10 Alasan untuk Menjadi Bajak Laut
dok. pri. Ikhwanul Halim

10 Alasan Mengapa Orang Ingin Menjadi Bajak Laut

Views: 34

Ketika orang-orang tersandung ke dunia bajak laut—seperti pelaut mabuk yang tersandung ke kedai kumuh di tepi dermaga—mereka melakukannya karena satu alasan. Alasan yang sama mengapa pria dan wanita menjadi bajak laut di zaman keemasan bajak laut: Bajak laut itu keren. Bajak laut dulu keren, bajak laut sekarang kerenbajak laut akan keren selamanya.

Namun, itu bukanlah jawaban yang tepat.

“Karena bajak laut keren,” akan memunculkan pertanyaan:

Apa yang membuat bajak laut keren?

Berikut adalah beberapa alasan untuk menjalani hidup sebagai bajak laut.

1. Barang Pampasan

Sebut saja barang rampasan, hasil perampokan, atau harta karun. Hitunglah dalam bentuk emas atau permata, koin emas atau gulungan sutra halus. Memburu kapal-kapal Spanyol dan merampas barang-barang mereka adalah inti dari pembajakan.

Bajak laut muncul pada masa ketika status sosial seseorang ditetapkan sejak saat pembuahan. Kalau orang tuamu bangsawan, kamu akan jadi bangsawan. Kalau kamu lahir dari keluarga petani, kamu akan menjadi petani seumur hidup.

Tidak banyak promosi ke atas pada masa itu. Pembajakan di Spanish Main yang kemudian dikenal sebagai Laut Karibia dalah satu—mungkin satu-satunya—cara yang relatif pasti bagi seseorang yang lahir dalam melarat untuk menjadi kaya. Dengan asumsi kamu selamat, kemungkinan besar karier yang sukses dalam pembajakan dapat membuatmu mapan seumur hidup.

2. Saat-Saat yang Menyenangkan!

Seorang bajak laut yang sukses dapat menghasilkan lebih banyak uang dalam satu pelayaran daripada yang dapat diperolehnya dalam beberapa kali kehidupan. Dan setelah melakukannya, dia membutuhkan tempat untuk menghabiskan hasil rampasan itu. Kota-kota seperti Port Royal dibuat khusus untuk tujuan itu.

Pada abad ketujuh belas, Port Royal adalah salah satu dari dua kota terpenting di belahan bumi barat, dan menjadi standar untuk pesta pora. Kota itu dijuluki “kota paling jahat di dunia,” surga bagi kedai minuman, tempat perjudian, dan rumah pelacuran. Ini adalah kota yang tahu cara memisahkan bajak laut dari harta rampasannya.

Di masa kejayaannya, Port Royal memiliki satu rumah minum untuk setiap sepuluh penduduk. Seorang pelaut bisa sampai di kota dengan kantong penuh perak, dan bangkrut (atau mati begitu saja) dalam sehari—paling lama seminggu, kalau dia bisa mengatur waktunya.

3. Perempuan

Yang berlaku saat ini sama seperti di Zaman Keemasan—perempuan menyukai pria bajingan. Itulah sebabnya budaya pop di setiap zaman merayakan antihero, entah itu rapper gangster, Casanova, James Dean, atau Sheik Valentino. Dan bajak laut adalah lelaki bajingan yang sejati. Namun, lebih dari itu, wanita menyukai kesempatan untuk menjadi lelaki bajingan. Bayangkan perempuan cantik memakai korset, memegang pedang, dengan burung beo bertengger di bahu.

Daya tarik laut sudah cukup untuk memberi kita tokoh-tokoh legendaris (tetapi benar-benar nyata) seperti Anne Bonny dan Mary Read, dua wanita yang bisa merampok dan merampas dengan sangat baik. Anne Bonny adalah putri seorang pengusaha kaya yang tidak diaku lagi sebagai anak ketika dia menikahi seorang bajak laut. Dia kemudian melarikan diri dari bajak laut itu untuk mendapatkan bajak laut yang lebih baik. Pada akhirnya, dia memutuskan untuk berhenti melarikan diri bersama bajak laut dan menjadi bajak laut sendiri.

Kapal Mary Read disusul oleh bajak laut. Dia memutuskan untuk bergabung dengan mereka, akhirnya bertemu dengan Anne dan bergabung dengannya dalam petualangannya. Masih ada nama-nama seperti Cheng I Sao dan Ching Siho (biarpun namanya mirip, tapi ini dua betina laut yang berbeda), Grace O’Malley, Sayyida Al Hurra, Rchel Wall, dan sekitar seratus nama lagi.

4. Makanan

Hidup di atas kapal itu sulit, dan makanannya bahkan lebih sulit lagi. Tidak ada kulkas di atas kapal. Dapur kapal diisi dengan apa yang bisa didapat dengan harga murah dan disimpan selama berbulan-bulan untuk bertahan dalam perjalanan panjang. Namun tidak seperti pelaut yang taat hukum, bajak laut tidak hanya dibatasi oleh hasil buruan yang ada. Kapal-kapal yang menyerbu Karibia datang dari berbagai negara di seluruh dunia—dan menjadi santapan lezat ala bajak laut.

Dan bajak laut belajar dari para pembuat barbekyu asli. Sebelum para bajak laut melaut untuk menyerang kapal-kapal Spanyol, mereka tinggal di komunitas-komunitas kecil yang terisolasi dan tersebar di seluruh wilayah, dan mereka belajar dari penduduk asli untuk berburu babi hutan dan memasaknya perlahan-lahan di atas bara api, dengan poros bubut yang ditenun dari kayu hijau. Hasil olahannya disebut boucan. Pemakan boucan disebut boucanier, atau kemudian, oleh orang Inggris yang cadel, buccaneer alias bajak laut.

Bangsa Spanyol tersinggung dengan keberadaan buccaneer dan mencoba untuk memusnahkan mereka. Seperti yang dapat kamu bayangkan, para bajak laut membenci hal ini dan melaut untuk membalas dendam.

5. Penjarahan

Banyak orang yang takut melakukan pembajakan karena menganggap hal itu memerlukan pengetahuan angkatan laut yang rumit. Ternyata, ada alternatif lain selain pelayaran laut. Bajak laut biasa menyerbu pelabuhan tropis, mengalahkan para prajurit penguasa lokal, dan mengambil semua barang rampasan yang dapat mereka temukan.

Bajak laut legendaris Henry Morgan sebenarnya hanya memiliki sedikit keberhasilan di laut—kapalnya selalu tenggelam atau, pada satu kejadian yang tak terlupakan, secara tidak sengaja terhempas ke udara. Namun, kalau dia diposisika sebagai kepala pasukan bajak laut di depan kota pelabuhan Spanyol—misalnya, Maracaibo atau Panama—dia akan menjadi seperti yang dikatakan legenda!

6. Rum

Berbicara tentang Henry Morgan, Karibia adalah rumah bagi rum. Gula, air, ragi—rum! Bajak laut menyukai rum—dan bukan hanya karena alasan seperti yang kamu duga. Kalau kamu berada di laut untuk waktu yang lama, persediaan air akan mulai berubah menjadi hijau berlumut dan bau. Tapi rum yang mengandung alkohol dalam jumlah yang cukup, akan tetap segar seperti saat pertama kali dituangkan ke dalam tong.

7. Perjalanan

Kalau kita memikirkan zaman keemasan bajak laut, kita akan teringat Karibia. Itu ada di film-film.

Namun, bahkan di Zaman Keemasan, ketika bajak laut berkembang pesat di Karibia, para penjelajah laut yang cerdas pun dapat berkeliling. Pantai Gading di Afrika, Kepulauan Rempah, dan Samudra Hindia memiliki kedudukan yang sama sebagai rumah bagi para bajak laut. Madagaskar menjadi Pulau Bajak Laut. Long Ben Avery menangkap kapal harta karun Grand Mogul di Samudra Hindia, aksi bajak laut terbesar sepanjang masa—dan berhasil mati tanpa uang sepeser pun. Jadi bajak laut tidak boleh mengabaikan perencanaan keuangan dan investasi hari tua.

8. Mode

Bagi semua orang kecuali yang kaya dan bangsawan, mode pada abad keenam belas dan ketujuh belas cenderung suram, keras, gelap, dan muram. Seperti banyak hal lainnya, mode hanyalah satu tempat lagi di mana para bajak laut dapat menunjukkan penghinaan mereka terhadap aturan masyarakat. Apa gunanya menangkap semua sutra mewah dan kain halus itu jika mereka tidak bisa menggunakannya untuk berpakaian secerah dan semarak rumah bordil Amsterdam, Marseilles, atau New Orleans?

9. Senjata

Berat, tajam, dan bum!

Kalau bermain dengan hal-hal yang membuat ibumu khawatir adalah kesenanganmu, maka kehidupan bajak laut adalah untukmu. Pertama, ada poundy: benda tumpul yang bagus seperti pin pengaman, yang menahan tali berat ke pagar kapal, dan marlinspike, yang digunakan untuk menyambung simpul. Ini berfungsi sebagai tugas bahari yang tidak berbahaya, tetapi bisa membuat seseorang sakit kepala saat diayunkan oleh bajak laut yang datang menyerang. Kalau yang runcing adalah pilihanmu, cobalah parang: pedang pendek, bermata berat, dan bermata satu. Pedang panjang bisa tersangkut di tali temali atau terhalang di ruang sempit di bawah geladak. Parang membuat musuh kehilangan nyali. Dan bagi mereka yang beraliran booming, dunia bajak laut memiliki segalanya. Mulai dari meriam atau pistol flintlock (pencucuh batu-api) hingga blunderbuss (diisi dari moncong laras) yang hebat!

10. Kondisi kerja

Seorang pelaut di kapal dagang bekerja keras dan lama, biasanya dengan upah yang kecil di bawah disiplin yang keras, dan dia melakukannya untuk mengangkut barang milik orang lain, sehingga orang lain bisa menjadi lebih kaya. Kehidupan berbeda bagi para bajak laut. Para bajak laut memilih perwira mereka sendiri, dan hanya ada beberapa orang yang memegang komando. Kapal biasanya hanya memiliki seorang kapten dan jurumudi. Dalam masyarakat bajak laut yang egaliter, tidak diperlukan banyak orang tambahan. Kapten akan mengusulkan sebuah rencana dan semua orang akan memberikan suaranya. Kapten hanya “memegang komando” selama pertempuran. Tentu saja, pengecualian harus dibuat ketika kapten Anda psikopat, seperti Blackbeard atau L’Ollonais.

Di waktu lainnya, suara semua orang setara. Mereka semua menandatangani pasal-pasal daftar aturan yang mereka tetapkan sebelum melaut dan memiliki suara dalam tindakan kapal, dan setiap pelaut berhak atas bagian yang sama dari hasil rampasan.

***

Jadi, itulah sepuluh alasan mengapa orang ingin menjadi bajak laut. Namun, sebenarnya, semua itu mengarah pada variasi yang berbeda dari satu alasan nyata untuk menjadi bajak laut. Benar bahwa 400 tahun yang lalu dan itulah yang kita rayakan pada tanggal 19 September ketika kita mengenakan kemeja tebal, topi tricorn, selempang, sepatu bot, dan mengikat pedang dan pistol. Semuanya mengarah pada satu kata, satu ide:

11. Kebebasan

Pilih salah satu alasan lain yang Anda inginkan—makanan atau rum atau barang rampasan atau perjalanan atau—atau buat alasanmu sendiri. Semuanya mengarah pada bajak laut yang mengabaikan dunia dan berkata, “Aku tidak peduli apa pun aturan yang kamu buat. Aku akan menjalani hidupku dengan bebas!”

Sejarawan Marcus Redicker berkata tentang bajak laut, “[Mereka] adalah musuh bersama umat manusia, [tetapi mereka juga] adalah orang-orang paling bebas di bumi.”

Bajak laut mungkin dikutuk—tetapi mereka dikutuk oleh tangan mereka sendiri. Mereka menetapkan kondisi untuk kehidupan mereka sendiri.

Dan itulah yang sebenarnya ditanggapi oleh banyak dari kita yang “berpenampilan seperti bajak laut” saat ini. Tentu, kita senang berdandan, berlagak angkuh, mengumpat, dan mengayunkan parang. (Yang sudah cukup umur juga menikmati rum.) Namun, sebenarnya rasa kebebasan, gagasan bahwa kita menjalani hidup kita sendiri dengan aturan kita sendiri, itulah seruan yang jelas dari perayaan kita yang meriah.

Misalnya, kamu mungkin memperhatikan bahwa kami menjanjikan sepuluh alasan untuk menjadi bajak laut, dan malah memberi sebelas alasan.

Yang kami jawab, “Kami bajak laut, kami bebas menyebutkan alasan sebanyak yang kami mau.”

Dan itu, menurut kami, itu alasan yang cukup jelas.

Cikarang, 4 Januari 2025

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *