Rumah
dok. pri. Ikhwanul Halim

Rumah

Views: 54

Semalam di kamar mandi dia bilang, “Boleh aku ceritakan sesuatu? Bukannya untuk membuatmu takut.”

Aku berbaring di atasnya, basah kuyup, jadi aku mengangguk di dadanya.

“Tadinya aku berpikir untuk tidak menikah dan tinggal bersamamu setelah semua ini membuatku sangat sedih.”

Aku mengangguk lagi dan berkata, “Aku tahu.”

“Aku merasa seperti di rumah di mana pun kamu berada. Kamulah rumahku.”

Dia mengucapkan kalimat klise ini dengan sangat tulus sehingga seolah-olah dia adalah orang pertama yang mengucapkannya.

“Aku tahu.”

“Aku tidak pernah merasa sedekat ini dengan siapa pun.”

“Benarkah?”

“Ya.”

Kami adalah pasangan pengantin baru dan dia yang pindah ke rumahku demi kenyamanan. Aturannya adalah kamu tidak boleh bercampur dengan rumah tangga lain, jadi kami menjadi satu rumah tangga. Kami melakukan hal yang sama berulang-ulang. Ngopi di tempat tidur, berciuman di pintu, berangkat kerja, minum dari inuman kaleng di kamar mandi, bergantian menyiapkan makan malam, lalu menonton drama Korea atau seri fantasi dari Netflix sampai mata kami mengantuk.

Pada hari Rabu kami memesan pizza, pada hari Jumat kami memesan masakan Cina. Pada hari Minggu kami berjalan tepat 12.000 langkah di rute yang sama di CFD, berhenti di kafe yang sama untuk membeli kopi.

Kami hanya pernah berkencan sekali, pada bulan Maret. Dunia berhenti setelah itu dan kami bertemu di layar komputer setiap Sabtu malam selama sepuluh minggu, dia di rumahnya di Bogor, aku di rumah masa kecilku di Jakarta Selatan.

Kencan kedua kami berlangsung di sofa yang kami gunakan setiap malam. Aku baru kembali ke Jakarta  beberapa hari. Dia muncul di depan pintu dengan sebotol sampanye dan kami berdua sangat gugup, kami hanya berdiri di dapur sambil tersenyum satu sama lain selama dua puluh menit pertama.

Aku senang dia ada di sini. Aku belum pernah bersama dengan laki-laki sebelumnya dan tidak menyangka akan begitu menyenangkan. Dia membantu. Dia memperbaiki keadaan. Dia mendengarkan semua ceritaku dan mengusap kakiku saat aku mengangkatnya untuk diperiksanya. Dia membawakanku sesuatu untuk dikunyah. Sepotong keju parmesan, sepotong mortadella, sebatang cokelat.

Kami melamun tentang semua hal yang akan kami lakukan saat diizinkan. Kami telah memutuskan ke Paris, Kuba, Jamaika, Maroko. Tapi pertama-tama, Bukittinggi, untuk bertemu orang tuanya. Dan sebelum itu, pub di seberang jalan.

Aku tidak sabar untuk menunggumu di bar, untuk membelikanmu segelas bir, dan kita berdua mengenakan pakaian terbaik kita,dia mengirimiku pesan dari kantor. Mungkin akan mencairkan es di kulkasmu saat aku kembali.

Aku telah menjalani hari yang sama, dengan sedikit variasi, selama berbulan-bulan sekarang. Sama seperti orang lain.

Cikarang, 13 Oktober 2024

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *