Dahulu kala, ada sebuah negeri yang sungai-sungainya lebih lebar, hutannya lebih lebat daripada di tempat lain. Hampir tidak ada manusia yang datang ke sana. Yang tinggal di sana hewan-hewan liar dan mereka biasa bermain bersama. Pohon-pohon besar yang dirantai satu sama lain dengan sulur tanaman berbunga merah terang atau kuning, adalah tempat persembunyian yang terkenal bagi monyet-monyet yang bisa mengintai tanpa terlihat, sampai seekor puma atau gajah lewat, lalu melompat ke punggung mereka dan menungganginya, berayun-ayun di dekat tanaman merambat.
Di dekat sungai, kura-kura besar dapat ditemukan dengan mudah, dan meskipun di mata kita seekor kura-kura tampak seperti makhluk yang malas dan lamban, sungguh menakjubkan bahwa sebenarnya mereka sangat cerdik. Sering mereka mengecoh banyak teman mereka yang lebih lincah.
Ada satu kura-kura khususnya yang selalu berhasil mengalahkan semua orang, dan banyak kisah yang diceritakan di hutan tentang perbuatannya yang luar biasa.
Dimulai dengan ketika dia masih sangat muda dan sudah bosan tinggal di dalam rumah bersama ayah dan ibunya.
Suatu hari, dia pergi meninggalkan mereka untuk berpetualang. Di lapangan luas yang terbuka dikelilingi pepohonan, dia bertemu dengan seekor gajah yang sedang makan malam sebelum mandi sore di sungai.
“Mari kita lihat siapa di antara kita berdua yang terkuat,” kata kura-kura muda, berjalan mendekati gajah.
“Baiklah,” jawab gajah, yang geli dengan keangkuhan makhluk kecil itu. “Kapan kamu ingin memulai pertandingannya?”
“Tunggu satu jam lagi, aku masih punya urusan,” jawab kura-kura.
Lalu dia bergegas pergi secepat yang bisa dilakukan kakinya yang pendek.
Di sungai, seekor paus sedang beristirahat, meniupkan air ke udara dan membuat air mancur yang indah. Namun, kura-kura terlalu muda dan terlalu sibuk untuk mengagumi hal-hal seperti itu. Dia memanggil paus, karena dia ingin berbicara dengannya.
“Apakah kamu ingin mencoba siapa di antara kita yang lebih kuat?” tanya kura-kura.
Paus itu menatapnya, menyemburkan air mancur, dan menjawab, “Oh, ya; tentu saja. Kapan kau ingin mulai? Aku sudah siap.”
“Kalau begitu berikan aku salah satu tulangmu yang terpanjang, dan aku akan mengikatnya ke kakiku. Saat aku memberi tanda, kau harus menarik, dan kita akan lihat mana yang bisa menarik paling kuat.”
“Bagus sekali,” jawab paus. Dia mengambil salah satu tulangnya dan memberikannya kepada kura-kura.
Kura-kura mengambil ujung tulang di mulutnya dan kembali ke gajah. “Aku akan mengikat ini ke kakimu,” katanya, “dengan cara yang sama seperti yang diikatkan ke kakiku, dan kita berdua harus menarik sekuat tenaga. Kita akan segera lihat mana yang lebih kuat.” Jadi ia melilitkannya dengan hati-hati di kaki gajah, dan mengikatnya dengan simpul yang kuat. “Sekarang!” teriaknya, sambil melompat ke semak tebal di belakangnya.
Paus menarik salah satu ujung, dan gajah menarik ujung yang lain, dan keduanya tidak tahu bahwa lawan mereka bukanlah kura-kura. Ketika paus menarik paling keras, gajah terseret ke dalam air; dan ketika gajah menarik paling keras, paus ditarik ke daratan. Karena sama-sama kuat, pertandingan menjadi seimbang,. Akhirnya keduanya menjadi sangat lelah, dan kura-kura yang menonton, melihat bahwa paus dan gajah tidak bisa bertanding lagi. maka dia merangkak dari tempat persembunyiannya dan mencelupkan dirinya ke sungai, lalu pergi ke gajah dan berkata, “Aku lihat kamu benar-benar lebih kuat dari yang aku kira. Bagaimana kalau kita anggap seri hari ini?”
Kemudian dia mengeringkan dirinya di lumut dan pergi ke paus dan berkata, “Aku lihat kamu benar-benar lebih kuat dari yang aku kira. Bagaimana kalau kita anggap seri saja hari ini?”
Kedua musuhnya sangat senang diizinkan untuk beristirahat, dan percaya sampai akhir hayat mereka bahwa, kura-kura lebih kuat dari mereka berdua.
Beberapa hari kemudian, kura-kura muda itu sedang berjalan-jalan, ketika ia bertemu seekor rubah, dan berhenti untuk berbicara dengannya. “Mari kita coba,” katanya dengan sikap acuh tak acuh, “siapa di antara kita yang dapat terkubur di dalam tanah selama tujuh tahun.”
“Aku akan senang,” jawab rubah, “hanya saja aku lebih suka kamu yang memulainya.”
“Bagiku itu sama saja,” jawab kura-kura. “Kamu datang saja besok ke sini dan kamu akan melihat bahwa aku telah memenuhi bagianku dari perjanjian itu.”
Maka kura-kura mencari dan menemukan lubang yang nyaman di kaki pohon jeruk. Dia merangkak masuk ke dalamnya, dan keesokan paginya rubah menumpuk tanah di sekelilingnya, dan berjanji untuk memberinya makan setiap hari dengan buah segar. Rubah itu menepati janjinya sehingga setiap pagi saat matahari terbit dia muncul untuk menanyakan bagaimana keadaan kura-kura.
“Baik, tapi aku harap kamu mau memberiku buah,” jawabnya.
“Sayang! Buahnya belum cukup matang untuk kamu makan,” jawab rubah, yang berharap kura-kura akan mati kelaparan jauh sebelum tujuh tahun berakhir.
“Ya ampun, ya ampun! Aku sangat lapar!” teriak kura-kura. “Aku yakin kau pasti lapar; tetapi besok akan baik-baik saja,” kata rubah, berlari kecil, tidak tahu bahwa jeruk-jeruk itu jatuh dari batang pohon yang berlubang, langsung ke lubang kura-kura, dan bahwa ia telah memakan sebanyak mungkin jeruk yang bisa dimakannya.
Begitulah tujuh tahun berlalu; dan ketika kura-kura keluar dari lubangnya, ia menjadi gemuk seperti sebelumnya.
Tiba giliran rubah memilih lubangnya sendiri, dan kura-kura menumpuk tanah di sekelilingnya, berjanji untuk kembali setiap satu atau dua hari dengan seekor burung untuk makan malamnya.
“Bagaimana kabarmu?” tanyanya bertanya dengan riang ketika berkunjung.
“Baik, hanya saja aku berharap kamu membawa seekor burung bersamamu,” jawab rubah.
“Aku sangat tidak beruntung. Aku tidak bisa menangkap seekor pun,” jawab kura-kura. “Tapi aku akan lebih beruntung besok, aku yakin.”
Namun tidak lama kemudian, ketika kura-kura datang dengan pertanyaannya yang biasa, “Bagaimana kabarmu?” dia tidak mendapat jawaban, karena rubah berbaring diam di dalam lubangnya, mati karena kelaparan.
Ketika kura-kura beranjak dewasa, dan disegani di seluruh hutan sebagai orang yang ditakuti karena kekuatan dan kebijaksanaannya. Namun, idia tidak dianggap sebagai pelari yang sangat cepat, sampai petualangannya dengan seekor rusa menambah ketenarannya.
Suatu hari, ketika dia sedang berjemur di bawah sinar matahari, seekor rusa jantan lewat dan berhenti untuk mengobrol sebentar.
“Apakah kamu ingin melihat siapa di antara kita yang dapat berlari paling cepat?” tanya kura-kura, setelah mengobrol sebentar.
Rusa jantan menganggap pertanyaan itu sangat konyol sehingga dia hanya mengangkat bahunya. “Tentu saja, pemenangnya berhak membunuh yang lain,” lanjut kura-kura.
“Oh, kalau itu syaratnya, aku setuju,” jawab rusa. “Tetapi aku khawatir kamu akan mati.”
“Tidak ada gunanya mencoba menakut-nakutiku,” jawab kura-kura. “Tetapi aku ingin berlatih selama tiga hari. Kemudian aku akan berangkat saat matahari menyinari pohon besar di tepi tanah lapang yang luas itu.”
Hal pertama yang dilakukan kura-kura adalah memanggil semua saudara dan sepupunya, dan dia menempatkan mereka dengan hati-hati di bawah pakis di sepanjang tanah lapang yang luas, membuat semacam barisan yang membentang sejauh berkilo-kilometer.
Setelah selesai, ia kembali ke tempat awal.
Rusa jantan datang tepat waktu. Bbegitu sinar matahari menyinari batang pohon, rusa jantan mulai berlari, dan segera menghilang dari pandangan kura-kura. Sesekali dia menoleh sambil berlari dan berseru, “Bagaimana keadaanmu?”
Kura-kura yang kebetulan berada paling dekat saat itu akan menjawab, “Baik, aku sudah dekat denganmu.”
Keheranan, rusa jantan itu melipatgandakan usahanya, tetapi tidak ada gunanya. Setiap kali ia bertanya, “Apakah kamu di sana?” akan dijawab dengan, “Ya, tentu saja, di mana lagi aku harus berada?”
Rusa jantan itu berlari, berlari, dan berlari, sampai ia tidak dapat berlari lagi, dan jatuh mati di atas rumput. Dan kura-kura, ketika ia memikirkannya, masih tertawa.
Namun, kura-kura bukanlah satu-satunya makhluk yang tipu dayanya diceritakan di hutan. Ada seekor monyet terkenal yang sama pintarnya dan lebih nakal lagi, karena dia jauh lebih gesit dan menggunakan tangannya. Sangat mustahil untuk menangkapnya dan memberinya pelajaran yang sering kali pantas diterimanya, karena dia akan berayun ke atas pohon dan menertawakan korban yang marah di bawahnya. Namun, terkadang, para penghuni hutan begitu bodoh hingga memprovokasinya, dan kemudian mereka mendapatkan yang terburuk. Inilah yang terjadi pada tukang cukur, yang dikunjungi monyet suatu pagi, mengatakan bahwa dia ingin dicukur. Tukang cukur itu membungkuk dengan sopan kepada pelanggannya, dan memohonnya untuk duduk, mengikatkan kain besar di lehernya, dan menggosok dagunya dengan sabun. Tetapi bukannya memotong jenggotnya, tukang cukur itu malah menggunting ujung ekornya. Meski hanya sedikit, monyet itu lebih marah daripada kesakitan.
“Kembalikan ujung ekorku,” raungnya, “atau aku akan mengambil salah satu pisau cukurmu.”
Tukang cukur itu menolak mengembalikan bagian yang hilang, maka monyet itu mengambil pisau cukur dari meja dan melarikannya, dan tidak seorang pun di hutan itu bisa dicukur selama berhari-hari karena tidak ada pisau cukur lain yang bisa didapatkan sejauh berkilo-kilometer.
Ketika monyet berjalan menuju pohon tempat tumbuhnya kelapa yang sangat berguna untuk melempari orang yang lewat, dia bertemu dengan seorang wanita yang sedang menguliti ikan dengan kayu, karena di sisi hutan ini beberapa orang tinggal di gubuk-gubuk dekat sungai.
“Itu pasti pekerjaan yang berat,” kata monyet itu, berhenti untuk melihat. “Cobalah pisauku—pasti akan lebih cepat.”
Dia menyerahkan pisau cukur itu setelah berbicara. Beberapa hari kemudian dia kembali dan mengetuk pintu gubuk itu. “Aku meminta pisau cukurku,” katanya, ketika wanita itu muncul.
“Aku kehilangannya,” jawab si wanita.
“Kalau kamu tidak segera memberikannya kepadaku, aku akan mengambil ikanmu,” jawab monyet yang tidak mempercayainya.
Wanita itu protes karena dia tidak membawa pisau, jadi dia mengambil ikan itu dan lari. Tak berapa jauhdari situ, dia melihat seorang tukang roti yang berdiri di pintu, memakan salah satu rotinya.
“Itu pasti agak keras,” kata monyet. “Cobalah ikanku.” Pria itu tidak perlu diberi tahu dua kali.
Beberapa hari kemudian monyet itu berhenti lagi di gubuk tukang roti.
“Aku meminta kembali ikan itu,” katanya.
“Ikan? Tapi aku sudah memakannya!” seru tukang roti dengan cemas.
“Karena kamu sudah memakannya, aku akan mengambil tong tepung sebagai gantinya,” jawab monyet. Dia pergi sambil membawa tong di bawah lengannya.
Ketika dia pergi, dia melihat seorang wanita dengan sekelompok gadis kecil di sekelilingnya, mengajari mereka cara menata rambut.
“Ini ada sesuatu untuk membuat kue untuk anak-anak,” katanya, sambil meletakkan tongnya, yang saat itu dia rasa agak berat. Anak-anak sangat gembira, dan berlari langsung mencari batu pipih untuk memanggang kue mereka, dan ketika mereka telah membuat dan memakannya, mereka pikir mereka belum pernah mencicipi sesuatu yang seenak ini.
Memang, ketika mereka melihat monyet itu mendekat tak lama kemudian, mereka bergegas menemuinya, berharap bahwa dia membawakan mereka beberapa hadiah lagi. Namun ia tidak menghiraukan pertanyaan mereka, ia hanya berkata kepada ibu mereka, “Aku mau mengambil tong tepungku.”
“Wah, kamu memberikannya kepadaku untuk membuat kue!” teriak sang ibu.
“Kalau aku tidak bisa mendapatkan tong tepungku, aku akan mengambil salah satu anakmu,” jawab monyet itu. “Aku butuh seseorang yang bisa memanggang rotiku ketika aku bosan makan buah, dan yang tahu cara membuat kue kelapa.”
“Oh, tinggalkan aku anakku, dan aku akan mencarikanmu tong tepung lagi,” tangis sang ibu.
“Aku tidak mau tong lagi, aku mau yang itu,” jawab monyet itu tegas. Dan ketika wanita itu berdiri sambil meremas-remas tangannya, dia menangkap gadis kecil yang menurutnya paling cantik dan membawanya ke rumahnya di pohon kelapa.
Anak itu tidak pernah kembali ke gubuknya, tetapi sebetulnya nasibnya tidak terlalu buruk, karena monyet hampir sama baiknya dengan anak-anak lain untuk diajak bermain, dan dia mengajarinya cara berayun, memanjat, dan terbang dari pohon ke pohon, dan segala hal lain yang diketahui monyet yang merupakan hal yang sangat penting.
Tipu daya monyet yang menjengkelkan telah membuatnya mempunyai banyak musuh di hutan, tetapi tidak ada yang lebih membencinya dibandingkan puma. Penyebab permusuhan mereka hanya diketahui oleh mereka berdua, tetapi semua mengetahui hal itui, dan berhati-hati untuk tidak menghalangi ketika ada kemungkinan keduanya bertemu.
Sering kali puma telah memasang perangkap untuk monyet, yang dia yakini tidak dapat dihindari oleh musuhnya, dan monyet itu akan berpura-pura tidak melihat apa-apa, membuat senang hati puma yang bersembunyi. Monyet berjalan langsung ke dalam perangkap, dan, lihat! Tawa keras akan terdengar, dan wajah monyet yang menyeringai akan mengintip dari balik kumpulan tanaman merambat dan menghilang sebelum musuhnya dapat mencapainya.
Keadaan ini berlangsung cukup lama, hingga akhirnya tibalah musim yang tidak dapat diingat oleh burung beo tertua di hutan itu. Alih-alih hujan setinggi dua atau tiga ratus sentimeter yang turun, yang biasa mereka alami, bulan demi bulan berlalu tanpa awan. Sungai serta mata air mengering, yang tersisa hanya satu kolam kecil untuk minum semua orang. Tidak ada satu pun hewan sejauh berkilo-kilometer yang tidak bersedih atas keadaan yang mengejutkan ini, setidaknya tidak satu pun, kecuali puma.
Selama bertahun-tahun, satu-satunya yang dipikirkannya adalah bagaimana cara membuat monyet itu berada dalam kekuasaannya, dan kali ini dia membayangkan kesempatannya benar-benar telah tiba. Dia akan bersembunyi di semak-semak, dan saat monyet itu turun untuk minum—monyet harus minum—puma akan melompat keluar dan menangkapnya.
Ya, kali ini tidak ada jalan keluar!
Tidak ada hewan yaang lebih sabar dari puma, tetapi karena saking gembiranya, dia bergerak sedikit terlalu cepat. Monyet yang sedang membungkuk untuk minum, mendengar suara gemerisik, dan ketika menoleh, dia menangkap kilat dua mata kuning yang tajam dan menakutkan. Dengan melompat tinggi, dia meraih tanaman merambat yang tergantung di atasnya, dan mendarat di dahan pohon, merasakan napas puma di kakinya saat hewan itu melompat dari tempat persembunyiannya.
Belum pernah monyet itu begitu dekat dengan kematian, dan butuh beberapa waktu sebelum dia cukup berani untuk melangkah di tanah lagi. Di sana, di bawah naungan pepohonan, dia mulai memikirkan rencana untuk lolos dari jerat puma. Dan akhirnya kesempatannya datang juga.
Ketika mengintip ke bawah, dia melihat seorang pria berjalan sambil membawa kendi besar berisi madu di kepalanya. Dia menunggu sampai pria itu berada tepat di bawah pohon, lalu sambil bergantung di dahan, dia mengambil kendi itu sementara pria itu mendongak heran. Monyet itu mengoleskan madu ke seluruh tubuhnya, dan sejumlah daun dari tanaman merambat yang tergantung di dekatnya ditempelkannya dengan madu ke tubuhnya, sehingga dia tampak seperti semak berjalan.
Setelah selesai, ia becermin di kolam untuk melihat hasilnya, dan cukup puas dengan dirinya sendiri, dia pergi.
Tak lama kemudian, laporan menyebar ke seluruh hutan bahwa seekor binatang baru telah muncul entah dari mana, dan ketika seseorang menanyakan namanya, makhluk aneh itu menjawab bahwa dia adalah Jaka Hijau. Karena ini, monyet diizinkan minum di kolam sesering yang dia suka, karena hewan maupun burung tidak tahu siapa dia. Kalau mereka bertanya, satu-satunya jawaban yang mereka dapatkan adalah bahwa air yang telah diminumnya telah mengubah rambutnya menjadi daun, sehingga mereka semua tahu apa yang akan terjadi kalau mereka menjadi terlalu rakus.
Lama-kelamaan hujan lebat mulai turun lagi. Sungai-sungai dan aliran air terisi, dan dia tidak perlu kembali ke kolam, di dekat rumah musuhnya, puma, karena ada banyak tempat yang dapat dipilihnya.
Maka pada suatu malam, ketika situasi tenang dan sunyi, bahkan burung beo yang cerewet pun tertidur dengan berdiri satu kaki, monyet diam-diam menyelinap dari tempatnya, dan membersihkan madu dan dedaunan, lalu keluar dari kolam dengan kulitnya sendiri. Dalam perjalanan untuk sarapan, dia bertemu seekor kelinci, dan berhenti untuk mengobrol sebentar.
“Aku merasa kurang enak badan,” katanya. “Aku pikir akan lebih baik jika saya berburu sebentar. Bagaimana menurutmu?”
“Oh, aku sangat bersedia,” jawab si kelinci, bangga karena diajak bicara oleh makhluk sebesar itu. “Tapi pertanyaannya, apa yang akan kita buru?”
“Tidak ada gunanya mengejar gajah atau harimau,” jawab si monyet sambil mengelus dagunya. “Mereka begitu besar sehingga tidak mungkin bisa menghindar darimu. Akan jauh lebih terampil jika bisa menangkap makhluk kecil yang bisa bersembunyi di balik daun dalam sekejap. Begini saja! Bagaimana kalau aku berburu kupu-kupu, dan kamu berburu ular?”
Si kelinci, yang masih muda dan belum berpengalaman, senang dengan ide ini, dan mereka berdua berangkat dengan cara mereka masing-masing.
Si monyet diam-diam memanjat pohon terdekat, dan makan buah hampir sepanjang hari, tetapi si kelinci kelelahan karena menusuk hidungnya ke setiap tumpukan daun kering yang dilihatnya, berharap menemukan ular. Beruntung bagi dirinya, ular-ular itu semua pergi sore itu, karena tidak ada yang lebih disukai ular untuk makan malam selain kelinci yang gemuk dan manis. Namun, daun-daun kering itu kosong, dan kelinci akhirnya tertidur di tempatnya.
Kemudian monyet, yang telah mengawasinya, jatuh dan menarik telinganya, membuat kelinci itu marah, yang bersumpah untuk membalas dendam. Tidak mudah untuk membuat monyet lengah, dan kelinci itu menunggu lama sebelum kesempatan itu tiba.
Suatu hari Jaka Hijau sedang duduk di atas batu, bertanya-tanya apa yang akan dilakukannya selanjutnya, ketika kelinci itu merayap pelan di belakangnya, dan menarik ekornya dengan keras. Monyet itu menjerit kesakitan, dan melesat naik ke pohon. Tetapi ketika dia melihat bahwa kelinci yang berani menghinanya, dia mengoceh begitu cepat dalam kemarahannya, dan tampak begitu galak, sehingga kelinci lari ke lubang terdekat dan tinggal di sana selama beberapa hari, gemetar ketakutan.
Setelah peristiwa ini, monyet pergi ke bagian lain negeri, tepat di pinggiran hutan. Di sana terdapat taman yang indah, penuh dengan jeruk matang yang tergantung di pohon-pohon. Taman ini merupakan tempat favorit bagi semua jenis burung, yang masing-masing berharap mendapatkan jeruk untuk makan malam.
Untuk menakut-nakuti burung dan menyimpan sedikit buah untuk dirinya sendiri, sang guru telah memasang patung lilin di salah satu dahan.
Monyet itu sangat menyukai jeruk sama seperti burung. Ketika melihat seorang pria berdiri di pohon tempat jeruk terbesar dan termanis tumbuh, dia langsung berbicara.
“Hai, manusia,” katanya dengan kasar, “lempar jeruk besar itu ke atas sana, atau aku akan melemparmu dengan batu.” Patung lilin itu tidak menghiraukan permintaan itu. Monyet yang mudah marah itu pun mengambil sebuah batu dan melemparkannya sekuat tenaga. Namun, batu itu bukannya jatuh ke tanah, malah menempel pada lilin yang lembek.
Pada saat itu, angin sepoi-sepoi menggoyang pohon dan jeruk yang menjadi sasaran monyet itu jatuh dari dahan. Dia mengambilnya dan memakannya sampai habis, termasuk kulitnya. Rasanya begitu lezat hingga dia ingin makan jeruk lagi. Maka dia berseru kepada patung lilin itu untuk melemparkan jeruk lagi padanya. Karena patung itu tidak bergerak, monyet melemparkan batu lain yang menempel pada lilin seperti batu yang pertama.
Melihat bahwa ‘orang’ itu sama sekali tidak peduli dengan batu membuat monyet menjadi semakin marah. Dia memanjat pohon dengan tergesa-gesa, menendang patung itu dengan keras. Namun seperti kedua batu itu, kakinya menempel pada lilin dan ia tertahan dengan kuat.
“Lepaskan aku sekarang, atau aku akan menendangmu lagi,” teriaknya.
Sesuai dengan kata-katanya, dia menendang dengan kakinya yang satu lagi, dan kali ini kakinya juga tetap dalam genggaman ‘orang’ itu.
Tidak tahu apa yang dilakukannya, monyet itu menyerang, pertama dengan satu tangan dan kemudian dengan tangan lainnya, dan ketika tangan dan kakinya terikat dengan lilin, dia menjadi sangat marah dan takut, sehingga dalam pergumulannya dia terjatuh ke tanah, menyeret patung itu bersamanya. Tangan dan kakinya terlepas, tetapi dia terjatuh ke semak berduri.
Dengan tertatih-tatih dia pergi dengan patah dan memar sambil mengerang keras, karena ketika monyet terluka, mereka ingin agar semua orang tahu.
Butuh waktu lama sebelum jaka Hijau cukup sehat untuk bisa berjalan lagi, Tetapi ketika dia sudah sehat dan bisa berjalan, monyet bertemu dengan musuh bebuyutannya si puma.
Begini kejadiannya.
Suatu hari, puma mengajak temannya rusa jantan untuk pergi menemui seorang kawan yang terkenal karena mempunyai susu yang baik yang dia dapatkan dari sapi-sapinya. Rusa jantan menyukai susu, dan dengan senang hati menerima undangan itu. Ketika matahari mulai terbenam, keduanya berjalan.
Mereka tiba di tepi sungai, dan karena tidak ada jembatan pada masa itu, mereka harus berenang menyeberanginya. Si rusa jantan tidak suka berenang, dan berkata bahwa dia lelah, berpikir bahwa tidak ada gunanya pergi sejauh itu untuk mendapatkan susu. Dia ingin pulang Tetapi si puma mengetahui alasannya dan menertawakannya.
“Sungai itu tidak dalam sama sekali,” katanya. “Kamu tidak akan pernah bisa mandiri kalau begitu. Ayo, kumpulkan keberanianmu dan ikuti aku.”
Rusa jantan takut pada sungai, tetapi dia lebih takut menjadi bahan tertawaan. Maka dia menceburkan diri ke dalam sungai mengikuti puma. Dalam sekejap arus sungai telah menyapunya, dan jika saja arus tidak membawanya secara tidak sengaja ke tempat dangkal di sisi seberang tempat dia berhasil memanjat tepi sungai, dia pasti sudah tenggelam.
Ketika dia merangkak keluar, gemetar ketakutan, dan menemukan puma menunggunya.
“Untung kamu selamat,” kata puma.
Setelah beristirahat selama beberapa menit agar rusa jantan pulih dari ketakutannya, mereka melanjutkan perjalanan hingga mereka tiba di sebuah kebun pisang.
“Kelihatannya sangat lezat,” kata puma penuh harap. “Aku yakin kamu pasti lapar, kawan rusa jantan. Bagaimana kalau kamu memanjat pohon dan mengambilnya? Kamu akan memakan yang hijau, itu yang terbaik dan termanis. Kamu dapat melemparkan yang kuning kepadaku.”
Rusa jantan itu menuruti kata-kata puma, meskipun dia tidak terbiasa memanjat pohon. Hal itu membuatnya kesulitan dan lututnya sakit. Selain itu, tanduknya terus-menerus tersangkut di tanaman merambat. Yang lebih buruk lagi, ketika ia mencicipi pisang-pisang itu, ia merasa sama sekali tidak menyukainya, jadi ia membuang semuanya, baik yang hijau maupun kuning, dan membiarkan puma memilihnya.
Sungguh lezat makan malam yang dirasakan puma! Setelah selesai makan, mereka berangkat sekali lagi. Jalan setapak terbentang melintasi ladang jagung, tempat beberapa orang sedang bekerja. Ketika mereka mendekati mereka, puma berbisik, “Pergilah di depan, rusa jantan, dan katakan saja “Nasib buruk bagi semua pekerja!”
Rusa jantan itu menurut, tetapi para pekerja yang kepanasan dan lelah tidak menganggap lelucon dengan baik. Malah mereka mengerahkan anjing-anjing untuk mengejar rusa jantan, sehingga dia terpaksa lari secepat mungkin.
“Saya harap kerja kerasmu akan dihargai sebagaimana mestinya,” kata puma sambil berjalan.
Orang-orang itu senang dan menawarkan sebagian jagung mereka untuk dimakan.
Tak lama kemudian puma melihat seekor ular kecil dengan kulit berkilau indah, melingkar di kaki pohon.
“Gelang yang sangat cantik untuk putrimu, rusa jantan!” katanya. Rusa jantan itu membungkuk dan mengambil ular itu, yang menggigitnya, dan dia berbalik dengan marah ke puma.
“Mengapa kamu tidak memberi tahuku bahwa ular itu akan menggigit?” tanyanya.
“Memangnya salahku kalau kamu bodoh?” jawab puma.
Akhirnya mereka sampai di tujuan akhir perjalanan mereka, tetapi saat itu sudah larut malam, dan kawan puma sudah siap untuk tidur. Maka mereka menggantung tempat tidur gantung di tempat yang nyaman dan tidur. Tetapi di tengah malam, puma bangun diam-diam dan menyelinap keluar dari pintu ke kandang domba. Dia membunuh dan memakan domba paling gemuk yang bisa dia temukan, dan mengambil semangkuk penuh darahnya, lalu memercikkannya ke rusa jantan yang sedang tidur. Kemudian dia kembali tidur.
Pagi harinya, seperti biasa sang gembala mengeluarkan domba-domba dari kandang, dan mendapati salah satu dari dombanya hilang. Dia langsung teringat pada puma dan berlari untuk menuduhnya telah memakan dombanya.
“Aku, kawan baikku? Apa yang membuatmu berpikir seperti itu? Apakah ada darah di sekitarku? Kalau ada yang telah memakan domba, pasti temanku si rusa jantan.”
Sang gembala memeriksa rusa jantan yang sedang tidur, dan tentu saja dia melihat darah.
“Ah! Aku akan menghajarmu. pencuri!” teriaknya. Dia memukul rusa jantan itu dengan keras di kepalanya hingga rusa jantan mati seketika.
Suara gaduh itu membangunkan kawan di atas, dan dia turun ke bawah. Puma menyambutnya dengan gembira, dan memohon agar dia diberi sedikit susu yang terkenal itu sesegera mungkin, karena dia sangat haus. Sebuah ember besar diletakkan tepat di hadapan puma. Dia meminumnya sampai tetes terakhir, lalu pamit.
Dalam perjalanan pulang, dia bertemu dengan monyet. “Apakah kamu suka susu?” tanyanya. “Aku tahu tempat yang menyediakan susu yang sangat enak. Aku akan menunjukkannya padamu kalau kamu suka.”
Monyet tahu bahwa puma tidak begitu baik hati tanpa alasan, tetapi dia merasa mampu menjaga dirinya sendiri. Lalu monyet berkata bahwa dia akan sangat senang menemani puma.
Mereka segera mencapai sungai yang sama, dan, seperti sebelumnya, puma berkata, “Monyet, sungai ini sangat dangkal; tidak ada alasan untuk takut. Masuklah dan aku akan mengikuti.”
“Apakah kamu pikir kamu sedang berhadapan dengan rusa jantan?” tanya monyet itu sambil tertawa. “Aku lebih suka mengikuti. Kalau tidak, aku tidak akan pergi dari tempat ini.”
Puma mengerti bahwa tidak ada gunanya mencoba membuat monyet itu melakukan apa yang diinginkannya, maka dia memilih tempat yang dangkal dan mulai berenang menyeberang. Monyet itu menunggu sampai puma itu sampai di tengah, lalu dia melompat ke punggung puma, tahu betul bahwa puma takut untuk melepaskannya karena dia akan tersapu ke air yang dalam.
Dengan cara ini mereka mencapai tepi sungai.
Kebun pisang tidak jauh dari sana, dan di sana puma mengira dia akan dapat membalas monyet karena memaksanya untuk membawanya menyeberangi sungai.
“Monyet, lihat betapa bagusnya pisang-pisang itu,” katanya. “Kamu suka memanjat. Bagaimana kalau kamu naik dan melemparku beberapa pisang? Kamu bisa memakan yang hijau, yang paling bagus, dan aku akan puas dengan yang kuning.”
“Baiklah,” jawab monyet, berayun naik ke atas pohon pisang. Namun, dia memakan semua yang kuning dan melempar yang hijau yang tersisa. Puma marah dan berteriak, “Aku akan memukul kepalamu untuk itu.”
Tetapi monyet hanya menjawab, “kalau kamu bicara omong kosong seperti itu, aku tidak akan ikut denganmu.”
Puma itu akhirnya terdiam.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di ladang tempat para lelaki sedang memanen jagung, dan puma berkata seperti yang telah dilakukannya kepada rusa jantan sebelumnya. “Monyet, kalau kau ingin menyenangkan orang-orang itu, katakan saja saat kau lewat, ‘Nasib buruk bagi semua pekerja.’”
“Baiklah,” jawab monyet.
Sebaliknya, dia mengangguk dan tersenyum sambil berkata, “Saya harap kerja keras Anda akan dihargai sebagaimana mestinya.”
Orang-orang itu mengucapkan terima kasih kepadanya dengan sepenuh hati, membiarkannya lewat, dan puma mengikutinya di belakangnya.
Tak lama setelah menyusuri jalan setapak, mereka melihat ular berkilau berbaring di atas lumut. “Betapa indahnya kalung untuk putrimu,” seru puma. “Ambil dan bawalah.”
“Kamu sangat baik, tetapi aku akan meninggalkannya untukmu,” jawab monyet, dan selanjutnya tidak ada lagi yang berkata-kata tentang ular itu.
Tidak lama setelah ini, mereka tiba di rumah kawan puma, dan menemukannya baru saja siap untuk tidur. Maka, tanpa banyak bicara, kedua tamu tersebut memasang tempat tidur gantung mereka. Dengan berhati-hati monyet meletakkan tempat tidur gantungnya begitu tinggi sehingga tidak ada yang bisa menggapainya. Selain itu, dia berpikir akan lebih bijaksana untuk tidak tertidur. Maka dia hanya berbaring diam dan mendengkur keras.
Ketika hari sudah benar-benar gelap dan tidak ada suara yang terdengar, puma merayap ke kandang domba, membunuh seekor domba dan membawa pulang semangkuk penuh darah domba untuk disiramkan ke monyet. Namun monyet yang telah mengawasi dari sudut matanya, menunggu sampai puma itu mendekat, dan dengan tendangan keras, mangkuk itu tumpah mengenai puma itu sendiri.
Ketika puma melihat apa yang telah terjadi, dia bergegas untuk pergi, tetapi sebelum dia dapat melakukannya, dia melihat sang gembala datang, dan buru-buru berbaring lagi.
“Ini kedua kalinya aku kehilangan seekor domba,” kata sang gembala kepada monyet. “Pencurinya akan lebih menderita kalau aku saya menangkapnya.”
Monyet itu tidak menjawab, tetapi diam-diam menunjuk ke puma yang berpura-pura tidur.
Sang gembala membungkuk dan melihat darah, lalu berteriak, “Ah! Jadi itu kamu, ya? Kalau begitu, terimalah ini!” Dengan tongkatnya dia memukul kepala puma dengan keras hingga mati saat itu juga.
Monyet bangun dan pergi ke tempat pemerahan susu, dan meminum semua susu yang dapat ditemukannya. Setelah itu ia kembali ke rumah dan menikah, dan itulah terakhir kalinya kita mendengar tentangnya.
Cikarang, 6 November 2024
Disadur dari “Tale of a Tortoise and of a Mischievous Monkey” (The Brown Fairy Book, Andrew Lang).


Panjang dan lammmma… ending-nya tak terduga.