Suara nilon bergesekan dengan nilon itu halus, nyaris samar, tapi tetap punya bunyi yang khas. Dan kalau bunyi itu datang dari kaki seorang perempuan yang terbungkus stoking nilon, ada sensasi tertentu di dalamnya—sesuatu yang kecil, sederhana, tapi entah kenapa bisa terasa menggoda.
Sam duduk membungkuk di kursinya sambil memainkan iPad. Kantornya memang membagikan benda itu ke semua karyawan sebagai perlengkapan wajib, tapi sejujurnya Sam jarang benar-benar memakainya. Ia sudah punya komputer di kantor dan komputer di rumah. Menurutnya, dua tempat itu sudah lebih dari cukup untuk tetap terhubung dengan dunia. Kalau dia sedang tidak di salah satu dari keduanya, berarti dia sedang sibuk dan tak ingin diganggu.
Tapi tetap saja, entah kenapa, iPad itu selalu ikut dibawanya ke mana-mana.
Dia jarang mengecek email, hampir tak pernah memakai fungsi FaceTime, tapi belakangan ia menemukan satu hal kecil yang ternyata cukup menarik: permainan menyusun kata dari deretan huruf di layar.
Saat itu Sam sedang serius memikirkan kombinasi huruf paling panjang yang bisa ia susun ketika ia mendengar suara khas itu—gesekan nilon.
Tanpa mengangkat kepala dari layar, tanpa menoleh, matanya bergeser ke lantai di depan kursi sebelah. Tepat pada waktunya ia melihat sepasang kaki berbalut stoking hitam melepas silangan, berhenti sejenak, lalu menyilang lagi—kiri di atas kanan.
Sam kembali menatap layar iPad.
Tangannya yang kiri memegang perangkat itu, sementara jari telunjuk kanan bergerak di atas layar. Ia meneliti susunan huruf, memikirkan kata-kata yang mungkin bisa dibentuk. Tangannya sempat bergerak, berhenti, ragu. Ia menatap lagi. Lalu ia menekan huruf-huruf itu satu per satu, membentuk sebuah kata, dan menekan submit.
Skor 92 muncul di layar.
Sam mengangkat alis. Itu skor tertinggi yang pernah dia dapat. Layar lalu bersih, menunggu dia menekan tombol untuk masuk ke level berikutnya.
Dia meraih cangkir kopi dari meja kecil di sebelah kiri—cangkir porselen milik kedai—lalu menyesapnya pelan. Saat itulah matanya jatuh pada sepasang sepatu hak tinggi hitam.
Dia berhenti sejenak.
Lalu menyesap lagi, seolah kopi itu bisa menyamarkan apa yang sebenarnya sedang dia lakukan: menatap kaki perempuan di kursi sebelah.
Sam menahan cangkir di bibir sambil menunduk, pura-pura menatap lantai. Dia mengamati sepatu itu. Hitam. Bukan hitam mengilap murahan, melainkan kulit hitam yang terawat. Haknya tinggi, tapi tidak berlebihan—elegan, rapi, dengan kesan seksi yang halus. Bukan mencolok, justru berkelas.
Matanya sempat menyapu ruangan, sekadar agar tak terlihat mencurigakan, lalu kembali mencuri pandang pada perempuan itu.
Dia sedang membaca. Tenggelam sepenuhnya dalam bukunya. Sama sekali tak peduli pada apa pun di sekitarnya.
Sam menurunkan cangkir, kembali ke iPad, dan memulai level berikutnya. Dia memandangi huruf-huruf di layar, menyusun kata di kepala, lalu mengetuk “t-a-x-e-s” dan menekan submit.
Skor muncul, tapi gerakan kecil dari sudut matanya mengalihkan perhatian.
Tanpa menoleh, dia melirik ke kiri.
Perempuan itu meraih cangkirnya sendiri dari meja kecil yang sama—meja yang memisahkan mereka berdua.
Kedai kopi ini memang sedikit lebih mahal dari tempat biasa. Kursi-kursinya empuk, cocok untuk duduk lama sambil membaca. Ada orang yang datang hanya untuk secangkir kopi, ada juga yang membawa buku atau koran, memesan camilan, lalu berdiam diri berjam-jam.
Tempat ini tenang, nyaman, dan memberi jeda kecil dari hiruk-pikuk hari.
Sam sendiri datang karena butuh jeda sore. Sedikit kopi dan sepotong date square rasanya cukup untuk mengusir lelah dan rasa lapar kecil. Dia tak membawa buku, dan tak menemukan koran, jadi permainan kata di iPad cukup menghiburnya.
Setidaknya sampai dia menemukan hiburan lain.
Sekarang permainan itu punya fungsi baru: kamuflase. Alasan yang cukup masuk akal untuk sesekali melirik perempuan di sebelahnya.
Sam menyandarkan tubuh ke kursi, siku bertumpu di sandaran, iPad terangkat setinggi dada. Dia menatap layar, lalu menggeser pandang ke perempuan itu.
Usia mereka kira-kira sebaya. Menarik. Berpakaian rapi. Ada sesuatu dalam caranya membawa diri—sesuatu yang tenang, terdidik, mapan. Sam membayangkan perempuan seperti ini bekerja, mandiri, dan terbiasa mengurus hidupnya sendiri.
Dia menatap wajah perempuan itu.
Tetap fokus pada buku. Seolah dunia di luar halaman tak ada.
Perempuan itu meraih cangkirnya lagi.
Sam buru-buru menatap layar. Dari sudut mata dia melihat perempuan itu menyesap minumannya, berhenti, lalu menatap sekeliling ruangan. Sam tahu perempuan itu sempat melirik ke arahnya.
Dia mengetuk layar iPad, padahal permainan itu sudah berhenti dan hanya menunggu tombol untuk dimulai lagi.
Dia tak benar-benar peduli pada permainan itu sekarang.
Dia hanya menunggu perempuan itu kembali menunduk pada bukunya.
Beberapa detik kemudian, perempuan itu meletakkan cangkir dan kembali membaca.
Barulah Sam membiarkan pandangannya turun lagi—ke sepatu hak tinggi itu.
Dia menatapnya cukup lama, merasakan reaksi yang, menurutnya, sangat biasa dimiliki laki-laki mana pun. Sulit menjelaskan kenapa sepatu hak tinggi selalu punya kesan sensual. Tapi memang begitu. Ada sesuatu dalam bentuknya, dalam cara benda itu membingkai kaki, yang memantik hasrat di bagian belakang pikirannya.
Budayakah itu? Iklan? Atau memang ada penjelasan ilmiahnya?
Dia pernah bertanya-tanya: jika seorang perempuan difoto dua kali—pose sama, wajah sama, pakaian sama—hanya berbeda antara sepatu datar dan hak tinggi, apakah laki-laki seperti dirinya akan selalu memilih yang berhak tinggi?
Mungkin ya.
Ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan mudah.
Sam tersenyum kecil pada klise lama bahwa laki-laki selalu memikirkan seks.
Yah, saat ini memang iya.
Pandangannya naik perlahan menyusuri kaki perempuan itu yang dibalut nilon hitam. Gaunnya sopan, panjangnya sampai lutut, tapi ada belahan kecil di samping yang sedikit terbuka karena posisi duduknya. Dari sudut tempat Sam duduk, tampak sedikit bagian paha.
Tatapan Sam berhenti di sana.
Pikirannya mulai mengembara, dan tubuhnya mulai merespons lebih cepat daripada akalnya. Seolah ada tombol otomatis di dalam dirinya yang langsung aktif begitu melihat hak tinggi, nilon hitam, dan sedikit kulit terbuka.
Dia nyaris menertawakan dirinya sendiri.
Seperti anjing Pavlov, pikirnya. Diberi rangsangan kecil, lalu tubuh bereaksi begitu saja.
Atau, pikirnya lagi, mungkin lebih lucu kalau ia bilang dirinya bereaksi pada seorang belle.
Perempuan itu berdeham.
Sam langsung mengalihkan pandangan.
Dia meraih kopinya dan menghabiskannya.
Saat cangkir itu turun, perempuan itu sudah berdiri dan melihat ke sekitar. Sam meletakkan cangkir, menyelipkan iPad ke travel pouch di pinggang, lalu bangkit dan mengikuti saat perempuan itu berjalan menuju kasir.
Kasir sedang melayani pelanggan lain. Perempuan itu berdiri menunggu. Sam mengambil posisi di belakangnya.
Dia memandangi bagian belakang kepala perempuan itu. Rambutnya cokelat lembut, jatuh rapi. Lalu dia mencium sesuatu—aroma tipis, samar. Parfum? Atau sampo?
Tanpa sadar Sam sedikit membungkuk, menghirup pelan.
Ada wangi di sana. Halus. Nyaris tak terasa, tapi ada.
Sam tersenyum kecil.
Lucu juga, pikirnya, kalau perempuan tahu betapa laki-laki kadang bereaksi bahkan hanya dari aroma.
Lalu Sam mendongak.
Di dinding belakang kasir, tergantung sebuah cermin besar dengan sudut miring. Cermin itu memantulkan kasir, meja, dan pelanggan yang sedang menunggu.
Dan di sana, di cermin itu, perempuan itu sedang menatap lurus ke arahnya.
Ke arahnya.
Sam merasakan panas menjalar ke tengkuk.
Dia ketahuan.
Bukan tertangkap basah, pikirnya getir. Hampir basah.
Tatapan mereka bertemu beberapa detik.
Perempuan itu menatap Sam.
Sam menatap balik.
Apa yang dipikirkannya?
Pelanggan di depan selesai. Kasir tersenyum pada perempuan itu.
“Bu Samudra, apa kabar hari ini?”
Perempuan itu maju selangkah dan membalas senyum. “Sore, Cory. Saya pesan teh.”
Kasir mengetik sesuatu, lalu menoleh ke Sam.
“Sekalian dibayar, Pak Samudra?”
Sam maju, sudah memegang beberapa lembar uang.
“Ya. Saya kopi biasa dan date square.”
Kasir menekan tombol lagi. “Totalnya seratus dua puluh tiga.”
Sam menyerahkan uang. Kasir menyerahkan kembalian, tapi Sam malah mengangkat stoples tip kecil di meja. Kasir memasukkan kembalianke dalamnya.
“Terima kasih, Pak Samudra.”
Sam tersenyum, mengembalikan stoples tip, lalu mundur memberi jalan pada Bu Samudra.
Istrinya.
Sam mengikuti saat mereka keluar. Dia membukakan pintu untuk istrinya, lalu berjalan bersamanya menyeberang ke mobil.
Dia membukakan pintu penumpang, menunggu istrinya duduk, lalu menutupnya pelan dan berjalan memutar ke sisi pengemudi.
Sebelum masuk, ia sempat menatap lewat kaca depan.
Kaki istrinya.
Dan Sam tersenyum sendiri.
Setelah bertahun-tahun menikah, reaksi itu rupanya masih sama.
Masih ada gairah. Masih ada ketertarikan. Masih ada rasa itu.
Dan bukankah memang seharusnya begitu?
Mobil terakhir lewat. Sam membuka pintu, masuk ke kursi kemudi, dan merogoh saku mencari kunci.
Kalau dia tidak salah ingat, kedua anak mereka akan menginap di rumah teman sepulang sekolah hari ini.
Artinya malam ini rumah akan kosong.
Sam menyalakan mobil, melirik istrinya, lalu tersenyum kecil.
Sepertinya malam ini akan jadi waktu yang tepat untuk berduaan dengan “wanita”-nya.
Jawa Barat, 7 Mei 2026
