Sudoku di Kereta Komuter
dok. pri. Ikhwanul Halim

Sudoku di Kereta Komuter

Views: 24

Orang-orang bermain sudoku di kereta komuter, menyusun angka-angka dalam kotak-kotak yang diatur sesuai dengan panjang rel yang kita lewati. Seakan-akan teka-teki yang mungkin harus mereka pecahkan sebelum memasuki tempat kerja, yang membuat mereka senang.

Saya menikmati cara wanita itu merapikan roknya yang berlipit-lipit saat dia merenungkan isi kotak yang tersembunyi. Empat, saya ingin berbisik di telinganya.

Atau mungkin tiga.

Peluang saya tidak seburuk itu, dan itu mungkin akan memicu semacam percakapan. Dia adalah wanita yang tidak pernah saya ajak bicara. Yang tidak pernah berbicara dengan saya. Saat kami naik kereta komuter.

Ke tempat kerja.

Berbenturan.

Lampu redup dan kembali menyala saat kereta bergerak memasuki kota. Saya tinggal jauh di pinggiran dan kereta komuter harus mendaki ke atas untuk mencapai apartemen saya.

Orang-orang tetap membungkuk di atas buku teka-teki mereka, berpura-pura orang banyak yang berdiri tidak mengincar tempat duduk mereka. Kereta komuter berbau rambut yang masih basah oleh keringat dan kopi yang diminum dengan cepat.

Seorang wanita tua di sebelah saya memegang kantong plastik belanjaan berisi jeruk an wortel. Saya bertanya-tanya ke mana dia pergi. Dia menawari saya wortel dan tersenyum. Say terkesan dengan kebaikannya, tetapi menolak.

Ada angka-angka di kereta ini. Muncul dari udara seperti hantu, buku besar penuh jumlah uang yang tersembunyi.

Pintu kereta terbuka.

Di seberang pagar stasiun ada toko kelontong dan pakaian dalam wanita. Aku dengar seseorang mengatakannya.

Mereka pergi. Dan yang lain menggantikan mereka. Tidak sebanyak yang pergi.

Saat kita menuju pusat kota, kota perlahan-lahan memeras kita seperti petugas pajak.

Seorang pria besar berbaring di kursi, mencengkeram buku sakunya, mendengkur. Hanya beberapa halaman yang tersisa.

Mungkin saya tidak punya gen sudoku, kalau itu yang disebut. Mungkin saya buta sudoku. Ketidakmampuan untuk melihat di mana harus meletakkan digit demi digit, sangat membebani pikiran. Tetapi saya dapat merasakannya di sini, samar-samar, menghuni ruang kosong tempat orang-orang dulu berdiri.

Saya senang melihat pensil yang runcing menggores kertas sambil berdebat dalam hati tentang apa yang akan saya makan untuk makan siang. Nasi padang dengan rendang. Mungkin burger reguler di kafetaria gedung. Atau ikan kembung goreng dengan tempe dan sayur sop di warteg.

Sambil mengamati gerbong yang hampir kosong, saya berhenti, lalu menoleh ke wanita tua itu dan mengangguk dengan cara yang menurutnya berarti saya menerima tawarannya. Dia tersenyum lagi, lebih lebar, dan meraih tasnya. Saya tidak bertanya apakah wortel itu organik. Itu tidak sopan.

Saya mengunyah wortel yang belum dikupas sambil berjalan ke luar dari stasiun. Rasanya seperti angka lima.

Cikarang, 28 Oktober 2024

2 Comments

  1. Waduh, main sudoku. Kalo di kereta yang saya naiki, pada main hengpong, hehehe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *