Wali Dâd yang Lugu
dok. pri. Ikhwanul Halim

Wali Dâd yang Lugu

Views: 49

Dahulu kala, di India, hiduplah seorang lelaki tua miskin bernama Wali Dâd Gunjay, atau Wali Dâd si Botak.

Dia tidak punya saudara dan tinggal sendirian di sebuah gubuk kecil dari tanah liat yang agak jauh dari kota.  Pekerjaan Wali Dâd untuk mencari nafkah dengan menyabit rumput di hutan dan menjualnya sebagai makanan kuda.

Dia hanya memperoleh penghasilan lima setengah sen sehari. Tetapi karena dia adalah lelaki yang sederhana dan kebutuhannya sangat sedikit, dia dapat menabung satu setengah sen setiap hari dan menghabiskan sisanya untuk makanan dan pakaian yang dibutuhkannya. Dia hidup bertahun-tahun dengan cara ini.

Suatu malam, Wali Dâd berpikir untuk menghitung uang yang dia  simpan dalam celengan tanah liat besar di bawah lantai gubuknya. Maka, dengan susah payah dia menarik celengan itu ke lantai dan duduk sambil menatap dengan takjub tumpukan uang logam yang dikumpulkannya.

Apa yang harus aku lakukan dengan semua uang ini? tanyanya dalam hati.

Dia tidak pernah berpikir untuk menghabiskan uang itu untuk dirinya sendiri, karena dia merasa sudah cukup menghabiskan sisa hidupnya seperti apa yang telah dilakukannya selama ini. Wali Dâd benar-benar tidak menginginkan kenyamanan atau kemewahan yang berlebihan.

Akhirnya, dia memasukkan semua uang logam itu ke dalam karung, yang dia selipkan di bawah lantainya, lalu, sambil berguling-guling di selimut tuanya yang compang-camping, dia lalu tertidur.

Keesokan paginya, dia terhuyung-huyung pergi dengan karung uangnya ke toko perhiasan yang dikenalnya di kota itu, dan menawar sebuah gelang emas kecil yang indah. Dengan gelang itu yang dibungkus rapi di ikat pinggang katunnya, dia pergi ke rumah seorang temannya, seorang saudagar keliling yang kaya. Temannya biasa mengembara dengan unta dan barang dagangannya ke negeri-negeri tetangga.

Wali Dâd cukup beruntung menemukannya di rumah. Dia disambut dengan ramah. Dia duduk, dan setelah mengobrol sebentar, Wali Dâd bertanya kepada sandagar keliling tersbut siapa wanita paling berbudi luhur dan cantik yang pernah ditemuinya.

Saudagar temannya itu menjawab bahwa putri Khaistan terkenal di mana-mana karena kecantikannya dan juga karena kebaikan dan kemurahan hatinya.

“Kalau begitu,” kata Wali Dâd, “lain kali kamu pergi ke sana, berikan dia gelang kecil ini, dengan pujian penuh hormat dari seseorang yang lebih mengagumi kebajikan daripada menginginkan kekayaan.”

Dia mengambil gelang emas itu dari ikat pinggangnya, dan menyerahkannya kepada temannya. Pedagang itu tentu saja sangat heran, tetapi tidak mengatakan apa pun, dan tidak keberatan untuk menjalankan permintaan temannya.

Waktu berlalu, dan dalam perjalannya, saudagar itu tiba di ibu kota Khaistan. Begitu ada kesempatan, dia datang ke istana dan mengirimkan gelang itu yang dikemas rapi dalam kotak kecil beraroma wangi yang  dia sediakannya sendiri, sekaligus menyampaikan pesan yang dipercayakan kepadanya oleh Wali Dâd.

Sang putri tidak dapat membayangkan siapa yang telah memberikan hadiah ini kepadanya, tetapi ia meminta pembantunya untuk memberi tahu saudagar itu bahwa kalau dia kembali setelah menyelesaikan urusannya di kota, Sang Putri ingin memberikan sesuatu sebagai balasan.

Beberapa hari kemudian, pedagang itu kembali, dan menerima dari sang putri hadiah balasan berupa kawanan unta dan sutra yang mahal, selain hadiah berupa uang untuk sang saudagar.

Maka saudagar keliling itu berangkat melanjutkan perjalanannya. Beberapa bulan kemudian dia pulangke kampung halamannya sambil membawakan dari sang putri untuk Wali Dâd.

Betapa bingungnya orang tua lugu yang baik hati itu ketika mendapatkan sekawanan unta memikul kain sutra berada di depan pintu gubuknya!

Apa yang harus aku lakukan dengan barang-barang mahal ini?

Akhirnya, setelah berpikir panjang, dia bertanya kepada saudagar keliling apakah dia mengenal seorang pangeran muda yang mungkin membutuhkan harta.

“Tentu saja,” seru saudagar keliling dengan. “Dari Delhi hingga Baghdad, dari Konstantinopel ke Lucknow, aku tahu semuanya. Tak ada seorang pun yang lebih berharga daripada pangeran muda yang gagah berani dan kaya dari Nekabad.”

“Baiklah. Kalau begitu, dengan restu orang tua ini, bawalah sutra-sutra itu kepadanya,” kata Wali Dâd, sangat lega karena berhasil menyingkirkan unta dan sutra.

Maka, pada perjalanan berikutnya, saudagar keliling itu membawa sutra-sutra itu bersamanya dan tiba di Nekabad. Dia meminta bertemu dengan pangeran.

Ketika dipertemukan, dia menunjukkan hadiah unta sutra-sutra indah yang dikirim Wali Dâd, dan memohon pangeran untuk menerimanya sebagai penghormatan yang rendah hati atas jasa dan kebesarannya.

Pangeran sangat tersentuh oleh kemurahan hati si pemberi, dan memerintahkan, sebagai hadiah balasan, dua belas ekor kuda terbaik yang terkenal di negerinya untuk diserahkan kepada saudagar itu, yang juga, sebelum saudagar pamit, memberikan hadiah yang besar atas jasanya.

Seperti sebelumnya, saudagar keliling itu akhirnya tiba di rumah, dan keesokan harinya, dia berangkat ke gubuk Wali Dâd dengan membawa dua belas kuda itu.

Ketika lelaki tua itu melihat mereka datang dari kejauhan, dia berkata dalam hati. “Beruntung sekali! Sekelompok kuda datang! Mereka pasti menginginkan banyak rumput, dan aku akan menjual semua yang kumiliki tanpa harus menyeretnya ke pasar.”

Wali Dâd segera bergegas menyabit rumput secepat yang dia bisa. Ketika dia kembali, dengan rumput sebanyak yang mampu dibawanya, ia sangat kecewa karena mendapati bahwa semua kuda itu miliknya. Awalnya ia tidak dapat berpikir apa yang harus dilakukan dengan kuda-kuda itu, tetapi, setelah beberapa saat, sebuah ide cemerlang muncul di benaknya!

Dia memberikan dua ekor kuda kepada suadagar keliling dan memintanya untuk membawa sisanya kepada putri Khaistan yang paling cocok untuk memiliki hewan-hewan yang begitu cantik.

Saudagar leiling itu pergi sambil tertawa. Namun, sesuai dengan permintaan teman lamanya, dia membawa kuda-kuda itu bersamanya dalam perjalanan berikutnya, dan menyerahkannya dengan selamat kepada sang putri. Kali ini sang putri memanggil saudagar itu dan menanyainya tentang si pemberi.

Nah, saudagar ini biasanya orang yang sangat jujur, tetapi dia tidak begitu suka menggambarkan Wali Dâd dalam citranya yang sebenarnya sebagai orang tua yang penghasilannya lima setengah sen sehari dan yang hampir tidak punya pakaian sama sekali. Jadi dia mengatakan kepadanya bahwa temannya telah mendengar cerita tentang kecantikan dan kebaikan Sang Putri, dan ingin sekali meletakkan yang terbaik yang dimilikinya di kakinya.

Sang putri kemudian menanyakan kepada ayahnya baginda, meminta nasihat tentang sopan santun apa yang dapat dia berikan kepada orang yang terus-menerus memberinya hadiah seperti itu.

“Baiklah,” kata raja, “kamu tidak dapat menolaknya. Hal terbaik yang dapat kamu lakukan adalah mengirim orang yang tidak ingin dikenal ini hadiah yang begitu luar biasa sehingga dia mungkin tidak dapat mengirimkan sesuatu yang lebih baik kepadamu, sehingga akan malu untuk mengirimkan apa pun!”

Kemudian sebagai ganti sepuluh kuda, Sang Putri memberikan dua belas bagal yang sarat dengan perak untuk dihadiahkan kepada Wali Dâd.

Saudagar itu kembali harus bertanggung jawab atas karavan yang luar biasa itu, sehingga dia terpaksa menyewa sejumlah orang bersenjata untuk menjaganya dalam perjalanan dari kemungkinan diserang perampok, dan dia benar-benar senang ketika berhasil kembali ke gubuk Wali Dâd.

“Apa lagi ini?” seru Wali Dâd ketika melihat semua kekayaan yang diletakkan di pintunya. “Aku bisa membalas pangeran yang baik itu atas hadiahnya yang luar biasa berupa kuda. Tetapi yang pasti kamu telah mengeluarkan banyak biaya! Namun, kalau kamu mau menerima enam bagai beserta muatannya, dan membawa sisanya langsung ke Nekabad, aku akan berterima kasih padamu dengan sepenuh hati.”

Pedagang itu merasa dibayar dengan sangat baik untuk usahanya, dan bertanya-tanya bagaimana masalah balas-membalas ini akan berakhir. Dia tidak mempermasalahkannya, dan segera setelah menyiapkan semuanya, dia berangkat ke Nekabad dengan hadiah baru untuk pangeran.

Kali ini sang pangeran juga merasa malu, dan menanyai saudagar keliling dengan saksama. Saudagar merasa bahwa reputasinya dipertaruhkan, dan sementara dalam hatinya memutuskan bahwa dia tidak akan meneruskan lelucon itu lebih jauh, dia tidak dapat menahan diri untuk menggambarkan Wali Dâd dengan kata-kata yang begitu hebat sehingga lelaki tua itu tidak akan pernah mengenal dirinya sendiri kalau dia mendenga kata-kata si saudagar.

Sang pangeran, seperti raja Khaistan, memutuskan bahwa sebagai balasan, dia akan mengirimkan hadiah yang benar-benar agung, yang mungkin akan mencegah pemberi yang tidak dikenal itu mengirimkan sesuatu yang lebih lagi kepadanya. Maka dia memberi sebuah karavan dengan dua puluh kuda yang indah dengan pelana maroko yang bagus dan kekang serta sanggurdi perak, juga dua puluh unta dari jenis terbaik, yang mampu berlari secepat kuda balap dan dapat berlari sepanjang hari tanpa merasa lelah, dihiasi dengan kain sulaman emas. Terakhir, dua puluh ekor gajah, dengan hawdah perak yang megah dan penutup sutra yang disulam dengan mutiara. Untuk merawat hewan-hewan ini, saudagar menyewa pasukan kecil, dan rombongan itu menjadi tontonan yang luar biasa ketika mereka berjalan melintas.

Ketika Wali Dâd dari kejauhan melihat awan debu yang dibuat oleh kafilah itu dan gemerlapnya perlengkapannya, dia berkata pada dirinya sendiri, “Demi Allah! Romobngan besar datang! Gajah juga! Rumput akan laku keras hari ini!”

Dan dengan itu dia bergegas pergi ke hutan dan menyabit rumput secepat dan sebanyak yang dia bisa. Begitu dia kembali, dia mendapati kafilah itu telah berhenti di depan pintu gubuknya, dan saudagar temannya menunggu dengan sedikit cemas untuk memberitahunya berita itu dan mengucapkan selamat kepadanya atas kekayaannya.

“Kekayaan ini!” teriak Wali Dâd. “Apa hubungannya orang tua sepertiku dengan satu kaki di dalam liang lahat dengan kekayaan? Putri muda yang cantik itu, sekarang! Dialah yang akan menikmati semua hal-hal indah ini! Untukmu pilih sendiri dua ekor kuda, dua ekor unta, dan dua ekor gajah, dengan semua perlengkapannya, dan memberikan sisanya kepadanya.”

Saudagar itu pada awalnya keberatan dengan permintaan Wali Dâd. Dia mengatakan bahwa dia mulai merasa agak canggung dengan tugas ini. Memang dia dibayar dengan sangat mahal. Sejauh menyangkut pengeluaran tidak ada masalah baginya. Tetapi dia tetap tidak suka pergi terlalu sering, dan dia juga menjadi gugup setiap bertemu putri Khistan atau Pangeran Nekabad. Namun, akhirnya dia setuju untuk pergi sekali lagi, tetapi dia berjanji pada dirinya sendiri bahaw aini untuk terakhir kali, dan tidak akan pernah lagi melakukan tukar menukar hadiah seperti itu lagi.

Setelah beristirahat beberapa hari, kafilah itu berangkat sekali lagi menuju Khaistan.

Ketika raja Khaistan melihat rombongan manusia dan hewan yang cantik memasuki halaman istananya, dia begitu kagum sehingga bergegas turun sendiri untuk menanyakannya. Raja terdiam ketika mendengar bahwa ini juga merupakan hadiah dari Wali Dâd untuk putrinya. Dia bergegas menuju kamar sang putri dan berkata, “Menurut Ayah, putriku sayang, pria ini ingin menikahimu. Itulah arti dari semua hadiah ini! Tidak ada jalan lain selain kita pergi dan mengunjunginya sendiri. Dia pastilah seorang yang sangat kaya, dan karena dia begitu murah hati padamu, mungkin lebih baik kau menikahinya!”

Sang putri setuju dengan semua yang dikatakan ayahnya, dan perintah pun dikeluarkan untuk menyediakan gajah dan unta dalam jumlah besar, tenda dan bendera yang indah, tandu untuk para wanita, dan kuda untuk para pria, yang harus dipersiapkan tanpa menunda-nunda, karena raja dan putri akan mengunjungi ‘Pangeran Wali Dâd’ yang agung dan murah hati.

Saudagar keliling diperintahkan oleh sang raja untuk memandu rombongan itu.

Saudagar malang itu dalam dilema yang membingungkan yang tidak dapat dibayangkannya. Terniat dalam hatinya untuk melarikan diri, tetapi dia sudah diperlakukan dengan sangat ramah sebagai wakil Wali Dâd, sehingga dia hampir tidak mendapatkan kesempatan untuk melarikan diri. Setelah beberapa hari, rasa putus asa menguasainya sedemikian rupa sehingga akhirnya dia merpendapat bahwa semua yang terjadi adalah takdir, dan melarikan diri tidaklah mungkin.  Namun dia sungguh-sungguh berdoa agar keberuntungan datang padanya kepadanya menunjukkan jalan keluar dari kesulitan-kesulitan yang dia dapatkan karena niat terbaiknya.

Pada hari ketujuh mereka semua berangkat di tengah-tengah penghormatan yang menggelegar dari benteng kota. Debu mengepul dan sorak-sorai diiringi terompet yang membahana.

Hari demi hari mereka terus berjalan, dan setiap hari saudagar yang malang itu merasa semakin menderita dan sengsara. Dia bertanya-tanya hukuman mati macam apa yang akan dijatuhkan raja untuknya. Dia tersiksa saat terjaga hampir sepanjang malam memikirkan situasi itu. Rasanya sama  seperti yang akan dia derita kalau pedang algojo raja mulai menetak lehernya.

Akhirnya mereka hanya berjarak satu hari perjalanan dari gubuk Wali Dâd yang terbuat dari tanah liat. Perkemahan besar dibuat dan saudagar itu diutus untuk memberi tahu Wali Dâd bahwa Raja dan Putri Khaistan telah tiba dan ingin bertemu.

Sesampainya di gubuk Wali Dâd, saudagar keliling menemukan lelaki tua yang lugu itu sedang makan malam roti kering dan bawang. Ketika dia menceritakan tentang semua yang telah terjadi, Wali Dâd tidak tega untuk terus membebaninya dengan mencela sahabat yang telah menolongnya selama ini. Dia diliputi kesedihan dan rasa malu untuk dirinya sendiri, untuk sahabatnya, dan untuk nama serta kehormatan sang putri.  Wali Dâd menangis serta mencabuti jenggotnya, mengerang dengan sangat memilukan.

Dengan berlinang air mata dia memohon kepada saudagar keliling untuk menahan rombongan mereka selama satu hari dengan alasan apa pun yang dapat dipikirkannya, dan untuk datang lagi di pagi hari guna membicarakan apa yang harus mereka lakukan.

Begitu pedagang itu pergi, Wali Dâd memutuskan bahwa hanya ada satu jalan keluar yang terhormat dari rasa malu dan kesusahan yang telah diciptakannya karena kebodohannya, yaitu … bunuh diri.

Maka anpa meminta nasihat kepada siapa pun lagi, dia pergi di tengah malam ke suatu tempat sungai berkelok-kelok di dasar tebing berbatu yang curam dan sangat tinggi, bertekad untuk menjatuhkan diri dan mengakhiri hidupnya.

Ketika sampai di tempat itu, Wali Dâd mundur beberapa langkah, berlari sebentar, dan tepat di tepi jurang hitam yang mengerikan itu dia berhenti mendadak. Dia tak bisa melakukannya!

Di bawah, tak terlihat dalam kegelapan bayangan malam yang pekat, air menderu dan mendidih di sekitar bebatuan bergerigi—dia membayangkan tempat itu sebagaimana yang diketahuinya, hanya saja sepuluh kali lebih kejam dan menakutkan dalam kegelapan yang tak terlihat. Angin menderu melintas ngarai dengan desahan yang menakutkan, gemerisik serta bisikan, semak-semak serta rumput yang tumbuh di tepian tebing tampak baginya seperti makhluk hidup yang menari dan memberi isyarat, tak jelas. Seekor burung hantu tertawa, “Hu! Huuu!” di telinganya.

Dia mengintip dari tepi jurang, dan lelaki tua itu menjatuhkan dirinya kembali basah oleh keringat dingin. Dia takut, mundur sambil menggigil dan menutupi wajahnya dengan tangannya. Wali Dâd menangis.

Ketika itulah dia menyadari hadirnya cahaya lembut yang terpancar di hadapannya.

Pasti pagi datang untuk mempercepat dan menyingkapkan aibnya!

Dia menyingkirkan kedua tangannya dari wajahnya dan melihat di hadapannya dua makhluk cantik yang menurut nalurinya bukanlah makhluk fana, melainkan Malaikat dari Surga.

“Mengapa engkau menangis, orang tua?” tanya salah satu malaikat dengan suara sejelas dan semerdu burung bulbul.

“Aku menangis karena malu,” jawabnya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya yang lain.

“Aku datang ke sini untuk mati,” kata Wali Dâd.

Ketika menanyakan sebabnya, dia menceritakan sebabnya.

Malaikat yang pertama melangkah maju dan meletakkan tangannya di bahunya dan Wali Dâd merasakan sesuatu yang aneh—perasaan yang dia tidak tahu apa dan mengapa—sedang terjadi padanya. Kain katun usangnya berganti dengan kain linen dan kain sulaman yang indah. DI kakinya yang kapalan dan telanjang terdapat sepatu yang hangat dan lembut, dan di kepalanya teronggok sorban besar berhiaskan permata.

Di lehernya terdapat rantai emas yang berat. Sabit tua kecil yang bengkok yang dia gunakan untuk menyabit rumput dan tergantung di ikat pinggangnya, telah berubah menjadi pedang melengkung yang indah. Gagangnya berwarna gading berkilau dalam cahaya pucat bagai salju di bawah sinar bulan.

Ketika dia berdiri bertanya-tanya apakah dia sedang bermimpi, malaikat lainnya melambaikan tangan dan memintanya untuk berbalik dan melihat. Di hadapannya sebuah gerbang yang megah terbuka. Dia menyusuri jalan yang dipagari pohon besar. Para bidadari menuntunnya, Di ujung jalan, tepat di tempat gubuknya berdiri, sebuah istana yang indah muncul, terang benderang dengan ribuan lampu obor. Serambi dan berandanya yang besar ditempati oleh para pelayan yang sibuk, dan para penjaga mondar-mandir dan memberi hormat kepadanya saat dia mendekat.

Di sepanjang jalan berlumut dan melalui halaman rumput yang luas tempat air mancur bermain dan bunga-bunga mengharumkan udara, Wali Dâd berdiri tertegun kebingungan.

“Jangan takut,” kata salah satu malaikat. “Pulanglah ke rumahmu, dan ketahuilah bahwa Tuhan memberi pahala kepada orang-orang yang baik budi dan sederhana.”

Setelah mengucapkan kata-kata ini, mereka berdua menghilang dan meninggalkan Wali Dâd. Dia terus berjalan, masih berpikir bahwa dia pasti sedang bermimpi.

Segera dia beristirahat di sebuah kamar yang indah, jauh lebih megah daripada apa pun yang pernah dia impikan.

Ketika fajar menyingsing, Wali Dâd terbangun, dan mendapati bahwa istana, para pelayan, dirinya sendiri, semuanya nyata,

Dia sama sekali tidak sedang bermimpi!

Saudagar keliling diantar ke hadapannya segera setelah matahari terbit, jauh lebih tercengang dari Wali Dâd. Dia memberi tahu Wali Dâd bahwa dia tidak tidur sepanjang malam, dan pada saat fajar menyingsing, dia segera mencari temannya itu. Dan betapa hebat pencariannya! Hamparan hutan belantara yang luas pada malam hari, telah berubah menjadi taman dan kebun buah. Dan kalau bukan karena beberapa pelayan Wali Dâd yang menemukannya dan membawanya ke istana, dia akan melarikan diri dan menjadi gila, karena mengira semua yang dilihatnya hanyalah khayalan semata.

Wali Dâd menceritakan semua yang telah terjadi kepada saudagar sahabatnya itu.

Atas nasihatnya, Wali Dâd mengirim undangan kepada raja dan putri Khaistan untuk datang dan menjadi tamunya, bersama dengan semua pengiring dan pelayan mereka semua yang sedang berkemah.

Selama tiga hari tiga malam, pesta besar diadakan untuk menghormati tamu kerajaan. Setiap malam raja dan para bangsawannya dihidangkan santapan mewah di atas piring emas dan minuman di cangkir emas. Orang-orang dengan kedudukan lebih rendah di atas piring perak dan cangkir perak. Setiap malam para tamu diminta untuk menyimpan tempat dan cangkir yang telah mereka gunakan sebagai kenang-kenangan acara tersebut.

Tidak pernah ada pesta yang begitu megah seperti itu. Di samping jamuan makan malam yang meriah, ada pula pertandingan olahraga dan perburuan, tarian, dan hiburan dalam berbagai bentuk.

Pada hari keempat, raja Khaistan mengajak tuan rumahnya ke samping, dan bertanya apakah benar, seperti yang telah diduganya, bahwa Wali Dâd ingin menikahi putrinya. Namun, Wali Dâd, setelah mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas pujiannya, berkata bahwa dia tidak pernah bermimpi mendapatkan kehormatan sebesar itu, dan bahwa dia terlalu tua dan buruk untuk seorang wanita secantik itu. Namun dia memohon kepada raja untuk tinggal bersamanya sampai dia dapat memanggil Pangeran Nekabad yang merupakan seorang pangeran yang sangat baik, pemberani, dan terhormat, dan pasti akan senang untuk memenangkan hati putri raja yang cantik.

Raja Khaistan menyetujuinya. Maka Wali Dâd mengirim saudagar itu sekali lagi ke Nekabad dengan sejumlah pelayan dan dengan hadiah-hadiah yang sangat bagus sehingga sang pangeran segera datang, jatuh cinta pada sang putri, dan menikahinya di istana Wali Dâd di tengah luapan kegembiraan semua orang.

Dan sekarang setelah Raja Khaistan dan Pangeran serta Putri yang kini disebut Putri Nekabad, kembali ke negeri mereka, Wali Dâd hidup sampai usia tua, bersahabat dengan semua orang yang sedang dalam kesulitan dan tetap memelihara, meski kaya dan makmur, sifat lugu sederhana dan murah hati yang dimilikinya ketika dia masih menjadi Wali Dâd Gunjay, seorang penyabit rumput.

Cikarang, 17 Oktober 2024

(Dongeng dari India, disadur dari The Brown Fairy Book, Andrew Lang)

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *