Kebanyakan robot yang kalian lihat di restoran adalah robot yang menyajikan makanan. Kami punya satu robot, tetapi itu adalah keputusan yang buruk dari pihakku. Pelayan sungguhan akan membuat pelanggan tersenyum dan merasa diterima. Automota membuat tempat ini terlihat murahan. Kalau rusak, aku tidak akan repot-repot memperbaikinya.
Terkadang kita mendapatkan truk rongsokan besar dan unit keamanan, atau jenis yang memindahkan kontainer di dermaga. Tidak banyak yang bisa mereka lakukan di sini.
Cuaca dingin tidak mengganggu mereka. Mereka memesan makanan atau minuman hanya agar bisa mendapatkan tempat untuk duduk di meja dan melihat ke luar jendela atau memperhatikan pelanggan. Aku tidak keberatan asalkan mereka tidak terlalu besar sehingga menggores plafon. Sebelum kebijakan kami berubah, kami hanya akan menolak mereka selama jam sibuk.
Salah satu manusia kaleng itu mulai datang secara teratur. Aku rasa dia bekerja di hotel tak jauh dari sini. Manusia kaleng itu tipis dan di atas bahunya ada bentuk seperti tanda pangkat. Kami tidak banyak mendapatkan yang seperti itu.
Setiap malam dia memesan secangkir kopi yang tidak disentuh dan mengawasi pintu hingga jam tutup.
Suatu hari, seorang gadis masuk melalui pintu dan begitu melihatnya, robot itu menoleh dan mengikutinya ke seberang ruangan. Menurutku, dia tampak biasa saja. Tidak akan memperhatikannya jika bukan karena kaleng timah itu menarik perhatiannya. Dia mengenakan topi, sarung tangan kulit untuk mengemudi, mantel panjang menutup gaunnya, pita yang diikatkan erat di pinggangnya.
Begitu dia duduk, robot itu meluncur dari bangku dan berjalan ke arahnya.
Aku jarang mendengar robot berbicara. Suaranya seperti suara lelaki, tipis dan datar. Seperti berbicara dari balik kaca. Ada bunyi klik kecil sebelum dan sesudah kata-katanya.
“Lyta.”
Gadis itu terkejut dan dari raut wajahnya mengatakan dia tidak senang melihatnya. Dia melihat kembali ke menunya.
“Lyta,” kata manusia kaleng itu lagi. “Kami tidak bisa merasakan kehangatan, tetapi kami tahu tubuhmu hangat. Kami tahu tubuhmu bisa bangkit untuk menemui kami. Kami ingat.”
Jawab si gadis, “Aku tidak ingin diingatkan. Tolong tinggalkan aku sendiri.” Dia melihat sekeliling untuk meminta bantuan.
Aku menggenggam tongkat kejut di belakang meja bartender.
Bunyi klik. “Dulu kamu penyayang dan terbuka dan semuanya baik-baik saja. Kami punya bukti. Foto-foto. Banyak waktu yang dihabiskan.” Dia meletakkan ‘tangannya’ di pergelangan tangan si gadis.
Jawab si gadis. “Itu sebelum kamu dialihfungsikan,” dan kemudian, dia meninggikan suaranya satu oktaf. “Kamu menyakitiku!”
Orang-orang di sekeliling mereka menoleh. Aku keluar dari belakang meja bartender.
Manusia kaleng melepaskan pergelangan tangan si gadis dan bergerak mundur. “Kami hanya ingin kamu ingat. Kami tidak akan pernah menyakitimu.”
Gadis itu melihat sekeliling ke pelanggan lain. Garpu diletakkan atau dibekukan saat menuju mulut. Dia merendahkan suaranya. “Perasaan datang lebih dulu,” katanya. “Baru kemudian logika. Itu jawaban paling jujur yang bisa kuberikan padamu.”
Bunyi klik. “Ingatan lama adalah cacat dalam model ini.”
Aku meletakkan tanganku di bahunya. “Cukup, kawan, saatnya pergi.”
Gadis itu mengancingkan kembali mantelnya dan meraih topinya.
“Aku harus pergi,” katanya. “Aku harus kembali bekerja.”
“Jaga dirimu baik-baik,” kata manusia kaleng.
Gadis itu mendorong kami dan mengulanginya. “Aku harus kembali bekerja.”
Manusia kaleng tetap tidak bergerak selama beberapa saat, lalu pergi. Orang-orang melanjutkan makan mereka.
Robot itu tidak pernah kembali dan kami tidak mengizinkan robot untuk duduk di meja restoran lagi. Mereka punya bagian sendiri di meja bartender.
Lebih baik untuk semuanya.
CIkarang, 26 September 2024
