Kamu sudah tahu sejak awal. Kamu tahu karena dunia tahu tentang siklus hidup Madh yang rumit dan menarik, dan itu telah didokumentasikan dan dibahas di mana-mana di semua media tanpa henti. Dan kamu tahu karena Pie memastikan kamu mengerti, sebelum kamu menikahiny mereka.
Lima tahun adalah waktu ikatan kebersamaan yang kamu dapatkan dengan Madh.
Tidak lima tahun, tepatnya. Lima tahun dikurangi empat hari. Setelah lima tahun kurang empat hari, Pie akan menyusut ke dalam dirinya sendiri seperti bintang neutron yang melepaskan lapisan luarnya, menjadi lebih kecil, lebih padat, lebih terang, sebelum muncul dalam bentuk barunya.
“Aku tidak akan mengingatmu,” kata Pie kepadamu. Dan kemudian, untuk memastikan kamu menyadari pentingnya apa yang dia katakan, “Aku tidak akan mau. Aku tidak akan peduli.”
Semua emosi dan kenangan juga akan tertumpah, saat Madh berganti kulit dan jati diri mereka yang lama.
“Aku tahu,” katamu saat itu. “Aku mengerti.”
Kamu jatuh cinta pada Pie, terperangkap oleh gravitasi mereka, jatuh ke dalam diri mereka. Rasanya mustahil, begitu indah, bahwa mereka peduli padamu sehingga kamu tawar-menawar dengan alam semesta hanya untuk satu bulan lagi bersamanya.
Jangan biarkan ini berakhir dulu. Biarkan aku memilikinya. Hanya satu bulan lagi, hanya satu bulan lagi.
Dan ini lima tahun kurang empat hari. Kamu bersamanya selama lima tahun empat hari. Rasanya seperti waktu yang lama. Rasanya seperti selamanya. Rasanya cukup.
Itu tidak cukup. Jauh dari cukup, dan kau bisa mengetahuinya sejak awal kalau kamu membiarkan dirimu untuk mengetahuinya.
Kamu bukanlah orang pertama yang menikahi seorang Madh, meskipun kamu satu-satunya dari orang-orang yang kamu kenal. Seorang wanita mendekatimu di pasar suatu kali saat kamu dan Pie menumpuk keranjang penuh makanan lezat dan cekikikan di atas sayuran akar.
“Berapa lama?” tanyanya, sambil menunjukkan gelang pernikahan Madh di pergelangan tangannya, yang kini memudar dan kabur, kontras dengan definisimu yang gelap.
“Delapan bulan,” jawabmu singkat, enggan, namun entah bagaimana tertarik untuk menjawabnya.
“Masih sangat baru,” katanya, tetapi kau sudah berpaling, membawa Pie bersamamu, aman dalam gelembung kebahagiaanmu, dalam cinta, kekonyolan, dan kegembiraanmu. Dan kau melupakannya.
Kecuali kamu tidak benar-benar melupakannya.
Kamu memikirkannya bertahun-tahun kemudian, tentang ketegaran dan rasa lapar di wajahnya dan campuran cerah antara rasa kasihan dan kecemburuan di matanya.
“Bagaimana jadinya di fase berikutnya?” tanyamu kepada Pie saat itu.
Benarkah maksudmu seperti apa jadinya, tanpa aku?
“Aku tidak bisa membayangkannya,” kata Pie.
“Cobalah,” katamu, seperti misil pencari rasa sakit, mencoba mendorong, mencoba menyabotase, mencoba menyakiti.
Tetapi Pie mendekapmu dalam pelukannya dan hanya menatap matamu, bukan masa depan.
“Aku tidak bisa.”
Dan kamu menyadari, saat menjalani tahun terakhir bersama, bahwa kamu tidak pernah benar-benar mempercayainya bahwa dia akan melupakanmu. Jadi kamu tidak dapat menerimanya, bukan?
Bahwa kamu telah menghayati tema-tema dari buku dan film tentang cinta yang menemukan jalannya. Bahwa entah bagaimana itu akan berbeda untuk kamu dan Pie, terlepas dari semua yang telah diceritakan kepadamu. Terlepas dari kenyataan bahwa Pie masa depan berada di luar kerucut cahaya dari semua yang terjadi sekarang, dan mereka tidak akan terpengaruh atau dipengaruhi oleh semua itu.
Kamu secara bergantian menjadi pemurung dan pemarah dan tidak puas, dan kamu mendapati dirimu sangat membenci empat hari yang lebih sedikit itu, karena semua orang selalu membicarakan tentang lima tahun, jadi rasanya setidaknya kamu seharusnya berhak untuk mendapatkannya.
Dan kemudian, tiba-tiba tetapi tidak tiba-tiba sama sekali, waktumu habis. Pie runtuh ke dalam, menjadi lebih padat, massa kecil yang terang di sudut ruang tamumu.
“Aku mencintaimu,” katamu, berharap kata-kata itu juga tersedot ke dalam.
Butuh waktu empat hari, dan kamu bertahan di sofa di samping Pie. rambutmu berminyak kusut tak disisir, sarapan bubur dari cangkir saat kamu ingat untuk makan.
Saat Pie keluar dari cangkangnya, entah bagaimana mereka lebih jelas, lebih cerah, bersinar.
Lebih asing.
Kamu masih bisa mencintai mereka seperti ini. Kamu sadari rasa itu berkembang di hatimu. Mereka bukan Pie yang kamu kenal, tetapi mereka begitu cantik.
“Pie,” katamu, bibirmu retak, mulutmu kering kerontang.
Pie tidak menoleh ke arah suaramu, tetap melihat ke luar jendela cerukmu.
Matamu terpaku pada cakrawala. Dan saat mereka pergi, mereka tidak melihat ke belakang.
Cikarang, 16 Oktober 2024

