal berawan tebal, seperti permen rambut nenek, tapi basah. Tetapi orang-orangnya mabuk dan memakai baju zirah untuk melindungi dan membebani mereka, sehingga tulang-tulang mereka bisa terbentuk, dan mengeras. Kalau dipikir-pikir lagi, ini setidaknya satu miliar tahun yang lalu saat gravitasi lebih lemah daripada sekarang.”

Dia mengumpulkan barang-barangnya.

“Ngomong-ngomong,” lanjutku, “dulu kita hanyalah janin raksasa yang pemarah. Ditinggalkan, buta, dan berlumuran darah.”

Dia menegakkan bahunya.

“Karena buta, kita bergerak ke arah suara, kita menggerakkan tubuh kita di angkasa, menangkap hewan dengan tangan kita, mencabut jantung mereka yang berdetak, dan mengangkatnya ke langit. Mau ke mana?”

Aku kembali duduk di kursiku dan melihat bulan membesar. Aku merasakannya menarik pinggangku. Aku menerima pesan, yang dikirim melalui sinar bulan bahwa seseorang di suatu tempat sedang menungguku, untuk meledakkanku.

Itulah puisi.

Sekarang, aku mengerti. Akhirnya. Semua puisi cinta yang terpaksa kubaca di SMA. Musiknya tidak kumengerti, sampai sekarang.

Aku berdiri dan bergerak lagi.

Kucing-kucing liar di kota menjadikan aku pemimpin mereka. Aku yakin itu karena ketidakpedulianku.

“Jangan ikuti aku,” kataku pada mereka.

Aku berhenti di rumah Ishi. Dia sudah di tempat tidur.

“Apa yang kalian lakukan padaku?” tanyaku.

“Kemarilah,” katanya. “Aku punya pekerjaan untukmu.”

Mungkin ini akan meringankan rasa sakitku, menjadikanku berguna.

Aku berlutut.

Dia menarik rambutku, dan mengerang. Setelah itu, berbaring dalam pose kontemplatif.

“Apa yang terjadi padaku?”

Dia membuka matanya. “Apakah kau masih di sini?”

“Tidak, tidak apa-apa,” kataku, membuka pakaian. “Aku mengerti sekarang. Aku mengerti banyak hal … seperti puisi dan alam. Sains. Studi tentang manusia. Kera telanjang. Kenali dirimu sendiri. Semua omong kosong itu.”

“Tarik celanamu ke atas, aku lelah.”

“Kupikir, mungkin … aku mendapat wangsit.”

“Tarik celanamu ke atas, aku lelah.”

“Kupikir, mungkin … aku mendapat wahyu.”

“Kau harus pergi,” katanya. “Sudah larut malam.”

“Ujung-ujung sarafku berbunyi blip, blip, blip,” kataku. “Tulang belakangku terasa seperti timah cair. Aku melihat sesuatu …”

“Ambil ini,” katanya dan menyerahkan kartu chiropractor-nya kepadaku.

“Aku akan mengunjunginya terlebih dahulu,” kataku. “Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih.”

Aku kembali ke bar. Melihat sekeliling mencari Raka.

Dia duduk sendirian, membungkuk di atas meja dengan punggungnya menghadap pintu seperti James Bond yang bermain poker di Casino Royale.

Aku berhenti di sebelahnya. Dia bergeming.

“Menunggu peluru?” tanyaku.

Pada waktu tutup, kami berada di jalan dengan enam kaleng bir, berjalan di halaman rumah sakit jiwa yang dikelola negara. Bangunan-bangunannya telah hancur.

Aku ingat gubernur kami menunjukkan pemahamannya terhadap orang-orang dan berbagai isu ketika dia menyatakan bahwa solusi untuk krisis yang dihadapi masyarakat terkait dengan penghuninya yang sakit mental di lokasi ini adalah dengan membangun pagar yang lebih tinggi.

Apalah kita, pada pandangan pertama, bagi jiwa-jiwa yang sedih dan terputus hubungan ini?

Tidak lebih nyata atau substansial daripada penampakan. Sebuah gambar buram yang tak terkendali dan tak berbentuk. Berkat terapi dan pengobatan, kita mewakili sesuatu yang tidak lagi bisa dipercaya.

Aku tidur sampai siang, lalu menelepon chiropractor. Beruntung sekali, dia bisa menerimaku pukul satu. Aku parkir di tempat parkir di luar pusat perbelanjaan. Kesehatan membaik, tinggal belanja lagi.

Bel kecil berbunyi ketika aku masuk. Sekretarisnya, yang penuh dengan keceriaan palsu yang agresif, menyeretku ke ruang samping tempat aku diperlihatkan sebuah video, diberi formulir untuk diisi. Tepat ketika aku menandatangani namaku, masuklah seorang pria yang gesit dan kompak, yang berasal dari lingkungan chiropractor.

Dia menguasai pola profesi pilihannya, berbicara dengan fasih tentang subluksasi dan pembayaran bersama. Meskipun aku sedikit terlena terkantuk-kantuk saat dia berbicara, dia melihatku sebagai orang yang sangat percaya.

Setelah melakukan penyesuaian pada leher dan punggungku, dia meresepkan teh jahe sereh, “… untuk menyegarkan kembali aliran air di tulang belakang Anda,” katanya.

“Anda mungkin akan demam,” katanya. “Jangan khawatir, itu akan membakar kotoran. Jangan minum apa pun untuk meredakannya. Mungkin sesuatu yang lebih halus akan terjadi.”

“Aku merasa seperti isi perutku sedang dikeluarkan,” kata saya.

Dia berkedip. “Kembalilah besok.”

Dia menjabat tanganku dan menuntunku ke pintu.

“Pada bulan Desember saya akan memberikan ceramah tentang flu burung dan sistem kekebalan tubuh.”

“Apa hubungannya itu denganku?” tanyaku khawatir.

“Orang-orang khawatir,” katanya.

“Oh, oke. Sampai jumpa besok.”

Aku pulang ke rumah, mengurung diri di balik empat tembok, di atas ranjang. Membuatku kelaparan karena tidak ditemani siapa pun. Tidak berbicara kepada siapa pun tentang gejala-gejalaku, atau tidak adanya gejala-gejala. Meringkuk di atas kasur, menjaga kamar tetap gelap, menderita dalam keheningan. Keheningan yang disela atau dipertahankan oleh dengingan di telingaku, yang merupakan suara bising yang terus-menerus.

Bagaimanapun, tidak ada pilihan selain mendengarkan desakan yang melengking dan tak tergoyahkan, membiarkan ketidaksabaran layu, menyerah atas apa pun yang akan terjadi jika dibiarkan begitu saja.

Ketidaksabaran, ketika kamu memeriksa artinya, adalah satu-satunya kejahatan sejati. Ketidaksabaran adalah penyebab yang mempertanyakan keberadaan kejahatan itu sendiri, kalau kamu mengerti maksudku.

Ya, kamu juga akan bersih seperti burung dara dalam mangkuk abu, kalau kamu mengerti maksudku.

Beberapa minggu kemudian, saya adalah Lazarus, baru saja keluar dari makam, pucat dan kurus, bersandar pada Daihatsu Gallant silver pupus, batuk di tanganku. Udara kering dan tipis, menurut napasku yang berat, di bawah langit yang dalam dan berdenging saat penyakitku ini menular ke pepohonan.

Daun-daun menggulung di dahannya dan jatuh. Aku melihat mereka jatuh satu per satu dan juga bersamaan. Aku melihat mereka dengan sabar membiarkan semua indraku tertusuk, seolah-olah saya sedang diawasi.

Ini malam hari, malam hari kerja.

Aku mendengar dari semua sudut suara binatang dan manusia. Mereka membuat rencana, bergosip, berdesak-desakan, berdebat, dan berteriak di tengah gumaman yang terus-menerus: keluhan hidup, dalam cahaya terakhir yang memudar.

Aku menggosok tanganku melawan dingin. Udara dan bumi menjadi dingin karena perputaran Berkali-kali. Musim berganti, satu demi satu.

Ini adalah dunia berkeadaan. Aku merasakan suatu kekuatan bergerak melaluinya. Aku merasakannya, seperti memar di dalam dada, mendengar diriku tertawa.

Lalu aku melangkah dari trotoar dengan perlahan dan mantap, seperti orang yang baru saja bangun, kembali berjalan.

Cikarang, 27 Oktober 2024

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *