Mesin Takdir Para Dewa
dok. pri. Ikhwanul Halim

Mesin Takdir Para Dewa

Views: 58

Ketika dunia seluruhnya gelap gulita dan bunga-bunga yang mekar kembali melipat kelopaknya hingga menutup kuncup dan kupu-kupu tidur bermimpi, begitu juga rusa dan domba. Sementara kelelawar membentangkan sayapnya berburu makan malam serta menakut-nakuti manusia yang tidak menyukai apa yang mereka makan atau siapa mereka.  Burung bulbul bernyanyi.

Para kekasih terdiam di antara seprai yang kusut dan mendengar lagu itu.

Tuhan tersenyum pada kita, kata mereka, dan kembali memeluk tubuh dan jiwa, atau setidaknya tubuh, dan, tentu saja, melupakan segalanya dalam tidur gairah atau cinta yang terjaga itu. Tidur manusia yang terjaga. Bukan hanya para kekasih, tetapi anak-anak dalam permainan game Candy Crush dan berjam-jam bermain online game lainnya. Para remaja yang terpaku pada magnet layar, TV, komputer, dunia sensasi sentuhan jari yang menyimpang. Dan bahkan orang tua, yang lupa untuk apa kompor di dapur, tetapi mempertahankannya sebagai semacam lambang yang berdebu. Kalaulah ada yang mau mendengarkan di antara kata-kata yang membingungkan, bahkan mereka, kalau alat bantu dengar mereka dipasang dengan benar, mendengar lagu burung bulbul dan berpikir, Betapa indahnya, betapa indahnya. Siapa yang ingat mengapa?

Mungkin lebih baik hal itu tidak diucapkan. Mengapa memetik bunga yang indah untuk menyingkapkan asal-usulnya yang buruk? Mengapa mengingat intro lagu itu? Mengapa mengingat hal lain selain cinta, dan kegembiraan, dan, tentu saja, alamat email dan di mana remote control berada?

Sekolah menengah atas masih menuntut prasyarat sejarah bahasa untuk lulus, tetapi mari kita hadapi, pikiran-pikiran cemerlang kita tidak berada di universitas yang membungkuk di atas lembar lontar dan buku-buku berhalaman kuning, tetapi menjelajah internet dan melepaskan kekuatan luar angkasa dan kecerdasan buatan yang luar biasa, menjual masa kini demi gigi yang lebih cemerlang dan mungkin hidung yang lebih mancung serta dagu yang lebih lancip, atau kehidupan yang lebih aktif.

Apa yang benar-benar penting di sini? Hantu?

Bahkan mereka yang menjatuhkan bulu—yang penuh kuman dan bakteri, berpotensi penuh penyakittak terobati—dan menyanyikan lagu-lagu emas dalam kegelapan?

Sungguh merdu. Tetapi apa gunanya?

Kuburan berdesakan karena terlalu banyak tulang dan beratnya batu nisan, dan ketika angin bertiup, udara berdebu dengan orang mati.

Ah, hidup, keniscayaan yang suram. Apa gunanya? Kemajuan memang memberi janji, seperti yang selalu terjadi. Janji keabadian.

Namun untuk saat ini yang ada hanyalah kehidupan dan itu menuju pada kematian dan setelah itu, ada berbagai macam teori, tetapi yang pasti adalah pembusukan, tulang, dan debu.

Maka siapa yang bisa menyalahkan kita karena menyukai nyanyian burung bulbul dalam kegelapan dan melupakan sisanya?

Dan seperti setiap umumnya tragedi Yunani, untuk legenda yang ini juru cerita memberi judul Nyanyian Burung Bulbul.

***

Philomela dan Procne adalah dua orang gadis kakak beradik yang bermain di lapangan rumput atau di tepi sungai sejak anak-anak. Mereka bermain antara satu sama lain dan berimajinasi. Namun, jangan terlalu sentimental di sini.

Dulu, ada banyak hal yang terjadi sehingga hari ini, dengan segala pengetahuan kita yang tidak sempurna, kita tidak akan pernah berani mendiskreditkan seorang gadis remaja.

Betul, kan?

Misalnya, suatu kali, ketika terjadi wabah belalang menyerang, matanya hijau dan suka mengintip, tanah dan tanaman bergelombang oleh rahang mereka. Seorang teman mereka yang sedang menstruasi di sudut rumahnya terpaksa berjalan di antara serangga-serangga itu dan berdarah karena bunyi gemeretak serangga itu di bawah kakinya yang telanjang untuk mengusir wabah itu. Dengan kekuatan kewanitaannya yang tidak langsung berhasil, dan ketika dia kembali, sambil menangis dan digigit belalang-belalang di rambut dan roknya, orang-orang dewasa memukulnya seolah-olah dia salah satu anggota gerombolan belalang, sampai semua belalang itu menjadi bangkai, dan dalam beberapa hal, dia juga. Matanya seperti air dangkal.

Dan terjadilah perang. Pertempuran hebat dan biadab di mana orang-orang benar-benar melihat siapa yang mereka bunuh dan bahkan darah orang mati ada di tangan mereka. Dan darah itu berceceran di wajah mereka. Di janggut mereka. Terkadang butuh waktu berminggu-minggu untuk membersihkan semuanya.

Ayah kedua gadis itu, Pandion, terlibat dalam perang seperti itu, bahkan saat keduanya bermain di tepi sungai.  Dia berjuang dengan alasan mengapa manusia masih berperang.

Dalam frustrasi, Pandion memanggil tentara bayaran, seorang pejuang hebat yang akan membantunya menang, dan Tereus menerima pekerjaan itu dan membunuh beberapa orang dan juga merencanakan strategi pertempuran yang memenangkan perang.

Tereus menyisir darah dari janggutnya dengan tulang-tulang orang yang dibunuh Pandion. Dan ketika orang-orang lain mengeluh dan menatapnya dengan jijik, dia tertawa. Karena baginya semuanya sama saja. Orang mati adalah orang mati, dan itulah satu-satunya kemenangan.

Pandion menganggap Tereus seperti seorang putra. Putra seorang pejuang yang hebat.

Pulanglah bersamaku, katanya, kita akan menyelesaikan pembayaran di sana. Kau akan berpesta bersama kami dan merayakannya.

Tereus sesungguhnya tidak terlalu peduli, tetapi dia lapar dan berharap bisa mendengkur di tempat tidur, meskipun pada kenyataannya hal ini mengecewakannya. Dia segera dia mendirikan tenda di halaman rumah mewah laksana istana yang megah, yang menurut semua orang sangat lucu tetapi tidak ada yang berani mengomentarinya, kecuali gadis-gadis itu yang tidak bersalah dan tidak mengerti apa pekerjaan Tereus.

Kerjanya Tereus sekarang adalah duduk di tenda dan mengasah pedangnya dan melihat gadis-gadis bermain di tepi sungai. Procne, si sulung, rambutnya dikepang yang terlepas saat dia berlari dengan kain muslinnya, lebih mirip tulang belulang daripada manusia berdaging. Si kecil Philomela, rambut merahnya panjang dan berantakan karena rumput lilalang dan daun semanggi. Gaunnya bernoda hijau, tawa dan teriakan suara anak kecilnya menggema di padang rumput. Sesaat Tereus berhenti mengasah pedang dan sesuatu yang mirip senyuman tersungging di bibirnya.

Pandion, melihat ini, mengetahui hal yang jelas. Jelas apa yang diinginkan Tereus sebagai bayaran.

Tereus mengangguk, itu benar, dan tidak ada rasa malu dalam hal itu, karena tidak ada rasa malu dalam dirinya.

Ketika Pandion membawa anak perempuan yang salah, yaitu yang lebih tua, Procne, Tereus menerimanya.

Apa pentingnya? Satu hal yang Tereus tahu adalah tubuh hanyalah tubuh, yang satu sama saja dengan yang lain. Darah dan tulang. Kulit dan rambut. Gigi.

Sungguh pesta pernikahan yang meriah! Sungguh resepsi perkawinan yang benar-benar megah!

Burung puyuh dan branjangan panggang. Bunga manis dan gulai daging rusa jantan, dan dua belas peniup seruling. Limpahan madu, buah delima, dan betis sapi dan domba dan kue yang dihiasi bunga kencana ungu. Gadis-gadis penari dan pengantin remaja yang pipinya merah seperti apel California. Bibirnya bulat penuh merekah, matanya bohlam bersinar.

Semua ini untukku? Pikirnya, kemudian melirik Tereus. Pria itu duduk sambil menyeringai, sang pejuang hebat. memperhatikan Philomela, adik ipar pengantin pria.

Apa maksud mereka, para wanita yang mendandaninya, yang memperingatkannya tentang tusukan pedang tajam?

Procne tersenyum dan bertepuk tangan.

Suamiku, pikirnya, aku tidak akan takut padanya. Dia hanya berbahaya dalam peperangan.

Ah, pikiran polos dan lugu. Bahkan sekarang, kita masih punya pikiran polos dan lugu. Meskipun kita tahu bahwa kita mengalami hal terburuk, kita masih memiliki pikiran polos dan lugu.

Misalnya, nyanyian burung bulbul.

Kita hanya mendengar itu, dan melupakan sisanya, seperti halnya generasi mendatang yang akan mengingat paus sperma hanya sebagai ikan.

Procne memiliki kepolosannya dan kepolosan itu dipaksakan darinya, diserahkan oleh ayahnya kepada Tereus, yang menikmatinya. Aku rasa begitu.

Kegembiraan mungkin bukan kata yang tepat. Bagaimanapun, mereka telah menikah dan pernikahan itu telah dilangsungkan.

Tereus membawanya ke Dailus yang terletak di jalan setapak yang tinggi dan Procne melahirkan Itys dalam siksaan darah dan rasa sakit. Dia menyusui bayi dan suaminya hingga payudaranya selalu sakit dan di sela-sela tugas ini, dia menjahit dan sering memikirkan adiknya Philomela tersayang yang bermain di tepi sungai dan berpura-pura mereka masih bersama.

Sementara itu, Tereus di masa bebas dari pertempuran, berkeliaran gelisah di ladang, mengiris bunga-bunga liar dengan pedangnya dan juga memikirkan Philomela, rambut merahnya yang indah, senyum gadis kecilnya.

Ketika Tereus pergi, tanpa penjelasan, untuk menjemput Philomela ke Dailus, Procne tidak menebak alasan ketidakhadirannya tetapi menggeser Itys ke payudara kanan dan berkata kepada bayi yang sedang menyusu itu, bahwa apa pun alasan kepergiannya, dia senang akan hal itu. Oh, tetapi seandainya saja dia dapat melihat saudara perempuannya yang tersayang sekali lagi.

Mengapa kejahatan menjadi kesempatan bagi kebaikan? Seandainya saja Tereus mengatakan kebenaran ketika dia memberi tahu Pandion bahwa Procne sangat merindukan saudara perempuannya sehingga dia datang untuk menjemputnya, untuk membawanya kepada saudara perempuannya sebagai semacam hadiah Hari Buruh yang jatuh pada tanggal 1 Mei. Andai saja, saat Philomela memekik kegirangan dan mengemasi tas kecilnya dengan gaun muslin dan sulaman serta untaian bunga dan pita warna-warni, Tereus, yang menunggu di aula bersama Pandion, berpikir untuk membawa Philomela kepada kakak perempuannya, kepada senyum Procne, alih-alih bibir cantik Philomela. Andai saja dia tertarik pada kebahagiaan.

Philomela akan melakukan perjalanan! Philomela akan menemui saudara perempuannya.

Selamat tinggal Pengasuh. Selamat tinggal Koki. Selamat tinggal anjing kecil. Selamat tinggal burung. Selamat tinggal Papa, selamat tinggal. Selamat tinggal rumah. Selamat tinggal sungai. Selamat tinggal padang rumput.

Selamat tinggal semua yang pernah ada dan yang diimpikannya, meskipun dia tidak mengetahuinya saat Tereus membantunya naik ke kudanya, dan melingkarkan lengannya yang besar di sekelilingnya.

Selamat tinggal polos dan lugu. Selamat tinggal.

Di suatu tempat antara rumah megah Pandion dan Dailus, hal itu terjadi. Tereus membawanya ke hutan tempat mereka berbincang dengan gembira sambil memetik bunga untuk Procne sampai mendadak Tereus mendorongnya ke tanah dan merudapaksanya.

Berapa banyak yang harus dijelaskan? Langit biru dengan dua awan tebal, satu berbentuk burung, yang lain seperti anjing yang sedang tidur. Tanahnya bergelombang dan tongkat tajam mencuat di punggungnya. Matahari bersinar melalui dedaunan, warnanya yang berbintik-bintik, seolah-olah dia adalah seekor ikan di sungai. Ada satu bunga yang cukup dekat untuk diamati dengan saksama, bibir ungu dan bagian tengah berwarna merah. Batang hijaunya sedikit bengkok. Ada serangga putih kecil di daun kedua.

Ketika Tereus selesai, dia tidak sepenuhnya puas. Gadis ini terlalu banyak bicara.

Dia memotong lidahnya dan membuangnya ke semak-semak. Philomela menjerit, berdarah, dan menangis. Tereus mengobati lukanya dengan tanaman penyembuh yang dia masukkan ke dalam mulutnya dan kemudian, dia kedurjanaan kejahatannya lagi.

Burung-burung berkicau, Ladam di kaki kuda mencakar tanah. Bajing ribut di pohon, tupai berlarian melewatinya, tetapi dia diam.

Ketika tereus menyingkirkan daun penyembuh, pendarahan telah berhenti. Dia menaiki kuda, menarik Philomela ke depannya. Mereka melanjutkan perjalanan ke Dailus.

Mengapa harus diingat? Mengapa tukang cerita menceritakan kisah mengerikan ini? Mengapa kejahatan terjadi? Mengapa hal itu sering terjadi pada anak-anak dan apa hubungan burung bulbul dengan anak yang tidak bisa berbicara ini, tindakan jahat ini, saudara perempuan yang bersama Itys di dadanya yang, seperti ayahnya, tidak pernah puas?

Tereus membawa Philomela ke Dailus, tetapi dia tidak membawanya pulang ke rumahnya bersama Procne. Sebaliknya, dia membawanya ke sebuah rumah di pedesaan, tempat dia mengunci Philomela di sebuah kamar. Dia mempekerjakan pelayan yang baik yang merasa nyaman dengan kunci, dan tidak meragukan gadis yang tidak bisa berbicara dan dipenjara, untuk membawakannya makanan dan air, sutra dan benang untuk membuatnya tetap sibuk di sela-sela sampai akhirnya dia pergi.

Tereus mengawasinya dari jendela, menunggang kudanya. Philomela memperhatikan lengan tereus yang besar dan punggungnya yang lebar menyusut menjadi sebuah titik menghilang di ujung jalan, dan kemudian dia mulai menjahit semacam cerita bergambar.

Ketika kata-kata diambil, apa yang tersisa?

Dia mengembalikan nampan berisi roti dan keju, daging dan buah. Si juru masak mengerutkan kening melihat hanya mangkuk air yang kosong.

Apa yang akan terjadi jika tahanan itu meninggal saat tuannya pergi?

Jelas itu bukan tujuannya. Makanan berikutnya si juru masak itu mengalahkan dirinya sendiri dan menyiapkan hidangan berupa burung puyuh panggang yang diisi dengan buah kastanye dan irisan apel California yang dicelupkan ke dalam madu dan semangkuk biji bunga matahari dan sorgum.

Kali ini ketika nampan dikembalikan, burung puyuh panggang itu tidak tersentuh dan irisan apel berwarna cokelat dan ada dua lalat di dalam madu, tetapi mangkuk millet-bunga matahari kosong kecuali kain kecil berjahit seorang gadis berambut merah yang tersenyum dan ini adalah pertama kalinya seseorang, selamanya, memberi si juru masak hadiah.

Keesokan harinya nampan Philomela berisi empat mangkuk biji bunga matahari dan sorgum, dan bahkan sekuntum bunga kecil yang dimaksudkan sebagai hiasan tetapi kembali dalam keadaan hancur seolah-olah Philomela telah menyodorkannya ke bibirnya untuk diambil sarinya.  

Maka keesokan harinya si juru masak mengirimkan beberapa bunga dan enam mangkuk biji bunga matahari dan sorgum dan semua bunga kembali dalam keadaan hancur, dan lima mangkuk kosong dan di sudut nampan ada kain persegi kecil yang dijahit dengan gambar matahari, meskipun hari itu hujan.

Si juru masak memasukkan kain itu ke dalam saku celemeknya dan membayangkan mengumpulkan lusinan kain dan menjahitnya menjadi selimut. Dan mungkin itulah yang akan terjadi, jika hanya itu yang ada dalam sulaman Philomela. Namun di kamarnya yang sempit dan sunyi, dia menjahit kisah sedih tentang gadis-gadis yang sedang bermain, sebuah pernikahan, gadis berambut merah yang sendirian, kepulangan sang pengantin pria, gadis yang bersamanya di atas kuda, bunga-bunga yang dipetiknya, pria yang menunggangi gadis itu, pisau di dekat tenggorokannya, lidah yang terjulur, gadis yang menangis, rumah di pedesaan, jendela dengan gadis yang duduk di dalamnya, menjahit.

Dia membungkusnya dengan gaun muslin dan mengikatnya dengan pita yang ditujukan kepada saudarinya, lalu mengembalikannya ke nampan bersama paket lain untuk si juru masak, yang membayar seorang kurir dari uang tabungannya sendiri untuk mengantarkan paket itu dengan aman dan kemudian membuka bungkusan miliknya, selendang cantik yang dijahit dengan bunga krisan yang dia selempangkan di bahunya pada malam hari, di kamar kecilnya yang sepi di luar dapur,dan bahkan jika tidak ada yang melihat, tidak masuk akal untuk memakainya, dia senang melakukannya. Itu menjadi waktu favoritnya dalam sehari, meskipun tidak pernah, bahkan untuk sesaat, terlintas dalam benaknya untuk membebaskan gadis itu.

Ketika Procne menerima paket itu, dia mengenali gaun muslin yang membungkusnya dan membuka pita itu dengan penuh semangat. Itys tidur, kejadian yang langka, dan Tereus telah pergi bekerja, jadi bagi Procne ini adalah saat yang damai. Dan sekarang surat dari saudarinya ini, saat yang menyenangkan. Ia membuka pita itu, mengibaskan kain itu, dan membaca gambar-gambar itu dengan ngeri.

Dia mengerti setiap kata yang tak terucapkan, setiap jahitan. Dia mengenali rumah kecil di pedesaan itu, yang jaraknya bahkan tidak sampai sehari.

Dia membawa Itys ke pengasuh yang diam-diam mengerang saat melihat si pengisap susu rakus dan ibunya mendekat, menaiki kudanya dan menungganginya untuk membebaskan adiknya. Adik perempuannya yang tidak bisa bicara, yang dulunya suka bernyanyi dan bercerita dengan gembira. Procne menunggang kuda dan merencanakan tanpa henti balas dendamnya.

Kebutuhan manusia akan keseimbangan. Ganti rugi. Perhitungan untung rugi yang tak ada habisnya. Dorongan untuk membalas kejahatan, mengembalikannya ke sumbernya. Apa yang harus dilakukan untuk gadis yang tidak bisa bicara itu?

Ketika Philomela mendengar kuda mendekat, dia menangis di sudut kamarnya, meringkuk seperti burung kecil. Kepalanya di bawah lengannya, sikunya yang kurus mencuat keluar. Dia mencoba membuat dirinya semakin mengecil saat langkah kaki mendekat dan kunci berderak. Ketika pintu terbuka, dia tidak melihat sampai dia mendengar. Tidak, itu tidak mungkin, tetapi ya, dia mendengar suara kakaknya.

“Philomela,” namanya diucapkan dengan penuh kasih sayang.

Dia mengangkat wajahnya yang berlinang air mata dan melihat Procne. Rambutnya yang hitam acak-acakan dihembus angin perjalanan. Gaun ungunya kusut, seperti biasanya di padang rumput, di tepi sungai. Di belakangnya berdiri si juru masak, mulutnya yang putih pucat terbuka, cincin kunci di tangannya yang berlumur adonan.

“Oh, adikku, adikku tersayang.” Procne membungkuk untuk memeluknya dan Philomela tersentak tetapi kemudian ingat siapa yang bersamanya dan bersandar ke lengan yang penuh kasih sayang.

Procne memeluknya dan berpikir betapa ringannya dia sekarang, seolah-olah lidahnya yang menahannya ke Bumi. Dia menggendongnya keluar dari kamar dan menuruni tangga dan keluar pintu menuju seekor kuda, yang sudah dipelana dan menunggu seperti yang diperintahkan. Dia menunggangi kuda itu bersama Philomela di depannya, sebuah bungkusan kecil, seorang gadis kecil, luka yang masih hidup. Dia berlari kencang membawa Philomela, meninggalkan debu dan juru masak yang menyeka matanya dan hidungnya, lalu kembali ke dalam untuk mengambil panci sup ayam bawang.

Procne membawa Philomela ke rumahnya. Bukan rumah ayah mereka. Tetapi siapa yang bisa menyalahkannya atas pilihan ini? Bagaimanapun, ayah merekalah yang memberikan mereka kepada Tereus, tidak bersalah atas niat jahatnya, tetapi mungkin dia seharusnya tidak begitu mudah tertipu. Bagaimanapun, jelas masalah ini ada di tangan mereka.

Tereus sedang berperang membunuh musuh.

Tidak, itu tidak benar,

Procne menebus kesalahannya, Tereus masih pergi membunuh. Sulit untuk mengingat bahwa dia tidak punya musuh, hanya mereka yang dibayar untuk dibunuhnya dan mereka yang bukan, dan mereka dapat dipertukarkan.

Apa yang dipikirkan ayahnya untuk memberikannya kepada pria seperti itu?

Procne mengambil Itys dari pengasuhnya dan bayi itu langsung menangis dan mencengkeram payudaranya. Dia melepaskan tali penutup dada dan membiarkan Itys menyusu dengan rakus. Philomela mondar-mandir di ruangan itu dan menggelengkan kepalanya atas berbagai rencana balas dendam yang diajukan Procne hingga akhirnya, dengan jengkel, Procne bertanya, “Lalu, apa?”

Philomela mengangkat satu tangan pucat putih kecilnya dan menunjuk Itys yang menyusu dengan mata terbuka lebar, sewarna dengan mata ayahnya.

Procne menunduk menatapnya dan menemukan jawaban atas pertanyaan yang paling sering dia pikirkan saat Itys menyusu, apakah ini tidak akan pernah berakhir? Apakah dia akan menginginkanku dengan giginya?

Dia mendongak ke arah Philomela, yang berdiri di samping api unggun, dan mengangguk.

Ya. Itys.

Ketika berita tentang kembalinya Tereus dari pertempuran tiba, Philomela bersembunyi di keranjang besar di sudut, meringkuk seperti burung di dalam sarang, dan Procne memanggang daging panggang di atas tusuk sate.

Bagus sekali, mereka pikir dia akan kembali lebih cepat. Tetapi ini bukan tentang nafsu makan. Ia meraung ke dalam rumah, seperti binatang buas. Darah kering menempel di janggut dan alisnya. Dia lapar dan bernafsu dan berkata ia akan makan, lalu memilikinya dan kemudian, dia pikir dia butuh waktu di pedesaan.

Sang ibu menyuapinya dengan anak panggang. Teseus melahapnya … tanpa dosa. Setelah selesai, dia menepuk perutnya yang kenyang, membuka ikat pinggangnya dan saat itulah Philomela bangkit dari keranjang dan Tereus menyadari bahwa dia telah ketahuan.

Tapi oh baiklah, dia masih tuannya.

Kemudian, Procne memberitahunya.

“Kamu baru saja memakan Itys.”

Tereus meraung, seperti yang dapat dibayangkan. Dia meraih kapak api dan mengejar kedua saudari itu, yang kemenangannya tampaknya hanya sebentar.

Mereka menangis, dan dia berteriak. Lalu para dewa melihat ini dan memutuskan bahwa itu harus dihentikan.

Mengapa sekarang, dan tidak sebelumnya? Di mana mereka ketika dia merudapaksa Philomela di hutan? Di mana mereka ketika dia memotong lidahnya? Di manakah mereka saat Itys meraih dada ibunya dan ibunya malah menghunus pisau? Di manakah para dewa selama ini?

Namun akhirnya mereka menghentikannya. Dengan lambaian tangan dewa, Tereus berubah menjadi elang, Procne menjadi burung layang-layang, dan Philomela menjadi burung bulbul.

Kemudian, tulang-tulang anak itu ditemukan oleh juru masak yang tanpa sengaja memberikannya kepada anjing-anjing. Procne mengirim tulang-tulang ke rumah di pedesaan dan si juru masak di sana, yang terbungkus selendang bunga krisan, dan meraba-raba kain yang dijahit dengan gambar seorang gadis yang tersenyum, mengira tulang-tulang itu masih ada di kota.

Si elang menukik turun untuk menangkap seekor tikus tanah. Burung layang-layang terbang ke Capistrano Romawi, dan burung bulbul pada suatu malam yang gelap dan berbintang menyadari bahwa dia dapat bernyanyi. Maka dia pun bernyanyi di malam hari.

***

Pada akhirnya, pertanyaan-pertanyaan itu tetap ada. Mengapa orang saling menyakiti? Apakah kejahatan itu seseorang yang dilahirkan, atau sesuatu di antara kita, sesuatu yang fana yang tumbuh dalam keadaan yang memungkinkannya?

Mengapa wanita, bahkan saat ini, di dunia kita yang modern, berkebudayaan  dan berpengetahuan, menderita dirudapaksa, dan mutilasi?

Mengapa ada yang menderita? Dan apa hubungan antara dongeng, mitos, dan cerita dengan pertanyaan-pertanyaan penting ini, yang tentunya layak dicari di Web di antara situs-situs lelang yang menyediakan banyak penawaran yang sangat bagus, dan setidaknya pertanyaan-pertanyaannya nyata dan barang dagangannya nyata, bahkan film-filmnya nyata, karena setidaknya ada orang-orang nyata di dalamnya, tetapi fiksi?

Apa gunanya?

Semua orang tahu bahwa burung hanyalah burung, lagu hanyalah lagu, cerita hanyalah cerita.

Mengapa berpura-pura bahwa itu berarti sesuatu?

Bagaimana cerita membantu kita memecahkan teka-teki mengerikan tentang menjadi manusia? Bagaimana kita mengubah semua penderitaan kita, penjarahan dan perang, dan kematian anak-anak, menjadi sesuatu seperti kicauan burung di malam hari? Bagaimana kita menjadi lebih baik dari sebelumnya? Dan bagaimana kita bisa sampai di sana, ketika para dewa tampak enggan membantu? Mungkinkah, bahkan mereka tidak tahu jawabannya?

Mungkin penyelidikan bukanlah yang kita butuhkan. Mungkin semakin kita mengutak-atik tenunan keyakinan kita, kita menemukan betapa rapuhnya semua itu, dan betapa tidak ada apa pun di balik kain itu kecuali ruang hampa, langit tak terbatas yang tidak dapat menopang beban pernyataan kita, betapa tidak berbobotnya kita tanpanya. Mungkin lebih baik tidak memikirkan itu.

Mungkin cukup mengetahui bahwa burung bulbul dulunya adalah anak yang dianiaya, dan ketika seluruh dunia gelap gulita, dia bernyanyi.

Cikarang, 16 Oktober 2024

Catatan: Dalam Ovid’s Metamorphosis, sebagai burung bulbul betina, jelmaan Philomela tidak bisa bernyanyi.

1 Comment

  1. Vi vone

    Aku suka dia bagian, “…luka yang masih hidup.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *