Akhirnya, setelah sekian lama, kabar gembira itu datang juga. Kanselir Qian Nyate Gito Conyo Timomo yang lebih dikenal dengan sebutan Conyoti akhirnya lengser juga.
Seluruh rahayat patut angkat blangkon, udeng, helm proyek, atau apa saja yang dipakai sebagai penutup kepala, termasuk wig Naruto dan boneka Miska. Karena meski dijijiki oleh sebagian besar rahayat saking degilnya, dia bisa bertahan ditampuk kekuasaan selama satu dasawarsa berkat dukungan dan dekingan Sembilan Naga Hutan Tirai Bambu melalui tangan Patih Sengkuni, patih kumis baplang yang bahkan Maut pun ngeri padanya.
Akan tetapi meski namun walaupun demikian, Raden Nyate Gito Conyo Timomo tak hendak melepaskan nikmat kekuasaan yang sudah dirasakannya selama 120 purnama dengan sukarela. Dia sudah mencoba agar babak kekuasaan bisa bertambah menjadi 180 purnama dengan cara mengubah aturan main. Gagal.
Akirnya Qian Conyoti pun mengubah strategi. Sebagai bapak yang baik, tentu sudah selayaknya biola memikirkan masa depan anak cucunya. Jika perlu sampai tujuh turunan sembilan tanjakan.
Pertama, dengan menempatkan putra keduanya, Qian Nyapebal Alayeh menjadi bengcu Partai Kembang Mawar San Diego Hills yang tujuan pendiriannya memang untuk melestarikan budaya dinasti oligarki trah Conyoti van Oslo. Sebelumnya, Qian Conyoti sudah pernah mencoba untuk mengkudeta para bengcu partai melalui rekayasa Gathering Dadakan, seperti tahu bulat gurih-gurih enyoy. Ada yang berhasil ada yang tidak.
Bukan berarti Qian Conyoti menyerah dan angkat tangan begitu saja. Biola dengan data telik sandi di dalam kantungnya yang juga menyimpan cap it ceng ek ek (baca: sebelas ribu triliun) hepeng yang konon dititipkan di koperasi-koperasi wahyudi di manca negara, memeras para bengcu yang tadinya ogah tunduk agar menuruti kehendaknya dengan berbagai ancaman.
Kemudian, Qian Conyoti menempatkan iparnya, Judge Padtay Pubdap, sebagai Ketua Tribunal Undang-Undang, yang pada gilirannya, berhasil mengubah aturan sehingga wakil kanselir boleh dijabat bocah seumuran Qian Tisyad Yanyasudil, putra mahkota Conyoti. Maka Tisyad si pemadat mendaftar sebagai calon wakil Kanselir mendampingi Gen Hyasoto Busiradwo, seorang mantan ronin yang menjadi Patih Pagar Nusa terakhir Qian Conyoti. Judge Padtay Pubdap kemudian dipecat, tapi tujuan penempatannya sudah tercapai. Hip hip hore.
Singkat cerita—tak perlu diceritakan detailnya—pasangan Gen Hyasoto Busiradwo dan Tisyad Yanyasudil berhasil memenangkan pilihan raya dan ditetapkan sebagai Kanselir dan Wakil Kanselir setelah Qian Conyoti habis masa jabatannya yang kini tinggal menghitung hari. Namun menjelang detik-detik serah terima rusa istana Beograd yang selalu menjadi santapan para Kanselir, terkuaklah bahwa Qian Tisyad Yanyasudil melalui nama akun sosmednya Fufufafa yang juga digunakan untuk berlangganan Promhub, dulu sering ngenyek Gen Hyasoto Busiradwo. Penulis tidak tega untuk menuliskan ejekan apa saja yang dilontarkan bocah ingusan tak punya adab itu kepada Gen Hyasoto Busiradwo yang sudah tua, sakit-sakitan, lesu, lelah, lemah, lemas, loyo, lapar, dan haus kekuasaan itu.
Pokoknya itu bocah sakaw ngantukan jaka sembung bawa golok itu sungguh biadab.
Nah, pembaca. Aku berpikir sehingga menulis artikel ini—selain terinspirasi tajuk utama koran tempo kemarin.
Nanti setelah bapaknya Fufufafa lengser, siapa yang bisa menebak bagaimana kelanjutan nasib bocah tengil Fufufafa karena bapaknyaa tak mungkin terus-terusan melindunginya, termasuk dari pembalasan Gen Hyasoto Busiradwo yang dihinakan sehina-hinanya oleh wakilnya? Apakah para bengcu, bahkan yang dititipkan bapaknya di partai-partai mau saja terus mendukung si bocah songong setelah bapaknya menjadi kodok ompong?
Memangnya yang mengaku “Gerombolan Tikus Bawah Tanah Relawan Bayaran Conyoti” dan “Pasukan Kagak Berani Mati Conyoti” nggak langsung tiarap nyungsep begitu bapak si Fufufafa ngibrit ke Oslo atau Peking?
Dalam politik, tidak ada yang namanya teman abadi. Bapaknya saja mencontohkan perilaku buruk dengan menikung Induk Banteng yang membesarkannya sehingga bisa menjadi kanselir selama sepuluh tahun.
Paling juga si Fufufafa dan seluruh trah Qian Conyoti akan lenyap menyusul arwah Harun Masiku nantinya.
Eh, omon-omon, si Ngibulin sekarang menghamba ke siapa?
Cikarang, 16 Oktober 2024

