Feri terbangun dan mendapati tubuhnya menjadi benda aneh. Sebuah alat yang tidak dapat ditentukan jenisnya. Ada semacam roda gigi (semacam) di tempat perutnya seharusnya berada. Anehnya, roda gigi itu menggeram.
“Astaga!” katanya, sambil melihat ke cermin meja rias. Ternyata diaa juga mempunyai engkol dan tuas yang tidak jelas, semacam perkakas dengan sambungan yang lentur.
Dia berjalan ke dapur tempat istrinya sedang menyeruput kopi dan membaca koran.
Dia menunjuk dirinya sendiri. “Dena,” katanya, “Apa-apaan ini?”
Istrinya mendongak dan meneliti lebih dekat.
“Hmm,” katanya. “Aku ingin tahu apa fungsi pasak aneh itu. Mungkin tidak terlalu buruk, Fer—tergantung.”
“Tergantung?” pekiknya. “Tergantung apa?”
“Yah, kita tidak pernah tahu apa yang mungkin berguna. Mungkin perlu waktu untuk mencari tahu semuanya. Tapi, menurutku, kamu punya banyak potensi di sini.”
“Tapi aku—apaan sih?”
Dena mengulurkan tangan dan menekan tombol. Sesuatu mulai berputar dengan bunyi berderit.
“Sedikit oli bisa melancarkaannya,” kata istrinya. “Kamu tahu, jangan terlalu berpikiran negatif. Aku yakin kamu akan berguna dalam cara yang bahkan tak bisa kau bayangkan.” Dena mendudukkan suaminya yang berbentuk benda aneh di hadapannya.
“Kurasa begitu,” kata Feri. “Sebenarnya, aku tidak pernah merasa lebih baik. Berikan aku yang ada teka-teki silang itu.”
Dena menggeser koran. Sebuah benda panjang menjulut dan mengambilnya.
Cikarang, 23 September 2024

