Pohon Harapan adalah pohon dengan duri yang terpilin di puncak Bukit Kincir, salah satu pohon yang telah dibentuk oleh angin selama berabad-abad, membungkuk dan bertahan.
Gadis-gadis remaja anak sekolah setempat—yang salah satunya—menggantung pita warna-warni di cabang-cabang pohon untuk mewakili harapan mereka: agar Indra Pratama melirik mereka, misalnya. atau agar orang tua mereka mengizinkan mereka boleh berlibur di rumah villa Vindy, meskipun ayah dan ibu Vindy tidak menikah, dan amoralitas semacam itu pasti menular.
Mereka berusaha keras untuk memelintir, melilit, dan menjerat, tetapi mereka tidak dapat mengikat pita mereka.
Ada aturannya.
Kemudian mereka kembali tidur dan memimpikan mimpi-mimpi mereka yang membosankan—tentang Indra Pratama, dan Vindy, dan Pantai Krukut—dan ketika mereka kembali di pagi hari, pita-pita yang belum tertiup dari pohon akan membuat mimpi pemiliknya menjadi kenyataan.
Sebagian besar pita-pita itu disebarkan oleh angin. Sebagian besar berbaring di lereng yang mengarah ke duri seperti ular yang berpindah massal oleh gempa bumi. Sepanjang tahun, pita-pita itu akan muncul di sarang burung, pondok, dan tempat tinggal luak. Lindri bersumpah dia melihat satu tergantung di pantat sapi, seolah-olah diseruput utuh dan ditelan serta dicerna lewat pintu belakang.
Dia mengatakan itu pitaku, dan pantat sapi adalah tempat yang baik untuk keinginanku yang menyimpang, tetapi aku menanggapinya dengan sedikit skeptis. Aku tidak tahu banyak tentang sistem pencernaan sapi, tetapi kurasa nama yang ditulis dengan spidol tidak dapat menembusnya dengan utuh. Selain itu, jika keinginanku menyimpang, Lindri dan orang-orang seperti dialah yang membuatnya demikian.
Sebagai putri peracik racun, ada beberapa perdebatan di antara pengurus sekolah tentang apakah aku harus mendapatkan pita.
Bisakah aku dipercaya untuk mengharapkan hal yang benar? Apakah aku akan meneruskan pekerjaan jahat ibuku di dalam kepalaku sebelum aku cukup dewasa untuk melakukannya dalam praktik nyata?
Mereka benar-benar mengadakan rapat tentang hal itu, rapat sehari penuh hanya untuk membahas tentangku. Aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan tentang Lindri dan gadis-gadis lainnya. Jelas bukan tentang sistem demokrasi dan perdamaian dunia.
Bahkan ketika mereka akhirnya—dengan hati yang berat—memutuskan bahwa aku tidak melakukan kesalahan, mereka tetap memberlakukan aturan.
Aku tidak diizinkan memakai pita hitam, sama seperti aku tidak diizinkan mengenakan pakaian hitam, atau menyalakan lilin, atau mendengarkan musik heavy metal The Voice of Baceprot. Pikiranku harus selalu diarahkan menjauh dari hal-hal yang tidak menyenangkan.
Ada kekuatan sihir dalam darahku.
Tentu saja, aku juga putri korban pembunuhan, tetapi aku tidak begitu mengingat pelakunya. Yang dapat kulihat ketika membayangkannya hanyalah wajah merah, kacau dengan emosi yang tidak kumengerti. Bapak dan Ibu Sardono mengatakan si pembunuh melakukan sesuatu yang ‘tidak pantas’ kepadaku, tetapi itu tidak memberi tahuku banyak hal. Mereka memiliki definisi yang cukup luas tentang ‘tidak pantas’.
Aku menginginkan pita.
Aku tidak peduli dengan tradisi mereka yang lain — aku tidak pernah ingin menari di sekitar api unggun, atau mengikuti acara kenduri selamatan untuk kota—tetapi aku merasa ada hubungan kekerabatan dengan pohon Harapan. Pohon Harapan tidak hanya dipertajam dan dibentuk oleh angin yang bertiup di kota ini, tetapi juga memiliki sedikit selera humorku yang aneh.
Ketika Nuning ingin terbebas dari hukuman Pak Markum karena tidak mengerjakan peer, dan pitanya ditemukan terlilit di cabang-cabang pohon harapan keesokan harinya, keinginannya dikabulkan ketika pita lainnya yang diterbangkan angin terlilit di sekitar wiper kaca depan mobil Pak Markum dan membuatnya memasukkan mobilnya ke dalam jurang. Keinginan Nuning terpenuhi dan dia harus menjalani konseling ke guru pembimbing sekolah.
Itu luar biasa.
Hal lain yang sama antara pohon harapan dan aku adalah kami tidak bisa melarikan diri. Setidaknya ibuku bisa pergi ke kota lain, meskipun di dalam penjara. Tetapi kami harus tetap di sini, karena kami tidak akan berarti apa-apa di tempat lain.
Kalau pita-pita permohonan itu sudah terlepas lebih dari sehari, mereka akan berubah menjadi benda-benda yang menyedihkan dan berubah warna, seperti permen yang tinggal setengah, tersangkut di pagar tanaman. Kadang-kadang aku bertanya-tanya apakah apa yang sedang kita lakukan itu termasuk membuang sampah sembarangan. Aku bertanya-tanya apakah ada hewan-hewan yang terperangkap dalam kekusutan itu dan tersedak saat mencoba melepaskan diri. Namun, itu juga hal yang sederhana—jimat kecil, upeti mungil—seekor tikus mati yang digantung di pagar tanaman seperti terpidana yang dihukum mati.
Para penguasa akan menyukainya. Mereka sangat marah, ketika ibuku tertangkap, karena hukuman mati telah dihapuskan beberapa dasawarsa sebelumnya.
Hanya ada satu cara untuk menghadapi penjahat, kata mereka. Tapi anak perempuan penjahat lebih merupakan area abu-abu dalam hukum.
***
Tadi malam terjadi badai yang mengerikan. Pita-pita diterbangkan sampai ke Kota Bangkarung, di seberang lembah. Namun, ketika kami berjalan dengan susah payah mendaki Bukit Kincir dengan sepatu kanvas kami setelah sarapan, masih ada pita yang tergantung di sana, kuning pucat, lemas seperti mie instan basah. Begitu biasa—hanya disampirkan di salah satu cabang terendah seperti serbet di lengan pelayan rumah makan. Seolah-olah Pohon Harapan itu memberikannya kepadaku:
“Hari ini hari istimewa, Nona Dyah Ayu. Pembalasan Dendam. Mereka bilang balas dendam ini paling lezat disajikan dingin, dan aku punya beberapa yang sudah diseduh dan dimatangkan selama hampir satu dasawarsa.”
Kamu dan aku tahu bahwa aku tidak menginginkan balas dendam, tetapi anak-anak perempuan itu tidak akan pernah percaya padaku kalau aku mengatakannya.
Yang aku harapkan adalah ibuku bebas—bebas seperti benih tempuyung, bebas seperti pita-pita yang terbuang yang muncul di sarang burung, atau wiper kaca depan yang kusut, seperti jin khodam yang berwarna-warni. Bebas seperti tidak merdekanya aku dan Pohon Harapan.
Tetapi tidak bisa tidak aku menikmati ekspresi Lindri yang ketakutan, saat dia berlari ke arahku dengan sepatu kanvasnya.
“Apa yang kamu inginkan, Dyah?”
Aku tidak mengatakan sepatah kata pun.
Aku hanya tersenyum.
Cikarang, 2 Oktober 2024

