Wilayah Kumuh
dok. pri. Ikhwanul Halim

Bagian Kota yang Terlupakan oleh Kepedulian

Views: 155

di kelas saat Bercerita sebagai Seni Pertunjukan
aku menghafal buku tentang kucing
jutaan banyaknya.
pada akhirnya, hanya satu yang tersisa:
kucing terbaik.

ia tak melawan yang lain
karena ia kecil, penakut yang pengecut
itu membuatnya istimewa.

sepekan lalu aku berada di Pangkalan
belum pernah jauh ke selatan
belalang goreng jadi camilan
rokok murah tembakau Kisaran
yang pernah kusesap.

membersihkan rumah di hari keempat
mencabut paku berkarat
membunuh kecoak ukuran telapak tangan.
merobek karpet, merobohkan dinding,
dan fakta-fakta tak mungkin disunting
tentang sebuah keluarga
menatap balik ke arahku.

kartu remi cangkulan.
kancing lepas dari benang.
uang receh benggolan.
harta benda yang ditelan
dan disimpan oleh rumah tua kenangan.

bilik terakhir dindingnya jatuh runtuh
berkeping-keping, udara penuh debu
berbau busuk.

menggotong tumpukan rumah
ke tempat sampah,
membuangnya ke sana sebagai limbah
para tetangga menonton.
di balik potongan dinding terakhir

memeluk sebuah sudut selembar kertas terlipat
bagian depan dan belakang
aku mengenali kata-katanya
tidak perlu membuka lipatan untuk membaca semua

mereka membawa anak kucing itu ke dalam rumah
wanita yang sangat tua itu memandikannya
dengan air hangat haingga basah
dan menyisir bulunya hingga lembut berkilau

aku menyelipkannya, masih terlipat ke dalam sakuku.
karena keajaiban kecil yang egois  dari masa lalu
tidak akan membantu siapa-siapa selain diriku.

Cikarang, 26 September 2024

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *